
🌻Terimakasih sudah membuka chapter ini, jangan lupa tinggalkan jejakmu berupa like dan komen, karena itu sangat berarti bagiku tuk terus semangat dalam berkarya, semoga kamu sehat dan bahagia selalu.🌻
Selamat Membaca!
*****
Pondok Pesantren ....
Nah, abi dan umi mu ini sangat takut nanti saat di tanya oleh Allah di hari akhir. Makanya kami berusaha melakukan yang terbaik yang bisa kami lakukan, untuk mencari ke rehdaan-Nya," ucap Rey lembut.
"Iya, Abi. Sekarang Babang mengerti. Babang pun ingin masa muda Babang di isi dengan hal yang bermanfaat, salah satunya dengan belajar di sini." Alif tersenyum bahagia.
"Terimakasih, Sayang. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu berada di jalan yang Allah ridhai." Rey mencium lembut pucuk kepala putranya.
*****
Menjelang siang semua keluarga santri yang menjengguk sudah diharuskan untuk pulang demikian juga dengan keluarga Alif dan Anan. Tampak mendung kembali menggelayut manja di wajah keduanya.
"Sayang! Kok wajahnya di tekuk begitu? Jelek lo," ucap Ais tersenyum pada putranya.
"Babang rasanya pengen ikut pulang." Alif menundukkan kepalanya.
"Babang, katanya tadi mau mengisi masa mudanya dengan hal bermanfaat dengan belajar di sini. Kalau ikut pulang hilang dong kesempatan untuk hal bermanfaatnya." Rey menepuk lembut pundak putranya.
Alif diam menunduk, dalam hatinya ia membenarkan perkataan abi nya, namun di sisi kekanakannya ia merindukan susana rumahnya. Hanya genangan air mata yang diam-diam telah membasahi kedua pipinya yang mirip bakpau kukus.
"Sayang!" sapa Ais pada putranya.
Alif segera berlari kedalam pelukan sang ibu. Tangisnya pecah dalam hangatnya pelukan yang sangat menenangkan bagi semua anak. Belaian lembut dari tangan wanita yang perngorbannya tak akan pernah terbalas, cukup ampuh sebagai pengobat lara dalam jiwa.
Perlahan isakan dalam dekapannya mulai berhenti. Dengan lembut ia menyeka air mata sang putra, kemudian mengecupnya dengan penuh kasih.
"Umi yakin dan percaya, babang kuat dan bisa menjadi yang terbaik untuk umi dan abi. Berjuanglah demi kami, inshaa Allah do'a kami selalu menyertai setiap langkahmu wahai putraku." Ais menyemangati sang putra yang mulai berani tersenyum menatap indahnya bola mata bidadari yang menjadi malaikat tak bersayap untuknya.
*Terimakasih Umi, selalu bisa membuat Babang menjadi lebih bersemangat, Babang janji akan lebih giat lagi dalam belajar.*
"Iya, Umi. Sekarang Babang akan baik-baik saja. Umi dan Abi silahkan pulang, jangan lupa do'akan Babang ya!" pinta Alif pada kedua orang tuanya.
Senyum bahagia terkembang di bibir merah jambu sang suami, ia sangat bangga pada istrinya. Entah apa yang di bisikan oleh sang istri, namun ia sangat yakin kalau nasihat seorang ibu sangat ampuh seperti obat penawar bagi segala macam penyakit dalam gejolak jiwa.
Setelah di rasa cukup, keluarga Rey mulai berpamitan dan meninggalkan pondok. Perlahan tapi pasti mobil mereka semakin menjauh. Begitu juga dengan keluarga Anan. Mereka sudah berpamitan, mobil jemputan dari bandara sudah datang. Lambaian tangan para putra meluruhkan benteng pertahanan sang bunda. Ais menyeka air matanya. Ia tak kuasa menyimpan rasa tak tega untuk kembali berpisah dengan putranya. Namun ia harus kuat, demi masa depan sang buah hati.
*****
Setelah melakukan perjalanan panjang kini mereka sudah sampai di rumah. Ini merupakan kunjungan yang sangat melelahkan, meski lelah mereka sangat menikmatinya.
__ADS_1
Setelah turun dari mobil Ais bersama sang ibu segera membawa Aza dan Ara yang mulai rewel karena selain kecapean, keduanya juga sudah mulai gerah. Dengan gesit keduanya segera membawa mereka kekamar. Kemudian segera mengganti bajunya dan membalurkan minyak kutus-kutus pada keduanya. Minyak ini sangat ampuh untuk badan pegal, masuk angin ataupun gatal-gatal karena di gigit serangga. Selain tidak perih dan panas minyak ini juga aromanya lembut.
Setelah selesai kedua putri kembarnya kembali tertidur dengan nyenyak. Kemudian" Bu!" sapa Ais pada bu Aminah.
"Iya, Ais." Sang ibu menjawab dengan lembut.
"Ibu segera istirahat ya, lihat wajah ibu sangat letih. Pasti badan ibu juga pegal semua. Sini Bu, Ais pijitin dulu." Ais menarik tangan ibunya agar berpindah duduk di sofa yang ada di ruang tidur putrinya.
