
🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.🌻
#Mushola #
"Makanya jangan suka berprasangka seperti yang tertuang dalam surat Al-Hujaraat ayat 12," ucap Ais.
"Jauhilah kalian dari kebanyakan persangkaan, sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa” (QS. Al-Hujuraat: 12). “Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta” (HR. ... Inilah hukum asal prasangka buruk terhadap sesama Muslim, yaitu terlarang.
"Iya Ayang terimakasih telah mengingatkan aku, kamu membuat aku semakin mencintaimu." Memeluk istrinya erat.
Pelukan keduanya terhenti karena panggilan wijaya.
"Spadaa (permisi)," teriak Wijaya.
Keduanya malah tertawa mendengar teriakan Wijaya.
"Ayah Wi ... kirain tadi tukang pos yang nganterin surat," ucap Ais sambil tertawa.
"Iya Yah, mirip banget," ucap Rey menimpali.
"Kalian berdua bisa aja, habisnya selaluuuu nempel, kayak gula sama semut eh ada gula ada semut," ucap Wijaya ikut tertawa.
Ketiganya tertawa bersama, hingga Wijaya lupa apa yang ingin dia sampaikan.
"Ayah Wi ada perlu?" tanya Rey.
"Iya sih tadinya tapi apa ya?" Menggaruk-garuk tepi alisnya.
"Mau nanya Mama Cintya?" ucap Ais.
"Bukan!"
"Alif?"
"Bukan!"
"Jadwal meeting?" kali ini Rey yang jawab.
"Bukan!"
"Kita kayak ikutan kuis aja Yah tapi nggak ada yang benar," ucap Ais.
Ketiganya kembali tertawa.
"Iya Ayah lupa mau ngomong apa, maklum aja faktor U," ucap Wijaya.
"Maksudnya?" tanya Rey yang merasa binggung.
"Umur Ayang, nggak gaul amat," ucap Ais tersenyum.
Rey yang merasa gemas dengan jawaban istrinya segera mencubit hidung Ais.
"Auww, sakit Ayang." Memegang hidungnya.
"Makanya jangan sewot ngatain aku nggak gaul," rajuk Rey.
Dengan cepat Ais mencium pipi Rey dan sebagai permintaan maafnya.
"Haduhhh ayah nggak dianggap nih, kayaknya dunia hanya milik kalian berdua aja, ayah dan yang lain cuma ngontrak," kelakar Wijaya.
"He ... he ... maaf ya, kebablasan," ucap Ais tersipu malu, dengan rona merah dipipinya.
Sedang asyik berbicara terdengar suara azan Zuhur. Dan saat muadzin mengucapkan "Asyhadu allaa illaaha illallaah ." Sebanyak dua kali, tiba-tiba Wijaya berteriak.
"Ayah ingat, nah bacaan itu apa namanya?" Menunjuk kearah suara azan.
Dengan cepat Rey meletakkan jarinya didepan bibirnya agar Wijaya tidak bersuara dulu.
Melihat isyarat yang Rey berikan segera Wijaya menutup mulutnya dengan tidak berkata-kata.
Setelah beberapa saat muadzin pun selesai. Dengan segera Rey dan Ais mengangkat tangan untuk berdoa.
Wijaya memperhatikan apa yang Rey dan Ais lakukan. Dalam benaknya penuh dengan pertanyaan, meski ia belum resmi menjadi seorang muslim.
"Ayah Wi, maaf ya tadi pembicraannya Rey putus. Itu karena kalau didalam agama Islam ada abad saat mendengar azan," ucap Rey.
"Adab? Apa itu Rey?" tanya Wijaya penasaran.
"Adab itu adalah norma atau aturan tentang sopan santun terutama dalam agama," jelas Rey.
"Kalau tadi yang kamu bilang adab azan itu apa saja?" tanya Wijaya.
__ADS_1
"Kalau yang itu biar Ais bantu jawab ya Yah, adabnya ada sepuluh diantaranya adalah," ucap Ais.
Mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh muadzin. Sehingga mendapat pahala mendengarkan adzan
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat padanya (memberi ampunan padanya) sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah pada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi hamba Allah, aku berharap akulah yang mendapatkannya. Siapa yang meminta untukku wasilah seperti itu, dialah yang berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR. Muslim no. 384)
Bershalawat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Allahumma sholli ‘ala Muhammad
Minta pada Allah untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wasilah.
Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah SAW bersabda, tentang hukum membaca pujian setelah adzan “Barangsiapa mengucapkan setelah mendengar adzan ‘allahumma robba hadzihid da’watit taammah wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah’ (Ya Allah, Rabb pemilik dakwah yang sempurna ini (dakwah tauhid), shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah (kedudukan yang tinggi), dan fadilah (kedudukan lain yang mulia). Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqom (kedudukan) terpuji yang telah Engkau janjikan padanya], maka dia akan mendapatkan syafa’atku kelak.” (HR.Bukhari no. 614 )
Membaca: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa.
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, dari Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mengucapkan setelah mendengar adzan: Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa. (artinya: aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha sebagai Rabbku, Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai agamaku), maka dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim no. 386)
Memanjatkan doa sesuai yang diinginkan. Sebab terdapat doa mustajab antara adzan dan iqamah.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwa seseorang pernah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya muadzin selalu mengungguli kami dalam pahala amalan. Rasulullah SAW bersabda, “Ucapkanlah sebagaimana disebutkan oleh muadzin. Lalu jika sudah selesai kumandang adzan, berdoalah, maka akan diijabahi (dikabulkan).” (HR. Abu Daud no. 524 dan Ahmad 2: 172)
Berdoa agar dosa dosa diampuni.
