
Satu minggu telah berlalu sejak kejadian Alif dibawa seseorang yang tidak dikenal oleh Rey maupun Aisyah. Dan dari rekaman CCTV pun tampak tidak jelas siapa lelaki itu.
Sejak kejadian itu Aisyah semakin over protektife terhadap Alif yang membuat Alif sedikit risih.
"Umiii kenapa sih Alif nggak boleh lagi main keluar rumah seperti biasanya, Alif bosan mi dirumah terus ".
"Iya sayang maafkan Umi karena melarangmu, Umi nggak mau kejadian tempo hari terulang kembali sayang".
"Miii tapi Alif bosan, kita main bersama ya, Alif ingin kesekolah".
"Umi juga kangen sekolahan Alif, nanti kita izin dulu ya ke Abi, kalau diizinkan nanti baru kita pergi ke sekolah bersama".
Dengan segera Ais menelpon suaminya untuk meminta izin keluar ke sekolah bersama Alif.
"Tut... tut... "
"Hallo Assalamualaikum, apa bapak Rey ada An".
"Ada bu tetapi beliau sedang meeting sekitaran lima belas menit lagi baru selesai".
"Ya sudah kalau nanti bapak sudah selesai tolong suruh telepon balik ya An".
"Iya bu, siaaap laksanakan" Sambil tersenyum.
"Terimakasih banyak An, Assalamualaikum ".
"Waalaikumussalam bu".
Haduhhh ya Tuhan, kapan aku akan punya seseorang yang akan menayakan kabarku, mengkhawatirkanku, haaa sisakan aku satu wanita shalihah seperti Ais ya Tuhan.
*****
Dikediaman Rey...
Hari ini perilaku Alif sedikit rewel karena ia merasa tidak sebebas biasanya, dan tentu saja ia sedang merindukan seseorang yang sudah berjanji untuk membawanya kembali berbelanja mainan.
"Sayang kamu yang sabar ya, kita tinggu Abi menelpon dulu, soalnya sekarang Abi sedang meeting".
"Tapi Umi, Alif nggak sabar lagi, Alif ingin bertemu Papa".
"Apa sayang, Papa... Papa siapa? ".
"Papa Alif Umi".
__ADS_1
"Tapi sayang papa Alif itu hanya Abi Rey".
"Kalau Abi ya Abi umi ,bukan Papa Alif" Alif semakin kesal.
"Baiklah sekarang ceritakan pada Umi , Papa Alif itu siapa sayang".
Barulah Alif tampak bersemangat bercerita tentang Papanya yang baru.
"Papa itu adalah orang yang kemarin mengajak Alif jalan - jalan umi, dan orang yang telah membelikan semua mainan yang Alif bawa kemarin, dan papa berjanji kalau ia akan mengajak Alif jalan - jalan lagi minggu depan".
"Artinya minggu ini kan umi, ini kan sudah satu minggu ya"Tanya Alif polos.
Ais yang tak menduga jawaban putranya begitu mengkhawatirkannya. Ais jadi berpikir ulang hendak mengajak Alif ke sekolah, Ais takut kecolongan lagi.
" Sayang apa lagi yang papa ceritakan pada Alif".
"Papa bilang Alif baiiiik seperti umi, dan papa juga bilang kalau papa dulu teman sekolah umi di.... emmm apa ya Alif lupa umi".
Ais menjadi semakin penasaran dengan sosok papa yang putranya bicarakan, sampai suara telepon memudarkan lamunannya.
" Tut... tut.. "
"Assalamualaikum Ayang , ada apa tumben kok nelpon".
"Iya tadinya mau meminta izin untuk membawa Alif ke sekolah tetapi setelah mendengar Alif bercerita aku jadi ragu Ayang".
Kemudian bla... bla... Ais menceritakan semua yang Alif ceritakan.
"Iya Ayang tapi kasihan juga Alifnya kalau kamu kurung terus dirumah, begini saja kalian pergilah ke sekokah, biar nanti aku kirim beberapa orang untuk menjaga kalian ya".