"Nggak usah, Ais. Ibu nggak apa-apa kok." Bu Aminah hendak berdiri dari kursi yang tadi di tarik Ais.
"Sudahlah, Bu. Nggak apa-apa, dulu waktu Ais kecil, ibu sering memanjakan Ais. Kini sudah saatnya ibu yang Ais manjakan sekarang. Nanti Ais juga berharap, Anak-anak Ais akan memperlakukan Ais seperti ini." Ais menutup obrolannya dan mulai memijat kaki sang ibu.
Bulir bening menetes perlahan di pipi tua Aminah yang mulai mengendur,memang dari sekian banyak anaknya hanya Ais yang begitu perduli akan kesehatannya, dari sejak kecil pun sudah terlihat.
"Ais!" sapa Aminah.
"Iya-Kenapa, Bu?" Ais balik bertanya.
"Bagaimana jika nanti ibu sudah tiada? Apa kamu akan selalu mendo'akan, ibu?" Aminah menerawang jauh.
"Bu, kenapa bicaranya seperti itu? Inshaa Allah, Ais akan selalu mendo'akan ibu. Jangan ngomong begitu lagi ya, Bu!" pinta Ais pada ibunya.
"Entah mengapa akhir-akhir ini, ibu sering kepikiran tentang masalah mati, ibu sangat berharap bisa mati dalam keadaan yang sebaik-baiknya mati. Jika nanti ibu berpulang ingin rasanya berpulang tak kala sedang bersujud di hapan sang Khalik." ucap Aminah tanpa menghiraukan putrinya.
"Dulu Almarhum kakekmu juga meninggal dalam keadaan yang indah, beliau meninggal saat sedang salat di pagi Idul Fitri. Banyak sekali orang-orang yang menyalatinya jenazahnya. Kala itu ibu masih berumur sepuluh tahun. Sehabis subuh beliau memandikan kami, memakaikan kami baju baru. Beliau berkata kalau kami haris selalu ceria, meski pun nanti beliau sudah tiada." Aminah menyeka air matanya perlahan.
"Kami di suruh kakekmu memunggu di rumah saja, sampai beliau pulang dari masjid. Kami pun menurutinya, begitu juga dengan nenekmu sudah disuruh menggunakan pakaian yang bersih dan rapi, tetapi tetap di suruh tinggal di rumah. Kami semua merasa heran, namun tidak ada yang berani membantah ucapan kakekmu. Beliau turun dari tangga rumah, dan kami mengantarkannya sampai kedepan pintu. Baru beberapa langkah beliau kembali menoleh kebelakang dan tersenyum pada kami, kemudian melambaikan tangan. Setelah itu beliau melangkah dengan pasti menuju masjid." Aminah kembali menyeka air matanya yang semakin deras.
Ais Menggosok pundak sang ibu dengan lembut, untuk menguatkannya." Jika terlalu sakit untuk di ingat atau di ucap jangan diteruskan, Bu." Ais memeluk sang ibu. Perlahan tapi pasti Aminah kembali melanjutkan ceritanya.
"Baru kurang lebih satu jam kakek mu pergi ke masjid, tiba-tiba ada seseorang dengan pakaian muslim lengkap dengan peci nya mengetuk pintu rumah dan ibu menyambutnya. Dia bertanya dimana nenekmu, kemudian ibu kedalam memanggil nenekmu. Setelah nenek datang beliau bertanya pada pemuda itu, mengapa mencarinya. Dengan tertunduk pemuda itu berkata kalau kakekmu telah tiada, dia berpulang dalam sujud terakhir saat salat idul Fitri. Nenek sangat mengingat semuanya, kecupan terakhir kakekmu, ikat rambut terakhirnya yang rasanya enggan nenek lepas agar selalu bisa mengingatnya, dan pesan terakhir kakekmu yang selalu teringat sampai detik ini, kalau ibu harus jadi anak yang shalihah agar selalu bisa mendo'akannya." Aminah menutup ceritanya dengan linangan air mata kerinduan pada sang ayah.
"Ibu yang sabar dan ikhlas ya, inshaa Allah kakek meninggal dalam keadaan husnul khotimah, semoga kita pun nanti bisa diwafatkan dalam keadaan yang demikian." Ais memeluk erat sang ibu. Ais merasa khawatir dengan ibunya, tak bisa dia bayangkan jika harus kehilangan ibunya saat ini.
Semoga kita juga bisa diwafatkan dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Perbaikilah kebiasaan kita sejak sekarang agar tidak menjadi sesal kita di hari kemudian. Love you readers Lover.
Bersambung.....
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
__ADS_1
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
Audio Nyanyian Takdir Aisyah
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*WIB (Write in Box)
Ya Dia Istriku
*Khauma
I Love My Army Wife
*Syala Yaya
Istri Kedua Tuan Krisna
*Laura V
Sang Penggoda
__ADS_1
*Bintun Arief
Terjebak Cinta Brondong