
🌻Terimakasih ya sudah membaca karyaku , jika suka tinggalkan jejakmu berupa like, komen, tip dan vote karena itu sangat berarti untuk Author, semoga readers lovers sehat dan bahagia selalu.🌻
*****
Setelah selesai mandi mereka semua berganti pakaian, sudah wangi dan rapi. Barulah mereka makan bersama, penuh dengan rona bahagia yang tiada terperi dari anak-anak pedagang asongan itu. Dan Rey serta Ais berencana untuk membawa mereka semua kepanti bu Wati. Karena ternyata, mereka semua sudah banyak yang yatim piatu. Ada pula yang sengaja ditelantarkan orangtuanya, karena ditinggal merantau kepulau seberang untuk mencari nafkah disebabkan kesulitan ekonomi. Ais dan Rey menginginkan kehidupan yang lebih baik, untuk masa depan mereka. Jika di panti maka mereka akan disekolahkan, selain itu juga ada yang mengurus serta menjaga mereka. Sebab Rey dan Ais adalah donatur tetap di panti Al Barkah yang dikelola oleh bu Wati.
Ini semua karena Ais dan Rey lakukan karena teringat sebuah hadis tentang membahagiakan orang lain, yang merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah.
*****
Mereka sudah selesai makan, dan bersiap untuk pulang. Namun Alif menahan mereka semua."Tunggu! Kakak-kakak jangan pulang dulu ya!" pinta Alif masih dengan senyum di bibirnya yang mungil.
"Kenapa memangnya Dek?" tanya salah satu dari mereka. Bukannya menjawab Alif malah berlari kearah ibunya."Umi ... apa Babang boleh membagi uang hadiah yang tadi untuk kakak-kakak itu?" Menatap Ais lekat.
Mendengar permintaan putranya tentu membuat Ais tersenyum bangga. Aispun menganggungkan kepalanya tanda setuju."Iya, Babang. Boleh kok." Mengusap lembut kepala putranya."Tapi ... Umi bantuin ya?" Memeluk Ais.
Keduanya segera mengambil amplop yang tadi Alif beli, dengan meminta bantuan Rey serta Reza juga Nara, mereka mulai memasukan beberapa lembar uang kedalam amplop, setiap orang mendapatkan lima lembar uang seratus ribuan.
Acara mengisi amploppun selesai. Alif segera berlari menghampiri rombongan anak asongan tersebut dan meminta mereka untuk segera berbaris. Meski bingung mereka menuruti kemauan Alif. Kini semua sudah berbaris rapi dan Alif mulai membagikan amplop kepada mereka satu persatu.
Rasa suka cita tampak jelas di wajah mereka. Merekapun saling peluk dan jabat tangan dengan Alif kecil. Hal itu menjadi kebanggan tersendiri buat mereka bisa bertemu dengan Alif dan keluarganya." Do'akan aku ya, Kak. Nanti aku akan ikut lomba hafalan di Makkah," pinta Alif saat mereka bersalaman."Iya, Alif. Kami akan medo'akanmu, semoga bisa menang dan lancar dalam lombanya," ucap mereka dengan senyum yang terkembang.
Kini anak-anak itu satu persatu bergiliran menyalami semuanya, sebelum mereka kembali kekediamannya. Mereka baru akan pindah kepanti besok atau lusa.
*****
Dalam perjalanan pulang wajah Ais yang tadinya sempat ceria kini kembali mendung. Tentu saja hal ini membuat suaminya heran, apa sebenarnya yang terjadi pada istrinya itu. Namun Rey memyimpan semua pertanyaannya, dia hanya diam, dan sesekali memandang wajah muram istrinya.
Sementara itu Reza dan Nara tidak menyadari perubahan wajah sabahatnya itu. Mereka sibuk bercengkrama dengan Alif di sepanjang perjalanan. Sesekali mereka saling melempar tawa, karena melihat tingkah Alif yang lucu.
Mobil yang mereka tumpangi kini telah berhenti disebuah rumah mewah di komplek perumahan elit milik Rey dan Ais. Semua bergegas untuk turun, namun tidak begitu halnya dengan Ais. Ia tampak enggan untuk turun. Dengan sabar Rey menanti kekasihnya itu."Kamu kenapa Ayang?" Mendekati istrinya yang baru turun.
Mendengar sapaan suaminya Ais sedikit tersenyum dan menggelengkan kepalanya lemah."Aku baik-baik saja Ayang, hanya sedikit lelah." Menyambut uluran tangan suaminya. Keduanya berjalan beriringan memasuki rumah.
Saat memasuki rumah, kedua putri kembar mereka sudah menyambut kedatangan ayah dan ibunya dengan berjalan tertatih-tatih, dan itu adalah hadiah terindah untuk Ais maupun Rey. Satu hal yang tak kalah mengharukan saat Ara dan Aza mengucapkan kata pertamanya." um-mi." Wajah Ais seketika berubah ceria, dengan segera ia meminta kedua putrinya untuk mengulang apa yang ia dengar."Ayo sayang ucapkan lagi," pinta Ais. Benar saja kedua putrinya mau mengulangi kata yang diucapkannya." Um-mi ... Um-mi," ucap Ara dan Aza.
Dengan wajah berseri Ais memeluk kedua putrinya. Namun kini berbalik, Rey lah yang sekarang wajahnya mendung. Pasalnya ia merasa iri. Kata pertama putrinya adalah umi bukan abi. Melihat ayahnya yang diam dengan wajah di tekuk, membuat Alif berlari dan memeluknya."Abi jangan khawatir, kan ada Babang Alif yang akan memanggil abi?" Rey segera membalas pelukan putranya." Terimakasih sayang, kamu memang anak yang shalih." Mencium kening putranya.
