Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
MEMBELI PECEL


__ADS_3

🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌻


Happy Reading!


Masih di rumah Sakit ....


"Ayang kamu tidur?" tanya Rey melihat mata kekasihnya yang mengerjab-ngerjabkan matanya.


"Hemm, sepertinya ia. Habisnya Ayang lama." Ais merapikan hijabnya.


Dalam hatinya ia tersenyum bahagia karena bisa berjumpa dengan sang ibu, meski hanya lewat mimpi. Ia berjanji akan berusaha tuk selalu bahagia jika itu akan membuat ibunya bahagia.


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil. Wajah Ais tetap terlihat cantik meskipun masih sedikit pucat.


"Kita pulang kemana?" tanya Ais melihat kekasihnya.


"Ke rumah impianmu," jawab Rey sambil tersenyum.


"Maksud, Ayang?" Ais tampak penasaran.


"Resort baru kita, aku sudah meminta orang untuk mempercantiknya dengan menambah banyak bunga di sana." Rey mulai menjalankan mobilnya secara perlahan meninggalkan rumah sakit Cinta Bunda.


Di sepanjang perjalanan Ais banyak melihat keluar jendela, sesekali ia tersenyum saat mobil mereka melewati kerumunan anak-anak yang sedang bermain bersama.


Rey juga tersenyum melihat kekasihnya yang sesekali tersenyum. Ia tidak mau mengungkit sesuatu yang dapat membuat emosinya terganggu.


Mobil Rey perlahan menepi, mereka sudah sampai di sebuah resort yang sengaja Rey beli untuk Ais sebagai hadiah perkawinan mereka.


Ais tampak sangat takjub melihat perubahan di rumah barunya, saat pertama ia kemari belum seindah saat ini, dari mulai halaman depan sampai halaman belakang.



Tampak halaman depan



Halaman belakang



Halaman utama di malam hari

__ADS_1


"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Rey pada istrinya yang masih terlihat pucat meski tak mengurangi kecantikan senyumnya.


"Iya, suka. Terimakasih Ayang sudah membuatkan aku sesuatu yang begitu indah." Ais memeluk suaminya lembut yang membuat jantung Rey berdebar-debar.


"Kita masuk ya, biar kamu bisa istirahat." Rey menggendong istrinya ala bridal style yang membuat Ais terpekik kecil karena terkejut akan perlakukan suaminya.


"Ayang! Kamu ya buat aku kaget tahu." Ais mencubit hidung suaminya yang mancung.


Rey membawa istrinya ke kamar mereka, dengan pelan ia menurunkan istrinya di tempat tidur.


"Kamu istirahat ya, biar aku pesankan makanan buat makan kita."Rey hendak beranjak dari tempat tidur mereka namun Ais menahannya.


"Kenapa?" tanya Rey yang kembali duduk di samping istrinya.


"Kita masak bersama ya!" pinta Ais pada suaminya.


"Maaf Ayang, kali ini tidak. Aku tidak mau kamu capek dan sakit lagi. Kamu mau menghukumku lebih lama lagi?" tanya Rey dengan wajah nakalnya.


"Menghukum bagaimana maksudmu, Yang?" Ais benar-benar tak mengerti.


"Puasa," jawab Rey santai seolah tak merasa konyol.


"Ha ... ha ...." Ais tertawa juga akhirnya.


"Dua minggu!" jawab Rey sekenanya.


"Sudah selama itu? Dan kamu masih tahan?"


"Aku harus tahan demi kamu, agar kamu bisa kembali sehat dan pulih." Rey kembali tertawa dan mencium kening istrinya, sebelum akhirnya ia beranjak untuk memesan makan siang mereka.


Aisyah merasa sangat bersyukur mempunyai suami seperti Reyhan, lelaki dewasa yang sangat perhatian dan pengertian.


"Ayang! Aku cari makannya di warung depan jalan sana ya. Di sana ada makanan masa kecilmu," ucap Rey sembari meraih sebuah topi.


"Apa makanan kesukaanku masa kecil, emangnya kamu tahu?" Ais merasa suaminya hanya ingin menyenanginya saja.


"Pecel dengan banyak sayuran tanpa mie," jawab Rey dengan lancar.


"Subhanaallah kamu benar-benar mengingatnya." Ais tertawa sambil menutup mulutnya.


"Segala tentang seseorang yang kamu cintai wajib untuk diketahui, sehingga kamu bisa menjalani semuanya dengan baik dan bahagia." Rey tersenyum lalu menghilang di balik pintu.

__ADS_1


Rey menaiki sepeda gunung yang sengaja dia beli untuk berolahraga saat berada di resort minimalis kesukaan istrinya.


Tidak butuh waktu yang lama Rey sudah sampai di sebuah warung pecel yang baru dijumpainya. Ia memesan dua porsi dengan menu yang sama. Namun perhatiannya tertuju pada seorang ibu yang memarahi anaknya sambil mengasarinya.


Merasa ada sesuatu yang salah diantara keduanya, Rey memberanikan diri untuk mendekati keduanya.


"Maaf Ibu, kenapa putrimu kamu pukul," tanya Rey sambil mendekati keduanya.


"Dia membuat saya kesal,sudah dikasih tahu kalau aku sedang tidak punya uang dia malah ngotot minta dibelikan pecel ini. Katanya sangat enak," ucap ibu yang tadi mengasari anaknya.


"Maafkanlah dirinya ibu, dia memang masih anak2 dan belum tahu akan kesusahan yang ibu rasakan. Bagaimanapun anak adalah titipan dan sekaligus Amanah Allah Swt. Anak-anak yang lahir ke bumi sudah membawa rizki. Anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah ( titipan) yang Allah berikan kepada setiap orang tua," ucap Rey penuh penekanan.


“Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW telah memberikan peringatan yang sangat keras terhadap orangtua yang lari dari tanggung jawab ini.“Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang tidak akan diajak berbicara pada hari kiamat, tidak disucikan dan tidak dilihat.” Lalu beliau ditanya: “Siapa mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Anak yang berlepas diri dari orangtuanya dan membencinya serta orangtua yang berlepas diri dari anaknya.” (HR. Ahmad dan Thabrani).”


"Maka dari itu sayangilah anak-anak kita yang sudah diamanahkan oleh Allah, banyak diluaran sana orang-orang yang mengiginkan seorang anak tetapi belum diberikan kepercayaan oleh Allah." Rey tersenyum agar ibu yang ada didepannya tidak merasa digurui olehnya.


"Benarkah begitu kalau anak punya rezeki masing-masing? Aku benar-benar belum begitu memahami apa yang adik sampaikan, bisakah tolong jelaskan kembali?" pinta ibu yang tadi memarahi anaknya.


"Baiklah ibu dengarkanlah anak adalah anugerah dan amanah dari Allah swt yang harus dipertanggungjawabkan oleh setiap orang tua dalam merawat, mengasuh dan mendidik anak-anaknya."


"Kita selaku Orangtua seharusnya mensyukuri nikmat yang tak terhingga, karena dipercaya untuk membesarkan anak-anaknya. Untuk mensyukurinya wajib menjaga pertumbuhan dan perkembangannya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Dengan harapan anak bisa menikmati perjalanan hidupnya sebagai anak yang sholeh atau sholehah dan mencapai kemandirian, yang akhirnya menjadi kebanggaan orangtua, agama, bangsa dan ummat manusia." Rey berhenti sebentar untuk memastikan sang ibu mengerti apa yang dia jelaskan. Kemudian barulah dia melanjutkan penjelasannya.


Orangtua diberi amanah oleh Allah swt dengan kehadiran anak, bukan hanya untuk kehidupan di dunia, melainkan juga untuk kehidupan di akhirat. Ingat bahwa tidak semua orangtua dianugerahi anak, kecuali yang dipercaya. Begitu sang isteri mengandung, di saat itulah isteri dan suami, sebagai calon orangtua wajib mempersiapkan diri untuk menjaga sejak dalam kandungan hingga dilahirkan berlanjut sampai anak siap membangun keluarga sendiri.


Anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah dan titipan yang Allah swt berikan kepada orangtua. Keberadaan anak sangat dinanti-nantikan oleh orangtua sebagai penyempurna kebahagiaan dalam keluarga. Tidak jarang pasangan yang belum dikarunia anak pun akan melakukan berbagai usaha demi mendapatkan anak. Karena rumah tanpa anak akan terasa sepi dan tak berwarna.


Dalam Islam, anak berpotensi menyandang status yang berlawanan: membahagiakan dan mencelakakan. Anak sebagaimana anugerah Allah swt lainnya, tergantung kepada penerima anugerah tersebut, dapat menghantarkannya kepada kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat, juga sebaliknya dapat menjerumuskannya dan membuatnya sengsara di dunia juga akhirat.


Jika kita menginginkan anak sebagai Penyejuk Hati dan Penenang Jiwa maka sebagai orangtuakita dapat menjaga, merawat dan mendidiknya dengan benar maka anak tersebut akan menjadi penenang jiwa dan penyejuk hatinya. Dalam al-Quran Allah swt menjelaskan tentang ciri-ciri pola hidup di antara hamba pilihan-Nya, di mana salah satu pola hidup mereka adalah senantiasa berdoa agar memiliki anak keturunan yang akan menjadi penyejuk hati dan penenang jiwa. Dan orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkan kepada kami pasangan kami dan anak keturunan kami sebagai penenang hati.” [Q.S. al-Furqon: 74]


Dengan sendirinya keberadaan anak itu sendiri akan menjadi penyejuk dan penenang jiwa orangtua, terkhusus pada masa-masa lucu usia dini. Keberadaannya, semua tingkahnya, kelucuannya, akan menjadi penghibur bagi orangtua dan penghilang rasa penat. Tidak jarang orangtua yang jika sibuk dengan pekerjaannya, untuk sekadar refreshing ia akan bermain dan bercanda bersama anaknya.


Namun, dengan berjalannya waktu, usia kelucuan anak akan berkurang dan ia akan berkembang tumbuh besar. Sifat dan karakternya akan terbentuk, apakah menjadi anak yang soleh-solehah sehingga akan menjadi penyejuk hati dan penenang jiwa bagi orang tuanya, ataukah sebaliknya, anak akan menjadi pencoreng orangtua dan menjerumuskannya? Ini semua tergantung pada pengarahan dan pendidikan orangtua.


Setelah mendengar penjelasan dari Rey sang ibu memeluk erat anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya, kemudian Rey memberikan sedikit rezeki kepada ibu dan anak itu agar mereka tak lagi mengalami kesulitan hidup di tahun ini.


Bersambung ....


Terimakasih sudah membaca, semoga kalian yang setia membaca karya remahanku mendapatkan keberkahan dalam rezeki dan kesehatan, Aamiin Allahumma Aamiin.


sambil menunggu novelku yang ini terbit mampir juga yuk ke novel Kedua ku dengan judul Cinta Bersemi Diujung Musim, bercerita tentang anak SMA dalam meraih cintanya. Aku tunggu kedatangan kalian semua.Terimakasih!

__ADS_1



__ADS_2