Nyanyian Takdir Aisyah

Nyanyian Takdir Aisyah
IBUKU 2


__ADS_3

🌻Terimakasih sudah membuka chapter ini, jangan lupa tinggalkan jejakmu berupa like dan komen, karena itu sangat berarti bagiku tuk terus semangat dalam berkarya, semoga kamu sehat dan bahagia selalu.🌻


Selamat Membaca!


*****


rumah Sakit Cinta Kasih ....


Kini bu Aminah sudah di bawa ke rumah sakit Cinta Kasih. Beliau di masukkan keruangan perawtaan bukan ke ICU karena seluruh organnya masih berfungsi dengan baik, hanya saja dia mengalami koma. Dimana dia bisa mendengar apa yang kita bicarakan namun ia tidak bisa meresponya. Paling yang bisa dia lakukan adalah mengeluarkan air mata, atau menggenggam dengan erat.


Ais dan Abdullah dengan setia mendampingi sang ibu yang sedang dalam keadaan berjuang untuk melanjutkan kehidupan atau pergi ke pangkuan sang Illahi.


"Pak! Ais izin keluar sebentar ya! Soalnya ada hal penting yang harus Ais kerjakan." Ais memeluk sang ayah yang sedang dalam keadaan sedih.


"Iya Nak! Bapak akan jaga ibu, cuma tolong jangan jauh-jauh ya!" pinta Abdullah pada putrinya.


"Iya Pak, Ais nggak jauh kok cuma duduk di depan ruangan ibu aja." Ais tersenyum pada sang Ayah.


Setelah berpamitan pada ayahnya Ais segera berjalan keluar ruangan dan mencari posisi duduk yang enak di depan ruangan sang ibu. Setelah dirasa nyaman baru lah Ais mendudukan tubuhnya di sebuah kursi kayu yang disampingnya ada bunga kenikir, kemudian ia segera mengeluarkan ponselnya.


"Assalamu'alaikum, Ayang!" sapa Ais pada suaminya tercinta dari seberang telepon.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Khumairohku!" Rey tersenyum sembari memegang ponselnya, ia yakin saat ini kedua pipi sang istri sudah merah merona.


"Kenapa?" tanya Rey kemudian karena sang istri diam saja tak mengomentari gombalannya.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Ais akhirnya.


"Apanya yang bagaimana?" Rey bermaksud mengerjai istrinya dengan pura-pura bingung.


"Yang! Aku serius! Tolonglah kondisi psikis ibu semakin kurang baik meski kondisi tubunya baik-baik saja." Suara Ais mulai serak.


"Ayang! Maaf aku bercanda karena hanya ingin membuatmu tersenyum saja. Kamu jangan sedih ya. Alhamdulillah setelah hampir dua bulan mencari keberadaan kakak-kakakmu akhirnya kita menemukan titik terang. Kak Ani sekarang tinggal di Palembang, dan kak Ara tinggal di Makasar, tetapi mereka sudah dalam perjalanan kemari, aku sudah mengirimkan orang yang akan menjemput mereka." Rey berusaha meyakinkan istrinya.


"Alhamdulillah akhirnya setelah sekian lama mereka menghilang tanpa kabar berita bisa juga ditemukan. Terus kak Ali dan kak Ari bagaimana?" tanya Ais semakin penasaran.


"Mengenai kak Ari dan kak Ali mereka juga sudah aku temukan, kak Ari tinggal di Padang katanya ia bertemu dengan seseorang yang dulu pernah satu sekolahan denganmu waktu di SMP namanya Putri Tanjung dia biasa di sapa Uni." jelas Rey pada istrinya.


"Wah benarkah? Aku masih ingat dia anak yang rajin menulis cerita, aku rasanya pernah baca sebuah novel yang merupakan hasil karyanya yaitu OB Kerudung Biru, sangat booming."Ais tampak antusias membicarakan sahabat lamanya itu.


