Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
MAHKOTA TERINDAH


__ADS_3

🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌻


Happy Reading!


Warteg ....


Rey pergi ke kasir dan membayarnya. Benar saja uang lima puluh ribu yang ia bayar masih kembalian, namun ia mengikhlaskan kembaliannya untuk tukang warung. Istrinya memang benar, kita dapat membantu perekonomian masyarakat kecil dengan berbelanja pada mereka para pedagang kecil.


Setelah kenyang keduanya memutuskan untuk pulang ke kediaman mereka di Kelapa Gading. Kondisi psikologis Ais benar-benar sudah kembali normal kini. Ia sudah merindukan kedua buah hatinya.


Di sepanjang jalan wajah Ais tampak berbinar dan Rey benar-benar merasa senang sekarang. Apa yang dia inginkan tercapai sudah kini.


Sedang asyik menikmati wajah istrinya dari kaca spion tiba-tiba ponselnya berdering.


"Ayang, tolong ambil ponselku di saku celana bagian depan ini, ada yang menelpon sepertinya. Aku sedang konsen menyetir karena kita memasuki kawasan wajib mematuhi rambu-rambu lalu lintas," ucap Rey serius.


"Baiklah." Ais segera meraba paha suaminya untuk merasakan keberadaan ponselnya lalu mengambilnya. Jantung Rey seperti maraton hebat. Ia memang sudah hampir dua minggu tidak turun ke medan tempur dikarenakan area pertempuran belum bersih dari ranjau.


Melihat wajah suaminya yang memerah, Ais segera menarik tangannya dari saku celana sang suami, kemudian langsung menyibukkan diri dengan ponsel yang sedari tadi berdering.


"Siapa?" tanya Rey dengan suara bergetar menahan hasratnya.


"Tidak tahu, nomor baru sepertinya tapi terlihat tidak asing bagiku. Apa perlu di terima?" tanya Ais tenang meski sebenarnya ia juga menyimpan hasrat yang sama.


"Iya, angkat saja. Siapa tahu itu telepon penting, soalnya dari tadi nggak berhenti berbunyi." Rey mulai terlihat tenang karena sudah bisa menguasai emosinya.


"Assalamu'alaikum maaf ini ...." Belum selesai pertanyaan suara di seberang sana sudah menjawab.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ais ini bapak, tolong jemput bapak di bandara sekarang ya." Terdengar suara Abdullah bersemangat.


"Bapak! Ini benaran bapakkan?" tanya Ais merasa tak percaya.


"Iya Nak, ini bapak." jawab Abdullah dengan senyum yang terpahat diwajahnya meski Ais tak bisa melihatnya langsung.


"Iya Pak, kami akan segera meluncur sekarang," jawab Ais dengan tersenyum.


"Kenapa? Apa itu bapak?" tanya Rey penasaran.


"Iya itu bapak, pantas saja aku merasa tak asing dengan nomor ponselnya, beliau minta jemput di bandara katanya.


"Baiklah kita mutar balik sekarang. Kasihan bapak nanti nunggunya lama."Rey memutar arah mobilnya menuju bandara.


Wajah Ais benar-benar tampak gembira, rasa rindu pada sang ayah akan segera terobati. Baru beberapa bulan saja tidak bersama rasanya sudah seperti puluhan tahun tidak bertemu.


"Kamu senang akan bertemu bapak?" tanya Rey pada kekasihnya.


"Sangat," jawab Ais antusias.


"Syukurlah do'amu sudah di ijabah oleh Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang." Rey tersenyum sambil melirik istrinya.


"Alhamdulillah, Allah maha mengetahui apa yang hambanya perlukan bukan yang hambanya inginkan, dan aku sangat mensyukuri semua yang telah Allah berikan untukku entah itu suka maupun duka, meski terkadang susah untuk mengikhlaskannya." Ais mengerling manja pada suaminya.


"Lihatlah kita hampir sampai, semoga bapak tidak menunggu terlalu lama," ucap Rey dengan tetap fokus mengemudi.


"Aamiin ya mujibaisailin."Ais mengaminkan do'a aang suami.


Mobil Rey dan Ais perlahan memasuki area parkir bandara. Setelah mobil benar-benar berhenti keduanya bergegas untuk turun.


"Kita langsung menuju pintu penjemputan ya, Yang!" pinta Ais pada suaminya.


