Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
IBUKU 3


__ADS_3

🌻Terimakasih sudah membuka chapter ini, jangan lupa tinggalkan jejakmu berupa like dan komen, karena itu sangat berarti bagiku tuk terus semangat dalam berkarya, semoga kamu sehat dan bahagia selalu.🌻


Selamat Membaca!


*****


Sementara itu di bandara ....


Seorang ibu muda yang anggun dalam balutan blezer warna salem dengan hijab senada tampak anggun segera turun dari pesawat dan segera menuju mobil yang sudah standbye untuk menjemputnya.


Ibu muda itu tampak tergesa masuk kedalam mobil dan meminta supir untuk segera melaju.


"Pak! Jalan! Rumah Sakit Cinta Bunda!" perintah wanita muda itu.


Mobil yang membawanya segera melaju meninggalkan bandara menuju ke rumah sakit yang telah diperintahkan.


Belum lama wanita muda itu berangkat seseorang wanita yang lebih muda dalam balutan gamis coklat susu yang menenangkan mata juga bergegas menaiki mobil yang sudah menjemputnya, wanita itu juga menuju ke rumah sakit yang sama.


Sementara itu di rumah sakit Ais dan Abdullah tampak tak sabar menantikan orang-orang yang sudah lama mereka rindukan. Hanya berselang satu jam pintu kamar terdengar di ketuk.


Tok ... tok ... tok ....


Klek! Daun pintu mulai terbuka dan muncullah seorang wanita muda dengan balutan baju blezer krem.


"Assalamu'alaikum, Bapak!" Wanita itu segera berlari memeluk tubuh Abdullah yang mulai menua.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Anis! Kamu sudah datang, Nak!" Abdullah membalas pelukan sang anak."Ibumu ...." Abdullah menariknya mendekati tempat tidur Aminah yang tampak tenang.


Anis tampak berkaca-kaca melihat sang ibu tercinta terbaring tak berdaya. Ais datang menggenggam tangan sang adik untuk menguatkannya.


"Bagaimana keadaan ibu, Kak?" tanyanya serak.


"Secara fisik ibu sehat hanya saja kondisi psikis ibu yang kurang baik. Karena benturan yang kuat tubuh ibu mengalami koma. Ibu bisa mendengarkan kita tetapi tidak bisa meresponya, paling hanya dengan air mata atau genggaman tangan."Ais menjelaskan keadaan sang ibu pada adiknya.


Belum setengah jam mereka bersama, pintu kembali di ketuk. Seorang wanita dalam balutan gamis coklat susu juga memasuki ruangan Aminah. Ia langsung menghambur dalam pelukan sang Ayah, dan juga kedua kakaknya. Rasa sedih dan rindu menjadi satu, kemudian ia memeluk tubuh sang ibu yang terbaring lemah.


"Ibuuu! Ini Amy Bu, bangun dong Bu! Apa ibu nggak mau peluk Amy dan Anis?" Amy terisak.


Tes ... tes ....


Air mata Aminah menetes, dalam hatinya ia sangat senang dan gembira anak-anaknya sudah mulai berdatangan untuk menjengguknya. Namun ia hanya bisa meresponya dengan air mata.


*Yaa Allah, berilah aku satu kesempatan untuk melihat dan memeluk anak-anak dan suamiku, untuk terakhir kalinya, batin Aminah.*


Rey yang mengerti perasaan istrinya segera keluar dari ruangan dan kembali ke kantor. Tak lupa ia juga menghubungi ustad Fajar untuk meminta izin agar putranya bisa di jemput mengingat kondisi sang neneknya yang sedang sakit parah.


Setelah kedatangan Anis dan Amy kini pintu kembali di ketuk, betapa terharunya Ais dan Abdullah semua anaknya sudah datang. Di depan pintu telah berdiri Ari dan Ali dengan diiringi Ara juga Ani yang berdiri dibelakangnya. Mereka semua datang tanpa membawa anak istri serta suami mereka.


"Bapak!" ucap Keempatnya serentak kemudian berlari memeluk sang ayah.


"Subhanallah walhamdulillah, terimakasih yaa Allah, Engkau telah mengabulkan semua keinginan hamba untuk bisa bertemu kembali dengan anak-anak hamba." Abdullah menangis haru, Allah telah mengijabah do'anya.


"Pak! Kami semua bisa hadir di sini karena Ais dan Rey. Ternyata sejak dua bulan lalu ia sudah mencari keberadaan kami. Mohon maafkanlah kami Pak-Bu, yang tak pernah ada di saat kalian susah. Hanya Ais yang selalu ada untuk kalian. Maafkanlah kami." Ari bersimpuh di kaki Abdullah.


