
🌻Terimakasih sudah membuka chapter ini, jangan lupa tinggalkan jejakmu, semoga kamu sehat dan bahagia selalu.🌻
Selamat Membaca!
*****
Di dalam kamar Rey dan Ais ....
"Iya, Yang. Terimakasih banyak sudah mendengar keluah kesahku, aku merasa sangat beruntung." Mendongakkan kepalanya. Lalu Aispun melanjutkan ucapannya."Mempunyai suami yang sangat pengertian seperti dirimu." memeluk erat suaminya.
Keduanya saling berpelukan dan saling menguatkan satu sama lain. Memang seharusnya begitulah yang harus di pahami oleh pasangan suami istri. Saling menasihati dan saling mengisi, menjadi partner dalam segala hal. Bukan untuk saling mencari kelemahan masing-masing yang akan menimbulkan riak. Jika bisa demikian barulah biduk rumah tangga dapat berjalan seirama, terus melaju sampai di labuhan terakhir.
*****
Lantunan suara azan zuhur sudah berkumandang. Membawa kesadaran untuk semua insan yang sedang terlelap dalam nikmatnya tidur siang. Begitu juga dengan Ais dan Rey. Setelah mencurahkan kegelisahan hatinya, kini Ais dapat tidur dengan nyenyak.
"Ayang ... ayo bangun! Sudah masuk waktu zuhur ini." Menepuk lembut pipi istrinya.
"Hemmm." Ais menyahut sekenanya sambil menggeliatkan tubuhnya, yang membuat Rey gemas. Perlahan diciumnya bibir munggil istrinya itu.
Merasa bibirnya ada yang menyentuh, Ais segera membuka matanya. Ia melotot menatap manik hitam suaminya yang berbinar. Karena ia tidak bisa berbicara. Tangan Ais menepuk nepuk dada suaminya, sebagai tanda agar Rey mau menjauhkan bibirnya yang menempel pada bibir Ais.
Melihat istrinya seperti kesusahan bernafas, Rey segera menjauh dari bibir istrinya." Kenapa?"
"Ayang. Kamu nakal ya, aku sampai nggak bisa nafas." Mendengus kesal.
"Ha ... ha ...." Rey tertawa renyah, melihat wajah istrinya yang sudah bersemu merah karena perpaduan rasa marah dan malu.
"Habisnya kamu susah di bangunin, ini kan sudah masuk waktu zuhur. Ayo kita segera ke mushala." Merapikan pakaian istrinya.
"Maaf, soalnya baru merasa enakan tidurnya. Berasa plong setelah menceritakan masalah yang aku rasakan," ucap Ais manja.
Keduanya segera berwudu. Setelah itu baru memakai perlengkapan salat mereka, dan bergegas menuju mushala. Sampai di sana, semua sudah berkumpul untuk salat berjamaah. Merekapun memulai salat zuhur.
*****
Setelah selesai salat, mereka semua menuju keruang makan. Di meja telah terhidang aneka makanan tradisional sebagai menu makan siang mereka yang menggugah selera. Hal ini sengaja di buat atas permintaan Reza. Karena setelah makan siang, mereka akan bertolak ke Belanda.
Melihat hidangan makan siang hari ini, semua makan dengan lahap. Hampir semua hidangan ludes tak bersisa. Bagaimanapun makan bersama jauh lebih nikmat dibandingkan dengan makan sendiri atau berdua saja, meski dengan lauk pauk rumahan.
Bahkan Abdullah dan Aminah, hampir meneteskan air mata. Ekspresi kebahagiaan tampak jelas terlihat di wajah mereka yang mulai sepuh. Pemandangan di meja makan kali ini, benar-benar membuat mereka merindukan kampung halamannya.
"Alhamdulillah, akhirnya kita semua bisa bernostalgia melalui makanan hari ini," ucap Abdullah tersenyum senang.
"Iya, Ayah. Benar-benar membuat ibu merindukan kampung halaman."
"Ini semua karena Reza," ucap Rey sambil memandang kearah Reza.
"Kok gue sih, Rey. Bukannya kamu yang minta bibi dapur untuk memasaknya?"