Rey hanya mengangguk sebagai jawaban atas permintaan istrinya. Keduanya bergandengan tangan menuju pintu kedatangan. Ais tampak mengedarkan pandangannya mana tahu sang ayah sudah turun dan menunggu, namun hasilnya masih nihil. Itu artinya sang ayah belum sampai.


"Bagaimana, ada nampak sosok bapak?" tanya Rey.


"Sepertinya tidak ada, bapak belum turun. Ponselnya masih belum aktif." Ais memperlihatkan ponselnya pada Rey.


"Oke, kita tunggu disini saja ya." Rey mengajak Ais untuk duduk sambil menikmati secangkir teh hangat.


"Yang, apa aku boleh minta belikan sesuatu?"


"Sure, kamu mau beli apa, Ayang?"


"Roti Boy, aku terbayang rasa kopinya yang creamy banget, apa lagi dimakan bersama secangkir teh hangat, pasti tambah enak." Tampak Ais menelan ludahnya karena ikut membayangkannya saat ia bercerita.


"Baiklah, kamu tunggu di sini ya." Rey beranjak dari tempat duduknyan menuju ke tempat pembuatan roti Boy yang disukai oleh istrinya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Rey sudah kembali dengan satu kantong plastik besar yang berisikan roti Boy pesanan istrinya.


"Nih rotinya." Rey menyerahkan kantong plastik berisikan roti pesanan Ais.


"Terimakasih, Yang. Tapi ini banyak banget."Ais melihat isi kreseknya.


"Siapa tahu nanti bapak juga mau, itu juga buat Ara dan Aza serta orang-orang di rumah kita nanti, buat oleh-oleh," jawab Rey sambil tersenyum.


"Meskipun kamu bilang ini untuk kita semua ya tetap saja ini kebanyakan," protes Ais pada suaminya.


"Yah sudah sisanya terserah mau kamu apain, yang penting sisihkan dulu untuk ayah dan orang-orang yang ada di rumah kita." Rey kemudian menyeruput teh hangatnya sambil mulai menikmati roti yang tadi dia pesan.


"Baiklah, aku akan sedekahkan sisanya buat para penumpang atau pengunjung di sini." Ais berdiri dan mulai membagikan kue-kue yang dibeli oleh suaminya. Namun ia segera terhenti saat sampai di barisan tumpukan orang-orang yang sedang menunggu di bandara.


"Bapak!" Panggil Ais pada lelaki yang mengenakan jaket tebal dan topi bola kesayangannya.


Lelaki itu mengangkat mendonggkakkan wajahnya pada arah suara yang memanggilnya.


"Ais! Betulkah itu kamu?" Lelaki itu segera bangkit dari duduknya sambil memegang roti yang tadi disodorkan putrinya.


"Kenapa Bapak menunggu di sini, kenapa nggak telepon." Ais segera menghambur kedalam pelukan ayahnya. Ia benar-benar merasa tidak berguna membiarkan ayahnya menunggu dan terlantar.


Setelah puas memeluk ayahnya dengan cepat ia membawa sang ayah ke tempat ia dan suaminya tadi menunggu.


"Kenapa bapak nggak telepon? Tadi Ais sudah telepon ponsel bapak tapi masih diluar jangkauan, jadi Ais kira bapak masih di dalam pesawat," ucap Ais pada Abdullah.


"Ponsel bapak hilang sehabis menelpon kamu tadi, di ambil oleh seseorang yang pura-pura lagi kesusahan, pas bapak kasih eh langsung di bawa kabur deh. Jadi bapak nggak bisa lagi menghubungi kalian, nggk hafal nomor ponselnya," jelas Abdullah pada putrinya.


"Ya sudah Pak, yang terpenting sekarang kita sudah bertemu, Allah itu maha kaya. Ternyata ini hikmah dibalik kak Rey membelikan banyak roti, Ais bisa ketemu bapak. Apa bapak sudah makan?" tanya Ais lagi. Sedangkan Rey tersenyum bahagia melihat pertemuan haru antara ayah dan anak itu.


"Bapak belum makan, bekal yang di kasih kak Ara sudah habis. Bapak nggak ngerti cara beli makan di sini, mana semuanya serba mahal," ucap Abdullah sambil tersenyum mengingat keudikannya sebagai orang kampung.


"Kita makan dulu sekarang, kasihan bapak sudah lapar." Akhirnya Rey ikut berbicara dan langsung mengamit tangan ayah mertua dan juga istrinya.


Mereka bertiga berjalan sambil bergandengan menuju ke sebuah rumah makan terdekat agar bisa mengisi perut mereka yang memang sudah mulai keroncongan. Setelah puas makan barulah mereka akan pulang.


