
Happy Readingπ€π€π€
Like, vote, giftπππ
Ceklek.
Serkhan membuka pintu ruang kerjanya, membuat kedua orang yang telah menunggunya mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
"Maaf menunggu terlalu lama"...
Ucapnya dan langsung mendudukkan tubuhnya di sofa sebrang dimana baron dan dedi duduk.
"Tidak apa-apa Tuan"...
Jawabnya sambil tersenyum tipis.
"Langsung saja, saya tak ingin berbasa-basi, saya tak akan melaporkan anda berdua ke kantor polisi saat ini terlepas dari kalian yang telah menculik calon istri saya, namun semua keputusan ada di tangan calon istri saya jika nanti ingatannya kembali"...
Ucapnya tegas.
Sedangkan mereka berdua hanya pasrah akan nasib kedepannya.
"Untuk saat ini, saya akan memberikan kalian pekerjaan, anggap saja ini sebagai balasan karena kalian menghabiskan uang untuk berobat calon istri saya"...
"Kalo boleh tau pekerjaan apa tuan?"...
Tanya baron.
"Cukup kalian menjaga calon mertua saya, karena setelah kami besok menikah, saya akan membawanya keluar negeri untuk melakukan pengobatan"...
Ucapnya tegas dan penuh dengan aura kepemimpinan.
Mereka berdua lantas saling memandang dan akhirnya dedi menganggukkan pelan kepalanya.
"Baik Tuan, kami akan menerima pekerjaan ini, hitung-hitung untuk membalas perbuatan kami dengan menjaga calon mertua tuan"...
Jawabnya dengan tegas.
Serkhan seketika tersenyum tipis mendengar jawaban dari baron, ya terlepas bahwa mereka berdua yang telah membuat calon istrinya hingga seperti ini, namun dia juga salut akan tanggung jawabnya dengan merawat nessa serta menghabiskan uangnya agar nessa dapat keluar dari rumah sakit walau dalam keadaan tak sempurna.
"Ya sudah, kalian boleh kembali ke apartemen, atau kalo masih mau disini juga nggak papa nanti saya akan suruh pelayan untuk menyiapkan kamar buat kalian beristirahat"...
Setelah mengatakan hal itu, serkhan lantas bangkit dari duduknya dan menuju ke meja kerja.
"Suruh pelayan nyiapin satu kamar tamu lagi"...
Perintahnya saat dirinya memegang gagang telfon yang tengah terhubung ke diko.
"Keluarlah, temui diko...nanti dia akan menunjukkan dimana kamarnya"...
Ucapnya kepada baron dan juga dedi.
"Terima kasih Tuan muda"...
Ucapnya sambil berdiri dari duduknya dengan sedikit membungkukkan badannya dan mereka langsung meninggalkan ruang kerja serkhan.
Setelah mereka keluar dari ruangannya dan menutup pintu, serkhan langsung mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak nama seseorang.
Tut...tut...tut...
π"Halo Assalamualaikum boy"...
Jawabnya disebrang sana.
__ADS_1
"Waalaikum salam anne, Kapan kalian berangkat anne?"...
Tanya serkhan.
π"Sudah dapat restu belum?"...
Tanya balik anne.
"Sudah anne, mereka setuju jika kami segera menikah"...
Jawabnya dengan sumringah.
π"Alhamdulillah Ya Allah... sayang...saayaanggg... anak kita jadi nikah, ya ampun akhirnya nggak lama lagi kita bakal punya mantu...yaaannggg"...
Teriaknya heboh dan tak menghiraukan jika sambungan telefon masih terhubung.
Serkhan yang mendengar teriakan dari annenya hanya mampu menggelengkan kepalanya dan menjauhkan ponsel sebab suara anne begitu nyaring hingga akhirnya dirinya mengakhiri panggilan telefon itu.
"Mas akan membahagiakan kamu yang, tunggu sebentar lagi kita akan sah menjadi suami istri"...
Gumamnya pelan sambil memandang wajah ayu calon istrinya yang tengah tersenyum manis menatap kamera.
Serkhan lantas beranjak dari duduknya dan langsung berjalan menuju keluar.
Tok...tok...tok...
Serkhan mengetuk pintu kamar dimana calon istrinya berada.
Ceklek.
Serkhan nampak tersenyum malu saat calon bapak mertuanya yang membukakan pintu.
"Nessa bagaimana pak"...
"Masuklah nak"...
Ucap bapak sambil membuka lebar pintu kamarnya.
Serkhan seketika mengembangkan senyum lebarnya dan langsung berjalan meninggalkan bapak yang masih berdiri di samping pintu, sedangkan bapak hanya menggelengkan kepalanya dan sama persis seperti kelakuannya saat masih muda dulu, yang tak rela jika harus berjauhan dari pujaan hatinya.
