
🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌻
Selamat Membaca!
Seketika Rey menjadi bingung, kalau tidak ada putranya maka dapat dibayangkan ia akan kesulitan melihat senyum kekasihnya, tapi kalau tidak diizinkan ia kasihan pada ayah mertuanya.
"Yess, babang mau sama kakek." Alif melonjak kegirangan.
Dengan terpaksa Rey membiarkan putranya pindah ke mobil sang ayah mertua.
Setelah Alif pindah ke mobil sang ayah mertua, suasana mobil Rey kembali mencekam, ia bingung harus memulai percakapan dengan istrinya dari mana.
"Um-mi," suara Aza membuat Rey bisa bernafas lega.
*Alhamdulillah, nggak jadi sepi kayak kuburan, batin Rey.*
"Iya sayang, kenapa?" Ais tersenyum menatap dua putri keciknya.
Mereka seolah tahu masalah yang dihadapi sang ayah.
"Sowat," renggek Ara.
"Iya," jawab Ais lembut.
Aispun mulai bersenandung dengan shalawat nariyah.
Alloohumma sholi sholaatan kaamilatan wasallim salaaman taamman 'alaa sayyidina muhammadinil ladzii tanhallu bihil 'uqodu wa tanfariju bihil kurobu wa tuqdhoo bihil hawaa-iju wa tunaalu bihir-roghoo-ibu wa husnul khowaatimi wa yustasqol ghomaamu bi wajhihil kariimi wa 'alaa aalihii wa shohbihi fii kulli lamhatin wa nafasin bi 'adadi kulli ma'luumin laka
Shalawat ini yang sangat disukai oleh Aza dan Ara. Keduanya tersenyum sambil bertepuk tangan. Suasana mobil menjadi kembali hangat dan ceria, yang membuat Rey semangat mengemudikan mobilnya menuju Anyer.
*****
Perjalanan menuju Anyer kini terasa menyenangkan buat Rey, dia senang bisa melihat senyum sang istri.
Suasana menjelang sore sangat indah dipandang mata menemani perjalanan mereka, sinar matahari yang berwarna orange memenuhi langit membuatnya memberikan kesan lembayung yang meriah.
Kini aroma harum dari lautan mulai tercium, deburan ombak yang saling berkejaran memecah dihamparan pasir juga sudah terdengar. Belaian angin laut mengusap lembut wajah-wajah yang merinduakn keindahan mutiara biru yang menjadi komposisi terbesar penyusun bumi.
Tiga mobil mulai berhenti dibawah rindangnya pohon pinus yang tinggi menjulang. Deratan pohon kelapa juga menambah lengkapnya suasa pantai Anyer.
Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung. Namun keluarga bersar Ais tak perlu khawatir untuk masalah tempat, karena Rey sudah memboking tempat khusus untuk mereka.
Semua sudah turun dari mobil, adik dan kakak Ais semua berlari menuju pantai. Mereka tidak ingin melewatkan momen sunset yang spesial kali ini. Mungkin ini akan menjadi pengalaman dan kenangan terindah buat mereka.
Ari dan Ali duduk di atas jembatan yang dibuat menjorok kelaut. Hembusan angin sore menerbangkan kemeja yang sengaja keduanya buka kancingnya. Sedangkan Ara, Ani, Anis serta Amy asyik bermain air, sambil menyaksikan kuasa Allah yang menghadirkan malam sebagai pengganti siang.
Ais dan Rey duduk di saung bersama sang ayah, juga kedua putrinya yang ditemani bi Ijah dan Nela.
"Aiss! Sini." Tampak Ara melambai padanya.
"Pergilah, Ayang." Rey memegang tangan sang istri.
"Aku ... aku ...." Ais merasa ragu.
"Pergilah, besok mereka tidak bersama kita lagi. Setelah hari ini entah kapan kamu akan bersama mereka lagi." Rey meyakinkan istrinya.
"Iya Ais, pergilah. Kak Ara sangat merindukanmu, dulu kalian sangat dekat. Saat menikahpun dia selalu ingin bersamamu, namun karena suaminya ingin mereka pindah akhirnya ia harus rela ikut bersama suaminya." Abdullah tersenyum melihat Ais yang sedang merasa tertekan.
