
š»Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.š»
#Masih dikediaman Rey dan Ais#
Malam itu kedua pasangan yang sedang kasmaran itu mendapatkan pelajaran yang berharga dari Ais dan Rey, meskipun keduanya baru tahu apa itu khalwat namun keduanya sepakat untuk menjaga jarak sebelum mereka resmi disatukan dalam ikatan perkawinan.
Acara lamaran Reza telah usai kini semua benar-benar telah kembali keperaduan mereka masing-masing.
#Kamar Rey dan Ais#
Tampak keduanya masih saling pandang seakan-akan mereka adalah pengantin baru saja.
"Ayang kenapa memandangku seperti itu?" tanya Ais.
"Malam ini kamu sangat cantik Yang."
Memeluk Ais sambil mencium keningnya.
"Bilang saja kalau ada maunya." mencubit hidung suaminya.
"kamu memang istri yang sangat peka dan penuh kasih sayang, kamu tahu semua yang aku rasakan." Mencium lembut bibir kekasih halalnya.
"Ayang nggak lupakan ini kalau kita belum sholat sunat dua rokaat." Membalas ciuman suaminya.
"Iya maaf aku lupa, habisnya kamu begitu menggoda." Kembali mencium tengkuk istrinya.
"Kayak iklan minyak wangi aja Yang gombalanmu." Mencubit lembut perut Rey.
"Kamu dah mulai nakal ya." Mencium hidung istrinya.
"Karena kamu yang sering ngajarin." Memeluk erat suaminya.
"Yuk kita sholat." Mengerling manja pada Rey.
Dengan cepat Rey mencium sekilas bibir istrinya kemudian menarik tangannya menuju kamar mandi untuk segera berwudhu.
Hanya beberapa menit saja keduanya telah terlihat rapi. Rey mengenakan baju kun hijau muda dipadu dengan sarung kotak-kotak berwarna hijau hitam, dengan peci yang berwarna hitam pula, duduk gagah diatas sajadah menunggu istrinya memakai peralatan solatnya.
Kemudian Ais pun keluar sudah dengan balutan mukena putih dengan hiasan bordir bunga sakura berwarna pink pussia, dipadu dengan daun-daun kecil berwarna hijau muda sangat kontras dan cantik, menambah sejuk mata memandang kecantikan Ais yang terpancar dari wajahnya.
Rey terpaku menatap kecantikan istrinya yang menurut Rey tidak pernah berkurang meski sekarang mereka sudah dikarunia tiga orang anak yang sholeh-sholehah.
"Ayang, kita jadi sholat kan?"
"Oh iya inshaa Allah jadi kok sayang."
"Kenapa bengong?"
"Kamu sungguh cantik Yang."
"Ayang jangan memujiku, aku tak mau menjadi sombong karenanya. Dan mengapa Reza yang mau nikah tapi kamu yang kebelet pengen memadu kasih?" tanya Ais menggoda suaminya.
"Entahlah, mungkin waktu kita dulu aku kan tidak melalui proses lamaran seperti Reza, jadi sejak Reza melamar Nara, hatiku selalu membayangkan kalau kita dulu seperti itu, bagaimana reaksimu? atau bagaimana wajahmu segera merona, makanya aku tiba-tiba saja merasa ingin dekat denganmu." Memandang Ais lekat.
Wajah Ais sudah bersemu merah muda, dan itu yang sangat Rey suka.
"Sangat cantik, aku jadi pengen sekarang memadu kasih denganmu." Berjalan mendekat.
"Ayangggg! jangan mendekat! kita belum sholat."
"Astagfirullah haladzim, maafkan aku Ayang, hampir saja aku khilaf." Tersenyum manis
"Yuk kita sholat sekarang, takunya nanti aku kebablasan." Kembali kesajadahnya.
Ais mengikuti Rey dari belakang dan segera membentangkan sajadahnya juga. Keduanya sholat dengan khusuk. Setelah selesai barulah mereka berdoa.
Kini Rey telah mengucapkan salam pada istrinya tercinta, perlahan ia melepaskan mukena istrinya, kemudian meletak tangannya diatas ubun-ubun Ais dan segera membaca doa. Setelah ritual awal selesai mulailah keduanya menuju kelautan cinta untuk memadu kasih.
Baru saja Rey akan berenang dikolam cinta bersama Ais, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.