Akhirnya dengan penuh pertimbangan Ais menyetujui permintaan suaminya, meski dalam hati kecilnya Ais sangat khawatir.
"Sayang bersiaplah kita akan ke sekolah. sekarang, Abi sudah mengizinkan".
"Yeee akhirnya Alif bisa keluar juga, bisa bertemu teman - teman, terima kasih umiiii"Berlari sambil memeluk Ais.
Ada rasa haru yang menyeruak didada Ais, melihat senyum bahagia putranya.
Ya Allah jagalah selalu putraku, biarkan senyum itu terus mengembang diwajah tampannya. Jangan pisahkan kami, aku serasa tidak akan sanggup berpisah dengan putraku, siapapun itu yang mengaku papanya Alif jadikan ia menyayangi putraku seperti aku menyayanginya.
Setelah bersiap keduanya segera meluncur menuju sekolah dan disepanjang jalan keduanya tampak asyik bercengkrama sampai terdengar ledakan dan mobil menjadi oleng.
" ibu... tolong pegangan sepertinya ban kita pecah" Ucap pak Amat khawatir.
__ADS_1
Ais segera merengkuh tubuh mungil putranya, sampai mobil benar - benar berhenti dengan selamat.
"Alhamdulillah kita selamat bu".
"Apa Ibu dan tuan muda ada yang terluka".
"Alhamdulillah, kami baik - baik saja pak".
"Jadi bagaimana ini bu, apa saya harus menelepon bapak atau... ".
"Nggak usah pak, kami naik taksi saja kan jaraknya sudah dekat, bapak langsung telepon bengkel saja ya ,kalau sudah beres segera menyusul ke sekolah ".
Baru Ais akan menelpon taksi, satu mobil Avanza hitam sudah berhenti dan membuka pintu.
"Silahkan naik bu, kami orang suruhan pak Rey".
Tanpa curiga sedikit pun, Ais dan Alif sudah naik kedalam mobil Avanza hitam yang menjemput mereka, namun Ais heran karena mobil yang mereka tumpangi berputar arah yang berlawanan dengan arah sekolah.
"Pak... mau kemana ini".
"Ibu duduk manis saja, nggak udah banyak bertanya nanti ibu juga akan tahu kita akan kemana".Menjawab dengan ketus.
Menjalankan mobil dengan santai.
Ais merasa sangat gelisah, ia mendekap Alif putranya, dan bermaksud menelpon Rey suaminya.
"Ibu duduk saja, nggak usah menelpon siapapun, atau saya akan menghabisi ibu dan putra ibu sekarang hah".Bentak seseorang yang sedang mengemudi sambil melirik Ais yang sedang memeluk Alif.
"Maaf tolong jangan berbicara yang kasar didepan putraku, aku mengerti, aku akan duduk dengan tenang".
Sopir itu tersenyum sinis.
Pantas saja bos sangat tergila - gila dengan wanita ini, aura kecantikannya sangat terasa meski ia tertutup hijab, sorot mata yang tajam dan sipit menunjukkan dia perempuan yang cerdas , wajah oval dengan bola mata hitam pekat yang manis, deretan gigi yang putih dan bersih, serta suara yang serak basah lembut terdengar, dan senyumnya membuat hati siapa saja bergetar melihatnya, aku saja sampai hampir merasa khilaf melihatnya kalau tidak ingat dia wanita kesayangan bos.
Kemanakah laki - laki itu membawa Ais dan Alif?
Apa yang akan dilakukan pria yang mengaku papa Alif ?
Bagaimana reaksi Rey jika tahu anak dan istrinya diculik seseorang ?.
Ikuti terus ceritanya ya...
Bersambung....
__ADS_1
Terimakasih ya yang sudah mampir jika berkenan jangan lupa like, komen dan votenya.😍
Semoga kita semua sehat dan bahagia selalu aamiin ya Mujib 🙏