
š»Terimakasih sudah membuka chapter ini, jangan lupa tinggalkan jejakmu berupa like dan komen, karena itu sangat berarti bagiku tuk terus semangat dalam berkarya, semoga kamu sehat dan bahagia selalu.š»
Selamat Membaca!
*****
Hotel Resto ....
Perlahan Rey membuka matanya yang sangat merah dalam keadaan setengah sadarnya ia dapat melihat bayangan sang istri. Dengan cepat diaraihnya tubuh Ais dan dipeluknya dengan erat.
"Aku berusaha untuk menjaga kehormatan diriku dan dirimu, aku tidak menyentuh wanita itu, dan aku menutup mata agar tak melihat yang bukan hak ku, Ayang! Bantulah aku untuk melewati semua ini." bisik Rey di telinga sang istri dengan helaan nafas yang mulai menderu.
Malam itu Rey menghabiskan malam panjangnya bersama sang istri, dengan setia Ais memenuhi hasrat sang suami yang melebihi batas normal, meski kelelahan namun keduanya bersyukur terhindar dari perbuatan yang merupakan dosa besar.
*****
Masih di Hotel Resto ....
Menjelang subuh kedua pasutri itu sudah bangun dan bersiap untuk membersihkan diri, karena Sebentar lagi akan masuk waktu salat subuh.
Rey merasa sangat bugar ketika bangun, namun berbeda dengan Ais. Ia merasa seluruh tubuhnya lemah tak bertenaga, enggan sekali rasanya untuk bangun. Melihat sang istri yang tampak jelas sangat kelelahan membuat dirinya merasa iba, tentu saja ini semua akibat ulahnya yang mengajak sang istri memasuki medan peperangan berkali-kali.
Melihat sang istri yang kesusahan untuk bangun segera Rey membopong sang istri dan membawanya ke kamar mandi. Dengan telaten Rey memandikan sang istri hingga selesai, setelah selesai Rey kembali membopong sang istri ke tempat tidur.
"Ayang! Apa kamu bisa untuk salat berdiri?" tanya Rey lembut pada sang istri.
"Entahlah, Yang. Semoga bisa, akan aku usahakan." Ais memakai mukena yang selalu ada dalam tasnya.
Keduanya segera memulai salat, karena suara azan sudah sedari tadi dikumandangkan. Meski akhirmya sang istri hanya dapat salat duduk, karena kakiknya masih benar-benar belum kuat untuk berdiri.
Selepas salat subuh keduanya segera memutuskan untuk cek out dari hotel yang ada di resto tempat makan malam mereka kemarin.
Keduanya sudah di dalam mobil dan bersiap untuk kembali. Sampai akhirnya Ais membuka perjalanan mereka dengan memasangkan kaset muratal.
"Ayang! Apa kamu masih merasakan lemah atau lemas?" tanya Rey khawatair.
"Sedikit, nanti juga akan normal kembali." Ais tersenyum menatap sang suami.
"Aku akan membalas perbuatan Nancy," ucap Rey geram.
"Yang, jangan begitu. Itu tidak baik, bukankah dalam agama kita tidak dianjurkan untuk balas dendam, kalau kamu balas dendam apa bedanya kamu dengan Nancy?" tanya Ais balik yang membuat suaminya terdiam.
"Tapi dia telah mambuat kita semua hampir masuk dalam dosa besar!" bantah Rey dengan sedikit ketus.
"Ayang kita mungkin pernah merasakan sakit hati, iri, kecewa, atau mungkin merasa tersinggung dengan orang lain. Sudah sewajarnya hal itu terjadi, karena manusia memang seperti itu. Terkadang, ada kalanya kita menahan amarah dan akhirnya menimbulkan rasa dendam." Ais mulai memberikan nasihat yang akan membuat suaminya sadar akan kesalahannya.
"Terkadang jika amarah kita terlalu dalam, kita akan menginginkan supaya orang yang menyakiti hati kita merasakan hal yang sama, seperti apa yang kita rasakan. Hal ini sering disebut dengan ābalas dendamā, yaitu membalas perbuatan yang dilakukan orang lain kepada kita dengan merasakan hal serupa. Bolehkah jika demikian?" tanya Ais pada suaminya yang tidak mendapatkan jawaban melainkan hanya sebuah gelenggan.
