
🌻Assalamualaikum readers lover semua, terimakasih sudah membuka chapter ini , jangan lupa like dan komennya karena itu akan membuatku semakin semangat untuk terus menulis. Semoga kalian selalu sehat dan murah rezekinya, aamiin.🌻
Selamat Membaca!
Rumah Sakit ....
"Innalillahi wainnalillahi rojiun," ucap Ais lirih sambil terisak.
Ais tak lagi dapat berkata-kata, hanya air mata saja yang terus menetes perlahan di kedua pipinya yang mulus. Ibunya kini benar-benar telah pergi untuk selama-lamanya. Dia tidak lagi merasakan sakit, ia telah tenang kembali kepangkuan sang illahi. Dzat yang maha memiliki segalanya termasuk jiwa kita sebagai makhluknya.
Rombongan dokter segera datang untuk memeriksa Aminah yang masih dalam dekapan Ais.
"Biarkan kami memeriksa bu Aminah." Dokter Irul meminta izin pada Ais.
Ais melepaskan dekapannya, perlahan dia membaringkan sang ibu kembali ke tempat tidurnya.
Dengan sigam tim medis memeriksa keadaan Aminah, sampai semua secara detil mereka periksa takut ada yang terlewati.
"Maaf, bu Ais. Sepertinya bu Aminah memang sudah plus." Dokter Irul menatap Ais yang mengangguk lemah, bekas linangan air matanya masih belum mengering.
Bersamaan dengan itu pintu kamar berdecit. Masuklah rombongan Ara dan yang lainnya termasuk Abdullah.
Melihat dokter yang sedang melepaskan alat-alat medis yang melekat di tubuh Aminah, membuat Abdullah bersuara.
"Kenapa semuanya di lepas, Dok? Apa istri saya sudah sehat?" Abdullah tampak gusar.
Ais berangkat dan mendekati sang ayah.
"Bapak harus kuat dan sabar ya, ibu sudah berpulang barusan." Ais memberanikan diri untuk memberitahu keadaan yang sebenarnya pada sang ayah.
"Innalillahi wainnalillahi rojiun." Abdullah langsung terduduk di lantai sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya berguncang, nampak sangat kalau ia benar-benar terpukul atas kepergian sang istri.
__ADS_1
Barang-barang yang di bawa oleh Ara terlepas ke lantai, mulutnya terbuka lebar seolah tak percaya apa yang barusan dia dengar, linangan air mata mengalir deras dari sudut matanya. Sedangkan Ani dan Anis sudah tergeletak tak sadarkan diri sehingga membutuhkan perawatan medis.
Suasan tampak mencekam, semua menangis dan larut dalam pikirannya masing-masing. Alif yang berdiri mematung di depan pintu perlahan mendekati jenazah sang nenek.
"Nenek! Bangunlah Babang sudah pulang dan sangat merindukan nenek! Kenapa nenek tidak bangun? Apa nenek sudah tak sayang Babang?" isak Alif mulai terdengar. Ia sudah sangat faham Kalau neneknya sudah tak ada lagi di dunia ini.
Semua terisak, suasana menjadi sangat mencekam. Setelah semua peralatan medis selesai dilepaskan, dokter segera menghampri keluarga Ais.
"Bu Ais, Bagaimana? Apa jenazah akan segera di bawa pulang atau mau kami mandikan di sini?" Dokter Irul menatap Ais karena hanya dirirnya yang saat ini bisa di ajak untuk berkomunukasi.
"Kami akan segera membawa ibu untuk pulang, Dok." Ais membalas ucapan sang dokter yang tersenyum tipis karena menghargai perasaan kekuarga yang sedang berduka.
"Baiklah sekarang ibu ikut saya untuk mengurus semua administrasinya, berikut surat keterangan kematian, mana tahu suatu saat nanti akan kalian butuhkan. Jangan lupa juga sesudahnya buat juga akte kematiannya." Dokter Irul menjelaskan pada Ais.
Ais hanya mengangguk sambil mengikuti langkah dokter Irul keluar kamar sang ibu. Sementara Rey mengendong Alif yang masih menangis karena merasa sangat kehilangan sosok nenek yang sangat menyayanginya.
Adik dan kakak Ais semuanya menangis begitu juga dengan Any dan Anis yang masih dalam perawatan karena mengalami shock yang berat karena mental atau bantinnya tidak siap menerima kepergian sang ibu.
Ari dan Ali tak mengeluarkan sepatah katapun. Hanya air mata yang terus mengalir. Mereka semua merasa sangat menyesal tidak mengurusi ibu dan bapak mereka dengan kayak. Selalu tidak ada di saat mereka membutuhkannya.
Semua sudah siap kini, jenazah ibu dibawa menggunakan mobil ambulance dari rumah sakit Cinta Bunda. Ari dan Ali ikut didalamnya, sedangkan yang lain ikut mobil Ais dan mobil jemputan yang sengaja dikirim untuk membawa mereka tentu saja itu juga disiapkan oleh Rey, suami sang adik.