Rey sangat berharap kumpul bersama saudaranya bisa membuatnya Ais kembali ceria.
"Baiklah, aku pergi. Bi titip Ara dan Aza, ya." Ais berangkat meninggalkan kedua putrinya pada bi ijah dan Nela.
Ara sudah melambaikan kedua tangannya menyapa adik kesayangannya. Setelah Ais sampai ia segera disirami air laut yang sengaja Ara ambil menggunakan kedua tangannya.
Ais menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Hijabnya sudah basah ikut tersiram air. Perlahan Ais ikut larut dalam kebahagian yang dibawakan saudara-saudaranya. Kelima saudara perempuannya sudah bermain air, membuat Ari dan Ali juga ingin ikut. Mereka ingin mengulangi masa kecil mereka kala itu.
Tanpa mereka sadari Rey sudah merekam semua momen kebersamaan mereka adik beradik. Rey juga meminta sang ayah mertua untuk ikut bermain air bersama anak-anaknya.
Kebersamaan mereka saat ini sudah tersimpan rapi dalam ponsel seorang Rey. Ia tidak ingin nasib Ais sama seperti dirinya. Tidak punya kenangan indah bersama orang-orang tercintanya. Kenangan itu hanya dapat ia rasakan dalam hatinya.
Setelah puas bermain air mereka membersihkan diri dan bersiap untuk salat magrib. Rey sengaja memesan tempat yang dekat dengan mushala, agar mereka dapat beribadah dengan leluasa.
Salat kali ini masih diimami oleh Abdullah, entah apa yang ada dipikiran mereka masing-masing saar ini, namun satu yang jelas mereka tak ingin kebersamaan ini cepat berakhir.
"Ayo sekarang kita makan, kalian semua tentunya sudah laparkan habis bermain air?" ucap Rey pada semua keluarga besarnya.
Tanpa bantahan mereka semua menuju ke meja makan yang sudah Rey pesan. Di sana sudah tertata rapi aneka makanan kesukaan kekuarga besar Ais. Semua dibuat takjub, makanan masa kecil mereka terhidang lengkap. Mulai dari lempah kuning, rusip dengan lalapan rebus ( pete, kecipir, daun singkong, bunga pepaya, dan terong), sambal terasi bersama lalapan mentah ( mentimun, pucuk kencur, kunyit putih, dan buah pisang muda) , urap, lempah darat alar keladi, acar ikan tongkol, sampai dengan rendang jengkol.
"Subhanallah, Kak Rey! Terimakasih banyak. Aku akan memyimpan semua kenangan indah ini dalam relung hatiku yang paling dalam," ucap Amy dengan penuh rasa haru.
Begitu juga dengan Ara, Any, serta Anis. Perasaan mengaharu biru merasuki relung kalbu. Setelah puluhan tahun makanan masa kecil mereka terhidang cantik serta elegan di meja makan kali ini.
"Aku sungguh terharu, dan sangat berterimakasih padamu, Rey," ucap Ara serak menahan tangisan haru.
"Ayang ... terimakasih banyak untuk hidangannya, aku tidak pernah menyangka kalau kamu mengingat semua yang pernah ibu ceritakan padamu." Ais tersenyum tulus sebagai ungkapan terimakasih atas usaha yang telah dibuat oleh suaminya.
__ADS_1
Rey hanya tersenyum dan duduk disamping Abdullah, ayah mertuanya.
"Bapak, ayo makan!" Rey mengambil piring kosong dan mulai mengisinya dengan nasi kemudian menyerahkannya pada sang ayah.
Abdullah menerimanya penuh dengan suka cita, memang Rey tipe menantu idaman semua orang tua. Selain tampan juga sangat baik serta perhatian pada anak, istri, juga mertuanya.
Kini hanya dentingan piring dan sendok yang terdengar, tak ada suara saat makan. Itu semua adalah kebiasaan keluarga Ais sejak kecil.