"Sudahlah, ini semua sudah di atur oleh Gusti Allah, yang harus kita lakukan sekarang adalah bersyukur karena kita masih bisa dipertemukan." Abdullah merangkul anak-anaknya satu persatu.

__ADS_1


Ais yang berdiri di samping sang ibu, tak kuasa menahan asa yang telah memenuhi rongga dadanya. Kerinduannya pada saudara-saudaranya terobati sudah sekarang.


"Ais!" sapa Ara, kakak perempuan yang paling dekat dengan Ais sejak kecil.


Ais tersenyum dan mendekat.


"Aku merindukanmu, Kak Ara!" Ais memeluk erat sang kakak.


Pertemuan yang sungguh mengharukan itu harus terganggu dengan melemahnya kondisi sang ibu. Dengan cepat Ais menekan tombol yang ada di dinding tepat di atas kepala dang ibu.


Hanya dalam hitungan menit tim medis sudah berdatangan dan segera menangani keadaan Aminah.


"Bagaimana, Dok?" tanya Ais setelah tim medis memeriksa dan memasangkan beberapa alat medis ke tubuh Aminah.


"Maaf bu Ais, sepertinya keadaan bu Aminah semakin memburuk. Sekarang beliau sedang memasuki masa kritis." Dokter itu menjelaskan pada Ais dan keluarganya.


Perasaan Ais sangat terpukul mendengar apa yang dokter sampaikan. Ingin rasanya ia berlari sejauh mungkin dan membawa serta sang ibu bersamanya, agar ia tetap bisa bersama sang ibu tuk selamanya.


Semua tampak sedih dan muram. Mereka mengelilingi tempat tidur sang ibu.


"Kak! Dek! Sebaiknya kita membaca surah Yasin buat ibu, agar ibu merasa tenang dan lapang." Ais memandang ke enam saudaranya. Dan itu lah yang disukai Abdullah pada putrinya yang satu ini, selalu bijak dan bisa mengayomi kakak maupun adik-adiknya.


"Maaf Ais akak tidak bisa membaca Al Qur'an." Ali menunduk sedih. Sejak kecil memang Ali yang paling malas untuk salat maupun mengaji.


"Makanya Kak, seharusnya dulu sewaktu kecil saat di suruh ayah dan ibu mengaji jangan malas atau marah, semua itu pasti untuk kebaikan kita setelah dewasa." Ais menatap sang kakak sedih.


"Akak menyesal Ais, makanya sekarang anak-anak akak harus bisa salat dan mengaji." Ali tampak menyesali dirinya sendiri.


"Aku akan baca meski belum lancar, karena sekarang aku baru mulai belajar dari iqro," ucap Ali lesu.


"Itu lebih baik dari pada tidak sama sekali, Kak!" Ais tersenyum pada sang kakak.


*****


Masih di rumah sakit ...


Ais sudah sedikit lebih tenang, hari mulai menjelang malam. Setelah salat magrib ia segera menghubungi sang suami yang sangat pengertian.


Tut ... tut ...


Klek! Akhirnya panggilan Ais di terima oleh sang suami.


"Assalamu'alaikum, Ayang!"


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Ais dengan lembut.


"Kenapa, Yang? Bagaimana keadaan ibu?" tanya Rey lagi.


"Apa aku boleh minta tolong pesankan kami makanan, soalnya kasihan kakak dan adik-adikku, mereka tampak kelelahan. Trus aku mau minta izin untuk menginap di rumah sakit," jelas Ais.


"Baiklah Humairohku, siap laksanakan!" Rey berusaha menghibur sang istri.


"Terimakasih, Ayang! I Love You." Ais segera menutup panggilannya, ia sangat jarang mengucapkan kata cinta pada suaminya karena merasa malu.


Rey sudah tersenyum di seberang sana, ia sangat hafal dengan kelakuan istrinya. Saat mengucapkan kata-kata itu pasti wajah istrinya sudah memerah.

__ADS_1


Dapatkah ibunya Ais bertahan? Tunggu di next episode.


Bersambung.....


Terimakasih sudah membaca. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan. Semoga readers semua selalu sehat dan dilindungi dari segala mara bahaya. Aamiin.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


Mengejar Cinta Ariel


Tabib Cantik Bulan Purnama


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


Audio Nyanyian Takdir Aisyah


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*WIB (Write in Box)


Ya Dia Istriku


*Khauma


I Love My Army Wife


*Syala Yaya


Istri Kedua Tuan Krisna


*Laura V


Sang Penggoda

__ADS_1


*Bintun Arief


Terjebak Cinta Brondong


__ADS_2