"Iya, kamu benar. Tetapi ini semua untuk menjamu dirimu yang akan bertolak ke Belanda. Semua ini untuk membuatmu selalu ingat kami semua, dan juga tanah kelahiranmu."
"Ehmm, loe membuat gue terharu Rey. Jadi pengen nangis," seloroh Reza yang membuat semua tertawa.
"Dunia ini akan runtuh, jika seorang Reza menangis. Masa bos Mafia, cengeng?" celetuk Nara, istrinya.
__ADS_1
Gelak tawa kembali memenuhi ruang makan, yang akan menjadi kenangan terindah bagi Reza dan Nara. Saat mereka sudah meninggalkan Indonesia.
*****
Persiapan ke bandara sudah beres. Kali ini Reza dan Nara meminta do'a restu dari semuanya, agar perjalanan mereka lancar, bisa sampai dengan selamat di tempat tujuan.
Setelah berpamitan Reza, Nara, dan juga Burhan sudah duduk manis di dalam mobil. Hanya menunggu sopir onlinenya melaju saja. Namun hampir sepuluh menit menunggu si sopir belum juga muncul, yang membuat Reza menggeliat seperti cacing kepanasan.
Perlahan Reza menurunkan kaca mobilnya. Dia melongokan kepalanya keluar jendela. "Reyyyyy." Reza berteriak. "Loe jadi nganterin kita, nggak?"
Mendengar teriakan Reza membuat seorang Rey berjalan tergesa keluar." Loe kenapa nggak sabaran sih, Za?" ucap Rey sambil membopong kedua putrinya.
"Loe nggak lihat, kalau gue lagi rempong kayak gini?"
"Maaf, kira in loe lagi sama Ais." Menahan tawanya.
"Ya, nih sama Ais kecil." Mencium kedua putrinya.
"Apa mereka juga mau di bawa?" Reza membuka pintu, untuk membantu Rey menggendong salah satu putrinya.
"Ya nggak lah, cuma tadi bi Ijah lagi di kamar mandi, Ais juga lagi ganti pakaian. Jadi keduanya nggak ada yang jaga in." Memberikan Aza pada Reza.
"Apa anak gadismu ini bisa gue bawa satu? Pinjem buat pancingan, kata orang tua dulu." Mencium Aza gemes.
"Nggak boleh lah, masa loe tega misahain mereka dari emaknya?"
"Habisnya Aza menggemaskan, sama seperti Ara." Memeluk erat balita munggil dalam. gendongannya.
Sedang berbincang tentang Aza dan Ara, muncul lah Ais bersama Alif kecil yang semakin tampan dalam balutan baju kemeja kotak-kotak dan celana katun hitam senada dengan bajunya.
"Maaf ya, kalian lama nunggunya. Nih anak shalih kesayangan kita mau ikut katanya."
"Iya, nggak apa-apa kok. Yuk sayang masuk sini, duduk dekat tante Nara." ajak Nara pada Alif.
Ayah dan ibu Ais sudah mengambil alih Aza serta Nara. kini Rey dan rombongan sudah siap berangkat. Reza dan Nara melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Entah kapan lagi ketiganya akan kembali ke Indonesia.
*****
Mobil Rey telah melaju santai menuju ke bandara. Di sepanjang perjalanan tampak Alif sangat manja pada Reza. Seolah sudah terjalin ikatan batin antara keduanya. Sesekali terdengar renggekan putranya yang meminta Reza untuk tidak melupaknnya. Seolah ada bagian hati Ais yang tersobek. Dia sudah merasakan pedihnya perpisahan dengan orang-orang tersayang.
"Diberitahukan kepada seluruh penumpang pesawat dengan nomor penerbangan GA 1278 tujuan Belanda segera cek in karena pesawat akan segera diberangkatkan." ucap suara dari ruang informasi.
Dengan segera Rey membantu Reza untuk membawa barang-barangnya. Mereka pun saling berjabatan tangan dan pelukan, untuk melepas kepergian sahabat yang sudah berasa saudara.
Saat Reza, Nara, dan Burhan melambaikan tangan sebelum benar-benar memasuki pesawat yang akan membawa mereka, linangan air mata putra kesayangan mereka tak bisa di bendung.
"Pa-pa ... jangan lupakan Alif." teriaknya dengan sekuat tenaganya.