"Kak Ali dimana? Apa dia juga baik-baik saja?" tanya Ais semakin penasaran.


"Kak Ali pernah berada pada posisi kurang beruntung selama hampir dua tahun. Sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang yang bernama Samudra Lee, dia adalah pengusaha batik yang berasal dari Pekalongan. Sejak dibantu olehnya kak Ali sekarang sudah menjadi pengusaha yang sukses dan berencana tahun ini baru mau mencari bapak dan ibu." jelas Rey lagi.


Air mata Ais sudah merembes di kedua pipinya, ia tak dapat membayangkan kalau saudara-saudaranya banyak mengalami pasang surut dalam kehidupannya.


"Lalu Anis dan Amy, apa mereka juga akan pulang?" tanya Ais lemah.


"Ayang! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rey khawatir karena istrinya tak sesemangat seperti di awal dia menceritakan tentang saudara-saudaranya.


"Aku baik-baik saja Ayang! Aku hanya sedih dan haru mendengar ceritamu tentang saudara-saudaraku." Ais berusaha tersenyum meski Rey tidak dapat melihatnya.


"Kamu jangan bersedih Ayang. Kamu tahu semua kakak-kakakmu pernah pulang ke kampung halamanmu, hanya saja bapak dan ibu sudah ikut kita jadi mereka tidak tahu harus mencari Kita kemana, dan kesalahan kita tidak menitipkan alamat atau nomor ponsel kita pada tetanggamu waktu itu." jelas Rey lagi.


"Iya Ayang! Semuanya adalah salah kita. Tapi sudahlah nanti aku akan meminta maaf pada mereka semua," ucap Ais mulai terdengar sedikit riang.


"Bagaimana dengan Anis dan Amy? Mereka jadi pulang kan?" Ais kembali bertanya pada suaminya.


"Baiklah Anis sekarang sedang di Magelang katanya ia sudah bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang percetakan, bosnya yang bernama Karlina Sulaiman sudah mengizinkannya untuk cuti selama beberapa minggu ke depan. Anis inshaa Allah bentar lagi sampai, dia sudah di bandara Soekarno Hatta sekarang," ucap Rey yang kembali bersemangat karena istrinya tidak lagi terdengar sedih.

__ADS_1


"Kalau dek Amy sedang berada di Cianjur, dia sedang meeting bersama bosnya yang humoris, Triska Sivia. Setelah meeting selesai ia juga akan segera berangkat."Rey mengakhiri ceritanya dan mematikan ponselnya yang membuat istrinya bingung dan kesal.


"Halo Ayang! Ayang! Kenapa dia mematikan ponselnya? Apa dia baik-baik saja? Yaa Allah lindungilah kekasih hamba dimana pun dia berada." Ais tertunduk lesu sambil memandangi ponselnya yang dimatikan sepihak oleh suaminya.


"Aamiin!" jawab seseorang yang berdiri tidak jauh dari posisi Ais duduk. Dengan cepat Ais mengangkat wajahnya karena suara itu tidaklah asing ditelinganya.


"Ayang! Kamu! Kok bisa?!" Ais segera berdiri dan menghampiri kekasihnya itu.


"Ya bisa lah, apa yang tidak bisa aku lakukan untuk kekasihku?" Rey merentangkan kedua tangannya.


Ais segera berlari kedekapan suaminya. Dan ia memeluknya erat.


"Terimakasih untuk segalanya, terimakasih sudah menemukan semua saudaraku, terimakasih sudah menjaga dan merawat bapak dan ibu, terimakasih sudah melindungi dan mencintaiku serta buah hati kita, terimakasih telah menjadi imamku, terimakasih karena selalu ada untukku dalam suka maupun duka, terima-." ucapan Ais terjeda karena Rey sudah menempelkan satu jarinya ke bibir sang istri.


"shiiiiit! Jangan lanjutkan lagi, aku tidaklah sesempurna itu. Terimakasih sudah menjadi bagian dari penyempurna setengah dien ku." Rey memeluk sang istri dan mengecup lembut keningnya.