*****


Rumah Rey dan Ais ....


"Bapak! Kita sudah sampai, ayo kita turun!"ajak Ais pada ayahnya yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Eh udah sampai ya, alhamdulillah dan maaf bapak ketiduran." Tampak Abdullah mengerjapkan matanya.


"Nggak apa-apa kok Pak. Wajar saja, soalnya bapak pasti kecapean." Lalu tiba-tiba ....


Wushhh!


Dengan sekali angkat Rey sudah mengendong sang ayah mertua yang masih terlihat linglung.

__ADS_1


"Hei Rey, turunkan bapak! Kenapa menggendong bapak begini. Bapakkan masih kuat jalan," teriak Abdullah protes.


Namun Rey malah tertawa mendengar suara protes sang ayah mertua.


"Bapak diam saja, sudah sewajarnya kami sebagai anak menggendong bapak di saat bapak sudah mulai merasa lelah dan kecapean. Dulu juga sewaktu kami kecil mungkin bapak merasa capek namun tidak menghiraukannya demi kebahagiaan kami. Meskipun bapak bukan papi tapi bagiku bapak juga ayahku." Rey terus berlalu dengan menggendong ayah mertuanya menuju kamarnya.


Ais yang baru pertama kali melihat kejadian ini merasa sangat bahagia, ia sangat bersyukur mempunyai suami yang begitu perduli dengan keluarganya.


*Alhamdulillah terimakasih yaa Allah, Engkau telah mengirimkan seorang menantu yang begitu baik terhadap diriku dan juga mendiang istriku, dia menyayangi putriku dengan tulus tanpa memandang kami berasal dari keluarga yang susah, terimakasih yaa Robb. Batin Abdullah sambil menangis haru dalam hatinya.


Kini Rey sudah mendudukkan sang ayah mertua di atas kasurnya. Kemudian ia melepaskan sepatu serta kaos kaki sang ayah.


"Bapak istirahatlah! Sebentar lagi akan masuk waktu magrib, tapi jangan tidur ya. Itu kurang baik untuk kesehatan bapak." Rey mendekati nakas lalu menuangkan segelas air putih lalu memberikannya pada Abdullah.


"Terimakasih Nak Rey, kamu sudah begitu baik terhadap bapak dan keluarga bapak juga." Tampak segurat senyum di wajah lelahnya.


"Iya Pak, sama-sama. Sekarang Rey permisi dulu mau melihat Ara dan Aza." Rey beranjak pergi dari kamar sang ayah mertua.


Setelah mengunjungi putrinya Rey segera ke kamar mereka, ia ingin segera mandi karena badannya sudah terasa lengket semua. Namun sampai di kamar mereka ia tertegun melihat tumpukan baju sang istri di atas kasur mereka. Naluri kelelakiannya merasa terusik, namun ia ingat kalau masih harus berpuasa setidaknya hingga kondisi rahim sang istri benar-benar sehat pasca keguguran tempo hari. Untuk mengalihkan rasanya cepat Rey menuju ke tempat wudu yang ada di kamar mereka, setelah itu ia langsung mengambil mushab Al Qur'an dan mulai membacanya.


Saking asyiknya ia tak menyadari kalau sang istri sudah selesai mandi dan duduk di sampingnya, seketika aroma mawar menyeruak lembut menusuk hidungnya. Rey segera menyudahi bacaannya lalu menyimpan mushab Al Qur"an itu kembali ke tempatnya.


"Kamu sudah selesai?" tanya Rey berbasa basi untuk menutupi kegugupannya.


"Hemm begitulah, tapi Yang, ada yang ingin aku tanyakan padamu," Ais semakin merapatkan duduknya mendekati sang suami.


Jantung Rey sudah berdegup kencang, hasratmya terasa kian memuncak, wajahnya memerah.


"Ke-kenapa?" tanya Rey gugup.


"Apa aku terkena penyakit ya, soalnya tamu bulananku kok nggak habis-habis, seperti sedang nifas saja," tanya Ais serius.


"Oke nanti akan aku jawab, tapi sekarang izinkan aku mandi dulu, soalnya sudah gerah zohir batin ini," ucap Rey sambil nyengir yang ditanggapi kebingungan sang istri.


Rey segera ngacir ke kamar mandi sementara Ais menatap bingung kepergian sang suami. Saat Rey sedang berada di kamar mandi, ponselnya bergetar beberapa kali. Tadinya Ais tak ingin mengangkat ponsel suaminya karena khawatir kalau itu dari rekan bisnisnya. Dia tak ingin membuat kekacauan pada bisnis suaminya.