Rey menghapus buliran bening yang masih saja menetes, di kedua pipi putranya yang cubby.
"Jangan sedih, Sayang. Papa Reza pasti akan kembali lagi suatu saat nanti." Ais menenangkan putranya.
Kini perlahan pesawat yang membawa keluarga baru Reza mulai tinggal landas. Semakin meninggi dan menghilang dari pandangan. Dalam hatinya Ais pun berdo'a.
*Semoga Allah melindungi kalian semua, dimana pun berada. Selamat sampai di tempat tujuan, aamiin.*
Keluarga Ais pun mulai bergerak meninggalkan bandara. Alif sudah tertidur dalam pelukan Ais. Masih tampak jelas sisa-sisa air mata yang mengering di sudut matanya. Belaian lembut tangan Ais, semakin membuatnya terlelap lebih jauh ke alam bawah sadarnya.
"Apa putra kita tertidur?"
"Hmm, kasian dia." Melirik suaminya.
"Iya, dia sudah sangat dekat dengan Reza. Sejak peristiwa penculikkan kalian dulu, dia sudah merasakan kalau Reza sebenarnya orang yang baik."
"Hmmm." jawab Ais singkat.
"Ayang. Apa benar kamu tidak punya perasaan pada Reza?" Melirik istrinya.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
__ADS_1
"Ah-ehmm tidak apa-apa, Yang. Hanya ingin tahu saja." jawab Rey gugup, dan merasa bersalah.
"Apa Ayang meragukan ketulusan cintaku selama ini?" tanya Ais menyimpan sedihnya.
"Maaf, Yang." Hanya itu yang dapat Rey katakan.
"Setelah sekian lama kita bersama, kenapa baru sekarang kamu menanyakannya?"
"Sudah, nggak usah di jawab. Nggak usah di perpanjang. Aku tidak punya maksud apa-apa kok." Menatap lurus kedepan.
"Aku bukan seperti wanita diluaran sana. Sekali aku berjanji maka aku akan berusaha menepatinya. Kamu tahu, Yang. Saat dulu kau memintaku untuk menjaga hati ini untukmu, maka sejak saat itu lah perasaanku mulai tumbuh. Dalam hatiku hanya ada dirimu, dan tidak pernah ku tempatkan rasa sedikit pun untuk lelaki lain." jelas Ais pada suaminya.
Mendengar perkataan istrinya, Rey segera menepikan mobil. Diraihnya jemari Ais. "Ayang ... maafkan lah aku, bukan maksud hati meragukan ketulusan cintamu, aku hanya iseng menanyakan itu. Karena kamu dan Reza sudah sahabatan sejak SMP. Sekali lagi, maafkanlah aku." Mencium pucuk jemari istrinya.
"Jangan pernah lagi menanyakan hal seperti ini, Ayang. Aku akan mencintaimu dunia dan akhirat." Membalas genggaman suaminya.
Cinta sejati tidak berakhir dengan kematian. Jika Allah swt menghendaki, cinta itu akan berlanjut sampai ke surga. by. Anonim
Kebahagian rumah tangga tercipta karena adanya saling keterbukaan dan kepercayaan di antara satu sama lain. Saling memaafkan akan memperindah kasih sayang diantara jalinan kasih.
Bersambung.....
Terimakasih sudah membaca.
Sambil menunggu novelku yang ini terbit, baca juga yuk novelku Cinta Bersemi Diujung Musim.
Dan Novel Author lain yang tak kalah menarik.
Fit Tree Fitri.
Arsitek Cantik. Cinta Untuk Dokter Nisa.
Mengejar Cinta Ariel
Tabib Cantik Bulan Purnama
*Ergina Putri
Melawan Rasa Takutku
Putri Asisten Pribadiku
* Putri Tanjung
OB Kerudung Biru
*Envy Yo Wesben.
My Princess OG.
* Karlina Sulaiman
Mencintaimu dalam Diam
Kembali
*WIB (Write in Box)
Ya Dia Istriku
*Khauma
I Love My Army Wife
*Syala Yaya
Istri Kedua Tuan Krisna
*Laura V
Sang Penggoda
__ADS_1
*Bintun Arief
Terjebak Cinta Brondong