Diatas ranjang kedua wanita berbeda generasi itu tengah asyik bercerita, lebih tepatnya sang ibu yang sedang menceritakan masalalu mereka, sebab putrinya itu merengek ingin diceritakan sebelum dirinya kehilangan ingatan.
Karena tak kuasa dengan rengekan anaknya akhirnya ibu menceritakan segalanya dan mereka baru mengetahui akan sifat putrinya ini berbeda sebelum anaknya menghilang, jika dulu pembawaannya pendiam dan kalem, sekarang justru kebalikannya ceria, manja dan sangat cerewet.
Namun mereka tetap senang dan berharap keceriaan putrinya itu bukan sebagai topeng belaka untuk menutupi luka hatinya akan ketidak sempurnaannya fisiknya saat ini.
"Yang"...
Panggilnya saat sudah ada didekat kedua wanita itu.
"Eh...mas...sudah urusannya"...
Ucapnya kaget saat mendengar suara calon suaminya.
"Ya sudah, ayo mas antar kembali kekamar, sore nanti kita akan keluar"...
Ajaknya sambil mendudukkan tubuh besarnya di ranjang tepat sebelah nessa sedang berbaring dengan menggunakan paha ibunya sebagai bantalnya.
"Kemana?"...
Tanyanya sambil mengerutkan dahinya.
"Rahasia"...
__ADS_1
Ucapnya lantas dia terkekeh sebab saat ini bibir nessa mengerucut sempurna, jika tak ada calon mertuanya mungkin bibir itu sudah habis dilahap olehnya.
"Pergilah nak istirahat dulu, kan nanti kita bisa bertukar cerita kembali"...
Lirihnya sambil terus mengusap-usap rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Gendong"...
Rengeknya manja sambil merentangkan kedua tangannya ke atas entah itu tepat didepan serkhan atau tidak.
Kedua orang tuanya langsung membulat sempurna kala mendengarkan langsung rengekan manja dari putrinya kepada calon suaminya namun tak ayal mereka lantas terkekeh geli.
Serkhan langsung tersipu malu karena tingkah manja calon istrinya apalagi calon mertuanya terkekeh kecil.
Dengan wajah merona serkhan lantas meletakkan kedua tangannya tepat di lutut serta punggung nessa.
"Serkhan bawa keatas dulu pak, bu"...
Ucapnya sambil tersenyum dan lantas mengangkat tubuh nessa kemudian berlalu meninggalkan kamar kedua mertuanya.
Sedangkan kedua orang tua nessa nampak menganggukkan kepalanya sambil mengulum senyum melihat tingkah sejoli ini.
"Udah yuk, kita juga istirahat..."...
Ajak bapak sambil merebahkan tubuhnya disamping sang istri setelah dirinya menutup pintu kamar yang mereka tempati.
Ibu hanya mengangguk dan langsung mengatur posisi tidurnya dan bersiap untuk mengistirahatkan tubuhnya yang masih lemas itu namun tetap bahagia sebab bisa melihat wajah cantik putrinya yang sekarang lebih ceria.
Kita tinggalkan pasangan paruh baya yang sedang menuju ke alam mimpi, sekarang kita beralih kepasangan yang akan menuju pasangan halal sebentar lagi.
Ting.
Pintu lift terbuka, serkhan melangkahkan kakinya menuju kamar utama dimana kamar tersebut digunakan oleh nessa calon istrinya sebentar lagi.
Sedangkan nessa nampak menyenderkan kepalanya di ceruk leher serkhan dan tak lupa dengan tangan yang melingkar sempurna dileher lelakinya.
Dengan perlahan serkhan menurunkan tubuh mungil nessa setelah mereka sampai dikamar yang luas nan mewah itu.
"Istirahatlah, nanti mas bangunin dan kita akan pergi sore hari"...
Ucapnya sambil mengelus wajah nessa menggunakan ibu jarinya dengan duduk disisi ranjang king size tersebut.
Nessa mengerucutkan bibirnya.
"Tapi nessa belum ngantuk mas"...
Rengeknya manja lalu menggembungkan pipinya.
"Terus maunya apa, hem"...
Ucapnya lirih sambil tersenyum gemas melihat tingkah laku pujaannya itu.
Nessa menggelengkan kepalanya pelan, dirinya juga tak tau akan melakukan hal apa sebab matanya bener-bener tak bisa terlelap disiang itu.
Cup.
Serkhan langsung membungkam bibir seksi itu dengan ciuman, ciuman yang membuatnya candu seakan ingin lagi dan lagi, tapi untungnya dia dapat menahan hasrat yang ada karena tak ingin melakukan hal yang lebih jauh sebelum mereka halal.
LIKE...LIKE...LIKE...PLISS...
MAWAR MANA MAWAR...
π€£π€£π€£
__ADS_1
ππππ