
🌻Terimakasih sudah membuka chapter ini, jangan lupa tinggalkan jejakmu, semoga kamu sehat dan bahagia selalu.🌻
Selamat Membaca!
*****
Mendengar perkataan istrinya, Rey segera menepikan mobil. Diraihnya jemari Ais. "Ayang ... maafkan lah aku, bukan maksud hati meragukan ketulusan cintamu, aku hanya iseng menanyakan itu. Karena kamu dan Reza sudah sahabatan sejak SMP. Sekali lagi, maafkanlah aku." Mencium pucuk jemari istrinya.
"Jangan pernah lagi menanyakan hal seperti ini, Ayang. Aku akan mencintaimu dunia dan akhirat." Membalas genggaman suaminya.
Merekapun kembali melanjutkan perjalanan menuju kekediamannya. Suasana yang tadi sempat menegang kini kembali nyaman dan tenang. Aispun ikut tertidur dengan bersender di kursi mobil. Kedua tangannya memeluk Alif, putra mereka.
Melihat dua orang kesayangannya tertidur memaksa seorang Rey untuk berhenti. Ia mengambil putranya dari gendongan Ais, kemudian membaringkannya di kursi belakang.
"Hmm, Ayang! Kenapa Alif dipindahkan?" tanya Ais dengan suara yang serak.
"Kasihan kamu, tiduran sambil memeluk putra kita." Rey menutup pintu mobil.
"Nggak apa-apa, Yang. Seorang ibu sudah biasa melakukan hal-hal seperti itu tehadap anak-anak mereka. Dulu waktu aku kecil, ibu juga begitu terhadapku. Sekarang gantian aku yang memeluk anak-anakku begitu." Ais tersenyum membayangkan masa kecilnya yang indah.
"Ayang, terimakasih." Tersenyum menatap manik bening istrinya.
"Untuk?!" Menatap bingung suaminya.
"Semuanya. Terimakasih sudah menjadi istri yang sabar dan baik untukku. Menjadi ibu yang baik juga untuk anak-anak kita. Menjadi kesayangan mami dan papi, dan menjadi kesayangan semua orang," ucap Rey serak. Ia teringat akan kedua orangtuanya yang begitu menyayangi Ais sejak SMA.
"Ayang! Segera tarik nafas dalam-dalam dan buang perlahan dari mulut saat sedih. Kemudian jika teringat mami dan papi, segera do'akan mereka. Agar Allah selalu melapangkan dan menerangi kuburannya, serta menempatkan mereka bersama golongan orang-orang yang shalih," ucap Ais bermaksud untuk menghibur suaminya.
"Iya, Ayang. Terimakasih banyak. Kamu selalu bisa menguatkan aku disaat sedang merasa terpuruk." Menatap istrinya sekilas kemudian kembaki menatap kedepan.
Perjalanan pulang kerumah mereka menjadi hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing sekarang. Rey merasa sedih karena tiba-tiba teringat akan kedua orangtuanya, sedangkan Ais berusaha merancang apa yang bisa dia lakukan untuk bisa menghibur suaminya.
*****
Mobil Rey telah memasuki halaman rumah Mereka. Namun ia merasa heran karena tidak biasanya, ada mobil yang terparkir di depan rumahnya. Seingatnya dia tidak membuat perjanjian dengan klien atau seseorang. Dengan cepat ia segera memarkirkan mobilnya, dan mengajak Ais untuk turun.
"Ayang, apa kamu membuat janji dengan seseorang?" tanya Rey pada istrinya.
"Nggak ada, kenapa?" Membuka sitbelt kursi yang didudukinya.
"Kamu lihat mobil itu?" Menunjuk kearah sebuah mobil putih yang terparkir tepat didepan gerbang rumahnya.
"Iya, tapi mobil siapa itu?" tanya Ais balik.
"Aku juga tidak tahu, Yang. Makanya tadi aku bertanya padamu, apa ada membuat janji dengan seseorang." Menggendong Alif untuk turun.
"Ya sudah, ayo kita masuk!" Mengajak Ais.
Keduanya berjalan beriringan, sampai di pintu utama segera memberi salam. "Assalamu'alaikum!" ucap Rey dan Ais bersamaan.
Dilihatnya ada tamu yang tidak mereka kenal sedang mengobrol bersama ayah dan ibunya, Ais.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Semua menjawab dengan serius.
"Eh, itu anak dan cucu kami, mereka barusan datang," jelas bu Aminah.