"Tok ... tok ...."
"Ya Allah, siapakah yang tega membuat perahu cintaku kandas ditengah jalan," rutuk Rey kesal segera memakai kembali pakainanya, demikian juga Ais yang hanya tertawa dan geleng kepala melihat raut wajah suaminya yang kesal.
"Biar aku saja yang buka Yang," ucap Ais lembut.
"Nggak usah Yang, kamu duduk aja disini." Menepuk tepi ranjang mereka.
Ais menuruti semua keinginan suaminya, kini ia duduk ditepi ranjang menanti Rey yang telah berjalan untuk membukakan pintu.
"Klek." Membuka pintu.
"Maaf tuan menganggu, apa Nak Ais sudah tidur?"
"Iya Bik nggak apa-apa, Ais belum tidur, apa ada perlu?"
"Anu Tuan, ini tentang non Ara dan Aza."
Mendengar nama kedua putrinya dengan cepat Ais segera mendekat ke pintu.
"Kenapa dengan Ara dan Aza?" tanya Ais khawatir.
"Eh anu Nak Ais, badan non Ara dan Aza tiba-tiba saja panas, padahal tadi sore masih sehat-sehat saja kok," ucap bik Ijah.
"Ya sudah bibik segera kembali kesana, aku akan segera menyusul," ucap Ais dengan wajah yang jelas tampak khawatir.
Dengan cepat Ais masuk kedalam kamarnya kembali dan membawa suaminya duduk ditepi ranjang.
"Ayang, apa kamu masih mau lanjut," tanya Ais yang merasa itu adalah kewajibannya.
__ADS_1
Melihat istrinya yang khawatir tentu saja Rey kasihan, ia bukanlah tipe suami yang suka memaksa, Rey sangat pengertian. Dengan lembut ia membelai rambut panjang istrinya.
"Kita akan lanjutkan lain kali saja Sayang, sekarang yang utama adalah anak-anak kita." Mencium lembut kening Ais.
"Kita telepon dokter Andi saja ya, biar dia segera kerumah untuk memeriksa Ara dan Aza." Memegang tangan Ais.
Perasaan Ais sedikit lega karena mempunyai suami yang sangat pengertian. Keduanya segera menuju kamar Ara dan Aza yang ada disebelah kamar Ais.
Rey segera meminta sahabatnya Andi untuk memeriksa kedua putrinya, ia sangat khawatir karena sejak lahir baru sekarang panas kedua putrinya sangat tinggi.
Hanya selang setengah jam mobil dokter Andi sudah sampai dirumah Rey yang sudah ramai, karena semua penghuni rumah ikut terbangun termasuk juga Babang Alif.
"Assalamualaikum," ucap dokter Andi.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," ucap mereka semua hampir bersamaan.
"Wah ramai sekali ternyata," ucap Dokter Andi.
"Iya alhamdulillah semua sedang ngumpul nih," ucap Rey segera menyambut dokter Andi sahabatnya.
"Mana si kembar yang sakit?"
"Mereka ada dikamarnaya bersama Ais."
Keduanya berjalan menuju kamar Aza dan Ara. Diikuti juga oleh yang lainnya termasuk Alif yang penasaran.
Pintu kamarpun dibuka tampak Ais sedang menggendong Aza yang rewel, sedangkan Ara juga menangis tapi digendong oleh bik Ijah.
"Uhhh kesayangan Abi sakit ya, sini Abi yang gendong." Mengambil Ara yang sedang digendong oleh bik Ijah.
"Sebaiknya baringkan saja keduanya ditempat tidur biar enak aku meriksanya." Pinta dokter Andi.
Keduanya telah dibaringkan ditempat tidur, dengan telaten dokter Andi memeriksa keduanya. Setelah selesai ia segera menuliskan resep yang harus segera dibeli oleh Rey.
"Bagaimana keadaan kedua putriku, sakit apakah sebenarnya mereka berdua?" tanya Rey sedikit penasaran.
"Alhamdulillah keduanya baik-baik saja, mereka demam karena keduanya akan punya gigi geraham pertamanya, dan itu terkadang sangat menyakitkan bagi sebagian anak, namun ada juga anak yang tidak mengalaminya."