Belum habis rasa keterkejutan mereka atas yang Rey lakukan, kini mereka sekali lagi dibuat takjub serta haru. Pasalnya Rey menyetel rekam video memori indah keluarga Aisyah, istrinya.
Mulai dari Abdullah serta Aminah menikah, kemudian lahirlah Ani bersama adik-adiknya yang lain, momen saat mereka di kebun, saat Ais ikut lomba waktu Sekolah Dasar (SD) sampai mereka semua mulai menikah dan mulai meninggalkan kedua orang tua mereka. Sampai foto bahagia mereka dengan keluarganya masing-masing serta ibu berpulang hingga akhirnya meraka bersama sore ini di Anyer.
"Rey! Bagaimana kamu bisa membuat semua ini?" tanya Ali yang penasaran.
"Iya, Rey. Kapan kamu membuatnya?" Ari ikut bertanya. Tentu saja pertanyaan keduanya sudah mewakili semua suara hati saudara perempuan mereka, terasuk Ais.
"Aku membuatnya baru beberapa jam yang lalu, sedangkan bahannya sudah aku hunting sejak beberapa bulan yang lalu. Video ini aku beri judul Abdullah Familly." Rey menjelaskan semuanya.
"Satu kata untukmu adik, Thank you!" Ara menatap haru.
"Bapak juga mengucapkan banyak terimakasih pada mantu bapak yang satu ini, terimakasih untuk semuanya. Mulai dari menerima bapak dan ibu tinggal bersama kalian, saat merawat ibu sakit, serta selalu membahagiakan kami dengan kasih sayang yang melimpah." Abdullah meraih jemari menatunya itu.
"Bapak sudah memutuskan, kalau bapak akan roling tinggal bersama kalian semua untuk saar ini. Sampai nanti tiba waktunya bapak akan kembali tinggal bersama Ais dan Rey. Untuk pertama, bapak akan ikut Ali pulang kerumahnya, setelah satu atau dua bulan bapak akan pindah kerumah Ari begitulah selanjutnya. Jika sudah bapak kunjungi semua baru bapak akan kembali ke rumah Ais sampai masa itu akan datang menjemput bapakmu ini." Abdullah akhirnya merasa tenang setelah mengungkapkan inginan hatinya agar yerlihat adil.
Semua saling pandamg dan akhirnya mengangguk. Mereka rasa keputusan Abdullah kali ini sangat adil dan bijaksana.
Mereka melanjutkan acara kumpul Keluarga dengan salat isya berjama'ah. Lalu bersiap untuk pulang. Perjalanan ke Anyer kali ini merupakan sesuatu yang sangat istimewa.
*****
Setelah melewati kegiatan sore sampai malam harinya, kini mereka semua sudah berada dan mulai beristirahat dikediaman Rey dan Ais.
Ais sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Ia bangun dan duduk bersandar di tempat tidurnya. Ditatapnya lelaki tampan yang ada disampinya, kini sudah tertidur lelap. Ais tahu suaminya sangat kelelahan.
Ais mulai turun dari tempat tidurnya perlahan, ia tidak ingin menganggu tidur suaminya.
Kemudian Ais berjalan menuju keluar kamarnya, rasa gellisah kembali melanda hatinya. Ini sungguh berat baginya, akan berpisah dengan semua orang yang dikasihinya.
Ais bergegas menuju mushala, disanalah tempat yang bisa membuat hatinya kembali tenang. Dinginnya air wudu yang membasahi wajahnya bagaikan oase di padang pasir. Meluruhkan semua resah serta gelisah dalam dirinya.
Ais kaget saat keluar dari tempat wudu, ia melihat Ara yang sedang duduk di kursi taman. Ia juga menangis, ini tampak jelas dari bahunya yang turun naik. Namun Ais akan menghampirinya nanti setelah ia selesai salat sunat hajat.
Selesai salat Ais segera menghampiri sang kakak.
"Kak Ara kenapa?" Ais memeluk tubuh Ara yang semakin gempal saja, tidak seperti dirinya yang sudah bersibuk ria masih saja ada yang tertinggal.
"Kakak sangat berat berpisah dengan kalian semua, terutama kamu dan bapak, Ais." Ara telah berlinang air mata.
