
🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌻
Happy Reading!
Masih di Resort ....
"Terimakasih sayang, aku mengerti sekarang. Ini akan menjadi ilmu pengetahuan baru buat aku. Tapi ... ngomong-ngomong apa kamu tidak merasa dingin atau mengantuk gitu?"
"Enggak!" jawab Ais spontan, yang membuat suaminya semakin gemes.
*Hmmm sepertinya aku akan gagal untuk menghabiskan malam panjang ini bersama wanita cantik yang ada di depanku saat ini.*
"Yang, coba lihat deh langit malam ini sangat cerah. Langitnya yang biru mirip lautan luas, bintang-bintang bertaburan sangat banyak. Sinar rembulan juga mulai tetang, sepertinya ini sudah malam ke enam belas." Ais mendongkakkan kepalanya menengadah ke langit.
Rey semakin terpesona melihat kecantikan wajah kekasihnya itu yang semakin berkilau terkena pancaran sinar rembulan. Serasa tak ada bosannya untuk memandang wajah bidadari syurganya.
"Cantik," guman Rey spontan.
"Kamu bicara padaku?" Ais menoleh kesamping dan memandang suaminya.
"Enggak!" Rey menggelengkan kepalanya dan pura-pura acuh. Padahal dalam hatinya ia sangat ingin mencium wajah polos istrinya itu.
Ais kembali menatap sang rembulan yang mulai menampakkan wajahnya. Ia seolah sangat kagum dengan indahnya ciptaan Allah yang sangat luar biasa ini. Tiba-tiba ia berdiri dan berjalan mendekati kolam yang memang ada dihadapannya.
Ais tahu kalau suaminya pasti mengikutinya.
"Ayang, aku sangat merindukan suasana ini." Ais melipat tangannya kebelakang.
"Kenapa? Apa yang kamu rindukan?" Rey memeluk Ais dari belakang.
Ais merubah posisi tangannya, kini ia memegang tangan suaminya yang melingkar diperutnya.
"Dulu saat kecil, kami sangat senang bila malam terang bulan. Kami akan duduk di luar bersama bapak dan ibu, juga adik serta kakakku." Ais terdiam sebentar ia ingin merekam semua kejadian dimasa itu.
"Lalu?" bisik Rey ditelinga sang istri dengan lembut. Aia merasa bulu halus dilehernya meremang.
"Lalu kami bermain bersama, hmm namanya main ketuk bambu atau kayu. Permainan itu sangat seru, kak Ali dan Ari memegang dua buah kayu kemudian kak Ani juga kak Ara memegang dua buah kayu juga, kemudian saling disilang. Kayu dihentikan secara bersamaan dua kali kebawah lalu disatukan juga dua kaki." Ais diam sebentar untuk mengambil napas sebelum melanjutkan ceritanya.
Kemudian Ais melanjutkan ceritanya.
"Aku dan Amy akan melompat memasuki kotak-kotak kayu yang tercipta, jika kaki terjepit oleh kayu maka kita dianggap mati atau kalah dan harus menggantikan salah satu dari pemegang kayu. Bapak, ibu, dan dek Anis akan menonton sambil memberi semangat. Terasa sungguh damai dan menyenangkan." Ais menghapus air matanya. Ia menangis karena mengingat kenangan masa kecilnya yang indah, tentu saja sangat mengharukan.
"Apa lagi kenangan indah yang kamu punya? Aku dan Maria tidak pernah mengalami hal-hal yang menyenangkan seperti dirimu, kamu sangat beruntung bisa mengalaminya." Rey tersenyum sambil mengecup lembut kepala istrinya yang tertutuo hijab.
"Selain bermain ketuk bambu atau ketuk kayu kami juga terbiasa main sembilun." Ais berbalik menatap suaminya sambil tersenyum.
"Sembilun? Apa itu? Apa mainnya seperti petak umpet?" Rey mulai kepo karena permainan tradisional yang ia tahu hanya petak umpet sama congklak.
"Bukanlah, Yang. Sembilun itu mainnya dibuatkan kotak besar kemudian dibagi empat sama besar kalau pemainnya empat. Setiap garis salah satunya akan dijaga oleh satu orang disisi yang berbeda. Nah kita tugasnya melewati penjaga itu jangan sampai tertangkap atau tersentuh. Jika bisa melewatinya berarti kita menang." Ais tersenyum manis.
"Mau mengulangnya bersamaku?"
"Mengulang apa?" tanya Ais sambil tersenyum.
"Sembilun." Rey mencubit hidung kekasihnya lembut.
"Emang bisa?"
"Ajarin dulu!" Rey merenggek manja.
