
🌻Terimakasih sudah membuka chapter ini, jangan lupa tinggalkan jejakmu, semoga kamu sehat dan bahagia selalu.🌻
Selamat Membaca!
*****
Masjid Pondok ....
Melihat situasi yang mengharukan ustad Fajar tampil kedepan untuk melanjutkan kultumnya Anan, karena air mata Anan sudah mengalir deras.
"Sampai suatu saat, ada seorang Lelaki datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya, Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin. Karena Ayah tahu bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti, dan akhirnya ... saat Ayah melihatmu duduk di Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia ...." Sambung ustad Fajar, begitu juga dengan anak laki-laki. Sudah selayaknya kita mengucapkan terimakasih pada ayah kita," ucap ustad Fajar menyudahi kultumnya Anan.
Linangan air mata memenuhi masjid malam itu, tampak ada juga santri yang saling merangkul untuk menguatkan satu dengan yang lainnya.
Ustad Fajar segera membubarkan jama'ah untuk makan malam bersama, dan ia meminta Anan untuk tetap tinggal sebentar.
"Anan, tunggu dulu. Ada yang ingin ustad sampaikan padamu." Ustad Fajar merapikan sarungnya.
"Iya, Tad." Anan menunggu ustad Fajar di depan pintu masjid. Alif juga ikut menunggu karena Anan yang memintanya.
"Terimakasih untuk kultum hari ini, tema yang kamu angkat benar-benar sangat menyentuh dan jarang sekali ada yang membahasnya," ucap ustad Fajar sambil menepuk pundak Anan lembut.
"Sama-sama, Tad. Ini semua berkat bimbingan semua ustad di sini. Awalnya aku sangat takut, Tad. Namun alhamdulillah ada adik Alif yang selalu memberi mensuport sehingga aku bisa juga tampil seperti tadi," jelas Anan.
Alif hanya tersenyum karena namanya di sebut oleh Anan di depan ustad Fajar.
"Baiklah sekarang kalian ayo segera makan!Setelah itu istirahat ke kamar ya, nanti pas salat isya, kita ketemu di masjid ya!" ucap ustad Fajar lembut.
"Siap, Ustad!" ucap Keduanya serentak.
Mereka pun segera menuju ruang makan pondok, karena ingin segera cepat untuk beristirahat. Tampak suasana kebersamaan yang luar biasa untuk anak-anak yang sudah lama mondok. Kehidupan yang jauh dari orang tua dan sanak saudara membuat mereka terikat sebagai saudara, seperti pepatah yang mengatakan tetangga terdekatmu adalah saudaramu.
*****
Saat anak-anak sudah selesai makan, semua langsung balik ke asrama. Begitu juga dengan ustad Fajar. Sedang berjalan menuju kediamannya tiba-tiba ponselnya berdering, dengan cepat ia merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya yang ada di dalamnya.
"Assalamu'alaikum, Pak Rey. Ada yang bisa saya bantu?" tanya ustad Fajar sopan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Apa bisa saya bicara sebentar dengan putraku?" tanya Rey dengan sopan pula.
"Oh iya, tunggu! Tuh anaknya baru saja jalan. Saya teriakin dulu ya." Ustad Fajar menutup suara ponselnya dengan tangan dan segera memanggil Alif yang memang belum jauh dari posisinya berdiri saat ini.
"Alif ... Alif ... sini!" Lambai ustad Fajar pada Alif.
Melihat ustadnya sudah melambaikan tangan, Alif segera memutar haluan. Berjalan meninggalkan Anan dan kawan-kawannya menuju ke ustad Fajar.
"Ada apa, Tad?" Alif berjalan mendekat.
"Telpon dari Abi mu." Menyerahkan ponselnya pada Alif.
"Assalamu'alaikum, Abi," sapa Alif dengan serak, serasa mengkal ditenggorokkannya. Ia menahan tangis kerinduan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, anak saleh abi apa kabarnya?" tanya Rey yang juga menahan tangis.
Lama Alif terdiam berusaha menenangkan hatinya. Ustad Fajar yang sudah faham betul dengan kondisi psikis para santrinya. Ia tersenyum sambil menepuk pundak Alif. Tentu saja untuk menguatkan hatinya. Kemudian ia mengangguk. Bulir kristal bening mengalir perlahan di sudut mata Alif.
Ustad Fajar meminta Alif menghapus air matanya kemudian memintanya untuk menarik nafas yang dalam lalu menghembuskannya.
"Sudah baikan?" tanya ustad Fajar.
__ADS_1
"Iya, Tad," jawab Alif pelan.
"Sambut obrolan abi, mu. Kasihan beliau menunggu," ucap ustad Fajar lagi.
Alif tersenyum dan mengangguk. Kemudian kembali betbicara dengan abi nya.
