
Happy Reading๐ค๐ค๐ค
Like.
Vote.
Gift.
Dret...dret...dret...
Seorang wanita paruh baya menggeliat pelan saat mendengar sesuatu yang bergetar dan berdering namun dirinya tidak menanggapinya dan malah mengeratkan pelukannya pada sang putri.
Namun angannya sepertinya hilang sebab ponsel miliknya kembali berdering serta bergetar.
Matanya dengan susah payah terbuka namun senyumnya seketika mengembang saat melihat wajah damai sang putri yang tertidur berada dipelukannya.
Dret...dret...dret...
"Hais...siapa sih malam-malam nelfon"...
Gerutunya pelan sambil menggeser kepala putrinya yang tertidur dilengannya hingga terasa kebas.
Tidur Feli sedikit terusik kala kepalanya digeser walaupun sangat pelan.
"Ma..."...
Panggilnya dengan suara sedikit serak layaknya orang yang baru bangun.
"Apa sayang, maaf kamu terbangun ya karena mama"...
Ucapnya dengan lembut sambil mengusap pelan pipi sang putri.
Dret...dret...
Suara ponsel Denia kembali bergetar dan bernada membuat Feli mengurungkan niatnya saat sang mama menoleh untuk mengambil ponsel yang ada di atas nakas.
Dirinya hanya memperhatikan mamanya dengan mata terjaga sedangkan dahi Denia mengerut saat nama sahabatnya tertera dilayar ponsel saat dirinya memegang ponsel yang baru diambilnya.
"Halo"...
Jawab Denia saat emnggeser tombol berwarna hijau.
๐"Halo Nia, apakah kamu punya stok tusukan sate yang terbuat dari bambu?"...
Tanya seseorang diseberang sana.
Dahi Denia mengkerut saat Lena menanyakan perihal tusukan sate.
"Nggak tau, soalnya sudah lama aku nggak buat sate, ada apa Lena?"...
Tanya Denia dengan penasaran.
๐"Haduh...liatin dong, mantu ku nggak mau makan sate kalau bukan pakai tusukan bambu, tadi aku buatnya pake tusukan besi"...
__ADS_1
Ucapnya dengan sedikit panik disebrang sana.
Denia bukannya menjawab perkataan Lena justru dirinya terkekeh geli mendengarnya.
"Wah...sepertinya si twins sifatnya kayak daddy nya ya"...
Godanya tak menghentikan kekehannya, mata yang tadinya mengantuk kini terbuka sempurna.
"Ohhh ayolah Nia, Liatkan dulu...kasian twins sejak sore tadi belum makan apa-apa terakhir makan siang hari"...
Keluhnya diseberang sana membuat mata Denia melotot sempurna.
"Yak...memang kamu nih ya, mertua jahat...bisa-bisanya menantumu belum makan padahal ini sudah hampir tengah malam, tunggu aku liatkan dulu mudahan masih ada stoknya"...
Omel Denia sambil mematikan panggilan sahabatnya padahal dirinya yakin Lena pasti akan mengumpatnya disebrang sana.
"Ada apa ma?"...
Tanya Feli saat melihat mamanya turun dari ranjang terburu-buru.
"Kamu disini saja sayang, mama mau kebawah dulu"...
Ucapnya dengan terburu-buru dan langsung berjalan menuju pintu sambil membawa ponsel miliknya tanpa menghiraukan putrinya yang sedang penasaran.
"Mama kenapa sih?"...
Tanyanya pada diri sendiri dan menyingkap selimut sambil menurunkan kedua kakinya dan menggunakan sandal rumah bersiap untuk mengikuti langkah sang mama.
Dia menarik laci dan seketika matanya berbinar saat menemukan tusukan yang dimaksud oleh Lena yang masih tersisa satu bungkus utuh.
Denia memang kerap membeli tusukan sate dari bambu jika dirinya berkunjung ke Negara I sebab sejak dulu memang dia sangat menyukai makanan khas Negaranya tersebut dan rasanya akan sama jika dia memakai tusukan yang terbuat dari bambu.
Dirinya segera mengambil tusukan sate tersebut lalu meletakkannya diatas meja dan beralih ke tempat lemari pendingin untuk mencari daging yang tadi pagi baru diisinya.