Ais yang menjadi gemes reflek mencubit balik hidung suaminya yang membuat Rey tercenggang.
"Ayang, udah bisa genit ya?" Rey meledek Ais yang wajahnya sudah bersemu merah.
"Mau main apa enggak?" Ais mengalihkan topik pembicaraan agar dirinya tak merasa malu.
"Jadi dong," jawab Ais bersemangat sambil melepaskan pelukan suaminya. Ia masuk kedalam rumah dan mengambil tali rafia.
Rey hanya memperhatikan istrinya yang tampak bersemangag ingin bermain sembilun.
Tak lama Ais sudah keluar dengan satu gulung tali rafia ditangannya.
"Talinya buat apa?" tanya Rey saat melihat satu gulung tali rafia yang dibawa oleh Ais.
"Untuk mengikatmu biar nggak pindah kelain hati," jawab Ais asal yang mengundang decak kagum sang suami.
"Wauuu benar-benar sudah mahir ngegombal sekarang." Rey merasa senang, kini istrinya mulai bisa diajak bercanda.
"Kan kamu gurunya, gombal sama suami sendiri juga," jawab Ais sambil memancungkan bibirnya pada Rey yang merasa tenggorokannya tercekat melihat bibir ranum istrinya yabg berkilat tertimpa sinar rembulan.
"Ayo kita main!" ajak Ais yang segera merentangkan tali rafia dilantai membentuk sebuah kotak.
"Kok cuma satu kotaknya, Ayang." Rey memperhatikan apa yang dilakukan oleh sang istri.
"Lah, emang mau berapa? Kan cuma ada kita berdua?" Ais balik bertanya.
"Katanya tadi kotaknya dibagi empat?" Rey bersikeras karena belum faham cara bermainnya.
"Ayang, bagi empat itu kalau orang yang main ada empat. Sekarang hanya kita berdua jadi cuma ada satu kotak, kalau banyak siapa yang mau jaga? Dan siapa yang mau menyerang?" Ais terlihat kesal.
"Udah ah, kita nggak usah main aja." Ais menghentakkan kakinya manja.
"Elehhhh marah, nanti makin cantik lo." Rey mendekat dan mencium pipi istrinya sekilas.
__ADS_1
"Habisnya kesel, Ayang nggak ngerti-ngerti dijelasin, kan udah tinggi juga sekolahnya." Ais memyenggol tubuh suaminya yang membuat si empunya tertawa melihat gaya sang istri.
"Ayolah, ajari aku mainnya, please!"
"Oke, kita mulai. Aku yang jaga kamu yang menyerang untuk lewat." Ais mengarahkan suaminya.
"Oke!" jawab Rey singkat.
Mereka bedua mulai bermain sembilun, Rey sangat bahagia bisa membuat istrinya tertawa lepas dan melupakan sekelumit kisah sedihnya.
Kini Rey sudah tertangkap, dia gagal untuk menembus benteng yang dijaga oleh Ais. Kini giliran dia yang jaga, dan istrinya yang akan menyerang.
Ais terlihat sangat gesit, ia berhasil melewati pertahanan Rey sampai dua kali. Kini ia akan berjuang untuk yang ke tiga kalinya.
"Hap! " Rey dapat menangkap istrinya dengan cara yang curang.
"Ihhh, Ayang! Kamu curang." teriak Ais kesal.
"Ha ... ha ... ha ...." Rey tertawa melihat wajah istrinya yang kesal. Ais semakin kesal saat melihat suaminya menyeringai tanpa dosa. Iapun bermaksud ingin memberikan hukuman pada suaminya itu dengan mendorongnya ke kolam. Namun malang saat tubuh Rey akan tercebur kekolam dengan gesit ia juga menarik tangan sang istri dan ....
Byurrrrrrr!
Keduanya masuk kedalam kolam dengan saling memeluk satu sama lain. Hanya beberapa menit mereka di dalam kolam dan segera menyembul keluar.
"Hahhh, Ayang ngeselin." Ais memukul lembut dada suaminya.
"Aku kan suami setia, jadi saat jatuhpun aku ingin bersama." Rey terkekeh melihat istrinya yang tampak semakin menggoda dalam keadaan basah.
Dengan cepat Rey mengendong sang istri untuk keluar kolam. Ia takut Ais masuk angin terlalu lama mengenakan baju yang basah.
"Kita masuk ya!" Rey segera membawa istrinya untuk berganti pakaian.
Kamar Tidur ....
Rey membawa Ais langsung ke kamar mandi, ia menyalakan shower dengan air hangat yang menyegarkan. Kemudian ia segera menurunkn Ais kebawah air hangat yang mengalir dengan perlahan.