"Oh, selamat datang Bu Ais dan Pak Rey, maaf kalau kedatangan kami membuat kalian penasaran tentunya. Perkenalkam mama saya Amran. Kami dari panitia lomba tahfiz kemarin," jelasnya.
"Ohh, maaf. Tadi kami kira siapa. Mari silahkan duduk. Kemudian Rey memanggil ARTnya unyuk segera dibawakan camilan dan minum. Sambil menunggu mereka pun berbincang-bincang.
"Kalau boleh tahu, bapak-bapak ini dari mana? Dan maaf sekiranya ada keperluan apa?" tanya Rey kepada tamunya.
"Begini, Pak. Perkenalkan saya, Fajar. Teman saya ini, Hakim. Kami berdua datang karena di kirim dari pihak panitia pelatihan tahfiz. Untuk persiapan perlombaan enam bulan yang akan datang. Semula para peserta akan menjalani pelatihan bulan depan namun ternyata harus dipercepat jadi besok pagi, karena perlombaanya juga dimajukan jadi tiga bulan lagi," jelas tamunya yang bernama Fajar.
__ADS_1
Mendengar penuturan tamunya, tentu saja membuat Rey dan Ais sedikit terkejut. Baru akan melanjutkan pembicaraan mereka, bi Ijah sudah datang membawakan minum serta camilan.
"Ayo, silahkan di minum." Rey menyodorkan gelas minuman dan satu toples camilan ringan khas daerah kelahiran ibu mertuanya sebelum menetap ditanah Jawa, getas. Semacam kerupuk tapi bentuknya seperti keleng kadang berbentuk stick. Makanan ini terbuat dari bahan dasar ikan, rasanya gurih dan segar."
"Jadi bagaimana, Pak? Apa besok sudah siap untuk mengantarkan ananda Alif keasrama." tanya Hakim, tamu yang satunya.
Setelah mengantarkan putranya kekamar, Ais segera ikut bergabung keruang tamu.
"Apa tidak bisa dibatalkan untuk anak saya?" cerocos Ais tiba-tiba. Yang membuat ketiganya melihat tak percaya kearah Ais.
"Ayang ...!" Rey segera memberi kode agar segera mengikutinya keruang keluarga.
"Maaf ya, kami izin kebelakang sebentar." Rey segera menarik tangan istrinya.
Tamu Rey dan Ais, memandang kepergian keduanya dengan tersenyum. Mereka juga mengerti pasti berat bagi seorang ibu untuk melepas putra putrinya, apa lagi yang masih kecil seperti Alif.
*****
Ruang keluarga ....
Dengan sedikit cepat Rey membawa Ais dan mengajaknya duduk diruang keluarga.
"Ayang, bukannya ini kemarin sudah kita bahasa, tapi mengapa masih saja kamu membicarakannya? Apa kamu tidak kasihan sama putra kita? Dia bahagia mengikuti lomba ini, kenapa kamu yang menjadi pesimis? Kamu tidak bangga mempunyai anak yang memiliki kemampuan di atas rata-rata teman sebayanya? Kamu ...." Belum selesai Rey berbicara, Ais sudah berangkat dan memeluk kaki Rey yang sedang duduk.
Ais menangis meluapkan kesedihannya, ada sekelumit rasa nyeri di hatinya. Selama pernikahan mereka baru kali ini Rey terlihat sangat kecewa pada dirinya. Ais merasa serba salah, disatu sisi dia sangat ingin putranya ikut lomba untuk mencari pengalaman, dan disisi lainnya dia tidak ingin berpisah dengan putranya.
Dengan cepat Rey meraih tangan Ais. Dipeluknya sang istri yang sedang menumpahkan kesedihannya. Ia akan selalu berusaha untuk menjadi sandaran bagi istrinya dalam suka maupun duka.
"Maafkan aku, bukan maksud hati untuk memarahimu, aku hanya mengingatkanmu. Aku ingin kita semua bisa baik-baik saja. Dengarkanlah kisahku ini tentang ibunya Imam Syafi'i yang juga waktu itu berat untuk melepaskannya menuntut ilmu agama, dan beliau bersabar demi ilmu din yang akan dituntut putranya.
