Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
KEBERANGKATAN ALIF


__ADS_3

🌻Terimakasih sudah membuka chapter ini, jangan lupa tinggalkan jejakmu, semoga kamu sehat dan bahagia selalu.🌻


*****


Ruang keluarga ....


"Aza ... Ara, jangan gitu dong. Sini Babang bantu. Itu umi nya kita semua." Alif meraih Ara dalam gendongannya dan menuntun Aza ditangannya.


Melihat putranya yang begitu dewasa membuat Ais semakin takjub dan menyayangi putranya.


Dengan sabar Alif membawa kedua adiknya kepada Ais, ibu mereka.


"Sini sayang!" Ais meraih Ara yang sedang di gendong oleh putranya, dan meraih tangan Aza untuk menuntunya juga.


"Babang juga duduk sini!" Ais menepuk kursi disebelahnya yang kosong, karena Rey pindah duduk dilantai meraih Aza yang belum di gendong oleh Ais.


Keluarga kecil itu menghabiskan malam kebersamaan mereka dengan sangat baik, Ais atau Rey seolah tidak mau kehilangan sedetikpun momen bersama putranya yang akan berangkat besok.


Karena terlalu lelah bermain, Ara dan Aza mulai mengantuk. Ais segera membawa putrinya bersama Rey kekamar mereka. Tentu saja Alif juga ikut. Karena setiap malam ia bersama Ais akan menyanyikan lagu shalawat untuk menidurkan kedua adiknya.


Rey segera membaringkan Aza ketempat tidurnya, begitu juga dengan Ais. Perlahan ia membaringkan Ara ketempat tidurnya juga. kedua bocah itu segera tersenyum menatap orang-orang terkasihnya. Tak lupa mereka menatap lekat kearah Alif dan Ais, seolah menanti lagu nina bobo mereka.


"Kenapa Sayang? Mau umi dan babang nyanyikan shalawat?" tanya Ais lembut. Dengan cepat keduanya tersenyum.


"Ayo, Umi. Kita shalawatan, biar Ara dan Aza segera tertidur," ucap Alif semangat.


"Baiklah kali ini kita mau nyanyi lagu shalawat apa?" Melihat kearah putranya.


"Terserah Umi saja," Alif tersenyum menatap Ais.


"Kalau shalawat Nariyah, bagaimana?" tanya Ais pada putranya.


"Boleh, tapi ada beberapa bait yang babang kurang hafal," tukas alif sedikit cemberut.


"Iya, nggak apa-apa. Kan kita nyanyinya barengan?" Ais kembali menatap putranya dengan penuh kasih sayang.


"Iya deh, tapi umi bantuin, Babang ya?" Alif kembali tersenyum manis.


"Oke." Ais mengajungkan jempolnya. Keduanya pun mulai bershalawat.


ALLOOHUMMA SHOLI SHOLAATAN KAAMILATAN WASALLIM SALAAMAN TAAMMAN ‘ALAA SAYYIDINA MUHAMMADINIL LADZII TANHALLU BIHIL ‘UQODU WA TANFARIJU BIHIL KUROBU


WA TUQDHOO BIHIL HAWAA-IJU WA TUNAALU BIHIR-ROGHOO-IBU WA HUSNUL KHOWAATIMI WA YUSTASQOL GHOMAAMU BI WAJHIHIL KARIIMI WA ‘ALAA AALIHII WA SHOHBIHII FII KULLI LAMHATIN WA NAFASIN BI ‘ADADI KULLI MA’LUUMIN LAKA.


Baru beberapa kali mengulang kedua putrinya telah tertidur. Ais segera memperbaiki posisi tidur putrinya dan mengajak Alif untuk keluar.


*****


Ruang keluarga ....


Setelah menidurkan kedua putrinya, mereka kembali keruang keluarga, di sana sudah ada keluarga besarnya. Tampak Rey sedang bercengkrama bersama ayah Abdullah dan ayah Wi, sedangkan ibu berbicara bersama Cintya, istri ayah Wi. Melihat Ais dan Alif, ibu segera melambaikan tangan kearah keduanya, agar ikut bergabung bersama.


"Sini, Sayang!" Lambai ibu Aminah.


Ais mengndeng tanngan putra tersayangnya menuju keruang tamu. Mereka akhirnya mengobrol sampai jauh malam. Alif kecil sudah tertidur dipangkuan ibunya.


"Yang!" sapa Ais pada suaminya.


"Kenapa?" Menatap istrinya.


"Tolong dong, pindahin Babang Alif kekamarnya. Kasihan dia, besok sudah harus berangkat." Membelai rambut putranya.


Rey segera berangkat dari duduknya, dan berjalan menuju kearah putranya yang sedang tertidur dipangkuan sang ibu.


