
🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌻
Selamat Membaca!
Pemakaman ....
Selamat jalan ibu, inshaa Allah jannah yang indah telah menantimu. Biarpun engkau telah pergi meninggalkan kami semua kenanganmu akan tersimpan rapi di sanubari." Ais meletakkan bunga mawar merah dan bunga melati di pusara sang ibu.
Air mata Ais tak henti mengalir namun ia harus bersikap tegar, pasalnya Alif juga sedang sangat berduka. Sudah seharusnya ia menghibur sang anak agar kuat dan ikhlas. Dia khawatir situasi ini akan mempengaruhi persiapan lomba ananda Alif yang akan segera bertolak ke Arab besok lusa.
"Kenapa nenek meninggalkan Babang, Umi?" Alif masih saja terisak, ia belum bisa melepas kepergian sang nenek yang sudah berpulang ke rahmatullah.
"Babang yang sabar ya, kita harus ikhlas. Kasihan nenek kalau ia menyaksikan kita masih bersedih dia juga akan ikut sedih." Ais meyakinkan sang anak. Dan itu berhasil, seketika sang putra terdiam. Ia menyeka air matanya.
"Apa kalau Babang tersenyum maka nenek akan ikut tersenyum?" tanya Alif dengan wajah imutnya.
"Inshaa Allah, Sayang. Nenek akan pergi dengan tenang." Rey menimpali percakapan ibu dan anak itu.
Sekarang kita pulang ya, kasihan dedek Ara dan Aza. Mereka pasti sudah merindukan umi juga babang Alif." Rey mengambil Alif dari dekapan kekasihnya.
Mereka bertiga berjalan menjauhi area pemakaman. Di dalam mobil tampak Abdullah tersenyum tegar memandangi gundukan tanah merah yang memisahkan dirinya dengan sang kekasih.
Mobilpun bergerak perlahan menjauhi pusara sang ibu yang dipenuhi dengan taburan bunga. Semua terasa berat bagi keluarga besar Abdullah. Namun semua kembali pada kata ikhlas untuk melepaskan. Karena mau tidak mau, cepat atau lambat semua yang bernyawa pasti mengalaminya.
Dalam Al Qur'an pun telah dijelaskan. Di mana pun kamu berada, kematian akan menemuimu kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kukuh.” (an-Nisa: 78)
Kematian adalah ketetapan bagi seluruh makhluk-Nya yang memiliki ruh, meskipun ia adalah makhluk yang paling mulia, seperti para nabi dan rasul alaihimus salam. Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan kepastian itu.“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (Ali Imran: 185)
Hal ini lah yang membuat keluarga Abdullah masih bisa tersenyum dan berusaha untuk ikhlas serta sabar.
Kini mobil yang membawa mereka kembali dari pemakaman sudah memasuki area rumah Rey, namun kediaman mereka masih dipenuhi oleh pelayat yang masih terus berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa.
Termasuk tamu istimewa bagi Alif. Di sana telah bediri sahabat lamanya yang sudah beberapa bulan tidak bertemu. Mereka berpisah kala itu karena sang sahabat dibawa paksa oleh ibunya. Ada yang masih ingat? Yap salut buat kalian yang masih ingat.
Gadis kecil itu adalah Wardah. Ia berdiri di ambang pintu bersama bu Wati ketua panti asuhan yang dimiliki oleh keluarga Alif.
Ais dan Rey sudah turun dengan Alif yang tertidur dalam gendongan sang ayah. Sementara Abdullah juga sudah turun, namun ia segera berjalan cepat menuju kamarnya.
Saudara-saudara Ais juga sudah masuk kedalam rumah dan beristirahat. Meski duka masih bergelayut manja, mereka berusaha tegar dan bersikap normal agar tidak larut dalam kesedihan.
Dari tempatnya berdiri Ais sudah melihat gadis kecil yang sangat dirindukannya. Meski belum lama mengenaknya tetapi ikaran emosi di antara keduanya sangat kuat.
"Assalamu'alaikum, Cantik! Kamu apa kabarnya? Kapan datang?" Ais memeluk Wardah erat kemudian mencium pucuk kepala gadis itu yang tertutup hijab pink yang dulu pernah Ais belikan untuknya.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Wardah dan bu Wati hampir bersamaan.
"Alhamdulillah Wardah baik dan sehat, Umi!" Wardah tersenyum manis. Manik bulat dan bening miliknya sangat cantik dan berbinar.
"Apa masih boleh manggilnya umi?" tanya Wardah polos sambil tersenyum manis.
"Tentu saja Sayang, ayo kita masuk!" Ais menuntun Wardah dan mengajak bu Wati untuk masuk juga.
Mereka duduk di ruang tengah, sambil memakan camilan yang masih terhidang di meja tamu.
"Alif mana, Um?" Wardah menatap Ais serius.
"Alif masih tidur sayang, dia kecapean karena kebanyakan nangis tadi." Ais membelai lembut pundak gadis kecil yahg ada didepannya.
"Yah sayang banget." Wardah menarik nafas besar perwujudan rasa kecewanya.
"Memangnya kenapa? Nantikan kamu bisa ketemu Alif." Ais menatap Wardah yang nampak bersedih.
Wardah diam dengan wajah yang ditekuk, dia merasa sedih karena tidak bisa bertemu Alif.