Denia lantas menyiapkan bumbu dan pelengkap lainnya tanpa disadari bahwa sejak tadi dirinya tengah diawasi seseorang.
Bibir orang tersebut tertarik keatas saat melihat wanita yang melahirkannya memotong-motong daging sambil bersenandung ria, dirinya sangat terharu sebab sudah lama mama nya tak menampakkan wajah cerianya apalagi sejak kepergian papa nya, sosok Denia sangat asing baginya itulah sebabnya dirinya suka berjalan keluar rumah tanpa menghibur mama nya padahal saat itu Denia pasti memerlukan dukungan sang putri.
Feli menghela nafas pelan lantas berjalan mendekat ke arah mamanya.
"Ada yang bisa Feli bantu ma?"...
Tanya Feli saat sudah berada dibelakang Denia.
"Ohhh astaga, kamu ini bikin mama kaget aja"...
Ucap Denia terjingkat saking terkejutnya sambil menengok kebelakang dan mendapati sang putri sedang nyengir kuda.
"Maaf ma"...
Kekehnya dan berjalan mendekat kearah mamanya yang kembali berkutat dengan bahan sate.
"Ini buat istrinya Serkhan ma?"...
__ADS_1
Tanya Feli sambil memperhatikan mamanya.
"Iya sayang, kasian istri Serkhan belum makan sejak terakhir makan siang tadi dan sewaktu ingin sate malah nggak mau makan saat dibawakan kesana"...
Jelasnya diselingi kekehan kecil.
"Nggak mau makan gimana ma, bukannya sudah dibawakan sate?"...
Tanya Feli dengan raut bingungnya.
"Iya, Nessa sedang mode ngidam dan pengen makan sate namun saat sudah dibawakan sate, Nessa tak ingin memakannya sebab tusukannya bukan dari bambu seperti ini"...
Tunjuknya pada tusukan plastik yang sudah dibuka dari plastiknya.
"Yang dibawakan Tusukannya besi"...
Sambungnya.
"Emmm...apa rasanya orang nyidam ya ma?"...
Tanya Feli dengan pelan sambil menusukkan daging kedalam tusukan sate saat mama nya menggeser tempat daging yang sudah dipotong-potong walau dingin.
Degh.
Tangan Denia seketika terhenti untuk menusuk daging saat mendengar pertanyaan sang putri.
"Ada senang dan ada susahnya sayang, jangan berkecil hati nak soal anak, mama berdoa semoga kebahagiaan kamu segera tiba, soal anak jika kamu sudah siap lahir bathin mama akan sangat setuju untuk kamu mengangkat seorang anak, semua keputusan ada padamu sayang"...
Ucapnya dengan lembut sambil memandang penuh sayang sang putri.
Feli lantas ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Banyak wanita diluaran sana yang tidak bisa memiliki anak namun mereka tetap bisa bahagia dengan cara mengadopsi satu atau lebih bayi, mama cuma berharap putri mama bahagia walau tidak adanya pendamping hidup? Apa kamu masih mencintai dia?"...
Tanya Denia dengan nada serius.
Feli menggelengkan kepalanya pelan.
"Cinta Feli perlahan terkikis ma, maafkan Feli jika Feli sempat salah jalan tapi kini Feli akan kembali ke jalan yang benar walau tanpa pendamping hidup tapi Feli juga ingin seorang anak agar rumah ini tidak sunyi"...
Ucapnya sambil memandang sendu mama nya.
"Iya, nanti kita akan ke Negara mama saja untuk mengadopsi seorang anak, tapi mama minta jika suatu saat nanti Feli menikah dan mempunyai anak kandung jangan sekali-kali membeda-bedakan mereka nak"...
Nasihat Denia kepada sang putri.
"Iya ma, Feli paham"...
Jawabnya dengan yakin namun tidak yakin pada ucapan mamanya yang menikah kembali karena sejatinya sebagai seorang wanita dirinya merasa sangat minder saat akan membuka hati yang baru dengan keadaannya yang tak sempurna.
Anak memang hadiah terindah dalam suatu pernikahan namun tidak selamanya anak menjadi tolak ukur dalam retaknya suatu pernikahan.
Tanggal cantik nih, hayo...hayo...like dan hadiah jangan lupa buat othor๐ค๐ค๐ค
__ADS_1