"Hup." Rey mengangkat putranya yang terasa semakin berat saja. Kemudian Rey segera membawa putranya kekamar, dan tentu saja Ais mengikuti dari belakang. Dia sudah berpamitn kepada para oramg tua untuk menemani putranya.


Sampai di kamar Alif dengan cepat Ais membukakan pintu, agar suaminya dapat masuk dengan leluasa dan segera membaringkan putranya ketempat tidur.


Kini Alif kecil sudah tertidur, Rey segera mengajak Ais untuk keluar.


"Ayang, yuk kita kekamar!" Menyentuh tangan istrinya.


"Yang, bolehkah aku meminta izinmu?" Menundukkan wajahnya.

__ADS_1


Rey yang merasa heran dengan istrinya segera merespon permintaan istrinya. Diraihnya tangan Ais kemudian Dikecupnya lembut.


"Izin apa yang Ayang mau?" Memainkan ujung jilbab istrinya.


"Bolehkah malam ini aku tidur bersama putra, kita?" Menatap suaminya dengan bola mata beningnya yang sudah berair.


Melihat istri kesyangannya menahan tangis, Rey segera tersenyum untuk menenangkan hati kekasihnya itu. Diusapnya lembut jari jemari istrinya, kemudian dia kembali mengecupnya.


"Iya, boleh. Aku tidak mau melihat istri kesayanganku menangis sedih. Tidurlah bersama putra kita, tapi ...." Rey menggantungkan ucapannya, ia ingin membuat istrinya penasaran dengan begitu Ais akan melupakan kesedihannya.


"Apa?!" Ais benar menjadi penasaran.


"Asal jangan setiap malam, nanti aku yang akan kesepian. Aku tidak mau hanya ditemani oleh bantal dan guling." Rey tersenyum lebar karena berhasil membuat istrinya merona. Sudah hampir seminggu ini rona kemerahan istrinya tersembunyi.


Ais mencubit lembut perut suaminya. Yang membuat Rey meringgis geli.


"Ayang, jangan memulainya. Jangan membuat jiwa berperangku bergemuruh. Kamu mau kita bertempur di sini?" mengerling nakal.


"Ih ... Ayang, jangan nakal ya. Apa nggak malu sama putra kita?" Rona wajah Ais semakin memerah.


Hati Rey sedikit terhibur melihat rona merah istrinya, sesuatu yang memang sangat dirindukannya. Sudah hampir semingguan mereka tidak kemedan tempur, ia sangat memahami kondisi psikologis istrinya. Tentu saja dia juga tidak akan mau memaksakan kehendaknya. Bertempur kemedan perang tidak akan seru jika hanya bergerilya sendirian.


Akhirnya Rey mengizinkan istrinya untuk tidur bersama putra mereka. Ia sangat memahami perasaan seorang ibu yang akan berpisah dengan anaknya. Rey yakin semua ibu pasti akan merasakan perasaan yang sama dengan istrinya.


*****


Alunan suara angin malam terasa sangat syahdu. Membelai lembut peraduan mimpi, yang membuat semakin jauh terhanyut kedunia alam bawah sadar. Namun tidak dengan seorang Ais. Sejak ditinggalkan oleh suaminya malam itu, tak sedikitpun matanya dapat terpejam. Ia terus menatap putranya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Ais berusaha untuk merekam setiap inci tubuh putranya, seolah ia tidak mau ada sedikit saja yang terlupakan olehnya. Air mata memang tidak lagi mengalir dari matanya. Namun dihatinyalah kesedihan itu bertahta.


Kini azan subuh sudah berkumandang. Ais berusaha untuk mengerjapkan matanya yang terasa mengeras. Meski kesusahan akhirnya ia bisa juga membuat mata lelahnya berkedip.


"Umi!" sapa putranya yang mulai mengeliatkan tubuhnya.


"Iya, Sayang." Membelai rambut putranya.


"Umi ... tidak tidur ya?" tanya Alif sambil mengucek matanya.


Karena Alif anak yang cerdas ia bisa melihat kalau ibunya tidak tidur dan habis menangis semalaman.


"Oh tidak sayang, bukan begitu. Abi nggak pernah kok memarahi umi. Umi hanya sedih kita akan berpisah nanti," jawab Ais jujur pada putranya.


"Umi jangan sedih ya, Babang kan nggak akan lama, nanti Babang akan rajin belajar biar bisa cepat pulang, dan bisa bersama umi dan abi lagi juga dedek Ara serta Aza," jawab Alif menguatkan ibunya. Ia tidak ingin membuat ibunya sedih.


"Iya Sayang. Maafin umi ya yang nggak bisa menahan kesedihan ini," memeluk putranya.


"Oke deh sayang. Sekarang kita salat subuh ya, yuk!" Mencium kening putranya.