"Di malam sebelum Imam Syafi'i pergi untuk menuntut ilmu, sang ibu berdo'a dalam keheningan: “Yaa Allah, Rabb yang menguasai seluruh alam. Anakkku ini akan meninggalkanku untuk perjalanan jauh demi mencari ridhaMu. Aku rela melepasnya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Maka hamba memohon kepadaMu yaa Allah … mudahkanlah urusannya. Lindungilah ia, panjangkanlah umurnya agar aku bisa melihatnya nanti ketika ia pulang dengan dada yang penuh dengan ilmu-Mu.”
"Beliau khusyu' mendo'akan Imam Syafi'i hingga meneteskan air mata." terang Rey.
“Pergilah anakku,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca, begitulah yang diucapkan oleh ibunya Imam Syafi'i.
"Kemudian beliau berkata lagi." Allah bersamamu. Insya Allah engkau akan menjadi bintang paling gemerlap di kemudian hari. Pergilah… ibu telah ridha melepasmu. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik penolong." ucap ibunya Imam Syafi'i yang merupakan doa yang mujarab bagi sang anak.
"Demikianlah sedikit kisah dari Ibunda Imam Syafi'i yang patut kita jadikan teladan saat melepas anak pergi dalam rangka mencari ilmu. Dan aku juga ingin kamu sepeti itu, do'akan anak kita bukan malah kau mematahkan semangatnya." ucap Rey sambil membelai kepala istrinya yang tertutup hijab.
"Maafkan aku, Ayang. Inshaa Allah aku akan ikhlas melepas putra kita, aku ingin dia bisa sukses dalam kehidupan dunia dan akhiratnya juga." Memeluk erat suaminya.
"Baiklah sekarang kita temui tamu kita yang ada di depan. Sekarang hapus air matamu, daj berikan senyum bahagia kita untuk kesuksesan putra kita dalam mencari ilmu agama." Menghapus air mata di kedua pipi istrinya.
Keduanya segera berjalan menuju ruang tamu, untuk memberikan izin pada putra tercinta mereka, mengikuti karantina tahfiz dipondok pesantren yang telah ditentukan oleh para panitia lomba kemarin.
*****
Berbahagialah saat Allah memberi kesempatan kepada anak kita untuk menuntut ilmu din, karena Allah telah menjanjikan kemudahan jalan menuju surga bagi para penuntut ilmu.
Sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah sholallahu 'alaihissalam,
"Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.”
Berbahagialah ibu, karena Allah juga akan memberi kemuliaan bagi orang-orang yang berilmu. Tidakkah kita menginginkan anak-anak menjadi pribadi yang mulia selama di dunia dan juga pahala serta derajat yang tinggi di akhirat nanti disebabkan oleh ilmu yang mereka dapat?
Maka ibu, sampaikan pesan kepada putra putri kita untuk menegakkan niat agar tetap lurus hanya untuk mengharap wajah Allah ketika hendak belajar, dan mohonlah kemudahan kepada Allah untuk mereka dalam mengamalkan setiap ilmu yang didapat, sekuat kemampuan mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan kita dalam sebuah hadits,
“Barangsiapa mencari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharapkan wajah Allah, namun ternyata ia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan satu tujuan dunia, maka ia tidak akan mencium wanginya surga pada hari kiamat.” (HR Abu Daud no: 3664 dengan sanad yang shahih, Ibnu Majah no: 252, Ibnu Hibban no: 89, dll)
Bersabarlah sebentar saja ibu, Inshaa Allah perpisahan ini hanya untuk sementara, jarak yang terpisah masih bisa ditempuh, dan kita masih bisa mendekapnya dengan do'a kita.
__ADS_1
Dan, bersyukurlah, karena dengan perpisahan ini, anak akan belajar merasakan dan mengelola kerinduan kepada orang tuanya.
Sebentar saja ibu, cuma sebentar... insyaAllah
Apalagi kalau bukan jannah tujuan akhir yang kita harapkan untuk kembali berkumpul bersama?
Semoga Allah menjadikan anak-anak kita sebagai generasi muslim yang berilmu dan mampu beramal dengan ilmunya serta mendakwahkannya, dan semoga Allah menjaga hatinya agar tetap berada dalam fitrah dan keikhlasan hingga senantiasa memurnikan niat di setiap aktifitasnya hanya untuk mengharapkan ridho Allah.
Bersambung.....
Terimakasih sudah membaca.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
Audio Nyanyian Takdir Aisyah
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*WIB (Write in Box)
Ya Dia Istriku
*Khauma
I Love My Army Wife
*Syala Yaya
Istri Kedua Tuan Krisna
*Laura V
Sang Penggoda
*Bintun Arief
__ADS_1
Terjebak Cinta Brondong