"Ayang, kamu mandilah. Aku akan menyiapkan baju gantimu." Rey berjalan keluar meninggakkan istrinya dalam guyuran air shower.
Hasrat lelakinya tentu saja ada, namun ia harus bisa menguasainya. Kesehatan sang istri jauh lebih penting dari segalanya.
Dengan sigap Rey membuka lemari, diambilkannya piyama berwarna merah muda dengan bermotif bunga-bunga kecil kesukaan sang istri. Tak lupa peralatan dalaman sang istri lengkap dengan sebotol minyak angin untuk membalur tubuh kekasihnya.
"Ayang, apa sudah selesai." Rey sudah berganti pakaian bawahnya dengan baju kaos oblong dan celana katun selutut.
"Iya, sudah," jawab Ais malu.
"Aku masuk ya." Rey membuka pintu kamar mandi dengan sebuah jubah mandi kanan dan baju ganti ditangan kirinya.
"Mau aku bantu?" tanya Rey tulus, saat ini ia sangat khawatir pada istrinya.
"Tidak perlu berterimakasih, karena itu sudah kewajibanku untuk melindungi serta menjaga kamu dan anak-anak kita." Rey membalas senyum manis istrinya.
"Aku tunggu di luar." Rey mundur perlahan dan menutup pintu kembali. Ia berdiri tepat di depan pintu kamar mandi yang dihuni oleh istrinya.
Dengan cepat Ais berganti pakaian dan segera keluar.
"Aku selesai." Ais membuka pintu.
"Kamu masih ingin keluar atau menonton?" tanya Rey lembut sambil membelai rambut sang istri.
"Kita tidur saja, ya!" pinta Ais pada suaminya.
"Hmm baiklah." Keduanya sudah naik keranjang dan bersiap untuk tidur. Namun Ais bukanlah istri yang tidak peka, ia menawari suaminya untuk menunaikan haknya sebagai suami. Malam itu mereka lewati dengan penuh kasih sayang.
*****
Pagi menjelang kali ini kegiatan rutin keduanya adalah salat subuh berjama'ah. Karena masjid dekat dengan resort mereka memutuskan untuk salat ke masjid.
Sehabis salat keduanya segera pulang ke resort.
"Ayang, tolong cek ponsel aku kalau-kalau ada sesuatu yang penting terlewatkan oleh kita." Rey sedikit berteiak untuk memberitahu istrinya yang sedang menuju kamar. Sedangkan Rey membaca surat kabar di ruang tengah.
Ais hanya tersenyum mendengar ocehan suaminya yang merdu, seperti vitamin sari madu untuk dirinya.
Sampai di kamar Ais segera mengambil ponsel Rey yang tergeletak di atas nakas. Ia mulai menghidupkan ponsel sang suami.
"Astagfirullah haladzim, ternyata ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Saudi Arabia. Itu artinya putraku yang menelpon." Ais segera berjalan tergesa keluar kamar untuk memberitahu suaminya.
"Yang ... Ayang." Ais berlari menuju suaminya.
"Kenapa berlari? Hati-hati." Rey menoleh pada istrinya yang masih sedikit berlari.
"Telepon dari Saudi." Ais memberikan ponsel pada suaminya
"Oh ya, sini biar aku telepon balik." Rey menerima ponsel dari tangan Ais.
Kini benda pipih itu sudah menempel di telinga Rey.
Tut ...tut ...."
Rey masih berusaha menghubungi nomor Ustad Fajar yang menjadi mentor sang anak. Setelah hampir lima kali menelpon akhirnya kini tersambung.
"Assalamu'alaikum, Ustad!" sapa Rey ramah.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, bapak dan ibu apa kabarnya?"
"Alhamdulillah, kami semua sehat secara jasmani namun secara rohani sedikit terganggu karena rasa rindu." Rey tertawa renyah meski ustad Fajar tak akan mungkin melihat senyumnya di balik ponsel.
"Hmm begitu ya, baiklah saya akan mengirimkan obatnya." terdengar kekeh yang tak kalah renyah serenyah ayam crispy buatan abang tukang ayam chiken.
"Akan kami terima dengan senang hati, Ustad." Rey terdengar bersemangat.
Ting!
Notif pesan dari WA Rey berbunyi, ada beberapa foto Alif yang sedang berlomba, bertemu para habib, dan yang terakhir foto yang berhasil meloloskan air mata haru bercampur rindu kedua pasangan suami istri itu.