Keduanya bersiap ke mushala untuk salat subuh berjama'ah. Di sana sudah menunggu keluarga besarnya. Mereka salat dengan khusuk. Setelahnya barulah mereka berdo'a bersama dan lanjut tadarusan.


Setelah ritual subuh keluarganya selesai baru lah Alif segera mandi, dan sarapan karena sebentar lagi ia akan berangkat kepondok pesantren yang akan mendidiknya selama tiga bulan kedepan. Dan Ais berusaha tegar, ia sudah berjanji pada putranya. Dengan cekatan ia membantu putranya berkemas, dan Rey cukup heran dibuatnya, sebab ia tak lagi melihat mendung yang bergelayut di wajah istrinya.


*****


Sekarang sudah tepat pukul sembilan, sebuah mobil mini bus telah terparkir di depan rumah keluarga Rey. Mereka adalah rombongan pondok yang datang untuk menjemput ananda Alif.


"Assalamua'laikum, semuanya," sapa ustad Fajar.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semuanya serentak.


"Alhamdulillah, sepertinya semua sudah siap. Umi! Apa masih sedih?" tanya ustad Fajar melihat Ais.


"Alhamdulillah, Pak Ustad. Saya sudah ikhlas," jawab Ais tersenyum tipis. Rey segera menggandeng tangan istrinya yang membuat Ais terkejut.


"Kenapa, Yang,"bisik Ais di telinga suaminya.


"Jangan senyum pada ustad itu, nanti dia terpesona melihat senyummu yang manis bagai gula aren, dan itu hanya milikku," ucap Rey tersenyum sambil memainkan alisnya.


"Ayang, kamu ...." Ais tak melanjutkan ucapannya, ia tidak habis pikir bisa-bisa nya, Rey merasa cemburu di saat orang sedang ramai dan di situasi begini.


Rey tersenyum, ia merasa menang bisa membuat istrinya yang cerdas terdiam kehabisan kata.


Kini tibalah saatnya Alif harus berangkat. Semua perlengkapannya sudah dimasukkan kedalam mobil. Alif sudah berpamiran dengan kedua padang kakek dan neneknya, kini tiba giliran Alif berpamitan kepada kedua adik kecilnya yang imut.

__ADS_1


"Ara sama Aza jangan nakal ya, jangan buat umi susah. Harus denger apa yang umi katakan." Mencium kedua adiknya.


"Bang-bang," ucap Ara dan Aza memegang pipi Alif.


"Yeee ... dedek udah bisa panggil Babang Alif," teriak Alif senang.


Kemudian Alif telah berdiri didepan Rey. Ia memeluk Rey tanpa ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.


"Belajarlah yang giat, jadi lah anak yang shalih." Rey menepuk pundak putranya.


Alifpun mengangguk dan beralih kepelukan ibunya. Segukan kecil terasa berguncang dipundak putranya. Yah bocah kecil tampan itu menagis. Ais merengkuhnya dalam-dalam, sambil membisikan kata penyemangat buat putranya.


"Umi ingin tangis ini menjadi tangis bahagia buat kita nanti, jangan bersedih. Disana Babang akan berjuang, dan menuntut ilmu. Umar bin khattab pernah berkata" Raihlah ilmu. Ketika sedang mencari ilmu, belajarlah buat tenang serta sabar.” Ais mencium putranya dengan penuh cinta.


"Berangkatlah putraku, doa umi akan selalu memyertaimu. Biarkan kita bersedih saat ini, semoga nanti akan berganti menjadi senyum bahagia." Kembali mencium putranya.


Ais menghapus air mata di kedua pipi putranya, ditepuknya pundak sang putra untuk menguatkannya seolah ingin berkata jadilah lelaki tangguh yang kuat.


Rombongan pun telah memasuki mobil, dan mulai bergerak meninggalkan kediaman Rey, lambaian tangan kecil Alif kini hilang dikelokan jalan. Barulah Ais menumpahkan kesedihannya, dia memeluk erat tubuh kekasihnya. Buliran bening itu mengalir deras tanpa penghalang, beban yang sedari tadi ditahannya dapat terlepas juga. Rey pun memeluk istrinya. Ia tahu saat ini perasaan kekasihnya sangat hancur, namun keduanya yakin. Kesedihan ini akan Allah ganti dengan kebahagian yang tak terperi, asalakan kita ikhlas dan percaya akan semua kekuasaan-Nya.


Bersambung.....


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


Mengejar Cinta Ariel


Tabib Cantik Bulan Purnama


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


Audio Nyanyian Takdir Aisyah


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*WIB (Write in Box)


Ya Dia Istriku


*Khauma


I Love My Army Wife


*Syala Yaya


Istri Kedua Tuan Krisna


*Laura V


Sang Penggoda

__ADS_1


*Bintun Arief


Terjebak Cinta Brondong


__ADS_2