“Doa antara azan dan iqamat tidak ditolak.” (HR. Abu Dawud no. 489)
Tidak Berbicara.
Tidak ada larangan berbicara di sela-sela menjawab adzan, namun lebih utama ia diam mendengarkan dan menjawabnya. Beda halnya bila ia sedang membaca Al-Qur’an, ia tidak boleh menjawab adzan di sela-sela bacaannya sehingga tercampur antara suatu zikir yang bukan bagian dari Al-Qur’an dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Yang semestinya, ia menghentikan bacaan Al-Qur’annya untuk menjawab adzan. (Fatwa Asy-Syaikh Abdullah ibnu Abdirrahman t, seorang alim dari negeri Najd, Ad-Durarus Saniyyah fil Ajwibah An-Najdiyyah 4/213, 214).
Menghentikan aktifitas yang dilakukan.
Menyegerakan shalat. Agar terhindar dari waktu terlarang untuk shalat
Tidak keluar dari majid atau mushala setelah adzan.
"Nah Yah itu adalah kesepuluh adab yang biasanya harus dilakukan, apa ayah sudah paham?" tanya Ais.
"Iya ayah paham, itu sangat berguna buat ayah kalau nanti sudah sah," ucap Wijaya.
"Tadi waktu ayah mendengar apa itu yang tadi?" Menggaruk kepalanya.
"Syahadat?" tanya Rey.
"Nah iya itu, syahadat ... apa ayah boleh melakukannya siang atau sore ini?" tanya Wijaya.
"Tentu saja Ayah, kalau ayah sudah siap tentu saja boleh," ucap Rey.
"Yah baiklah ayah akan bersiap-siap, kalian silahkan sholat dulu." Memutar badan untuk segera berlalu dari hadapan Rey dan Ais.
Rombongan jamaah sholat zuhurpun sudah datang memenuhi mushola kecil milik Rey dan Ais. Mereka segera menunaikan sholat Zuhur berjamaah.
Selesai sholat mereka semua dikejutkan dengan kehadiran Wijaya dan Cintya. Dimana Wijaya mengenakan baju kun putih dipadu dengan kain sarung bermotif kotak berwarna marun dan hitam, dengan peci hitam dikepalanya membuat penampilan Wijaya sangat tampan. Kulit putihnya yang kemerahan nampak berkilau dengan penampilannya yang sekarang.
Begitu juga Cintya wajahnya yang oriental tampak sangat manis dalam balutan mukena yang putih bersih, seputih niat keduanya untuk berhijrah memilih keyakinan yang pernah dipilih oleh putra kesayangannya Muamar alias Acong.
Untuk sesaat semua tertegun menyaksikan penampilan luar biasa kedua insan yang telah mendapatkan hidayah itu meski diusia mereka yang tak lagi muda.
Lamunan dan khayalan semuanya buyar setelah Wijaya bicara.
"Apa sudah bisa kita mulai?" tanya Wijaya merasa rikuh menjadi pusat perhatian.
"Hmmm iya tapi tunggu ustad Ibrahim dulu, beliau yang akan mempimpin acara syahadatnya," ucap ayah Abdullah.
Tak lama menunggu ustad Ibrahim pun datang.
"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh," ucap ustad Ibrahim memberi salam.
Semua menjawab dengan serentak.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh.
"Tafadhol ( silahkan) ustad," ucap Rey mempersilakan ustad Ibrahim untuk masuk kedalam mushola.
Ustad Ibrahim tersenyum dan segera masuk kedalam mushola.
"Apa bisa kita mulai sekarang?" tanya beliau.
"iya Ustad," jawab Wijaya sambil melirik kearah Cintya.
Kini Wijaya dan Cintya telah duduk didepan ustad Ibrahim, dan prosesi syahadatpun dimulai.
"Wahai saudara Wijaya bin Angsung apakah kamu dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan dari siapapun atau pihak manapun untuk berpindah keyakinan saat ini?" tanya ustad Ibrahim.
__ADS_1
" Iya saya sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun," ucap Wijaya tegas.
Hal serupapun ditanyakan pada Cintya binti Afen dan jawaban yang diberikanpun sama.
Setelah mendengar pengakuan dari keduanya barulah proses syahadat dilakukan.
"Baiklah kalian berdua ikuti saya mengucapkan Asyhadu allaa illaaha illallaah, namun akan kita ucap secara bertahap," ucap ustad Ibrahim.
"Asyhadu."
Lalu Wijaya dan Cintya pun mulai mengikuti.
"Ashadu."
"Ulangi!"
"Asyhadu."
"Asahadu."
"Kita ulang lagi ya belum benar."
"Asyhadu."
Keduanya terdiam dalam benaknya keduanya berpikir ternyata mengucapkan kata yang mudah terdengar saja sangat sulit. Proses syahadat ternyata tak semudah yang mereka bayangkan. Keringat telah membasahi dahi Wijaya. Begitu juga dengan Cintya.
Akankah keduanya dapat bersyahadat dengan benar dan lancar? Tunggu diepisode nantinya.😁
Ikuti terus kisahnya ya love you readers loversku😍
Bersambung....
Sambil menunggu ceritaku yang ini Up baca juga Novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan karya apik author yang lain :
Fit Fithree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Mengejar Cinta Ariel
Almaira My Secret Wife
My Love My Babysitter
*Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu
Kembar Tidak Identik
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
My Heart Is Only For You
*Sudrun
Penjelah Malam
Samudra
*Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
*Sisca Nasty
Mafia in Love
*Cindyelvira
Ketika Muslimah Jatuh Cinta
Istri Sholehah
*Karlina Sulaiman
__ADS_1
Mencintaimu Dalam Diam