Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
JANJI AISYAH


__ADS_3

🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌻


Happy Reading!


Rumah Sakit ....


Terimakasih Ayang sudah mengingatkan aku, do'a kan agar aku bisa melewati ini semua." Ais mencoba untuk tersenyum.


"Terimakasih juga Rey sudah mengingatkan tante," ucap Mira sambil menghapus air matanya.


Dalam hati Keempatnya, mereka masing-masing berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat orang-orang tersayangnya bahagia.


Tak terasa sudah satu minggu Ais dirawat, kini kondisi kesehatannya mulai membaik. Setiap hari kedua putri mereka mengunjunginya, kadang bersama Rey terkadang juga bersama bi Onah.


Ara dan Aza semakin lancar bicaranya, meskipun masih dua tahun gaya bicaranya sudah seperti anak-anak umuran lima tahun.


Keduanya tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, serta pintar. Diusia mereka yang baru dua tahun mereka mulai bisa menghafal do'a-do'a harian seperti do'a sebelum dan sesudah makan, do'a mau tidur juga bangun tidur atau do'a keluar masuk kamar mandi.


Setelah pulang dari rumah sakit nanti ia ingin memasukkan kedua putrinya ke sekolah tahfiz khusus balita agar kemampuan mereka dapat berkembang maksimal.


Hari ini dokter Bayu akan memeriksa keadaan Ais, jika sudah lebih sehat maka ia boleh pulang.


"Assalamu'alaikum, Ara dan Aza." Dokter Bayu menyapa kedua gadis lucu bin imut yang sedang memeluk ibunya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," Keduanya menjawab serentak dengan suara khas yang sangat menggemaskan.


"Om boleh pinjam uminya bentar ya, soalnya mau diperiksa dulu. Apa uminya udah sehat atau belum?" Dokter Bayu tersenyum ramah pada keduanya.


Namun sepertinya kedua gadis kecil itu tidak memperdulikan permintaan dokter Bayu yang terlihat semakin gemas dibuatnya.


Malah keduanya memeluk Ais semakin erat, yang membuat Ais harus bicara untuk meyakinkan keduanya.


"Sayang! Nanti setelah diperiksa sama om dokter, umi bisa pulang. Kita bisa main bersama sepuasnya nanti di rumah." Ais tersenyum dan mengecup kedua pipi putrinya.


"Yeee, asyikkk umi bisa pulang ke rumah," ucap Ara dan Aza kegirangan. Dengan cepat keduanya turun dari tempat tidur sang ibu.

__ADS_1


"Sungguh hebat wejengan seorang ibu, dengan bahasa yang simpel aja bisa meluluhkan batu karang," puji dokter Bayu sambil bersiap memeriksa Ais.


"Kamu jangan memuji istriku." Rey tiba-tiba datang yang langsung menemani istrinya.


"Kok nggak ngucapin salam dulu?" Ais tampak protes pada suaminya.


"Assalamu'alaikum," bisik Rey di telinga istrinya, yang membuat Ais merasa tidak enak dengan dokter Bayu.


"Ayang, nggak jangan begitu. Nggak enak sama dokter Bayu," bisik Ais di telinga sang suami.


"Makanya cepat pulang, aku kangen." Rey tersenyum dan mencubit lembut pipi istrinya.


"Ehmm, dunia serasa milik berdua aja sedangkan yang lain cuma ngontrak doang kayaknya." Dokter Bayu memberi kode keras buat sahabatnya yang mulai overprotectif pada istrinya.


"Iya-iya lanjutin aja periksanya, cepetan!" Rey sedikit mengeserkan posisinya agar Bayu bisa memeriksa istrinya.


"Kamu kayaknya punya insting yang kuat, giliran aku mau memeriksa istrinya aja, langsung datang," ucap Bayu sambil memeriksa Ais.


"Itu pasti, naluri untuk melindungi istriku semakin tajam kini, dulu aku sempat membuat mereka hampir celaka dan juga hampir kehilangan mereka, itu semua karena aku terlalu sibuk bekerja," jelas Rey santai, sambil menunggu Bayu memeriksa istrinya.


"Alhamdulillah sepertinya kondisi Ais semakin membaik, inshaa Allah siang ini sudah boleh pulang." Bayu tersenyum pada keduanya.


"Alhamdulillah, terimakasih yaa Allah. Terimakasih, Bay!" Rey tampak menepuk punggung tangan sahabatnya itu.


"Sama-sama, dan ini nanti ada resep yang harus ditebus. Minumnya satu kali sehari saja karena kandungan obat itu hanya vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh saja," jelas dokter Bayu.


"Baiklah terimakasih, teman. Nanti akan saya ambil obatnya," ucap Rey sambil mengantar temannya itu kedepan pintu ruangan istrinya.


Keduanya telah sampai di ambang pintu. Tampak Bayu menghentikan langkahnya.


"Ingat Rey, jangan sampai Ais tahu akan hal yang kemarin. Kamu juga harus pandai menjaga perasaan istrimu agar tidak mengalami kesedihan yang mendalam. Kalau itu terjadi lagi aku khawatir kalau syarafnya akan ikut terganggu. Ini saja kami tim dokter sangat salut pada kekasihmu itu. Dalam kondisi psikis yang begitu parah dia mampu bertahan tanpa merusak syaraf otaknya sedikit pun. Aky tahu kesabaran dan ketaatan istrimu dalam beribadah, mungkin adalah kunci semuanya. Aku merasa malu sekaligus takjub dengan istrimu." Bayu berbicara serius kali ini. Tentu saja membuat Rey terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.


