Om Duda, Suamiku

Om Duda, Suamiku
S2 - Lamaran ala duda korea


__ADS_3

Happy Reading🤗🤗🤗


Like.


Vote.


Gift.


Sejak tadi senyum Jo tidak pernah pudar apalagi saat ini ada seorang gadis yang ada disebelahnya walau tatapan gadis itu tak bersahabat kearahnya setidaknya dia senang akhirnya bisa berlama-lama dengan gadis yang membuatnya berdebar ketika jumpa pertama kali.


Ya saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju desa dimana rumah Elly berada, bahkan dirinya tidak sempat mengganti baju hanya melepaskan jas mahalnya ketika berada dijalan dan parahnya dia meninggalkan sang asisten dipinggir jalan sebab Elly marah ketika terbangun tapi tidak langsung pulang kekampung halaman.


"Sudah dong El, kan saya sudah minta maaf, lagian jika tadi saya tetap bawa kamu untuk pergi kedesa mu kan saya belum tahu dimana alamat desa mu berada." Jelasnya lagi.


Elly seketika terkesiap saat menyadari bahwa ini bukan salah pria tersebut, sebab dirinya lah yang bersalah karena tak memberi tahu alamat desanya.


Namun karena gengsi plus malu akhirnya dia mencoba acuh pada pria dewasa yang telah mengambil ciuman pertamanya itu.


"Sudah Tuan fokus saja dengan jalanan, karena saya ingin cepat sampai." Jawabnya dengan ketus namun tak lama dirinya menggigit bibir bawahnya ketika menoleh kearah jendela mobil.


Jo menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal namun dirinya tetap kembali fokus untuk sampai dialamat yang dituju.


Sepanjang perjalanan keduanya nampak hening dan tidak ada obrolan sama sekali hingga saju jam kedepan akhirnya mobil yang dikendarai oleh Jo telah masuk ke desa yang dituju.


Dret...dret...


Elly merogoh ponsel jadul miliknya yang dia simpan di kantung celana bahan miliknya.


"Assalamualaikum bik."


".........."


"Elly sudah hampir tiba bik, iya...terima kasih ya bik."


"..........."


"Waalaikum salam."


Klik.


Sambungan telfon seketika terputus setelah mengucap salam.


Jo menoleh sesaat sambil melajukan mobil dengan pelan.


"Habis ini kearah mana?" Tanya Jo memulai pembicaraan.


"Lurus saja tuan, nanti belok kanan dipersimpangan depan itu." Tunjuk Elly saat melihat gapura kecil tak jauh dari mereka.


Jo mengikuti arah tunjuk Elly seketika dirinya mengangguk pelan.


"Pelan-pelan saja Tuan, karena banyak anak-anak kadang suka lari-lari."

__ADS_1


"Oke."


Tak butuh waktu lama kini mobil mewah berwarna hitam telah berhenti disebuah rumah sederhana milik Elly, bahkan sejak masuk ke desa mobil tersebut telah mencuri perhatian penghuni kampung disitu termasuk tetangga Elly yang kadang julid namun tidak sampai menyakiti hati sang pemilik walau kadar kekepoan mereka sangat tinggi.


"Bisa buka?" Tanya Jo ketika mesin mobil telah dimatikan.


Elly mencebikkan bibirnya lalu memandang kesal kearah Jo.


Klik.


"Bisa." Cetusnya dan melepas seat belt yang melilit tubuh mungilnya lalu membuka pintu mobil dan keluar dari sana meninggalkan Jo yang sedang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Jo lalu mengamati sekitarnya, desa yang asri sungguh terlihat menenangkan hati fikirnya dan tak lama dia membuka pintu mobil lalu keluar dari sana.


"Assalamualaikum." Ucap salam Elly ketika sudah sampai didepan pintu rumahnya.


"Waalaikum salam." Sahutan dari dalam terdengar.


Ceklek.


"Elly." pekik wanita paruhbaya dan langsung memeluk tubuh keponakannya itu.


"Bibik." Elly membalas pelukan sang bibik yang telah menemani ibunya.


"Ibu mana bik?" Tanya Elly.


"Ibu ada didalam, kami juga belum lama datangnya." Beritahu wanita yang bernama Sari itu.


"Itu siapa El?" Tanya sari ketika melihat sosok pria dewasa yang masih tampan sedang bersandar disebuah mobil berwarna hitam.


Elly seketika menepuk dahinya pelan lalu menoleh untuk melihat pria yang mengantarnya.


