Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
DETIK TERAKHIR 1


__ADS_3

🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌻


Selamat Membaca!


*****


Taman Rumah Sakit ....


"Kita makan ya," ajak Rey pada Ais.


"Tapi aku su-." ucapan Ais terjeda.


"Aku sudah melihat semuanya." Rey melepaskan pelukannya dan berganti menuntun tangan sang istri untuk kembali duduk.


"No protes! Kita makan!" Rey mendudukkan sang kekasih di bangku taman kembali.


Keduanya makan bersama, untuk sesaat Ais melupakan kegelisahannya sejak siang.


*****


Sehabis makan keduanya segera salat isya dan kembali keruang perawatan Aminah, kebetulan sang dokter sedang memeriksanya.


"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanta Ara dan Ani hampir bersamaan.


Semua berkumpul ingin mendengar penjelasan sang dokter, termasuk ayah mereka abdullah.


"Keadaan ibu saat ini sudah stabil semuanya tetapi apa saya boleh bicara dengan suaminya atau anaknya yang kemarin mengisi formulir penanggung jawab terhadap pasien?" tanya dokter.


"Aiss!" serempak mereka menjawab membuat yang punya nama menunjuk dirinya sendiri.


"Baiklah mari ikut saya bu Ais, dan bapak kalian mana?" tanya dokter lagi.


"Bapak sebaiknya tidak usah ikut Dok! Kasihan nanti kondisi psikis beliau," ucap Ari sebagai anak lelaki tertua.


"Iya saya tidak udah ikut saja. Biarkan anak saya Ais saja yang ikut bersama pak dokter." Abdullah akhirnya membuka suara, karena memang ia lelaki yang cepat panik saat mendengar hal-hal yang buruk atau kurang baik.


"Baiklah kalau begitu kami permisi!" Dokter itu pamit keluar ruangan diikutu oleh Ais dan Rey tentunya, ia tidak akan membiarkan istrinya pergi sendiri.


Kini mereka sudah duduk di dalam ruangan yang berukuran kurang lebih empat kaki empat yang serba putih dengan sofa berwarna coklat tua. Seorang dokter yang masih cukup muda telah duduk di kursi kerjanya. Dia adalah Irul dokter yang menangani ibu Aminah sejak beliau dirawat di rumah sakit Cinta Bunda.


"Silahkan duduk bu Aisyah dan pak Reyhan, saya hanya ingin menyampaikan kondisi real pasien. Terus terang saja saya tidak akan sanggup mengatakan keadaan yang sebenarnya tentang bu Aminah di depan semua anggota kekuarganya. Oleh karena itu saya mengajak ibu dan bapak kemari." Dokter Irul membuka obrolannya.


Ais dan Rey sudah duduk dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda mereka mengerti apa yang dokter Irul sampaikan.


"Katakanlah Dok! Saya inshaa Allah sudah siap mendengarkannya meskipun itu kemungkinan terburuk." Ais tersenyum ketir menatap kearah sang dokter sebelum akhirnya kembali menundukkan wajahnya.


Rey telah menggenggam tangan sang kekasih, ia tahu mungkin ini merupakan beban yang berat bagi istrinya.


"Begini!" Dokter Irul menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan.


"Sebenarnya kondisi bu Aminah sedang tidak baik-baik saja, beliau mengalami serangan jantung yang cukup parah dan ini sudah stadium akhir. Apakah selama ini kalian tidak mengetahuinya?" tanya dokter Irul.


"Benarkah Dok? Terakhir bulan kemarin kami cek up ke dokter langganan katanya kondisi ibu baik-baik saja hanya sedikit kecapean. Tetapi sudah hampir dua minggu sebelum sakit ini, ibu sering mengeluh punggungnya sakit seperti ditusuk-tusuk. Dan bagian dada sebelah kiri juga sering nyeri seperti di gigit binatang buas." cerita Ais sedih.


"Nah sebenarnya itu adalah gejalanya, tapi anehnya ini sudah langsung parah. Apa bu Aminah sering mengalami bercak biru dikulitnya saat bangun di pagi hari setelah ia merasakan sakit?" tanya dokter Irul lagi.


"Iya Dok tapi katanya nggak sakit, apa ibu menutupi rasa sakitnya dari Ais ya?" Ais semakin sedih mengingat sakit yang selama dua minggu terakhir sering dialami ibunya yang sering dianggap biasa oleh sang ibu.


"Bisa jadi bu Ais. Dan yang terpenting sekarang untuk ibu ketahui bahwa kesempatan hidup yang bisa kita pertahankan hanya lima persen saja. Namun semua itu hanya perkiraan saja, jika Allah menghendaki tidak ada yang tidak mungkin. Jadi kita hanya bisa berharap semoga saja ada mu'jizat dari Allah, SWT." Dokter Irul menutup pembicaraannya.

__ADS_1


Ais sangat shock mendengar vonis dokter Irul. Rasanya Ais ingin berlari dan memeluk sang ibu agar tidak terlepas, agar sang ibu tidak meninggalkannya. Air mata Ais rasanya sudah akan mengalir namun masih ia tahan sebisanya. Ia tidak mau terlihat rapuh dihadapan san dokter.


