
🌻Terimakasih sudah membuka chapter ini, jangan lupa tinggalkan jejakmu, semoga kamu sehat dan bahagia selalu.🌻
Selamat Membaca!
Ketiganya segera berdiri dan menerima tropi bergilir yang akan berpindah tangan jika sang pemengang tidak bisa mempertahankan prestasinya.
"Selamat ya, semoga bisa mempertahankannya, atau kalau bisa lebih ditingkatkan lagi," ucap ustad sambil menyalami ketiganya. Tak lupa ustad mengambil foto ketiganya lalu mengirimkannya kepada orang tua masing-masing santri.
*****
Setelah selesai acara pemberian penghargaan hafalan mingguan semua santri telah kembali keasrama. Hari ini mereka semua mendapat jatah libur hafalan selama satu hari. Karena besok adalah waktu kunjungan atau akan bertemu dengan orang tua mereka. Para ustad yakin pemikiran para santri pasti tidak akan bisa fokus karena sudah terpusat pada rasa rindu pada keluarga masing-masing, makanya mereka diliburkan.
Para santri tampak bersenda gurau dengan ceria, begitu juga dengan Alif. Senyum ceria menghiasi wajahnya hari ini. Semua awan mendung seolah sirna dengan hanya berita mereka akan bertemu sanak keluarga. Namun tidak dengan Anan, wajahnya tampak lesu. Ia merasa sedih karena kedua orang tuanya tidak bisa datang berkunjung dikarenakan adiknya kurang sehat, sehingga tidak bisa di tinggal.
Melihat wajah sahabatnya bersedih tentu saja membuat Alif merasa harus menghiburnya. Ia pun mendatangi Anan yang sedang duduk di bawah pohon lengkeng yang rimbun.
"Assalamu'alaikum, Kak!" sapa Alif sambil menghempaskan pantatnya di sebuah kursi kayu yang panjang tepat di depan Anan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Alif! Duduk sini!" Anan menepuk kursi kayu yang kosong tepat disebelahnya.
Alif pun berpindah tempat, duduk tepat di samping Anan.
"Kakak kenapa, tadi Alif lihat kakak sedang sedih, ya?" tanya Alif dengan senyum khasnya.
"Iya, Lif. Kamu benar, kakak sedang sedih. Besok hari kunjugan keluarga. Seharusnya kakak juga gembira namun kedua orang tua kakak nggak jadi datang," ucap Anan.
"Kenapa mereka nggak datang, Kak?" tanya Alif lagi.
"Pertama masalah biaya, jarak dari Pelembang ke sini bukanlah dekat. Tiket pesawatnya mahal. Terus yang kedua, adik kakak sedang sakit kata ayah, jadi tidak bisa di tinggal," jelas Anan.
"Ohhh begitu ya, Kak. Ya udah kakak jangan sedih ya, nanti kita pakai video Call saja ,biar kakak bisa bicara dan melihat langsung kondisi keluarga kakak." Alif menjabat tangan Anan, seolah ingin menguatkannya.
"Terimakasih, Alif. Kamu emang anak yang baik. Tapi keluarga kakak tidak punya Hp android yang super canggih itu, paling nanti bisa nelpon saja. Itupun kalau ayah dan ibu kakak punya pulsa, kalau nggak yah, terpaksa nggak bisa nelpon." Anan tertunduk sedih.
"Kakak tenang saja, nanti bisa kok pinjam ponsel Alif buat nelpon orang tua kakak," ucap Alif sambil tersenyum.
*Yaa Allah, semoga umi dan abi nanti bisa membantu kak Anan untuk bertemu dengan ayah dan ibunya.*
"Kak sekarang sudah menjelang mabrib kita sebaiknya kembali keasrama untuk mandi dan bersiap ke masjid, yuk!" ajak Alif pada Anan.
"Iya, Dek. Terimakasih banyak ya sudah mau menemani kakak." Anan menepuk pundak Alif yang kecil dengan lembut.
__ADS_1
Keduanya segera menuju ke asrama untuk mandi dan bersiap salat magrib. Rencananya malam ini sehabis magrib Anan akan menyampaikan kultum harian, dari santri dan untuk santri.
Azan magrib telah berkumandang, salat magrib pun sudah dilaksanakan, kini ananda Anan akan menyampaikan kultumnya sebelum nanti mereka makan malam bersama.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Anan sebagai salam pembuka kultumnya.