"Sejujurnya mungkin aky adalah lelaki yang paling beruntung di muka bumi ini, bisa mendapatkan istri seperti Aisyah. Terkadang aku malu, belum bisa menjadi imam yang baik buatnya dan anak-anakku. Namun ia selalu bisa membuat aku merasa dihargai, dia selalu ada di saat aku sudah. Selama aku mengenalnya belum pernah terucap dari bibirnya keluhan akan kesusahan hidup yang dijalaninya, maka dari itu terkadang aku kurang menyelami perasaannya yang selalu terlihat baik-baik saja." Rey akhirnya ikut menumpahkan perasaanya pada Bayu, dokter yang menangani istrinya sekaligus sahabatnya.


"Alhamdulillah Rey, kamu memang patut bersyukur mungkin di dunia ini hanya ada seribu satu wanita seperti Aismu." Bayu tetsenyum sebelum akhirnya pamit dan hilang dikelokan koridor rumah sakit.

__ADS_1


Rey kembali ke dalam untuk menemui bidadari syurganya. Ia tak ingin membuat pikiran Aia kembali bercabang yang akan membuatnya kembali terguncang dan sakit.


"Ayang," sapa Rey seraya mendekat.


"Kita pulang?" Ais tersenyum sambil menautkan alisnya.


"Hmm, kita pulang. Tetapi Ara dan Aza akan aku suruh bi Onah bawa dulu, nanti mereka akan di jemput oleh pak Yadi." Rey mengambil ponsel dari balik saku celananya.


"Kenapa?" tanya Ais.


"Aku ingin membawamu kesuatu tempat, kasihan kalau Ara dan Aza ikut. Mereka pasti akan kecapean." Rey tersenyum pada Ais yang menatapnya bingung.


Tak lama berselang kedua putrinya datang ke kamar bersama bi Onah dan Lela, mereka berpamitan untuk pulang duluan. Setelah memeluk dan mencium buah hatinya barulah mereka pulang.


Kini hanya Ais seorang yang tinggal di kamar, Rey pergi mengambil obatnya di apotik. Entah mengapa tiba-tiba Ais merasa matanya mengantuk dan ia seolah merasa tertidur meski dia sadar. Diantara alam sadar dan tidak ia bisa merasakan, bahkan melihat dengan jelas ibunya Aminah mendatanginya.


"Ais sayang, kamu harus ikhlas dan kuat. Perjalananmu masih panjang, suami dan anak-anakmu masih sangat membutuhkanmu." Aminah tersenyum.


"Tapi aku ingin ikut denganmu, Ibu," pinta Ais.


"Kamu belum saatnya untuk pergi bersama ibu, Nak. Biarkan ibu membangun sebuah rumah untukmu ditepi telaga yang indah di sana. Jika rumahmu sudah selesai barulah ibu akan menjemputmu nanti." Aminah kembali tersenyum.


"Baiklah, Bu. Tapi aku sayang ibu." Ais tersenyum meski air matanya meleleh.


"Ibu juga menyayangimu. Teruslah menabur kebaikan dan beramal shalih, jangan tinggalkan salatmu. Inshaa Allah kita akan bersama lagi nanti. Ibu ingin melihatmu terus tersenyum. Hilangkanlah mega duka dalam hatimu, biarkan pelangi kebahagiaan menyinari di sepanjang jalan hidupmu. Kamu pantas untuk bahagia, ibu pergi sekarang. Ingat untuk selalu bahagia karena jika kau bahagia maka ibu pun akan bahagia." Aminah mencium kening putrinya dan berbalik. Ia melambaikan tangannya pada Ais sampai akhirnya menghilang dalam terangnya cahaya.


Ais menyipitkan matanya karena silau ternyata itu Rey suaminya yang membuka pintu.


"Ayang kamu tidur?" tanya Rey melihat mata kekasihnya yang mengerjab-ngerjabkan matanya.


"Hemm, sepertinya ia. Habisnya Ayang lama." Ais merapikan hijabnya.


Dalam hatinya ia tersenyum bahagia karena bisa berjumpa dengan sang ibu, meski hanya lewat mimpi. Ia berjanji akan berusaha tuk selalu bahagia jika itu akan membuat ibunya bahagia.


Bersambung ....

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca, maaf untuk kesekian kalinya karena aku terlambat Up pertama karena banyak tugas sekolah yang kedua aku juga kurang sehat. ini alhamdulillah sudah lumayan sehingga bisa kembali menulis, semoga kalian yang setia membaca karya remahanku mendapatkan keberkahan dalam rezeki dan kesehatan, Aamiin Allahumma Aamiin.


sambil menunggu novelku yang ini terbit mampir juga yuk ke novel Kedua ku dengan judul Cinta Bersemi Diujung Musim, bercerita tentang anak SMA dalam meraih cintanya. Aku tunggu kedatangan kalian semua.Terimakasih!


__ADS_2