"Ohhh itu, teman dari Tuan muda Elly bik, tadi tuan itu yang mengantar Elly." ucapnya dengan gugup.


Sari seketika memicingkan matanya menatap curiga pada sang ponakan pasalnya selama ini Elly tidak pernah dekat dengan pemuda manapun kecuali anak dari pak lurah yang selalu bertamu jika keponakannya itu ada dirumah.


"Suruh masuk El, nggak baik menelantarkan orang yang sudah membantu kamu." Ujarnya lalu tersenyum lembut ketika mata mereka saling bertemu.


Elly menggaruk kepalanya tak gatal lalu melangkah keluar kembali untuk menghampiri Jo.


"Ayo masuk."


Jo seketika tersenyum dan mengikuti langkah gadisnya yang sudah berjalan didepannya.


"Selamat siang bu." Sapanya dengan santun walau logatnya masih kentara dengan asalnya.


"Selamat siang nak...?" Ucapnya menggantung.


"Jo panggil saja Jo, bu." Jo lalu mengulurkan tangannya dan tentu Sari menyambut hangat tamu dari keponakannya itu.


Elly seketika tertegun saat melihat pria yang bernama Jo mencium tangan sang bibi dengan takzim.

__ADS_1


"Nak Jo, panggil saja saya bik sari, saya bibiknya Elly, ayo masuk kedalam." Ajaknya lalu berjalan duluan agar Jo bisa masuk kedalam.


Grep.


Elly yang tadinya tertegun seketika membola saat tangannya digandeng masuk kedalam rumahnya sendiri.


"Maaf ya nak Jo, beginilah keadaan rumah Elly."


Elly hanya mampu mendelik ketika tangannya berhasil lepas dari genggaman Jo dan beruntung bibiknya tidak melihat.


"Tidak apa-apa bik." Jawabnya ramah lalu mendudukkan tubuh besarnya untuk duduk dilantai yang beralaskan tikar.


Sari lalu menarik tangan snag keponakan setelah melihat Jo duduk dengan tenang dilantai.


"Itu siapa mu El?" Interogasi sari ketika sudah berada didapur.


"Apa sih bik, kan sudah El jelasin tadi." Ucapnya malas sambil meletakkan tas miliknya dikursi sampingnya.


"Kalian ada hubungan apa?" Tanyanya lagi.


"El nggak ada hubungan apa-apa bik, El aja baru ketemu tadi tapi karena suatu hal dia maksa untuk nganterin el." Ucapnya dengan sedikit jujur.


"Ya sudah bikinkan minum untuk tamu mu, habis itu kasih tahu ibumu pelan-pelan, bibik mau kewarung dulu, tahu ada tamu dari tadi bibik belanja." Gerutunya dan langsung menuju kamarnya bersama dengan sang kakak sebab dia tidur dengan ibunya Elly.


"Bibik tinggal dulu ya nak Jo." Suara sari mengagetkan Jo saat mengamati beberapa foto yang tertempel didinding.


"Ohh iya bik silahkan." Jo menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum.


"Elly memang seperti itu, tapi kalau sudah kenal betul dia asyik kok diajak ngobrol." Ucapnya dengan sedikit pelan sebelum meninggalkan Jo.


Tak butuh waktu lama Elly keluar dengan membawa sebuah nampan yang berisi teh hangat.


"Maaf cuma adanya teh." Ucap Elly sambil menyodorkan nampan kecil yang berisi teh hangat.


"Ini sudah cukup El, terima kasih." Ucapnya dengan tulus.


Elly hanya mampu mengangguk namun tak berani mengangkat kepalanya.


Mereka sama-sama terdiam, bingung untuk berbicara apa karena memang mereka baru beberapa jam bertemu akan terasa canggung untuk berbicara santai.


"El." Panggil Jo memecah kesunyian.


"Ya." Elly mengangkat kepalanya hingga netra keduanya saling terkunci sambil menunggu pria dihadapannya untuk berbicara kembali.


"Jika saya berniat untuk melakukan hubungan serius apa kamu bersedia, usia saya tidak lagi muda jadi sudah tidak perlu lagi yang namanya berpacaran bukankah lebih baik pacaran setelah halal?" Tanya Jo dengan sedikit gugup namun dia tetap mengutarakan niatnya yang sejak tadi berada didalam hatinya.


Degh.


Wah si duda korea gercep amat yak🤣🤣🤣


Haloha....jangan lupa like.vote.gift🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2