
🌻Terimakasih sudah membuka chapter ini, jangan lupa tinggalkan jejakmu, semoga kamu sehat dan bahagia selalu.🌻
Selamat Membaca!
"Apa kamu kangen rumah?" tanya ustad Fajar lagi.
"Sedikit," jawab Alif jujur.
"Segera berdoa saat ingat kedua orang tua, baik itu mereka masih ada ataupun sudah meninggal dunia," ucap Ustad Fajar menepuk pundak Alif lembut.
"Iya, Tad. Terimakasih," ucap Alif kembali tersenyum.
"Ya sudah sekarang kamu istirahat sebentar, nanti sebentar lagi kita akan salat duha," pinta ustad Fajar pada Alif.
"Siap, Tad." Mengangkat tangannya posisi hormat.
Alif kecil segera beranjak menuju kamarnya, dan ustad Fajar melepasnya dengan senyum yang indah. Baginya suatu keberuntungan bisa mengenal sosok Alif dari dekat.
*****
Dikamar Asrama ....
Alif segera masuk kekamarnya. Dia satu kamar dengan Anan, anak dari Sumsel. Umur Anan sudah dua belas tahun terpaut enam tahun dengan Alif yang baru saja berumur enam tahun.
"Lif, kamu sudah berwudu?" Duduk disamping Alif yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya.
"Sudah, Kak. Cuma belum pake sarung saja." Kemudian Alif sedikit mendongkakkan wajahnya menghadap kearah Anan.
"Kak, apa kakak rindu rumah, ayah dan ibu kakak atau mainan kakak?" tanya Alif dengan wajah penasaran.
"Tentu saja rindu, Lif. Hanya saja kakak berusaha untuk menahannya. Kakak kesini juga untuk membahagiakan mereka. Kakak rindu teman-teman kakak yang ada di sana. Kakak rindu semuanya." jawab Anan. Kemudian dia balik bertanya.
"Kenapa? Apa kamu juga rindu ayah dan ibumu?" tanya Anan lagi.
"I-iya, Kak. Aku rindu umi dan abi, juga dedek Ara dan Aza. Rindu masakan umi," jawab Alif dengan air mata yang mulai berlinang.
Melihat Alif yang sudah menangis Anan segera memeluknya.
"Kamu yang sabar ya, nanti juga kita akan segera bertemu dengan umi dan abimu, kakak apa lagi kedua orang tua kakak sangat jauh di seberang laut sana. Kamu harus sabar, giatlah belajar agar kita cepat hafal dan cepat kembali pulang kerumah." Anan menenangkan Alif.
"Terimakasih ya, Kak. Sudah mau mendengar cerita Alif." Alif menghapus air matanya.
"Iya, Alif. Sekarang sebaiknya kita segera berkemas ya sudah masuk waktu duha. Nanti kasihan santri yang lain sudah menunggu kita." Anan mengajak Alif untuk berkemas.
Setelah siap keduanya segera menuju mushala yang letaknya ada di tengah-tengah lingkungan pondok. Kegiatan mereka sesudah duha adalah memulai muroja'ah.
*****
Salat duha berjama'ah sudah selesai dilaksanakan sekarang masing-masing anak sudah menuju mentornya untuk memulai hafalan mereka. Begitu juga dengan Alif kecil. Ditargetkan bisa hafal setidaknya tiga juz untuk bisa ikut lomba di kancah dunia.
Dengan tekun dan sabar Alif mengulangi hafalannya. Ia selalu teringat saat biasa muroja'ah bersama uminya. Ternyata sekarang semua itu sangat berguna untuk dirinya. Anak-anak penghafal Qur'an itu baru berhenti saat kumandang azan zuhur mulai bersahutan.
"Baiklah, Alif. Cukup sekian dulu untuk pagi ini. Kita akan lanjut lagi nanti sehabis salat zuhur dan makan siang ya," ucap ustad Bukhari yang menjadi mentornya.
"Iya, Tad. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum," ucap Alif.
"Wa'alaikukussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab ustad Bukhari mengiringi langkah Alif keluar ruangannya.
*Anak ini sungguh berbakat, semoga kamu mendapatkan keberkahan, Nak.*
Semua santriwan dan santriwati sudah berkumpul untuk menunaikan salat zuhur berjama'ah. Setelah salat akan ada kultum yang disampaikan oleh sesama santri, baru dilanjutkan dengan makan siang bersama.
Alif tampak mulai menikmati kebersamaannya dengan teman-teman seperjuangannya. Meski menyimpan rindu yang teramat sangat untuk keluarganya.
Semua santri akan kembali muroja'ah bersama mentornya, setelah makan siang dan istirahat sebentar. Biasanya akan dilakukan sampai masuk waktu asyar tiba. Setelah asyar baru mereka dapat beristirahat sampai menunggu lanjutan hafalan mereka setelah salat isya.
