
🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.🌻
Sesaat berehat dirumah sakit membuat perasaan Ais tenang sekejap, dan sekarang sudah pulang kerumah diantar oleh keluarga Maria. Raut wajah Ais tampak biasa saja meski sebenarnya hatinya sedang berbunga karena bertemu kak Rey, seseorang yang sedari dulu dikaguminya karena begitu dewasa pemikirannya, dan agama nya juga bagus sangat memahami apa batasan yang boleh dan tidak boleh dalam pergaluan lelaki dan perempuan yang bukan muhrim.
"Ais... kami pulang ya , kamu istirahat saja dan jangan banyak fikiran , gue nggak mau loe jatuh sakit lagi, soalnya sebentar lagi kita ujian kenaikan kelas"Ucap Maria
"Terima kasih banyak Mar, maaf telah merepotkan keluargamu, salam ya buat mami dan papimu, sampaikan juga rasa terima kasih keluargaku yang tak terkira untuk semuanya"Ucap Ais sambil tersenyum.
"loe nggak lupa sesuatu Ais"Tanya Maria
Ais tampak binggung sepertinya tak ada yang terlewat olehnya sampai seseorang datang mengetuk pintu kamarnya.
"Assalamualaikum, Ais...Maria... boleh kak Rey masuk? "Tanya Rey
"Masuk aja kak Ais nggak sendiri kok ada Mar yang temenin"Ucap Maria
Dengan cepat Ais meraih tangan Maria, seolah takut ditinggalkan Maria, Ais merasa canggung sekarang karena harus berhadapan langsung dengan kak Rey.
Kak Rey masuk ke mamar Ais dan kaka Ara, ya Ais dan kak Ara memang berbagi kamar karena tak cukup ruang dirumahnya kalau harus memiliki kamar sendiri.
"Ais... bagaimana keadaanmu apa sudah benar - benar baikan"Tanya Kak Rey
"Alhamdulillah kak, udah baikan"Ucap Ais menunduk
"Kak... Ais... ngomong aja, anggap aja Maria nggak ada, nggak usah sungkan"Ucap Maria yang pengertian
Kak Rey tersenyum sambil mengacak rambut adek kesayangannya.
"Ais... apa kamu masih menyimpan liontin itu"Tanyan kak Rey
Ais pun mengambil liontin itu dari balik bajunya, ternyata selama ini Ais memakainya dan tak ada yang tahu karena baju Ais selalu tertutup.
Kak Rey tersenyum sangat senang karena Ais
memakai liontin itu tanpa diucapkan Rey tahu perasaan Ais terhadapnya, dengan begitu Reg sangat merasa beruntung.
"Terima kasih Ais sudah memakai liontin itu dan nanti kakak akan mengganti liontin itu dengan liontin yang baru ya, tapi nanti saat kakak akan balik ke Amrik"Ucap kak Rey
Ais hanya jawab dengan anggukan, Rey dan Maria mohon pamit dan segera meninggalkan kamar Ais, sebenarnya Ais enggan berpisah namun keadaanlah yang mengharuskan mereka tuk berpisah.
Keluarga Maria sudah meninggalkan kediaman Ais, disepanjang perjalanan keluarga Maria semuanya tampak bahagia karena mereka tahu cinta Rey tak bertepuk sebelah tangan.
*****
Kediaman Hanif...
Hanif pun sudah pulang kerumah dan Bram juga menemaninya. Mama Hanif sangat senang karena kondisi Hanif sudah stabil dan membaik.
