Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
LOMBA HAFALAN ALIF


__ADS_3

🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.🌻


*****


Taman Bunga ....


"Terimakasih khumairohku, maka dari itu aku semakin mencintaimu, semoga keluarga kecil kita selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin Allahumma aamiin." Membalas pegangan tangan istrinya.


"Aamiin, dan kita doakan juga Ayang agar yang baca novel ini bisa selalu menjaga salatnya, serta dilimpahkan nikmat sehat serta kemurahan rezeki yang diberkahi Allah SWT." Tersenyum pada suaminya.


Keduanya kembali bergandengan menuju kemobil mereka untuk pulang, agar esok bisa mengantarkan putra kesayangnnya dalam lomba hafalan juz 30 ditingkat provinsi.


*****


Kediaman Rey dan Ais ....


Mobil Rey sudah memasuki halaman rumahnya namun mereka heran kenapa ayah dan ibu serta anak-anaknya berada dihalaman depan, dan semua lampu menyala. Yang membuat keduanya ingin segera turun untuk mengetahuinya.


"Ayo Yang kita segera turun!" ajak Ais pada suaminya.


"Iya Ayang, kamu yang sabar ya. Ini sebentar lagi siap kok." Mematikan mesin mobilnya.


Ais yang sudah tidak sabar segera membuka seatbeltnya. Dan bergegas hendak turun sampai Rey mengingatkannya untuk selalu tidak terburu-buru.


"Ayang, sabarlah jangan terburu-buru. Nanti kamu bisa cidera kalau tidak berhati-hati." Memegang tangan kekasihnya.


"Iya Yang, terimakasih sudah mengingatkan aku." Berusaha tenang dan sabar menunggu Rey membuka pintu untuknya.


"Klek." Membuka pintu mobil."Ayo turun!" Memegang tangan istrinya. Keduanya turun dan berjalan menuju tempat keluarganya berkumpul.


"Assalamualaikum," ucap Rey dan Ais bersamaan.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semuanya hampir serentak.


"Ayah-Ibu, kenapa semuanya berkumpul dihalaman depan? Inikan sudah malam kasihan Ara dan Aza!" Ais segera mengambil Aza dari gendongan ibunya.


Sedangkan Ara masih dalam gendongan ayah Abdullah. Dan Alif digendong oleh ayah Wijaya.


"Kami semua sengaja berkumpul disini, karena barusan ada telepon kalau pesawat yang menuju ke Belanda mengalami kecelakaan, kami sangat khawatir tentang Reza, Nara, dan tuan Burhan. Namun kami sengaja tidak mengabari kalian karena takut kalian kurang hati-hati dijalan nanti." ucap Wijaya berusaha tenang.


"Innalillahi wainnalillahi rojiun, benarkah?" Dengan segera Ais dan Rey merogoh ponsel masing-masing dan mengecek keberadaan sahabatnya itu. Berkali-kali keduanya menelpon tetapi tidak diangkat juga. Wajah Ais kini sudah tampak mendung.


"Ya Allah, lindungilah sahabatku dan juga om Burhan."Doa Ais untuk sahabatnya dan om Burhan, ayahnya Nara.


"Aamiin, sebaiknya kita semua masuk dulu. Nanti didalam baru kita coba hubungi lagi." Rey mengajak semua keluarganya untuk masuk, dan mengambil Alif dari gendingan Wijaya.


Kini mereka semua sudah masuk, dan Ais mengajak ibunya dan bi Ijah untuk menidurkan Ara dan Aza. Sedangkan Alif, dia menangis dalam gendongan Rey.


"Sabar ya anak soleh, doakan saja semoga papa Reza dan Mama Nara selamat, begitu juga dengan kakek Burhan." Memeluk putranya yang menangis.


Ais segera meminta Rey untuk membawa Alif kekamarnya, ia tidak ingin jiwa putranya terguncang dengan berita ini. Terlebih besok Alif kecil akan bertanding materi hafalan juz 30 ditingkat provinsi.