"Ais, kami tidak bisa lama, pesawat Wardah sudah menunggu. Dia senggaja minta izin pada ibunya untuk bertemu Alif yang terakhir kalinya. Dia akan dibawa ibunya ke Timur Tengah, sebenarnya aku khawatir akan nasib Wardah di sana. Entah apa yang akan dialami olehnya. Tetapi ibunya tidak mengizinkan aku untuk mengurusnya." Bu Wati nampak bersedih, gadis kecil yang sudah dia anggap seperti ponakannya sendiri akan pergi jauh meninggalkannya. Entah mereka akan bertemu atau tidak dikemudian hari.
"Ayo kita ke kamar Alif." Ais mengajak Wardah ikut bersamanya.
Ais dan bu Wati terkekeh mendengar jawaban polos Wardah kecil.
"Itu benar, Sayang tapi ketentuan itu mulai berlaku saat kamu sudah aqil baligh. Sekarang belum berlaku untukmu maupun Alif. Yuk ikut Umi!" Ais mengajak Wardah untuk menemui putranya.
Mereka berjalan menuju kamar Alif. Saat itulah Ais melihat sang ayah yang duduk termenung di tepi ranjang sambil memeluk guling yang sering dipakai oleh mendiang ibunya. Namun karena ia harus menemani Wardah ia mengurungkan niatnya untuk menemui sang ayah.
*****
"Kita sudah sampai, yuk masuk!" Ais membuka pintu tampak putranya sedang tertidur lelap.
"Biarkan Alif tidur, Um. Nggak usah dibangunin. Aku udah lega bisa lihat wajah Alif. Aku tidak tahu apakah kami akan bertemu lagi nanti. Kalaupun nanti suatu saat kami bertemu entah Alif akan mengenalku atau tidak." Wardah tersenyum meski hatinya merasa sedih. Ia sangat menyukai Alif yang tampan dan baik hati. Meski rasa suka yang ia miliki bukan perasaan suka layaknya orang dewasa.
"Baikkah jika itu maumu." Ais tersenyum pada gadis kecil yang ada dihadapannya.
"Apa aku boleh minta difotoin sama Alif yang lagi bobok?" tanya Wardah tanpa beban.
"Oke, gih kamu duduk sana!" Ais meminta Wardah untuk duduk di samping Alif yang sedang tertidur.
Cekrekkk!
__ADS_1
"Oke selesai, sekarang foto pake ponsel Umi ya. Ais mengambil ponselnya dan mengabadikan momen yang akan menjadi kenangan terindah buat buah hatinya dan juga sahabat masa keciknya itu.
"Um, aku pamit ya. Semoga Allah selalu melindungi keluarga umi, aku sangat menyayangimu, Um. Andaikan aku anakmu betapa bahagia dan beruntungnya aku." Wardah memeluk Ais hangat.
"Aamiin, semoga Allah juga melindungi dimanapun kamu berada nanti. Umi juga menyayangimu. Jadilah anak yang shalihah, do'akan selalu ibumu agar ia menjadi ibu yang baik buatmu. Kamu harus selalu bersyukur masih punya ibu, tanpa dirinya kamu tidak akan ada. Makanya sayangilah ibumu sampai akhir hayatmu meski ia belum menyayangimu sepenuh hatinya." Ais merengkuh tubuh mungil Wardah yang telah berpikir dewasa, meski itu belum seharusnya untuk gadia kecil yang baru tujuh tahun.
Setelah berpamitan Wardah pergi bersama bu Wati meninggalkan kediaman Ais, meninggalkan semua kenangan indah yang dimilikinya menuju tempat asing yang entah akan berpihak padanya atau malah membuatnya menderita bahkan lenyap tak bersisa.
*****
Seperninggalan Wardah, Ais segera menghampiri sang ayah yang masih termenung.
"Pak!" Ais mendekat dan duduk di samping sang ayah.
"Bapak kenapa?" Ais meraih jemari sang ayah. Karena saat ini suaminya terpaksa pergi ke kantor karena ada hal penting yang harus dikerjakan. Hal ini membuat Ais menyibukkan diri untuk tidak larut dalam kesedihan yang lama.
Abdullah tersenyum hambar dan menatap mata teduh sang anak yang mirip dengan mendiang istrinya, Aminah. Yah Ais mewarisi mata teduh yang bening milik sang ibu dengan alis tebal dari sang ayah.
"Tadi kakakmu Ari dan Ali kemari. Mereka mengajak bapak untuk tinggal bersama salah satu diantara mereka." Abdullah menunduk dan menghela nafasnya yang terasa berat.
"Lalu ... apa bapak mau?" tanya Ais penasaran.
"Bapak belum memberi jawaban." Tatapan Abdullah menerawang kosong kelangit-langit kamarnya.
"Ais tidak melarang bapak mau kemana jika memang itu pilihan bapak. Namun jika Ais boleh egois maka Ais akan meminta bapak untuk tetap disini." Ais berbaring manja di pundak sang ayah.
Abdullah membelai lembut kepala putrinya, ia sangat menyayangi semua anaknya. Hal ini membuatnya bingung. Apakah akan tetap tinggal bersama Ais atau akan memilih tinggal pada salah satu anaknya yang lain.
Menurut kalian apa keputusan yang harus diambil oleh Abdullah? Tulis dikomen kalian ya!
Bersambung.....🌻
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik. ini adalah daftar novel favoritku, kalian boleh coba untuk mampir pasti suka.
Ini juga daftar novel favorit yang sudah aku baca, kalian boleh intip juga mana tahu suka.
__ADS_1