"Sayang makan dulu ya, mau mama suapin atau.. "Tanya mama
"Nggak usah ma, Hanif bisa makan sendiri, tarok aja diatas meja Hanif"Ucap Hanif
"Baik sayang, Bram kamu ikut makan juga ya , tante udah buat banyak"Ucap mama
"Bram bagaimana kabar Ais disekolah? "Tanya Hanif
"Ais nggak sekolah Nif selama loe sakit, kata wali kelasnya Ais juga sakit, dan bahkan sampai dirawat dirumah sakit yang sama dengan loe"Ucap Bram
"Masak sih Bram, kenapa loe nggak cerita kan gue bisa jengguk Ais dirumah sakit"Ucap Hanif
"Gimana mau jengguk secara loe aja sangat frustasi gitu"Ucap Bram
"Iya Bram, gue sangat terpukul saat membaca surat Ais, walaupun gue ngerti keadaan Ais, hanya saja gue yang belum bisa nerima keputusan Ais, gue ngungkapin perasaan gue karena bentar lagi kan kita udah lulus, secara gue rasanya nggak rela kalau sampai Ais dicintai atau mencintai orang lain"Ucap Hanif
"Loe harus berlapang dada Hanif soalnya loe tahu sendiri Ais sangat menghargai janjinya pada ayahnya, mungkin nanti setelah Ais lulus loe bisa langsung melamar Ais,dan itu pun jika loe bener jodohnya"Ucap Bram
"Coba aja loe tanya ke mentor rohis loe, dia akan lebih faham bagaimana seharusnya bersikap terhadap Ais"Ucap Bram
"Makasih ya Bram, loe emang sahabat gue yang paling mengerti gue, besok gue akan ikuti saran loe"Ucap Hanif
"Bram... kalau besok Ais belum sekolah kita samperin kerumahnya ya"Ucap Hanif lagi
"Gue rasanya nggak tega mendengar Ais sakit, seandainya gue tahu, tak akan gue biarin Ais sakit"Ucap Hanif
"Gue akan jaga in loe Ais, meski dengan nyawaku taruhannya"Ucap Hanif sedih
Hanif sama sekali tidak tahu apa yang telah dilakukan mamanya terhadap Ais, seandainya ia tahu bahwa Ais sakit karena perbuatan mamanya Hanif, entah apa yangbakan Hanif perbuat.
*****
Disekolah...
Ais sudah masuk sekolah, begitu juga dengan Hanif.
Hanif menunggu Ais digerbang sekolah, Ais belum mengenal wajah Hanif karena memang mereka belum pernah bertemu atau bicara secara langsung, waktu bertemu diangkot kala itu Ais pun tidak tahu kalau itu Hanif.
Sebenarnya Hanif adalah anak yang baik, dan juga tahu agama, hanya saja ia belum pernah
__ADS_1
merasakan jatuh cinta dan sakitnya saat cinta ditolak. Maka dari itu reaksinya sangat berlebihan.
"Assalamualaikum Ais"Sapa Hanif
"Waalaikumussalam"Jawab Ais
"Ais... boleh kakak bicara sebentar"Tanya Hanif
"Maaf kakak siapa ya, dan ada perlu apa "Tanya Ais
Hanif hampir lupa kalau Ais belum tahu kalau ia lah yang mengirim surat itu.
"Sa..saya.. Hanif"Ucap Hanif terbata
Wajah Ais langsung memerah, yang muncul diingatannya hanyalah makian ibunya Hanif waktu itu, dengan cepat Ais ingin segera pergi dari hadapan Hanif.
"Maaf... kak Ais harus buru -buru ke kelas karena Ais piket"Ucap Ais berusaha menghindari Hanif
"Permisi... Assalamualaikum "Ucap Ais segera berlalu
Melihat Ais berjalan dengan cepat, Hanif pun berlari untuk mensejajari langkah Ais.
"Ais... kakak mohon berhenti lah.."Ucap Hanif dengan nafas ngos - ngosan.
Ais ingat kalau Hanif baru sehat, maka ia segera berhenti, ia tak mau sakit Hanif kembali sakit.
"Ais... kakak mohon, kakak perlu bicara masalah surat itu tapi kalau sekarang Ais buru -buru nanti kita bicara dimushola saja ya habis dhuha"Ucap Hanif memohon
Ais merasa tak tega melihat wajah Hanif yang masih pucat.
"Iya kak inshaa Allah nanti kita ngobrol dimushola, tapi saya bawa teman ya"Ucap Ais
"Baiklah Ais nggak apa - apa, maksih ya udah mau ketemu kakak"Ucap Hanif
*****
Bel istirahat telah berbunyi Ais mengajak Maria ke mushola untuk sholat dhuha bersama sekalian menemaninya untuk bertemu Hanif.
"Assalamualaikum Ais"Ucap Hanif
Wajah Hanif tampak lebih cerah karena ia telah bertemu mentor rohisnya.
"Waalaikumussalam kak"Jawab Ais dan Maria bersamaan
Sebelum Hanif memulai bicara Maria lebih dulu menyeletuk.