Setelah Alif dibawa Rey kekamar Aispun segera menyusul. Ia sangat ingin membuat putranya tertidur dalam keadaan bahagia.


"Yang, biarkan aku yang menemani putra kita tidur! Dan kamu tolong cari info seputran yang tadi!" Tersenyum menatap suaminya.


"Baiklah, Alif sayang! Tidurlah yang nyenyak bersama umi." Mencium kening putranya, sambil meraih ponselnya yang diletakkan diatas nakas tempat tidur putranya.


Setelah Rey keluar, Ais segera mengajak Alif mengulang hafalannya dengan dimulai dari surat Annas. Lantunan suara Ais yang merdu perlahan dapat membuat putranya mulai terlelap, baru sampai pada surat ke Al Lahab, Alif sudah tertidur. Dengkuran halus dari deru nafasnya yang mulai turun naik dengan teratur sudah terdengar. Akhirnya Ais dapat betnagas lega.


Ais perlahan keluar dari kamar putranya dan segera menuju kamar mereka untuk menemui suaminya, agar bisa secepatnya mendapatkan kabar tentang Reza dan Nara.


"Bagaimana Yang, apa sudah bisa dihubungi?"


"Belum Ayang, kita berdoa saja supaya mereka tidak dalam rombongan pesawat yang meledak itu." Memeluk istrinya.


Buliran bening sudah mengalir dipipi mulus istrinya. Dan Rey semakin erat memeluk istrinya agar bisa melepas beban hatinya.


"Menangislah Ayang, jika itu bisa mengurangi beban hatimu." mencium kedua kelopak mata istrinya yangbsudah basah.


"Ayang kita harus ingat di dalam Al Quran Surat At Taubah Ayat 129,dijelaskan."


فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ


Maka jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah (Muhammad), "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy (singgasana) yang agung."


"Ayat ini bermaksud, jika mereka berpaling dari keimanan dan menolak mengikuti ajaranmu wahai Nabi Muhammad, maka katakanlah kepada mereka "Cukuplah Allah bagiku, Dia yang akan membela dan melindungiku; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, yakni berserah diri setelah berusaha sekuat tenagaku, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki, mencipta, dan mengatur 'Arsy singgasana yang agung."


"Ketahuilah Ayang, apa yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah SWT. Bisa jadi, Allah belum mengabulkan usaha dan doa kita karena Allah menilai kita belum siap. Jadi yang terpenting sekarang adalah doa, sebaiknya kita salat hajat saja ya?" Menghujani istrinya dengan ciuman. Yang membuat Ais terpaksa menyunggingkan senyumnya.


Keduanya segera berwudu dan menuju mushala, untuk salat hajad bersama. Keduanya itikaf dimushala, hingga menjelang tengah malam. Yang membuat Rey merapatkan kedua tangannya didepan dada, sebagai ekspresi dinginnya. Melihat suaminya yang sudah kedinginan Ais mengajaknya untuk pindah kekamar.


"Yang! Kita kekamar saja ya? Kamu kedinginan, nanti kamu masuk angin." Meraih tangan suaminya.


"Iya, ayo!" Beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Keduanya menuju kekamar mereka. Meski dalam balutan rasa gelisah Ais berusaha untuk memejamkan matanya. Dalam dekapan hangat suaminya, akhirnya Ais bisa tertidur juga, dan melupakan sejenak kegelisahannya tentang Nara dan Reza.


*****


Keesokan Hari ....


Lantunan suara azan telah berkumandang, semua penghuni rumah sudah terbangun. Dan Rey mengajak kedua ayahnya (Abdullah dan Wijaya) untuk salat kemasjid. Dan disana Rey meminta bantuan ustad Ibrahim untuk mengelar doa bersama untuk keselamatan Nara dan Reza, serta om Burhan.


Begitu juga dengan para wanita dirumah, mereka salat berjamaah dimushala, yang diimami oleh Ais. Dan setelahnya mereka juga doa bersama untuk Reza dan Nara, serta ayahnya.