"Kamu cukup tebus resep obat ini untuk meredakan demam dan nyerinya, karena kebetulan di rumahku juga habis stok obatnya jadi nggak aku bawa." Memberikan secarik kertas bertuliskan resep obat untuk Ara dan Aza.
"Alhamdulillah," ucap Rey dan Ais yang mulai sedikit lega karena jawaban yang Andi berikan.
"Oke aku langsung pamit aja ya karena ini sudah sangat larut, dan kalau bisa obatnya segera ditebus ya, supaya demamnya cepat turun."
"Inshaa Allah, makasih ya Ndi, kami sudah merepotkanmu." Menjabat tangan dokter Andi.
"Nggak apa-apa kok itu sudah kewajiban kami sebagai tenaga medis yang harus rela dipanggil atau bangun jam berapapun untuk pasien atau pun orang-orang yang membutuhkan." Membalas pegangan tangan Rey.
Setelah bersalaman dokter Andi pun meninggalkan kediaman Rey, dengan cepat pak Mamat yang ditemani Nella pengasuh Aza dan Ara yang membantu bik Ijah juga meluncur untuk membeli obat buat kedua putri Rey yang sakit.
Setelah berkeliling mencari apotek yang buka, akhirnya Nella berhasil menebus resep tersebut, dan segera melaju kembali untuk pulang kerumah keluarga Rey.
Setelah hampir setengah jam dari membeli obat, pak Mamad dan Nella telah sampai dirumah Rey dan segera memberi obat itu.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh," jawab semuanya serentak.
"Kamu langsung saja Nella, antarkan obatnya kekamar Aza dan Ara." Menunjuk ke arah kamar kedua putrinya.
Dengan cepat Nella berjalan menuju ke kamar Aza dan Ara, agar Ais dapat segera memberikan obat untuk keduanya.
"Assalamualaikum, Kak ... ini obatnya." Menyerahkan kantong obat kepada Ais.
Dengan cepat Ais menerima kantong obat dari Nella, dan segera membukanya.
"Oh syukurlah, sepertinya syrup ini nggak pahit, sehingga Aza dan Ara akan sangat mudah meminumnya," ujar Ais dengan sedikit senyum diwajahnya.
Dengan cepat Ais segera meminumkan obat yang telah diresepkan oleh dokter Andi pada kedua putrinya. Setelah meminum obat keduanya perlahan mulai mengantuk dan tertidur.
Dengan hati-hati Ais meletakkan kedua putrinya ke tempat tidurnya masing-masing. Kemudian Ais menegadahkan tangannya, berdoa untuk kedua buah hatinya yang sedang sakit. Setelah selesai berdoa barulah ia mencium kedua putrinya.
"Tidurlah kedua putriku, semoga esok saat terbangun kalian sudah dalam keadaan sehat kembali." Mencium keduanya secara bergantian.
Kemudian Ais segera keluar untuk menemui putranya yang juga masih terbangun, tetapi dalam gendongan Rey.
"Babang sayang, yuk kita kembali tidur," ajak Ais pada putranya.
Dengan cepat Alif merentangkan tangannya minta digendong oleh Ais. Dan kini dia sudah berada dalam dekapan hangat Uminya. Dengan perlahan Ais berjalan sambil mendekap putranya menuju ke kamar Alif.
Kini Ais telah menina bobokan putranya dengan lantunan surat-surat pendek, agar selain mudah tidur, Alif juga dapat menghafal surat-surat yang Ais bacakan melalui pendengarnnya.
Kini Alif kecil sudah tertidur, dan Maria masuk kedalam kamar Alif juga.
"Apa Alif sudah tidur?" tanya Maria.
"Alhamdulillah, sudah." Tersenyum menatap Maria.
"Kenapa Mar, sepertinya ada yang ingin kamu bicarakan," ucap Ais.
"Iya, tadi sewaktu dikamar Aza dan Ara, aku ... melihat kamu mengangkat tangan seperti orang yang sedang berdoa, kalau boleh tahu apa yang kamu bacakan?"
Ais menatap Maria tersenyum.
"Kita sebaiknya duduk dulu yuk!" Menepuk kursi didekat kamar Alif.
Mereka berdua pun duduk, dan Nara pun datang ikut bergabung bersama keduanya.
"Kalian, sepertinya mau membicarakan hal yang penting." Duduk disamping Maria.