Iringan mobil jenazah telah berangkat menuju rumah duka di Kelapa Gading. Mobil yang Ais dan suaminya tumpangi ikut dibelakangnya, sepanjang jalan Ais tampak merenung, dan sesekali air matanya turun membasahi pipinya yang terlihat sedikit tirus karena makan dan istirahat yang kurang selama menunggui ibu di rumah sakit.
*Ibu ... selama ini kita hanya melihat dan mendengar sirene ambulance yang lewat, oh itu orang sakit atau oh orang meninggal. Sekarang kita yang berada didalamnya, sungguh sangat sesak rasanya. Yaa Robb ampunilah segala dosa-dosa ibuku, terimalah semua amal ibadahnya. Tempatkanlah ibuku di jannah-Mu, batin Ais sedih.*
Kini mereka sudah sampai di rumah duka, sudah banyak teman dan tetangga yang berkumpul untuk menyambut jenazah seorang wanita yang mulia, dia adalah ibu. Wanita yang layak mendapat penghormatan karena perngorbannya pada suami dan anak-anaknya. Dari mulai keikhlasan untuk hidup bersama lelaki asing yang menjadi suaminya, kemudian bertaruh nyawa melahirkan buah cinta mereka, menyusui dan merawat dengan penuh kasih sayang hingga semuanya tumbuh dewasa.
Air mata tak henti mengiringi kepergian sang ibu. Kini jenazah Aminah telah siap untuk dimandikan. Ketujuh anaknya bersiap memandikan sang ibu, kesempatan yang sangat dinantikan untuk bisa memandikan sang ibu untuk terakhir kalinya.
Tampak keikhlasan dan kepasrahan di mata seorang Abdullah, ia harus merelakan sang kekasih tercinta yang telah puluhan tahun menemaninya kini pergi menghadap kekasih sejatinya.
__ADS_1
Dengan sabar ia juga ikut memandikan sang istri dan ucapnnya membuat semua menangis haru.
"Yaa Robb, wajah ini yang selalu tersenyum untukku dan anak-anak meski kami dalam kesusahan, wajah ini pula yang tak pernah lepas dari wudu juga senang saat berjumpa Dengan-Mu dalam salatnya, jadikanlah wajah ini bercahaya seperti wajah-wajah para syuhada-Mu." Saat anak-ananya membasuh wajah sang istri.
"Yaa Rabb, tangan ini yang selalu setia memasak dan mengurusi aku dan anak-anak selama puluhan tahun, dan tangan ini pula yang selalu sedekah meski hanya dengan segelas air, jadikan tangan ini untuk menerima kitab amal dikanannya," ucap Abdullah saat anak-anaknya membasuh tangan sang istri.
"Yaa Robb perut wanita ini yang telah mengandung buah cinta kami selama sembilan bulan dan melahirkannya dengan taruhan nyawa, dia juga telah menjaga kehormatannya terhadap sesuatu yang dilarang jadikanlah semua usaha dan keikhlasannya ladang pahala untuknya." Abdullah kembali berucap saat anak-anaknya membasuh perut serta bagian intim istrinya.
Kini sampailah untuk membersihkan bagian kaki dan Abdullah masih terus berucap.
"Kaki inilah yang rela berjalan puluhan kilo dikala kami susah untuk membantuku mencari nafkah, mengantar anak-anaku sekolah, kaki yang kuat membawa mujahid mujahidahku menuju masjid demi bisa membaca kitab suci-Mu. Jadikankah setiap langkah dan tetesan keringatnya amal ibadah yang akan membawanya bertemu dengan-Mu wahai Robb semesta alam."
Semua yang mendengar penuturan Abdullah meneteskan air mata haru. Ia begitu sabar dan ikhlas melepas sang kekasih, dan mendo'akan setiap inci tubuh sang istri agar bisa kembali dalam keadaan suci sesuci ketika dilahirkan.
Selesai sudah prosesi memandikan Aminah, kini jenazah sudah dikafani. Aminah tampak sangat cantik dalam balutan kain yang serba putih, tampak seulas senyum tersemat dibibirnya yang tercipta menjelang akhir hayatnya.
Ratusan orang mengantarkannya menuju keperistirahatan terakhirnya. Mega duka masih menyelimuti meski hati berusaha ikhlas untuk melepaskan.
"Selamat jalan ibu, inshaa Allah jannah yang indah telah menantimu. Biarpun engkau telah pergi meninggalkan kami semua kenanganmu akan tersimpan rapi di sanubari." Ais meletakkan bunga mawar merah dan bunga melati di pusara sang ibu.
Jika ada anak-anak yang berhasil itu tak lepas dari peran serta orang tua. Tanpa mereka kita tidak akan ada, sayangilah orang tua kita selagi mereka masih ada. Bahagiakan lah mereka dengan amal ibadah keshalihanmu jika mereka telah tiada. We love you my parent's.
Bersambung.....🌻
Terimakasih sudah membaca!
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novel ku Nyanyian Takdir Aisyah.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik. ini adalah daftar novel favoritku, kalian boleh coba untuk mampir pasti suka.
__ADS_1
Ini juga daftar novel favorit yang sudah aku baca, kalian boleh intip juga mana tahu suka.