Setelah selesai tidak ada yang berolah raga pagi ini. Karena suasana yang mencekam sedang melanda semuanya. Kekhawatiran terpampang jelas diwajah semua anggota keluarga. Dan sarapan pun tampak semuanya tidak berselera.


"Yang, jam berapa perlombaan Alif?"


"Ayang, apa kita batalkan saja lombanya?" Tertunduk sedih.


"Loh kok mau dibatalin? Kasihan Alif, dia sudah belajar dan berusaha, tahu-tahu kita membatalkannya." Manatap Ais lekat.


"Maafkan aku Yang, aku-aku seperti tidak dapat berpikir jernih." Menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Sudahlah Ayang, sebaiknya kita siap-siap untuk berangkat sekarang, sepertinya putra kita sudah siap."


"Iya Yang!" Bergegas menuju kamar mereka.


*****


Tempat Lomba .....


Semua perserta sudah hadir, termasuk Alif juga. Dan setelah diiringi oleg lagu-lagu nasyid akhirnya acara yang ditunggu-tunggu datang juga.


"Baiklah Ayah-Bunda ... hadirin semuanya, marilah untuk membuka acara kita oada pagi hari ini dengan basmalah."


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap semua peserta juga hadirin dan hadirot yang hadir disana.


Kini semua tampak tegang, sambutan demi sambutan telah mereka lalui, sampai akhirnya tibalah waktu perlombaan akan dimulai. MC pun membacakan peraturan lomba.


"Baiklah para mujadi dan mujahidah semua, sekaranglah waktunya bagi kalian untuk memberikan penampilan terbaik kalian pada orang-orang tersayang, tapi sebelumnya saya akan membacakan aturanya. Pertama semua wajib mengambil nomor urut yang akan sekaligus menjadi nomor tampil kalian," jelas MC.


"Dan yang kedua, jika saat dipanggil sampai tiga kali, namun peserta tidak naik kepanggung maka dianggap mengundurkan diri."


"Dan yang ketiga, sistem hafalnya adalah menyambung ayat dari dewan juri."


"Sudah faham semua?"


"Oke kalau sudah faham kita lanjut kesesi berikutnya yaitu ambil nomor."


Dewan juri mulai membacakan surat yang harus Alif sambung.


عَمَّ يَتَسَآءَلُونَ 'amma yatasā`alụn 1. Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?


Mendengar surat yang diucapkan membuat Ais gemetar, ia khawatir putranya tidak dapat melanjutkan ayat berikutnya. Namun diluar dugaan Alif dapat menyambungnya dengan lancar.


عَنِ ٱلنَّبَإِ ٱلْعَظِيمِ 'anin-naba`il-'aẓīm 2. Tentang


berita yang besar


, , ٱلَّذِى هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ allazi hum fīhi mukhtalifụn 3. yang mereka perselisihkan tentang ini. كَلَّا سَيَعْلَمُونَ kallā saya'lamụn


Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ ṡumma kallā saya'lamụn


kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui. أَلَمْ نَجْعَلِ ٱلْأَرْضَ مِهَٰدًا a lam naj'alil-arḍa mihādā


Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, وَٱلْجِبَالَ أَوْتَادًا wal-jibāla autādā


dan gunung-gunung sebagai pasak?, وَخَلَقْنَٰكُمْ أَزْوَٰجًا wa khalaqnākum azwājā


dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan, وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا wa ja'alnā naumakum subātā


dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ لِبَاسًا wa ja'alnal-laila libāsā


dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, وَجَعَلْنَا ٱلنَّهَارَ مَعَاشًا wa ja'alnan-nahāra ma'āsyā


dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا wa banainā fauqakum sab'an syidādā


dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh, وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا wa ja'alnā sirājaw wahhājā


dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), وَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلْمُعْصِرَٰتِ مَآءً ثَجَّاجًا wa anzalnā minal-mu'ṣirāti māan ṡajjājā dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, لِّنُخْرِجَ بِهِۦ حَبًّا وَنَبَاتًا linukhrija bihī ḥabbaw wa nabātā supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji\-bijian dan tumbuh\-tumbuhan, وَجَنَّٰتٍ أَلْفَافًا wa jannātin alfāfā dan kebun\-kebun yang lebat? إِنَّ يَوْمَ ٱلْفَصْلِ كَانَ مِيقَٰتًا inna yaumal\-faṣli kāna mīqātā Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, يَوْمَ يُنفَخُ فِى ٱلصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا yauma yunfakhu fiṣ\-ṣụri fa tatụna afwājā


yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok, وَفُتِحَتِ ٱلسَّمَآءُ فَكَانَتْ أَبْوَٰبًا wa futiḥatis-samā`u fa kānat abwābā


dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu, وَسُيِّرَتِ ٱلْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا wa suyyiratil-jibālu fa kānat sarābā


dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.


Semua orang berdiri serta bertepuk tangan dengan gegap gempita, pasalnya mereka sangat terharu mendengar Alif dapat mengucapkan surat An-Naba sampai 20 ayat.

__ADS_1


Setelah Alif, peserta lainnya juga tampil tak kalah memukau. Sampai akhirnya diurutan terakhir. Setelah semua perserta lomba tampil, mereka dihibur dengan lagu-lagu nasyid yang merdu sambil memunggu dewan juri merekap nilai.


*****


Keputusan Dewan Juri ....


Kini MC sudah kembali naik keatas panggung, dan bersiap membacakan pengumuman.


"Baiklah hadirin sekalian, inilah momen yang paling kita tunggu-tunggu yaitu pengumuman pemenang kali ini. Mengingat waktu maka saya tidak akan berpanjang lebar. Kita langsung saja pada juara harapan 3 jatuh pada ananda Bintun Arief, dipersilakan naik kepanggung." Tepuk tangan riuh membahana memenuhi arena lomba.


"Harapan dua jatuh pada peserta atas nama ... Andy Hakim." Kasih aplus yang meriah.


"Harapan satu jatuh pada peserta atas nama ... Yogitha Salsabila."


"Juara ketiga jatuh pada ananda Karina Sulaiman."


"Juara kedua jatuh pada ananda Kuswah Lutfiah."


"Dan juara yang kita tunggu-tunggu ... juara satu jatuh pada ananda Muhammad Alif."


Air mata haru menetes dipelupuk mata Ais, ia memeluk Rey dan sekilas menatap seseorang yang mirip Reza. Ais semakin menangis saat sosok itu naik keatas panggung dan memeluk putranya, yah dia benar adalah Reza dan diikuti juga oleh Nara serta Burhan.


Kemudian Reza meminta izin pada MC untuk berbicara.


"Assalamualaikum dan selamat pagi menjelang siang semuanya. Pertama-tama maafkan saya karena lancang berdiri dan berbicara dipanggung ini. Hadirnya saya disini untuk menepati sebuah janji, karena teman saya pernah perpesan kalau janji itu adalah hutang, dan hutang itu wajib dibayar, maka hari ini saya memenuhi janji itu dengan membatalkan penerbangan kami. Dan juga ini adalah ungkapan rasa syukur karena dengan menepati janji Allah telah menghindarkan kami sekeluarha dari maut. Pesawat yang seharusnya membawa kami ke Belanda, semalam meledak saat akan landing. Untuk itu izinkan kami berterimakasih kepada sahabat dan anakku yang selalu menghkawatirkan kami, juga rasa syukur yang tiada tara pada Allah SWT. Sekali lagi selamat buat anandaku Muhammad Alif." Meraih Alif dalam pelukannya. Dan semua yang hadirpun ikut menangis haru.


Bersambung.....


Terimakasih sudah membaca.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


* Almaira My Secret Wife


My Love My Babysitter


* Sohibul Ikhsan. Putih Abu - Abu


Kembar Tidak Identik


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Sudrun


Samudra


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


*Cindy Elvira


Ketika Muslimah Jatuh Cinta


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*WIB (Write in Box)


Ya Dia Istriku


*Patma


Kun Fayakun


*Zanuba Ririn


Masjid Cinta

__ADS_1


*Khauma


I Love My Army Wife


__ADS_2