Rutinitas yang dijalani anak-anak pondok ini, selalu dilakukan dengan penuh cinta kasih sehingga tidak ada rasa bosan meskipun kegiatannya selalu berulang. Sesekali mereka akan diselingi dengan olahraga bersama. Tentu saja semua ini membuat seorang Alif kecil bertekad ingin mondok saja saat sekolah nanti. Apa lagi di sela waktu istirahat mereka mendengarkan lagu gaul Ayo Mondok ala-ala santri.
**Ayo Mondok
Gih... jadi anak tuh jangan banyak bersedih
Jangan ngelawan orangtua
__ADS_1
Seharusnya kita bisa jadi mandiri
Bahagiain ayah bunda
Yuk.. kita sekolah di pondok pesantren
Biar Jadi anak soleh dan keren
Jadi santri alim gaya tetep beken
Yuk.. kita belajar menghafal Al-Qur'an
Jurumiyah, Imriti dan Alfiyah
Bahasa Arab, Inggris dan juga Jepang
Ayo Mondok!
Jadi santri minimal hafal juz amma
Bisa ngomong ceramah empat bahasa
Biar makin disayang ayah dan bunda
Ayo Mondok!
Makan teri berasa makan Hoka Bento
Gak bisa nonton TV dengar Radio
Mau buka facebook aja susah banget broo..
Walau banyak hafalan yang membuatmu lelah
Tetap sabar dan istiqomah, demi masa depan yang indah
Mari ikhlaskan hati teman-teman semua
Jadi santri itu mulia
Sukses itu kita yang tentukan
Bukan langsung dari Tuhan
Hanya manusia pilihan
Menahan perih dan cobaan
Di pondok itu kita harus sabar bertahan
Dari segala cobaan godaan rintangan
Jangan berfikir terus-terusan tentang pacaran
Siti, Fatimah, Zulfa itu harus dilupakan
Lebih baik kita berfikir tuk masa depan
Demi meraih cita-cita dan impian
Yuk mondok... Yuk mondok..
Ayo ayo mondok..
Mondok itu keren
Gak mondok gak keren
Jangan bilang keren
Kalau belum mondok
Allah lebih suka pemuda yang soleh, oh yeah..
__ADS_1
*****
Wajah Alif kini semakin ceria, hari-hari yang ia lewati seakan semakin berharga. Kebersamaan dalam meraih harapan dan cita-cita yang membuat semua tidak terasa hampir dua pekan sudah berlalu. Minggu depan mereka akan bertemu dengan kedua orang tua masing-masing.
Hafalan ananda Alif juga semakin berkembang, kini juz tiga puluh sudah khatam, juz dua puluh sembilan sudah beberapa halaman yang dikuasai. Banyak ustad yang memuji kefasihan bacaan Alif dan juga daya hafalnya yang kuat, namun semua itu tidak membuat seorang Alif menjadi tinggi hati. Justru sebaliknya Alif selalu menganggap dirinya miskin ilmu yang harus selalu di isi agar bisa lebih baik lagi.
Kini semua berdebar-debar menunggu hasil rekapan hafalan mereka, meski tingkat hafalan dan usia yang berbeda namun penilaian dilakukan oleh ustad berdasarkan banyaknya kemajuan dalam menghafal, dan ini dilakukan setiap minggu. Penghargaan yang di dapat para santri berupa tropi bergilir dan beberapa buku yang tentu saja berhubungan dengan al Qur'an.
"Baiklah kita akan umumkan juara mingguan kita, tingkat mahasiswa diraih oleh Syaiful dari Makasar. Silahkan kasih aplus yang meriah.
"Tingkat remaja di raih oleh Na'im dari Bandung," ucap ustad Fajar.
"Tingkat anak-anak di raih oleh ananda Alif, kasih aplus yang meriah.
Ketiganya segera berdiri dan menerima tropi bergilir yang akan berpindah tangan jika sang pemengang tidak bisa mempertahankan prestasinya.
"Selamat ya, semoga bisa mempertahankannya, atau kalau bisa lebih ditingkatkan lagi," ucap ustad sambil menyalami ketiganya. Tak lupa ustad mengambil foto ketiganya lalu mengirimkannya kepada orang tua masing-masing santri.
Bersambung.....
Terimakasih sudah membaca.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
Audio Nyanyian Takdir Aisyah
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*WIB (Write in Box)
Ya Dia Istriku
*Khauma
I Love My Army Wife
*Syala Yaya
Istri Kedua Tuan Krisna
*Laura V
Sang Penggoda
*Bintun Arief
__ADS_1
Terjebak Cinta Brondong