"Aku juga sangat berat rasanya, Kak. Tetapi harus ingat keluarga kalian di sana juga membutuhkan kasih sayang kalian." Ais mengingatkan sang kakak.
"iya, aku tahu. Biarkan aku memelukmu lebih lama, Ais." Ara memeluk tubuh sang adik dengan erat.
"Kakak sebaiknya segera istirahat ya, besok kakak harua berangkat," pinta Ais pada Ara.
Ara melepaskan pelukannya dan mengangguk, bagaimanapum ucapan Ais benar adanya.
"Yuk kita masuk!" Ais mengandeng tangan sang kakak.
"Ais, jangan lupa untuk menghubungi kakak nanti, ya!"
"Inshaa Allah, Kak."
Keduanya masuk ke rumah dan menuju kamar masing-masing.
*****
Waktu subuh telah tiba, suasana rumah Ais sangat ramai pasalnya semua sudah sibuk dengan perlengkapannya masing-masing.
Ari akan pulang ke Padang bersama sang Ayah. Ari akan pulang ke Sumatera. Any akan pulang ke Surabaya, Amy ke Pekalongan sedangkan Anis akan pulang ke Solo langsung ikut meeting bersama bosnya.
Rey dan Ais juga bersiap untuk mengantarkan sang buah hati ke bandara untuk berangkat ke Saudi Arabia.
Semua sudah siap, masing-masing orang akan menaiki satu mobil khusus yang sudah Rey siapkan. Peluk haru dan tangis mengiringi kepergian semuanya. Tak lupa Ais mengirimi lagu Terimakasih ayah dan ibu pada ponsel adik kakaknya untuk menjadi lagu kenagan bagi mereka semua.
Lagu nasyid ini di populerkan oleh grup Hijaz.
terima kasih ibu, terima kasih duhai ayah (2x)
lahirku ke dunia
ku disambut penuh syukur
bisikan azan ke telinga
hikamah kalimah nan luhur
__ADS_1
lahirku ke dunia
ku diasuh mengenal Allah
ku diajar sebut namaNya
juga nabi rasul mulia
salam sayang ayah dan ibu
mendidik ku tak pernah jemu
halalkan lah makan minumku
maafkanlah salah silapku
tanpa maaf dan juga restu
hidupku jadi tak menentu
tiada yang lebih bernilai
dari pengorbanan yang suci itu
tak berdaya aku membalasnya
moga ku jadi anak yang bertakwa
terima kasih ibu, terima kasih duhai ayah (2x)
Jasamu oh ayah dan ibu
akan ku kenang selamnya
hidup saling berkasih sayang
membina keluarga bahaia
(bridge)
pada mu Allah aku berdoa
pada Mu jua aku meminta
rahmatilah ibu ayah tercinta
apunilah dosa- dosa mereka
panjang umur, murahkan rezeki
sejahtera dalam ketaatan
moga berbahagia di dunia, di akhirat
beroleh syurga
daku mengharap redha mu ibu
juga redha darimu ayah
hanya itulah yang ku pintu
agar hidupku lebih bermakna
terima kasih ibu, terima kasih duhai ayah.
Ais meminta mereka semua untuk memutarkan lagu itu saat mereka sudah sampai di bandara, dan tak lupa Ais juga meminta mereka untuk mendo'akan kedua orang tua mereka.
Ais dan Rey juga sudah di bandara. Di sana sudah menunggu rombongan kafilah dari Indonesia yang akan berjuang mengharumkan nama bangsa tercinta.
Rey dan Ais melepaskan keberangkatan putranya dengan bangga. Selamat berjuang anandaku sayang. Do'a kami menyertaimu, semoga Allah memberikan yang terbaik untukmu dan juga para sahabatmu yang berjuang bersama.
Bersambung.....🌻
Terimakasih sudah membaca chapter ini dan terimakasih pula untuk Tap jempol serta komennya!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ke 2 ku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik. ini adalah daftar novel favoritku, kalian boleh coba untuk mampir pasti suka.
Ini juga daftar novel favorit yang sudah aku baca, kalian boleh intip juga mana tahu suka.
__ADS_1