Semua tertawa melihat ulah keluarga kecil Rey dan Ais yang mengemaskan. Kini semua kembali kekamar mereka masing-masing untuk beristirahat, sambil menunggu waktu zuhur tiba.
*****
Di dalam kamar Ais dan Rey saling bergantian untuk membersihkan diri, setelahnya berbaring ditempat tidur.
"Ayang!" sapa Rey lembut pada istrinya. "Hmem, kenapa Yang?" Memiringkan kepalanya menghadap kearah Rey.
"Apa kamu punya masalah?" Menatap netra istrinya yang bening.
__ADS_1
"Nggak ada." Sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Tapi kamu aneh hari ini, seharusnya kamu gembira dan senang putra kita juara, namun kamu malah sebaliknya. Apa ada yang kamu sembunyikan?" Membelai rambut istrinya.
"Hmm ... aku-aku bukannya tidak bersyukur atas kemenangan putra kita, tapi aku ...." Ais menggantungkan ucapnya.
"Tapi apa Ayang?Ceritakan lah jika itu bisa membuatmu merasa lega! Aku siap menjadi pendengar sertiamu Ayang." Mencium pucuk kepala istrinya.
Mendengar ucapan suaminya, air mata Ais malah mengalir dari sudut matanya. Hal ini membuat Rey kaget dan semakin penasaran. Apa sebenarnya yang di simpan oleh istrinya, sehingga ia bisa menangis karenanya."Ayang ... kenapa?" Menghapus air mata istrinya. Air mata Ais semakin deras. Rey segera memperbaiki posisinya menjadi duduk. Kemudian dia mendekap Ais kedalam dada bidangnya yang kekar.
"Menangislah jika memang itu bisa mengurangi beban hatimu." Membelai lembut rambut istrinya yang tergerai." Aku akan selalu ada untukmu sampai akhir hayatku." Mendengar ucapan suaminya membuat Ais semakin terisak.
Kesedihan yang Ais rasakan berawal dari rasa khawatirnya yang berlebihan, dan hal ini membuatnya terlihat rapuh. Saat seperti ini lah, setiap orang membutuhkan teman yang dapat mendengarkan keluh kesahnya tanpa menyudutkan atau memojokkan. Seperti yang Rey lakukan pada Ais, istrinya.
"Apa mau cerita sekarang?" Masih mendekap istrinya." Cup." Mencium pucuk kepala istrinya. Perlahan Ais mendongkakkan kepalanya."Aku ... aku sebenarnya hanya khawatir pada putra kita." Memainkan jarinya di dada suaminya.
"Khawatir kenapa?"
"Minggu depan, ananda Alif akan di karantina untuk memperbaiki dan memperbanyak hafalnnya."
"Lalu?"
"Aku merasa tidak bisa melepaskannya, aku-aku tak bisa jauh darinya, aku-aku tak ingin ananda melanjutkan lomba ini." Air mata Ais kembali merembes.
"Ayang, kamu harus kuat dan sabar. Apa kamu lupa, kalau kita tidak boleh bersikap berlebihan terhadap sesuatu yang belum terjadi?"
"Aku bahkan pernah membaca di sebuah artikel kalau sudah banyak penelitian menunjukkan bahwa rasa cemas dan gelisah berlebih tidak hanya mengganggu kesehatan mental, tetapi juga fisik. Cemas sebenarnya tidak buruk, tapi efek yang ditimbulkan berdampak negatif bagi tubuh dan tak terkendali."
"Sekarang tarik napas dalam-dalam karena itu akan memengaruhi kerja sistem saraf sehingga tubuh jadi lebih tenang dan memberikan waktu bagi tubuh untuk memikirkan respons di bawah tekanan. Alhasil, kamu akan merasa lebih baik, Ayang." Tersenyum pada istrinya.
Dengan berat hati Ais menuruti permintaan suaminya, ditariknya nafas dalam-dalam, dan perlahan melepaskannya. Kegiatan itu Ais lakukan secara berulang-ulang beberpa kali. Kini Ais merasa lebih baik.
"Bagaimana Ayang? Merasa lebih segar?"
"Iya,Yang. Alhamdulillah." Sedikit tersenyum.
"Yang, aku mengerti perasaanmu. Mungkin semua ibu akan merasakan apa yang kamu rasakan. Berpisah dari anak yang kita cintai, rasanya memang sulit. Tetapi kita harus ikhlas, karena semua ini untuk kebaikkan anak kita. Kamu mengertikan?" Kembali memeluk istrinya.
"Iya, Yang. Terimakasih banyak sudah mendengar keluah kesahku, aku merasa sangat beruntung." Mendongakkan kepalanya. Lalu Aispun melanjutkan ucapannya."Mempunyai suami yang sangat pengertian seperti dirimu." memeluk erat suaminya.
Keduanya saling berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain. Memang seharusnya begitulah yang harus di pahami oleh pasangan suami istri. Saling menasihati dan saling mengisi, menjadi partner dalam segala hal. Bukan untuk saling mencari kelemahan masing-masing yang akan menimbulkan riak. Jika bisa demikian barulah biduk rumah tangga dapat berjalan seirama, terus melaju sampai di labuhan terakhir.
Bersambung.....
Terimakasih sudah membaca.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
__ADS_1
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*WIB (Write in Box)
Ya Dia Istriku
*Khauma
I Love My Army Wife
*Syala Yaya
Istri Kedua Tuan Krisna
*Laura V
Sang Penggoda
*Bintun Arief
__ADS_1
Terjebak Cinta Brondong