Meskipun sudah berusaha untuk tidak perduli nyatanya suara ponsel yang terus menerus berdering membuatnya merasa penasaran juga pada akhirnya. Perlahan Ais membuka ponsel Rey,namun tak ada nama kontak yang terteta pada si penelpon. Akhirnya Ais memberanikan diri untuk mengangkat telepon yang sudah lebih dari sepuluh kali berdering.


Klik!


Suara telepon untuk menjawab telah Ais tekan dan ....


"Assalamu'alaikum, Abi."


Deg!


Jantung Ais seakan berhenti berdetak. Suara itu adalah suara yang sangat dirindukannya. Seketika bulir bening itu meleleh perlahan dari sudut mata sang ibu. Si penelpon adalah Alif, putra kesayangannya.


Ais tak bisa berkata-kata, tenggorokannya seolah tercekat. Kerinduan membuatnya membisu.


"Halo, Abi. Apa Abi baik-baik saja? Adakah umi di dekatmu, Abi?"


Hiks ... hiks ....


Hanya isakan yang terdengar oleh putranya.


"Umi ... dirimu kah ini? Assalamu'alaikum, Umi!" sapa Alif akhirnya setelah tahu kalau yang menerima telepon adalah ibunya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Babang sayang." Akhirnya bisa juga Ais meloloskan kata-katanya yang tercekat.


"Umi apa kabarnya?"


"Alhamdulillah, umi, abi, juga Ara dan Aza, serta kakek sehat semuanya. Kamu sendiri bagaimana?" Kata-kata Ais mulai lancar.


"Katakanlah, Sayang. Inshaa Allah, umi siap untuk mendengarnya," jawab Ais terdengar meyakinkan.


"Umi dan abi di undang secara khusus ke Arab Saudi untuk menghadiri acara wisuda Babang yang telah menghatamkan tiga puluh juz Al Qur'an hanya dalam waktu enam bulan lewat satu minggu. Sedangkan berita sedihnya, Babang wajib memperdalam ilmu Al Qur'an sampai nanti Babang berumur dua puluh tahun." Alif mengakhiri ucapannya.


"Tabarakallah, Sayang. Sungguh kabar yang benar-benar di luar dugaan, dan sungguh membanggakan. Umi tak dapat berkata-kata selain rasa syukur pada Allah yang telah mengijabah do'a-do'a umi disetiap penghujung malam. Kapan kami harus berangkat?" tanya Ais dalam tangis bahagianya.


"Besok, Um. Karena acaranya dimajukan sehingga tak ada waktu untuk mengabari jauh-jauh hari sebelum hari H-nya." Alif terdengar sedih karena khawatir ayah dan ibunya tidak bisa hadir.


"Iya, Nak. Do'akan saja biar abi dan umi beserta adik juga kakek bisa berangkat besok dan tidak terlambat.


"Aamiin, Umi ... Babang tutup ya teleponnya, soalnya kami antri untuk menelpon. Assalamu'alaikum!" pamit Alif dan menutup panggilannya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Ais dalam linangan air mata haru juga sedihnya.


Klek!


Pintu kamar mandi terbuka, tampak Rey yang sudah segar bugar keluar dengan tubuh masih terbalut handuk.


"Siapa, Ayang?"


"Babang Alif,"


"Ada berita apa?" Rey berjalan mendekat, ia bisa melihat bekas air mata istrinya.


Aispun menceritakan permintaan putranya dengan detil dan tak ada yang terlewatkan.


"Kita berangkat malam ini, siapkan kebutuhan kamu, Ara, Aza, juga bapak secukupnya," ucap Rey seraya berlalu untuk berganti pakaian.


Setelah berpakaiaan tampak Rey menelpon seseorang yang akan membantu mereka berangkat ke Arab Saudi malam ini. Rey ingin hadir tepat waktu dalam acara wisuda putranya.


Ais dengan hati-hati memberitahukan ayahnya kalau mereka akan segera bertolak ke Arab Saudi.


"Jadi kita akan pergi Umroh?" tanyan Abdullah.


"Bisa Pak, inshaa Allah tetapi setelah acara wisuda Alif." Ais tersenyum pada sang ayah.


