
Happy Reading🤗🤗🤗
Like.
Vote.
Gift.
Serkhan berjalan kesana kemari dengan perasaan gelisah didepan sebuah pintu yang tertutup sejak satu jam yang lalu kini belum terbuka sama sekali.
Dirinya berharap sang istri baik-baik saja serta kedua calon buah hati mereka, bila sampai terjadi sesuatu pada salah satu diantara mereka, dirinya sungguh merasa tidak becus dalam menjaga keluarga kecilnya.
Ceklek.
Pintu terbuka dan keluarlah seseorang dari dalam ruangan tersebut.
"Dokter, gimana keadaan istri saya?"...
Tanya Serkhan dengan bahasa Turki.
Dokter paruh baya tersebut menundukkan kepalanya pelan dan tersenyum tipis.
"Nyonya muda dan kandungannya baik-baik saja Tuan muda, kami berhasil menghentikan pendarahan tersebut namun saya sarankan agar Nyonya muda bedrest selama sebulan penuh untuk memulihkan kembali kondisi beliau agar bisa kembali seperti semula dan saya mohon selama Nyonya muda mengandung saya sarankan untuk berbicara dengan nada rendah agar fikiran Nyonya tidak terganggu dan mengakibatkan hilanganya kesadaran itu sangat beresiko tinggi nantinya bagi ketiganya"...
Jelas dokter dengan panjang lebar.
Degh.
Serkhan mematung seketika membuat dirinya terdiam ditempat, tidak...dirinya tidak akan kecolongan lagi dan sepertinya mulai sekarang dia harus menjaga dengan kedua tangannya apalagi menurut informasi sang istri tadi sempat bertemu dengan mantan istrinya dan itu membuat dirinya merasa takut bila sang istri akan dilukai oleh wanita masa lalunya.
"Baik dokter, lakukan yang terbaik untuk istri dan kedua calon anak kami"...
Ucapnya dengan tulus.
"Bolehkah saya melihat keadaan mereka?"...
Pinta Serkhan.
"Bersabarlah Tuan muda, sebentar lagi Nyonya muda akan kami bawa keruang inap"...
__ADS_1
Ucapnya sambil membungkukkan badannya sedikit dan Serkhan menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian suara roda terdengar dan keluarlah seorang yang sangat dikenalinya dan masih dalam keadaan tak sadarkan diri.
Brangkas tersebut didorong perlahan oleh para suster dan Dokter tersebut berpamitan kepada orang yang dikenalnya itu.
Serkhan segera mengikuti brangkas yang membawa tubuh sang istri dan dibelakangnya diikuti oleh Maria yang sedikit lega mendengar penuturan sang dokter tadi.
Beberapa saat kemudian mereka telah tiba di sebuah ruang inap yang sangat nyaman sebab Serkhan meminta ruangan tersebut demi kenyamanan sang istri.
Maria segera pulang setelah Tuan mudanya menyuruh untuknya pulang serta kembali nanti setelah sang istri sudah sadar dan kini Serkhan sendiri menemani sang istri yang masih terbaring lemah diatas tempat tidur dengan mata yang masih tertutup.
"Maafin mas yang, maaf...maafkan daddy nak, dad akan berusaha lagi untuk menjaga kalian hingga kalian bisa lahir kedunia ini dan melihat betapa cantiknya mommy kalian"...
Lirihnya sambil mengelus lembut perut sang istri yang sudah membuncit dengan mata berkaca-kaca.
"Cepat bangun yang, maafin mas maaf"...
Ucapnya dengan pelan sambil tangannya mengelus lembut pipi chuby sang istri dan setetes air mata jatuh membuat Serkhan mengusap dengan pelan air yang membasahi pipinya.
Serkhan menghela nafas dengan kasar lalu memandangi sang bidadari yang masih setia memejamkan mata.
Bisiknya dalam hati dengan amarah tertahan sambil sebelah tangannya mengepal sempurna.
Kini pandangannya kembali menyendu saat mata tajamnya menatap wjah pucat sang istri yang masih terpejam, dihembuskan nafas dengan pelan.
"Cepat bangun cintaku"...
