Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
DETIK BERSAMAMU IBU


__ADS_3

🌻Terimakasih sudah membuka chapter ini, jangan lupa tinggalkan jejakmu berupa like dan komen, karena itu sangat berarti bagiku tuk terus semangat dalam berkarya, semoga kamu sehat dan bahagia selalu.🌻


Selamat membaca!


Masih di rumah sakit ....


"Terimakasih, Ayang! I Love You." Ais segera menutup panggilannya, ia sangat jarang mengucapkan kata cinta pada suaminya karena merasa malu.


Rey sudah tersenyum di seberang sana, ia sangat hafal dengan kelakuan istrinya. Saat mengucapkan kata-kata itu pasti wajah istrinya sudah memerah.


Setelah menelpon suaminya Ais kembali masuk keruangan Aminah. Tampak terlihat ibunya mulai tenang. Ais segera mengajak kakak-kakak dan adiknya untuk makan bergantian agar sang ibu tidak di tinggal sendirian.


Notif pesan telah masuk diponselnya yang menandakan pesannya sudah sampai. Ais segera kembali keluar kamar untuk menjemput makanan yang telah di kirim oleh suaminya.


"Terimakasih, Pak!" Ais menerima paket makanannya dan memberikan tip pada lelaki yang mengantarkannya.


"Sama-sama, Bu! Tapi ini tip nya terlalu besar." Lelaki itu coba mengembalikan uang yang telah Ais berikan.


"Bapak mohon dengarkan penjelasan saya ini. Dalam matan al-Iqna’ – kitab fiqh madzhab hambali – dinyatakan:


وكل قربة فعلها المسلم وجعل ثوابها أو بعضها كالنصف ونحوه، لمسلم حي أو ميت جاز، ونفعه، لحصول الثواب له.


Semua ibadah yang dilakukan seorang muslim, kemudian dia pahalanya atau sebagian pahalanya, misalnya setengah pahalanya untuk muslim yang lain, baik masih hidup maupun sudah meninggal, hukumnya dibolehkan, dan bisa bermanfaat baginya. Karena dia telah mendapatkan pahala. (al-Iqna’, 1/236)." ucap Ais mengakhiri penjelasannya.


"Saya mohon bapak terima ya, saya niatnya sedekah buat keluarga bapak atas nama kedua orang tua saya, dan tolong do'akan ibu saya yang sedang sakit semoa beliau segera sadar dan jika ia akan berpulang semoga dimudahkan oleh Allah." Ais tersenyum pada lelaki kurir itu meski berbalut duka.


"Baiklah Ibu saya terima sedekahnya semoga ibu anda segera disadarkan dan jika ia hendak berpulang semoga dimudahkan oleh Allah, SWT. Aamiin allahumma aamiin." Lelaki itu menerima sedekah yang Ais berikan berupa belasan lembar uang seratus ribuan.


"Aamiin ya mujibasailin." Ais menyambut do'a yang lelaki itu sampaikan.


Lelaki itu segera pergi dan Ais juga telah membawa makanan itu ke ruangan di luar kamar Aminah. Di sana sudah menunggu kakak dan adiknya.


"Kak Ara ini maknannya tolong kakak yang urus, aku akan menjaga ibu. Kalian makanlah dulu, semuanya pasti kelaparan dan kecapean. Jangan lupa ajak bapak juga ya, dari pagi bapak susah di ajak untuk makan." Ais tersenyum dan menyerahkan bungkusan makanan pada Ara sang kakak.


Sementara ia segera kembali ke kamar sang ibu. Dengan telaten Ais mengurusi Aminah, membersihkan tubuhnya dengan air hangat, mulai dari wajahnya hingga keseluruh tubuh sang ibu. Kemudian ia mengganti pakaiannya dengan yang baru. Karena tubuh ibunya yang mulai mengurus membuat Ais tidak merasa berat untuk membolak balikkan tubuh sang ibu.


Setelah membersihkan tubuh sang ibu, Ais segera membawa pakaian kotor dan pampes sang ibu ke dalam sebuah keranjang yang akan ia bawa pulang kerumah nanti.


Kini Ais duduk di samping sang ibu dan menggenggam tangannya.


"Bu! Ais mohon bangunlah. Semua anak-anak ibu ada di sini, tidaklah ibu merasa senang dan ingin melihat mereka." Ais mencium tangan sang ibu lembut, air mata telah memenuhi kelopak matanya.


Namun tak ada tanda-tanda Aminah akan membuka matanya, hal ini tentu saja membuat hati Ais sedih. Perasaan ini pasti juga akan dialami oleh semua anak jika berada di posisi Ais.


Perlahan Ais menarik selimut putih yang ada diujung kaki sang ibu hingga sebatas dadanya. Diusapnya dengan penuh kasih kepala sang ibu.


"Maafkan Ais, Bu. Izinkan Ais membelai kepala ibu seperti dulu ibu membelai kepala Ais sewaktu Ais masih kecil. Semuanya masih terekam indah dalam memoryku, Bu." Linangan air mata Ais tak lagi dapat ia bendung.


Ais membelai rambut sang ibu dengan sangat lembut dan hati-hati, ia tidak ingin ibunya merasa sakit. Sedang membelai sang ibu suara azan asyar telah berkumandang dari ponselnya Ais.


"Bu! Ais salat asar dulu ya." Ais mencium ibunya yang masih tak bergeming. Dia segera berwudu saat suara pintu terbuka.