__ADS_1
"Ayang, membalas dendam merupakan perbuatan buruk yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Menurut Islam, satu-satunya cara terbaik untuk `membalas dendam` adalah dengan menjadi jiwa yang pemaaf." Kemudian Ais melanjutkan bahasannya.
"Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW, "Tidaklah seseorang memaafkan kezaliman (terhadap dirinya) kecuali Allah akan menambah kemuliaannya," (HR. Ahmad, Muslim dan Tirmidzi)," ucap Ais lagi.
"Ketahuilah Ayang, selain itu menjadi pemaaf juga dapat membuat kita lebih tenang dan damai. Hati dan pikiran kita akan terasa ringan dan tenang. Tentu saja membalas dendam tidak sama dengan ketika membalas perbuatan yang dzalim. Allah berfirman: āDan sesungguhnya orang-orang yang membela diri setelah teraniaya tidak ada satupun dosa atas mereka, sesungguhnya dosa itu atas orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka tanpa hak. Mereka mendapat adzab yang pedih. Tetapi orang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang amat utama,ā (QS. Asy Syuro: 39-43)." Ais menatap suaminya dengan tersenyum.
Tentu saja terkadang kita merasa bahwa seseorang yang menjelek-jelekkan kita, harus kita balas, karena pada saat itu kita mungkin merasa sangat sakit hati. Namun, mengenai hal ini Rasulullah SAW bersabda:
āApabila ada seseorang yang mencacimu atau menjelek-jelekanmu dengan aib yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah kamu balas memburukkannya dengan aib yang kamu ketahui ada padanya. Maka pahalanya untuk dirimu dan dosanya untuk dia,ā (HR. Al Muhamili dalam Amalinya no 354, Hasan).
Sifat pendendam sangat dilarang dalam islam karena bisa memperburuk akhlak seseorang. Selain itu, sifat ini juga dapat menjauhkan kita kepada Allah SWT. Allah Subhanahu wa Taāala dan Rasulullah shalallahu āalaihi wa sallam sangat membenci sifat pendendam, dan sangat mengajnurkan kita untuk menjadi orang yang pemaaf.
Rey menghentikan mobilnya sejenak, ia mengenggam tangan sang istri.
"Ayang! Terimakasih banyak. Kamu selalu bisa menuntunku kembali di saat aku mulai tersesat." Rey mencium tangan kekasihnya itu lembut.
"Kita adalah satu Ayang, kamu adalah pakaianku dan aku adalag pakainanmu. Sebagai suami istri kita saling melengkapi, dan saling menasihati. Di saar aku yang terpuruk kamu pun selalu ada untuk mengangkatku kembali ke jalan yang seharusnya kita lewati." Ais juga mencium tangan sang suami.
Keduanya tersenyum bahagia dan kembali melanjutkan perjalanan menuju ke kediaman mereka.
*****
Sementara itu di kantor polisi ....
Seorang gadis bule berteriak histeris meminta untuk dilepaskan karena merasa tidak bersalah.
Braakkkk!
Pintu jeruji besi itu di pukul oleh petugas.
"Berisik! Simpan saja umpatanmu, tunggu saja sampai lelaki itu dan keluarganya sampai dan memproses semuanya," ucap petugas itu dengan nada sedikit tinggi.
Nancy langsung terdiam, bagaimanapun bayangan wajah dan tubuh Rey yang seksi masih memenuhi relung pikirannya, dia sedikit pun tidak menyesalinya. Dalam benaknya ia masih berpikir bagaimana caranya agar dia bisa memiliki lelaki itu untuk jadi kekasihnya.
"Aku akan berusaha untuk menjadikanmu lelakiku, pak Rey. Aku terlanjur menyukaimu, selain tajir kamu juga sangat tampan. Setiap membayangkan wajahmu hasratku mengelora," gumam Nancy dengan senyum jahatnya.
Meski sudah mendekam dalam jeruji besi ternyata tidak membuat seorang Nancy menyadari kesalahannya. Dia malah berencana untuk menjebak Rey dan memutar balikkan fakta, agar bisa memiliki Rey seutuhnya.
Bersambung.....
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
__ADS_1
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
Audio Nyanyian Takdir Aisyah
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*WIB (Write in Box)
Ya Dia Istriku
*Khauma
I Love My Army Wife
*Syala Yaya
Istri Kedua Tuan Krisna
*Laura V
Sang Penggoda
*Bintun Arief
Terjebak Cinta Brondong
__ADS_1