*****


Semua sudah siap merekapun bertolak ke Arab Saudi yang bisa menghabiskan waktu sembilan hingga sepuluh jam di dalam pesawat. Dan akhirnya mereka sudah mendarat di bandara King Abdul Aziz.


Rombongan Rey sudah di sambut oleh sahabatnya yang tinggal di Arab Saudi sehingga mereka tidak perlu repot. Suasana pagi di kota haram sangat terasa sejuk dan menyegarkan.


"Acara putramu inshaa Allah akan diadakan kurang lebih tiga jam lagi, kalian masih punya waktu untuk istirahat ke hotelku. Letaknya tidak terlalu jauh dengan tempat acaranya nanti. Setelah acara putramu selesai kita umroh bersama sebelum kalian kembali ke tanah air." ucap Jamaludin sahabat Rey semasa kuliah, dia orang Indonesia juga tetapi sudah menetap serta menikah dengan muslimah Arab Saudi.


Semua menuju Hotel Ar Rahman salah satu hotel milik Jamal, begitulah ia biasa di sapa. Setelah beristirahat baru lah mereka bersiap menuju tempat perhelatan akbar wisuda hafiz Qur'an seluruh dunia, suatu momen yang bisa dibilang sangat langka dan jarang terjadi.


Ais dan keluarganya merasa sangat takjub dengan dekor serta kemegahan ruangan yang mereka tempati, mereka diperlakukan layaknya raja dan ratu, karena mereka adalah tamu kehormatan dalam acara itu.


Senandung para hafizpun mulai terdengar, membuat siapa saja merinding dan terharu.


Kuputuskan satu impian


Aku ingin jadi hafidz Quran


Ku akan bertahan walau sulit melelahkan


Allah beri aku kekuatan


*


Kuimpikan sepasang mahkota

__ADS_1


‘Tuk berikan di akhirat kelak


Sebagai pertanda bahwa kau sangat ku cinta


Aku cinta engkau karena Allah


*


Kucinta Umi


Kucinta Abi


Kuharap doamu selalu dalam hati


*


Kucinta Umi


Kucinta Abi


Berharap bersama di Surga-Nya nanti


*


I Love You Umi


I Love You Abi


I Love My Family Forever In My Heart.



Semua hadirin menangis haru, sudah menjadi impian semua orang tua di dunia ini bisa dipakaikan mahkota oleh sang anak yang menjadi hafiz Qur'an di akhirat kelak, yang akan membawa kedua orang tua serta keluarganya menuju janah Allah yang indah.


Setelah acara penobatan selesai semua keluarga melaksanakan ibadah umroh sebelum kembali ke tanah air. Rey dan Ais juga harus merelakan putra mereka untuk belajar di Arab Saudi kembali sampai nanti dia dewasa.




kubah hijau makan Nabi Muhammad SAW.



raudoh




jabal rahmah



makkah al mukarahmah


Ara dan Aza tumbuh menjadi gadis yang cerdas juga sama seperti Babang Alif. Keduanya juga sedang menghafal Al Quran. Mereka juga ingin memakaikan mahkota untuk kedua orang tuanya di akhirat kelak.


Abdullah merasa sangat bahagia menghabiskan masa tuanya bersama Ais dan keluarganya yang selalu menjaganya dengan penuh kasih sayang.


Sementara itu usaha Rey dan Ais semakin maju dan boleh di katakan kehidupan mereka sudah melebihi kata cukup namun keduanya tetap qonaah dan amanah, selalu membantu dan perduli terhadap sesama.


Demikianlah cerita Nyanyian Takdir Aisyah sesi ke dua, semoga berkenan dan bermanfaat untuk kita semua.


The best of all deeds is that you bring happiness to your Muslim brother, pay off his debt or feed him bread. – Hadits


Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membahagiakan saudara sesama muslim, mengangkat kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. – Hadis.


Terimakasih telah setia membaca cerita ini sampai tamat, mohon maaf lahir dan batin jika selama menulis banyak kata salah atau silaf yang telah author lakukan, dan kepada Allah saya mohon ampun.


Sampai jumpa di cerita lainnya ....


Jangan Lupa baca juga Novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.


Dan karya apik author yang lain :


Fit Fithree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


Mengejar Cinta Ariel


Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


*Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


My Heart Is Only For You


*Sudrun


Penjelah Malam


Samudra


*Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


*Cindyelvira


Ketika Muslimah Jatuh Cinta


Istri Sholehah


*Karlina Sulaiman


Mencintaimu Dalam Diam


Kembali


*Novi Wu


Bos Come Here

__ADS_1


__ADS_2