"Kamu dan bapak sudah makan?" tanya Rey lembut di telinga sang istri.


Ais tersenyum dan menggeleng.


"Yuk kita makan! Aku sudah membawa makanan buat kita!" Rey mengajak Ais kembali masuk ke ruangan sang ibu.


Krieeeet! Suara pintu berderit.


Rey dan Ais segera masuk dan mendekati sang Ayah yang dengan setia membaca Al Qur'an di samping sang istri.


"Pak!" sapa Ais lembut yang seolah enggan untuk menghentikan tilawah sang ayah yang merdu.


"Kenapa, Nak!" tanya Abdullah pada putrinya.


"Kita makan dulu ya?" ucap Ais lagi.


Rey berjalan mendekati sang mertua.


"Bapak harus makan supaya tetap sehat dan kuat, apa bapak mau jika nanti ibu bangun badan bapak kurus lalu ibu mengomeli aku dan Ais karena tidak mengurusi bapak?" tanya Rey merayu sang mertua.


"Pak! Ais punya kabar bahagia buat bapak." Ais juga berjalan mendekati sang ayah yang tampak bingung.


"Kabar apa?" tanya Abdullah penasaran.


"Inshaa Allah dalam waktu dekat semua anak-anak bapak dan ibu akan berkumpul lagi seperti dulu. Kak Rey sudah berhasil menemukan mereka semua." Ais tampak berkaca-kaca.


"Alhamdulillah yaa Allah. Akhirnya keinginan bapak dan ibu bisa terkabul tetapi sayang ibumu tidak bisa melihat mereka." Abdullah tersenyum tampak diwajahnya ada campuran gurat sedih dan bahagia kemudian ia menggenggam tangan sang istri.


"Kamu dengar, Bu! Anak-anak kita akan datang. Keluarga kita akan kembali utuh seperti dulu. Kamu harus bangun jangan tiduran mulu," ucap Abdullah yang mengundag gerimis di wajah cantik Ais.


"Pak! Yang sabar ya! Sekarang lebih baik kita makan dulu. Mungkin sebentar lagi Anis akan datang duluan." jelas Rey yang diangguki oleh Abdullah.


Ketiganya segera makan siang bersama karena sebentar lagi akan masuk waktu salat Zuhur.


*****


Sementara itu di bandara ....


Seorang ibu muda yang anggun dalam balutan blezer warna salem dengan hijab senada tampak anggun segera turun dari pesawat dan segera menuju mobil yang sudah standbye untuk menjemputnya.


Ibu muda itu tampak tergesa masuk kedalam mobil dan meminta supir untuk segera melaju.


"Pak! Jalan! Rumah Sakit Cinta Kasih!" perintah wanita muda tersebut.

__ADS_1


Siapakah dia? Lanjut di next episode!


Bersambung.....


Terimakasih sudah membaca!


Semua terjawab disini ya kenapa Ais tidak mengabari saudara-saudara nya. Terimakasih sudah membaca ceritaku. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan. Semoga readers semua selalu sehat dan dilindungi dari segala mara bahaya. Aamiin.


Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.


Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.


Fit Tree Fitri.


Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.


Mengejar Cinta Ariel


Tabib Cantik Bulan Purnama


*Ergina Putri


Melawan Rasa Takutku


Putri Asisten Pribadiku


* Putri Tanjung


OB Kerudung Biru


*Envy Yo Wesben.


My Princess OG.


Audio Nyanyian Takdir Aisyah


* Karlina Sulaiman


Mencintaimu dalam Diam


Kembali


*WIB (Write in Box)


Ya Dia Istriku


*Khauma


I Love My Army Wife


*Syala Yaya


Istri Kedua Tuan Krisna


*Laura V


Sang Penggoda


*Bintun Arief

__ADS_1


Terjebak Cinta Brondong


__ADS_2