"Baiklah Dok, kalau begitu kami permisi dulu." Rey mengajak istrinya segera keluar agar sang istri dapat menumpahkan kesedihannya.


Keduanya segera beranjak dari ruangan bernuansa putih itu. Sampai di luar Rey sengaja mengajak sang istri ke bangku taman yang agak sepi.


"Ayang! Aku tahu perasaanmu sangat hancur. Sini peluk aku!" Rey merentangan kedua tangannya.


Ais segera memeluk sang suami, ia menumpahkan segala rasa sedih dan perih dalam dekapan sang suami. Dalam dekapan nan hangat Ais dapat merasakan sedikit ketenangan. Sambil memeluk sang kekasih Rey menasihatinya.


"Ayang! Jangan simpan rasa sedihmu sendiri. Ingat ada Allah! Serahkan segalanya kepada Sang Maha Pencipta. Ingatlah Ayang asma Allah yang akan kita Al Muhyi, Allah yang Maha Menghidupkan, dan Al Mumit, Allah yang Maha Mematikan. Tidak ada satupun yang bisa membuat makhluk menjadi hidup kecuali Allah, dan tidak ada satupun yang bisa membuat makhluk menjadi mati kecuali Allah. Allah Swt. berfirman, “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”. (QS. Ali ‘Imran [3] : 27)." jelas Rey pada sang istri.


Tangisan Ais semakin pecah, sesak semakin menyeruak dalam dadanya hingga tubuhnya yang ada dalam dekapan Rey berguncang. Rey semakin mempererat pelukakannya untuk menguatkan sang istri.


"Ayang ingatlah! Dalam surah Ali Imran 185 yang berbunyi :


كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ


“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.” Itu artinya bukan hanya ibu yang akan mengalaminya terapi kita semua hanya waktunya saja yang berbeda oleh karena itu kita diminta untuk giat dalam beribadah seolah kita akan mati esok dan juga giat dalam bekerja seolah kita akan hidup selamanya." Rey mencium kedua mata sang istri yang terpejam.


"Kita salat ya sekarang, supaya kamu bisa lebih tenang. Jangan sampai adik atau kakakmu apalagi bapak melihat wajahmu yang cantik begini saat menangis." Rey menghibur sang istri.


Tampak sekilas senyum terpaksa dari sang istri yang membuat Rey merasa sedikit lega. Ia sangat salut dengan keteguhan dan kesabaran hati sang kekasih. Ia sudah merasakan sakitnya kehilangan dua orang tercinta sekaligus yaitu mami dan papinya.


Keduanya tampak beriringan menuju mushala untuk salat sunat hajat agar memperoleh ketenangan batin.


*****


Sementara itu di dalam ruangan Aminah tampak semua anaknya duduk tidak jauh dari tempat tidur sang ibu. Setelah selesai salat dan makan malam mereka bergantian membacakan surah yasin untuk sang ibu.


Tampak diantara mereka Abdullah yang sedang membaca surah yasin sesekali menyeka air mata yang dengan sendirinya mengalir. Semua anaknya tentu saja sangat tahu, tetapi mereka tidak ingin menganggu sang ayah.


"Assalamu'alaikum!" ucap Rey dan Ais bersamaan.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semuanya serentak.


"Ais! Apa yang dokter sampaikan tanta Ari." Dia langsung bertanya karena merasa penasaran. Soalnya Ais sangat lama baru kembai.


"Nanti akan aku sampaikan, sekarang semuanya istirahatlah dulu." Ais berusaha untuk menetralisir keadaan.


"Kak! Apa aku dan Anis bisa pulang malam ini kerumah kakak?" tanya Amy.


"Kenapa mau pulang?" tanya Ali yang sedari tadi hanya diam.


"Aku lagi dapet tamu, jadi agak risih." Amy tersenyum nggak enak.


"Ya sudah sekalian juga kak Ara dan bapak ikut pulang. Kasihan bapak sudah beberpa hari kurang tidur dan makan tidak teratur. Besok pagi-pagi baru kalian balik kesini lagi." ucap Ais akhirnya, karena memang kasihan Abdullah sepertinya sudah sangat kecapean.


Akhirnya semua menyetujui permintaan Ais. Kini tinggallah mereka bertiga Ari, Ali, dan Ais. Sedangkan Rey ikut pulang mengantarkan adik dan kakak iparnya serta ayah mertuanya Abdullah.


Malam semakin larut Ais dengan setia menemani sang ibu dengan lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an. Sementara Ari dan Ali bercerita di luar tepat di depan ruangan sang ibu. Saat itulah sesuatu terjadi.


"Aisss ....!


Bersambung.....🌻


Terimakasih sudah membaca!


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.

__ADS_1


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa


Mengejar Cinta Ariel


My Prince Fauzan


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


Ceo dingin dan Gadis Kampung


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


* Karlina Sulaiman


Ceo Somplak


*Laura V


Sang Pengoda


*Bintun Arief


Keteguhan Hati


*Novi Wu


Bos Come Here Please!


*Ricky Wijaksono


Api Di bumi Majapahit


*Samar


Cinta Di antara Dendam


* Syala Yaya


Istri kedua tuan Krisna


* Cherin Kauma


l Love My Army Wife


*Oktavia Tresiani

__ADS_1


Pacarku Hantu


__ADS_2