"Abi, apa kabarnya? tanya Alif dengan sedikit terdengar lebih ceria.
"Alhamdulillah, Sayang. Kami semua sehat. Abi ingin mengabarkan kalau besok kami akan datang tapi agak telat. Soalnya besok abi ada meeting penting yang tidak bisa ditinggalkan," ucap Rey menjelaskan.
"Iya, Bi. Tapi ...." Alif menggantungkan ucapannya.
"Tapi kenapa sayang?" tanya Rey penasaran.
"Apa Babang boleh minta tolong?" tanya Alif sopan.
"Tentu, Sayang. Katakan! Apa yang dapat abi bantu?" ucap Rey senang.
*Alhamdulillah, putraku sudah banyak perubahannya, tidak egois lagi.*
"Babang ingin abi membantu teman Babang, kak Anan. Kasihan dia, ayah dan ibunya tidak bisa datang karena nggak ada biaya. Dan juga adiknya sakit. Mereka tinggal di Palembang. Nanti lebih jelasnya abi tanya saja ke pak ustad, alamat lengkapnya," ucap Alif sedikit bersemangat.
"Iya, Sayang. Inshaa Allah akan abi usahakan, ya. Sekarang kamu segera istirahat, supaya besok bisa lebih fresh saat bertemu umi dan dedek Ara serta Aza." Rey mengecup putranya dari jauh.
"Iya, Abi. Terimakasih sudah menelpon, Babang. Miss you." Cium jauh Alif untuk Rey.
"Miss you too, My Son's."Rey pun memberikan cium jauhnya lewat ponsel.
Alif langsung memberikan ponselnya pafa ustad Fajar, sebelum berlari menuju kamarnya karena genangan air mata sudah tak terbendung.
Akhirnya ustad Fajar lah yang mengakhiri panggilan dari Rey. Tentu beliau sangat mengerti rasa rindu seorang anak pada keluarganya. Dulu hal yang sama juga di alaminya.
*****
Sejuk udara pagi mengikis sepi yang mulai hendak beranjak pergi, bersama kepakan sayap subuh. Meluruhkan tetesan embun yang membasahi dedaunan. Lambaian rerumputan seolah ikut bergoyang dengan irama syahdu alunan suara azan.
Susana yang dingin tidak mematahkan semangat para pejuang subuh, tak heran dahulu Rasulullah mengatakan jika ingin mencari prajurit atau pasukan tentara cari lah di barisan salat subuh. Karena subuh merupakan waktu yang sangat nyaman untuk tidur, tidak semua orang rela mengorbankan kenyamanannya untuk menunaikan salat subuh, apa lagi harus ke masjid seperti kaum lelaki.
Tampak rombongan santri yang sudah rapi, dengan kain sarung dan baju koko tak lupa peci dan sajadah yang tersangkut di pundak. Bercakap-cakap sambil berjalan menuju masjid, meski ada juga yang masih menyilangkan tangan di depan dada menahan dingin, atau juga yang wajahnya tampak kusut menahan kantuk. Namun semua tetap bertekad untuk salat subuh berjama'ah ke masjid.
Begitu juga dengan Alif, pagi ini matanya agak sembab. Hal ini tentu saja karena tadi malam ia kebanyakan menagis hingga ketiduran. Anan yang melihatnya jadi tersenyum.
"Kak, kenapa tersenyum melihat Alif?" tanya Alif penasaran.
"Wajahmu, lucu." Anan tertawa sambil menutup mulutnya.
"Emang wajahku kenapa, Kak?" tanya Alif lagi.
"Kamu mirip murid Jackie Chan." Anan tersenyum makin lebar.
"Maksudnya, aku mirip Jackie Chan?" Alif Memanyunkan bibirnya.
Anan tertawa lepas, sedihnya sedikit berkurang dengan kelucuan Alif.
"Bukan, Lif. Hanya saja karena matamu yang sembab, wajahmu mirip anak-anak cina yang suka belajar Kung Fu, begitu," jelas Anan.
Mendengar penjelasan Anan, akhirnya Alif juga ikut tertawa. Keduanya sejenak melupakan rasa sedih karena merindukan keluarganya.
Bagaimana perjumpaan mereka dengan kekuarganya nanti, tunggu di next episode ya ....
__ADS_1
Maaf kalau aku UP nya agak lama karena sedang sibuk mengajar Daring dan Home Visit. Semoga pandemi ini segera berakhir, aamiin.
Bersambung.....
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
Audio Nyanyian Takdir Aisyah
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*WIB (Write in Box)
Ya Dia Istriku
*Khauma
I Love My Army Wife
*Syala Yaya
Istri Kedua Tuan Krisna
*Laura V
Sang Penggoda
*Bintun Arief
Terjebak Cinta Brondong
__ADS_1