"Dek! Kamu mau salat dulu atau makan dulu?" tanya Ari pada Ais adiknya.


"Aku salat dulu kak, nanti baru aku makan." Ais segera mengambil mukenanya.

__ADS_1


"Kak! Aku titip ibu ya, kalau ada apa-apa tekan saja bel yang ada di atas pembaringan ibu." Ais berlalu menuju ke pintu.


"Iya Dek kamu salat saja, aku akan jaga ibu setelahnya nanti gantian untuk salat juga." Ari tersenyum menatap sang adik.


Ais segera menuju mushala yang terletak di ujung kamar sang ibu, sampai di sana Ais tertegun melihat lelaki paruh baya yang tampak baru saja meletakkan mushaf al Qur'an yang selalu dia bawa di atas rak buku mushala. Lelaki itu berdiri kemudian keluar menuju kamar wudu.


Ais perlahan tersenyum dengan sabar ia menunggu lelaki paruh baya itu untuk kembali ke dalam. Selang beberapa menit benar saja lelaki itu sudah kembali.


"Pak! Boleh aku ikut berjamaah?" tanya Ais pada lelaki itu yang tidak lain adalah Abdullah, ayahnya.


Lelaki itu hanya tersenyum dan mengangguk, karena salat berjamaah dengan jamaah yang lain baru saja selesai. Akhirnya ayah dan anak itu salat bersama.


*****


Tak terasa dentangan waktu terus saja berlalu, belum lama rasanya Ais menunaikan salat asar bersama sang ayah kini sudah masuk waktu salat isya. Mereka semua salat dengan bergantian agar ibu tidak di tinggal sendirian.


Selesai salat Ais di minta kakak-kakaknya untuk makan dukuan, sejak siang ia rasanya belum makan. Namun Ais berusaha untuk menolak.


"Dek! Kamu jangan membantah, kami tidak mau kamu ikutan sakit. Apa perlu kami kasih tahu suamimu?" Desak Ara yang merasa gagal merayu sang adik.


"Eh tidak Kak, jangan bilang kak Rey. Ia aku akan makan sekarang." Akhirnya Ais mengalah.


Ais memilih makan di bangku taman di depan kamar Aminah untuk menenangkan hatinya. Entah mengapa perasaan Ais sebenarnya sejak siang sangat tidak enak. Ia merasa sangat khawatir tentang ibunya.


Ais duduk sambil membawa makanan yang akan ia makan, ia tidak menyadari seseorang lelaki tampan sedang memperhatikannya. Lelaki itu baru saja tiba dengan banyak bekal makanan ditangannya. Baru akan melangkahkan kaki mendekati sang kekasih ia terpaksa menghentikan langkahnya, karena datang seorang lelaki tua mendekatk kekasihnya itu. Belum sempat sendokan pertama mendarat di mulut mungilnya lelaki itu berbicara padanya.


"Beri saya makan nyonya, saya belum makan dari kemarin." Lelaki itu berjongkok tepat dihadapan Ais.


Ais tidak jadi menyuapi makanannya. Ia balik bertanya pada sang bapak.


"Beneran bapak belum makan?"


"Baiklah bawa ini!" Ais merapikan makanan yang belum sempat ia makan. Kemudian merogoh dompetnya untuk memberi beberapa lembar uang pada bapak itu.


"Yaa Allah, ini benaran buat saya nyonya?" tanya lelaki itu tak percaya.


"Iya Pak! Dan jangan panggil saya nyonya, saya hanya wanita biasa bukan konglomerat." Ais tersenyum pada lelaki itu.


"Terimakasih banyak, Bu. Saya permisi." Lelaki itu pergi dengan mata berkaca-kaca, malam ini dan sampai satu bukan kedepan hidupnya akan aman dari kelaparan.


Merasa tidak ada yang akan dimakan lagi, Ais memutuskan untuk kembali ke kamar sang ibu. Namun pelukan seseorang menghentikannya.


"Khumairohku," bisik sang kekasih di telinga Ais.


Ais tersenyum dan berbalik, ia sangat hafal wangi green tea yang mengelitik penciumannya sangat menenangkan. Dia adalah Rey kekasihnya.


"Kita makan ya," ajak Rey pada Ais.


"Tapi aku su-." ucapan Ais terjeda.


"Aku sudah melihat semuanya." Rey melepaskan pelukannya dan berganti menuntun tangan sang istri untuk kembali duduk.


"No protes! Kita makan!" Rey mendudukkan sang kekasih di bangku taman kembali.


Keduanya makan bersama, untuk sesaat Ais melupakan kegelisahannya sejak siang.

__ADS_1


Beban perasaan akan sedikit berkurang jika kita mau berbagi dengan orang lain atau jika kita bisa merasakan sedikit ketenagan yang dapat membuat beban hati berkurang. Jalani dan terima semua dengan ikhlas, adalah kunci utama tuk meraih suatu rasa yang bernama tenang.


Bersambung.....


Terimakasih sudah membaca. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan. Semoga readers semua selalu sehat dan dilindungi dari segala mara bahaya. Aamiin.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


Mengejar Cinta Ariel


Tabib Cantik Bulan Purnama


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


Audio Nyanyian Takdir Aisyah


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*WIB (Write in Box)


Ya Dia Istriku


*Khauma


I Love My Army Wife


*Syala Yaya


Istri Kedua Tuan Krisna


*Laura V


Sang Penggoda

__ADS_1


*Bintun Arief


Terjebak Cinta Brondong


__ADS_2