"Mar... jangan bicara yang aneh - aneh, kita disini untuk mendengar pembicaraan kak Hanif saja, bukan malah membuka masalah yang baru"Ucap Ais sambil menutup mulut Maria
Hanif merasa aneh kenapa Maria membawa -bawa mamanya.
"Maaf Maria, apa yang telah mama kakak lakukan pada Ais, apa mama kakak mengenal Ais"Tanya Hanif
"Sebaiknya kakak tanya langsung aja ke mama kakak"Ucap Maria
"Ais... apa mama kakak memyakiti kamu, kamu nggak usah bohong sama kaka karena kakak tahu sifat mama kakak"Ucap Hanif semakin kalut.
Ais tak menjawab apapun ia hanya menangis mengingat kejadian yang sangat menyakitkan itu. Melihat reaksi Ais, Hanif semakin yakin kalau mamanya sudah melukai Ais.
"Mar... ceritakan saja, mama kakak pasti akan menutipi semuanya dari kakak"Ucap Hanif memohon.
Akhirnya Maria pun menceritakan semuanya pada Hanif apa yang telah dilakukan mamanya pada Ais, sampai Ais masuk rumah sakit.
"Ya Allah... Ais... maafkan kakak ya, seandainya kakak tahu lebih awal hal ini pasti Ais tak akan mengalaminya"Ucap Hanif sambil menagis menyesali kejadian yang Ais alami karena mamanya.
"Maaf kan kakak Ais... kakak tak bermaksud menyakiti Ais... maafkan kakak"Ucap Hanif sangat sedih
Ais juga ikut menangis, merasakan menyesalan yang Hanif rasakan.
"Sudahlah kak, Ais sudah memaafkan kakak, ini bukan salah kakak, ibu kakak juga nggak salah, mana ada seorang ibu yang tega melihat anaknya tersakiti, Ais sudah memaafkan semuanya"Ucap Ais
"Ais... kakak sekali lagi minta maaf, kakak menerima semua keputusan Ais, jika kita memang berjodoh kelak kita pasti akan bersama, terima kasih Ais untuk segalanya"Ucap Hanif sambil meninggalkan mushola
"Assalamualaikum" Pamit Hanif
"Waalaikumusslam"Jawab Ais dan Maria.
*****
Dirumah Hanif...
"Ma... mama... "Panggil Hanif dengan nada marah
"Ada apa sayang, datang kok langsung marah - marah gitu"Ucap mama Hanif
"Apa yang telah mama lakukan pada Ais"Tanya Hanif masih marah
Mamanya masih berkelit dan terkesan mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Mama nggak usah bohong, Hanif sudah tahu semuanya"Jelas Hanif
"Ooo jadi si gembel itu udah mengadu padamu ya"Ucap mama tersenyum sinis
"Nggak ma dia bukan gembel... dia punya nama, Aisyah ma, dan bukan dia yang mengadu pada Hanif, melainkan anak tante Rini, Maria"Ucap Hanif marah
"Dan asal mama tahu Ais sudah memaafkan mama meski mama sudah membuatnya masuk rumah sakit juga"Ucap Hanif yang tampak semakin sesak karena menahan marah.
"Bagus dong biar impas kamu masuk rumah sakit juga gara - gara gembel itu"Ucap mama masih sinis
"Mama... "Teriak Hanif marah dan tiba - tiba Hanif sudah pingsan tak sadarkan diri karena terlalu emosi.
Mama menjadi panik dan segera berteriak memanggil seisi rumah untuk membantu Hanif.
"Hanifffff... sayang bangun... maafin mama"Ucap mama menagis
"Hanifffff"Teriak mama
Bagaimana nasib Hanif, ikuti terus kisahnya...
To be continue
Makasih ya dah mampir ke karyaku
makasih dah meninggalkan like dan komennya
makasih juga yang dah kasih vote nya
semoga sehat dan bahagia selalu
salam manis
🤗
Author
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan karya apik author yang lain :
Fit Fithree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Mengejar Cinta Ariel
Almaira My Secret Wife
My Love My Babysitter
*Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu
Kembar Tidak Identik
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
My Heart Is Only For You
*Sudrun
Penjelah Malam
Samudra
*Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
*Sisca Nasty
Mafia in Love
*Cindyelvira
Ketika Muslimah Jatuh Cinta
Istri Sholehah
*Karlina Sulaiman
Mencintaimu Dalam Diam
__ADS_1