"Iya, aku akan membagikan sedikit pengetahuan ku tentang doa disaat anak-anak kita sedang sakit, kalian berdua nanti juga akan jadi seorang ibu, maka perlu lah kalian untuk tahu," ucap Ais sambil melirik kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
"Jadi begini penjelasannya ...."
"Orangtua mana yang tega melihat buah hatinya terkulai lemah karena sakit? segala cara akan dilakukan agar anak segera pulih dan sehat kembali. Dalam Islam, berikut lima doa yang bisa dibaca saat anak sakit agar cepat pulih," ucap Ais.
"Nah yang pertama kita membaca Alfatihah."
Fatihah yang merupakan surat pertama dalam kitab suci Alquran, memiliki banyak keutamaan bagi umat muslim. Salah satunya untuk mengharapkan kesembuhan bagi anggota keluarga yang sedang sakit.
Bacakan Al Fatihah sebanyak tujuh kali di hadapan anak yang sakit, sambil mengusap bagian tubuhnya yang nyeri. Atau, cukup usap bagian keningnya dengan lembut.
"Kemudian yang kedua adalah doa yang dibaca Rasulullah saat anggota keluarganya sakit."
"AllÄhumma rabban nÄsi, adzhibil baāsa. Isyfi. Antas syÄfi. LÄ syÄfiya illÄ anta syifÄāan lÄ yughÄdiru saqaman."
Artinya: Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit, kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri.
"Dan yang ketiga adalah doa Rasulullah juga dihadapan orang sakit."
Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzi, Rasulullah SAW mengajarkan sebuah kalimat doa yang biasa dibaca di hadapan orang sakit. Doa berikut dibaca sebanyak tujuh kali.
AsāalullÄhal azhÄ«ma rabbal āarsyil āazhÄ«mi an yassfiyaka.
Artinya: Aku memohon kepada Allah Yang Agung, Tuhan arasy yang megah agar menyembuhkanmu.
"Yang ke empat adalah lafad doa Rasulullah dengan menyebut nama orang yang sakit."
Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW mengajarkan doa lain yang ditujukan untuk memohon kesembuhan bagi seseorang sambil menyebut namanya. Berikut lafalnya:
AllÄhummasyfi fulan/fulanah. AllÄhummasyfi fulan/fulanah. AllÄhummasyfi fulan/fulanah.
Artinya: Tuhanku, sembuhkan dia. Tuhanku, sembuhkan dia. Tuhanku, sembuhkan dia.
Kata fulan dan fulanah diganti dengan nama anak yang sedang sakit. Misal nama anaknya adalah Mawar, maka lafalnya menjadi Allahummasyfi Mawar dan diulang sebanyak tiga kali.
"Dan yang kelima adalah doa untuk memohon diangkatkan penyakit dan disembuhkan."
Ada satu lagi doa yang sering dibaca Rasulullah SAW saat kerabatnya ada yang sakit. Berikut lafalnya:
Imsahil baāsa rabban nÄsi. Bi yadikas syifÄāu. LÄ kÄsyifa lahÅ« illÄ anta.
Artinya: Tuhan manusia, sapulah penyakit ini. Di tangan-Mu lah kesembuhan itu. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali Kau.
"Itulah doa yang bisa dibaca saat anak sakit. Bacakanlah doa-doa tersebut agar segera mendapat kesembuhan!" ucap Ais.
"Jadi itukah yang tadi kamu bacakan pada Aza dan Ara?" tanya Maria dan Nara hampir bersamaan.
"Iya, itu yang aku bacakan hanya doa yang pertama berupa Alfatihah dan doa yang terakhir saja." Menatap keduanya dengan tersenyum.
"Terimakasih banyak Ustazahku," ucap Maria memeluk Ais.
Ketiganya tertawa dengan secercah harapan, agar besok Aza da Ara sudah dalam keadaan sehat.
Ikuti terus kisahnya ya love you readers loverskuš
Bersambung....
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan karya apik author yang lain :
Fit Fithree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Mengejar Cinta Ariel
Almaira My Secret Wife
My Love My Babysitter
*Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu
Kembar Tidak Identik
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
My Heart Is Only For You
*Sudrun
Penjelah Malam
Samudra
*Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
*Sisca Nasty
Mafia in Love
*Cindyelvira
__ADS_1
Ketika Muslimah Jatuh Cinta
Istri Sholehah