Semua jama'ah menjawab dengan serentak."wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Baiklah pada kesempatan kali ini izinkan saya untuk menympaikan kultum tentang menghormati seorang ayah, mungkin yang kita sering bahas selama ini tentang penghormatan kita pada seorang ibu, sampai rasulullah juga menyebutkan" ibumu ... ibumu ... ibumu ... ayahmu." jelas Anan mengawali kultumnya.
"Seorang ayah mungkin tidak banyak berkata seperti seorang ibu, sehingga banyak dari kita kadang menganggap cinta ibu lah yang lebih besar pada kita. Pada hal kasih sayang ayah juga sama besarnya untuk kita tetapi kadang cara seorang ayah menyampaikan kasih sayangnya akan sangat berbeda dengan seorang ibu yang lembut dan penuh kasih sayang." Jelas Anan.
"Kalau berbicara tentang besarnya kasih sayang orang tua, kita pasti teringat tentang 'kasih sayang ibu' daripada kasih sayang seorang ayah. Memang kasih sayang ibu tidak ada tandingannya, dan ibu juga yang telah banyak berkorban demi kita, demi anaknya. Karena ibu yang telah mengandung kita, ibu yang telah mengorbankan nyawanya demi melahirkan kita. Tetapi, bagaimana dengan kasih sayang seorang ayah?" Semua santri terdiam.
"Mungkin dulu kamu kecil, Ibu yang lebih sering mengajak kamu bermain, memandikanmu, menggantikan bajumu yang kotor, karena mungkin Ayah pada saat itu sedang bekerja. Tapi tahukah kamu, bahwa setiap Ayah pulang kerja dan dengan wajah lelah, Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang keadaanmu dan apa yang kau lakukan seharian? Ketika ayah mencari uang untuk kita yang sedang menginginkan baju baru agar kita terlihat cantik dan tampan, dan Ayah selalu berusaha semaksimal mungkin agar bisa membuat anak kesayangannya bahagia." papar Anan lagi.
"Namun ketika kita sudah beranjak remaja, Kita mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu? Karena Ayah tidak ingin putri cantiknya kenapa-kenapa, Ayah tidak ingin anak kesayangannya yang selalu berusaha di bahagiakan mendapatkan perlakuan buruk oleh orang lain. Karena bagi Ayah, kamu sangat luar biasa berharga." terang Anan.
"Ketika kamu menjadi gadis atau lelaki dewasa dan kamu harus pergi kuliah dikota lain Ayah harus melepasmu, Ayah hanya tersenyum sambil memberi sedikit nasehat, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat. Mungkin ibu lebih sering menelfon untuk menanyakan keadaanmu, tapi percayalah ternyata Ayah yang selalu mengingatkan ibu untuk menanyakan bagaimana kabar putra dan putrinya itu. Disaat kamu membutuhkan biaya untuk kuliah dan keperluan lainnya Ayah selalu berusaha semaksimal mungkin agar putra putrinya bisa sama dengan teman-teman lainnya." jelas Anan lagi.
"Dan pada saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana, Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat putri atau putra kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang yang mungkin kelak akan berguna bagi orang lain. Percayalah pada saat itu seorang Ayah akan sangat sangat merasa bangga kepada putra putri kesayangannya." jelas Anan yang membuat sebagian santri mulai terisak.
Melihat situasi yang mengharukan ustad Fajar tampil kedepan untuk melanjutkan kultumnya Anan, karena air mata Anan sudah mengalir deras.
Terimakasih Ayah, walaupun kasih sayangmu tidak terlihat seperti kasih sayang Ibu, namun kita semua dapat merasakannya dengan perlakuan-perlakuan yang Ayah berikan kepada kita, seperti menjaga kita, mendoakan kita, menanyakan segala hal tentang kita melalui Ibu. Bersyukurlah kalian yang masih memiliki Ayah, dan masih bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah. Terimakasih, Ayah ... I love you.
Sumber inpirasi: Kompasiana
Bersambung.....
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Mengejar Cinta Ariel
__ADS_1
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
Audio Nyanyian Takdir Aisyah
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*WIB (Write in Box)
Ya Dia Istriku
*Khauma
I Love My Army Wife
*Syala Yaya
Istri Kedua Tuan Krisna
*Laura V
Sang Penggoda
*Bintun Arief
__ADS_1
Terjebak Cinta Brondong