Gumamnya sambil menidurkan kepalanya ditepian ranjang tepat disamping perut buncit sang istri.
Sedangkan di Negara lain, sepasang paruh baya sedang menahan amarah karena mendapatkan laporan dari seseorang yang menjaga menantu kesayangannya dan calon kedua cucunya, ya mereka adalah Sulthan dan Hanna yang sednag berada di Negara A karena ada acara penting.
"Ba, apakah tidak bisa kita pulang hari ini, Anne sungguh ingin melihat keadaan menantu kita, tau begini Anne nggak akan ikut Baba kemari"...
Ucapnya sedikit kesal.
"Iya, sore nanti kita pulang honey, tenangkanlah dirimu hon, bukankah maria bilang mereka baik-baik saja"...
Ucap lembut sang suami sambil mengelus punggung wanita yang dicintainya itu.
__ADS_1
"Iya tapi tetap aja Anne merasa khawatir sama menantu dan kedua calon cucu kita ba, ini semua karena wanita kurang ajar itu, sepertinya Anne harus ikut turun tangan ba"...
Anne merasa sangat marah kepada mantan menantunya itu, dirinya tidak habis fikir kenapa sesama wanita bisa saling menyakiti seperti itu.
Ya...Anne sudah melihat rekaman CCTV bahwa kejadian itu memang disengaja ingin membuat menantunya shock apalagi bayi yang dikandung Nessa kembar walaupun kuat namun harus tetap berhati-hati apalagi ingatan menantunya belum pulih.
"Mau hubungi siapa hon?"...
Tanya Baba saat melihat sang istri mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas yang bernilai fantastis itu.
"Mau telfon mantan besan"...
Cetusnya sambil tetap menyalakan ponselnya.
"Sebaiknya jangan dulu hon, lebih baik nanti saja kalau kita sudah tiba disana, apa kamu belum bisa memaafkan Denia?"...
Cegah Baba lalu menanyakan hal yang sejak dulu ingin diucapkannya.
Helena terpaku saat mendengar ucapan sang suami, sejujurnya dari lubuk hati yang terdalam dirinya sangat merindukan sosok Denia, sahabat sekaligus saudara bagi dirinya yang anak tunggal, namun entah mengapa sangat sulit menerima permintaan maaf dari Denia karena tingkah putrinya saat itu dan ini ditambah lagi dengan mencelakai menantu kesayangannya walau tidak dengan kekerasan namun ini adalah unsur kesengajaan.
"Entahlah ba, Anne rindu sangat rindu namun anne belum bisa menerimanya kembali, apalagi sekarang putrinya berniat jahat kepada menantu dan calon kedua cucu kita"...
Lirihnya sambil kedua mata yang berkaca-kaca.
Sulthan langsung merengkuh tubuh sang istri dan kini malah bergetar karena menangis, dirinya sangat paham jika sampai sekarang sang istri memendam kerinduan terhadap sahabatnya itu apa lagi akhir-akhir ini istrinya mendapat kabar bahwa mantan besannya itu sering keluar masuk rumah sakit.
"Cobalah berdamai sama hati mu, heum... baba yakin Denia pun merasakan hal yang sama karena kuatnya persahabatan kalian dulu, soal feli bicarakan baik-baik kepada Delia jangan langsung menyalahkannya seperti itu, heum"...
Ucap Sulthan dengan lembut sambil membelai hangat punggung sang istri yang masih terisak lirih dan tak lama kemudian dirinya merasakan anggukan dari istri tercintanya membuat dirinya mengukir senyum lantas memberi kecupan dipucuk kepala sang istri.
Karena pada dasarnya mereka sama-sama saling tersiksa menahan rindu yang sudah bertahun-tahun tidak lagi bisa bersapa ria hanya karena masalah rumah tangga anak mereka, Sulthan berharap sang istri dan mantan besannya itu dapat akur seperti dulu lagi apalagi semenjak kejadian itu sang istri sering terlihat murung.
Selamat pagi para Readers...
Othor doakan semoga pagi ini kalian semua sehat semua dan bisa berbagi jempol dan hadiah buat othorðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Like.Vote.Gift
😘😘😘
__ADS_1