Di sana tergambar dengan apik, ananda Alif berdiri di atas podium dengan sebuah medali emas yang terkalung dilehernya, lengkap dengan notif pesan dari sang ustad dibawahnya. Juara satu Tahfiz sepuluh juz tingkat usia enam sampai sepuluh tahun.
"Subhanallah, putra kita." Ais memeluk suaminya dengan erat.
"Terimakasih sudah menjadikanya seorang Hafiz." Rey berbisik lembut di telinga sang istri.
"Terimakasih juga sudah menjadi ayah yang baik bagi putra dan putri kita." Kali ini Ais nekat berjinjit untuk mencium pipi suaminya. Dan tentu saja ini baru pertama kalinya sejak delapan tahun mereka menikah Ais menciumnya terlebih dahulu.
Rey memeluk istrinya dengan erat sampai suara ponsel kembali berdering.
Klik!
Rey mengkelik tombol jawab.
"Assalamu'alaikum, Pak Rey. Sudah sehatkah sekarang rohaninya?" canda ustad Fajar.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, alhamdulillah sudah sangat sehat malah ini, Ustad." Suara Rey terdengar riang.
"Berita ini sangat menyenangkan sekaigus sangat menyedihkan." Ustad Fajar sengaja menggantung ucapannya.
"Maksudnya Ustad?" tanya Rey bingung.
"Kabar bahagianya ananda Alif mendapat juara satu tahfiz sepuluh juz, tadinya saya juga tidak menyangka hafalan ananda maju pesat hingga bisa tuntas sepuluh juz." Usatad Fajar terdengar menghela napas bersar.
"Yang sedihnya ustad." Rey melonggarkan pelukannya sehingga ruang udara diantara keduanya sedikit terasa.
"Sedihnya, semua yang juara satu harus tinggal di Saudi kurang lebih enam bulan. Mereka akan digodok lagi untuk memperdalam ilmu Al Qur'an." Suara ustad Fajar melemah.
Ais langsung menutup mulutnya yang dengan sendirinya terbuka. Ia merasa ingin terdududk di lantai saja, namun tangan kekar Rey menahannya.
"Jadi bagaimana, Ustad?" Rey bingung.
"Bapak dan ibu tidak usah khawatir, saya akan tinggal untuk menemani ananda Alif selama enam bulan kedepan." jawab Ustad Fajar.
"Baiklah Ustad, apa kami bisa video call dengan ananda?" Ais merebut ponsel dari tangan suaminya.
"Iya bisa, Bu tapi bukan sekarang. Nanti akan saya kabari lagi ya," suara Ustad Fajar terdengar sangat mantap dan meyakinkan.
"Baiklah, Ustad. Kami akan menunggunya. Assalamu'alaikum." Ais mengakhiri panggilannya dengan Ustad Fajar, mentor ananda Alif.
"Jadi sekarang bagaimana?" Rey menatap istrinya yang kembali bersedih.
"Apa aku boleh pulang sekarang? Aku tiba-tiba merindukan Alif, Ara, dan Aza." Ais menutupi Kesedihannya.
"Baiklah kita pulang." Rey menepuk pundak istrinya.
Ais segera menuju kamar, pikirannya masih terngiang dengan ucapan sang ustad.
"Sudah siap?" tanya Rey yang melihat istrinya termenung.
"Belum," jawab Ais jujur.
"Aku bantu, ya?"
"hemm, boleh!" Ais merasa sangat bersyukur mempunyai suami yang sangat perduli padanya.
Akhirnya Rey ikut merapikan barang-barang yang akan mereka bawa pulang ke rumah.
Semua sudah siap, kini perlahan Rey menyalakan mesin mobilnya menuju kediaman mereka di Kelapa Gading. Sedangkan kekasihnya kembali murung dan bersedih.
*Yaa Allah, baru saja merasa bahagia sekarang eh sedih lagi.*
Rey memasang kaset muratal untuk memberikan ketengan batin bagi istrinya. Ia sangat faham sekarang apa yang biasa dilakukan oleh sang kekasih. Ini merupakan hasil dari keterbukaan dan saling pengertian keduanya.
"Tetaplah tersenyum matahariku, kekasihku, belahan jiwaku, hmmm bidadari syurgaku," gumam Rey yang tentu saja hanya dia yang bisa mendengarnya.
Mobil mereka bergerak semakin menjauhi resort hadiah perkawinannya dengan Aisyah, gadis desa dengan multi talenta dan kemuliaan jiwa.
Bersambung ....
Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula untuk Tap jempol serta komennya!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ke 2 ku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik. ini adalah daftar novel favoritku, kalian boleh coba untuk mampir pasti suka.
Juga yang ini adalah novel favoritku kalian boleh coba mampir.
__ADS_1