
Happy Readingπ€π€π€
Like.
Vote.
Gift.
Cup.
Feli seketika terkesiap saat mendapatkan serangan dadakan, kecupan pertama dari Dito membuat janda dua kali itu malu sekaligus marah sebab Dito mencuri ciumannya.
"Biar mami nggak ngiri"...
Ujarnya dengan menampilkan sederet gigi putihnya dan jangan lupakan senyum tanpa dosa miliknya.
Feli hanya mampu menahan kemarahannya sekaligus malu sebab tak ingin memaki didepan sang putri, walau masih bayi namun Feli tak ingin marahnya didengar sang putri alhasil dirinya langsung meninggalkan dito yang masih menggendong putrinya itu.
Sedangkan Dito yang melihat Feli meninggalkannya seorang diri yang masih menggendong Aya hanya terkekeh pelan.
"Lihat sayang, mami mu marah sama papi, doakan papi ya biar bisa berhasil meluluhkan hati mami"...
Lirihnya sembari melabuhkan kecupan-kecupan sayang dipipi bayi itu dan dengan perlahan Dito meletakkan diranjang khusus milik Aya yang kini sudah kembali terlelap didalam gendongannya.
Feli menuju meja makan dan segera membuka bungkusan yang dibeli oleh Dito tadi, rasa lapar melunturkan rasa marah, kesal dan malu menguar begitu saja apalagi saat dirinya membuka salah satu sterofom yang dalamnya berisi bubur ayam yang membuat cacing didalam perutnya berteriak ria.
"Nung...Nunung"...
Panggilnya sembari mengeluarkan semua bungkusan dari kantong plastik.
"Iya mbak"...
Jawab seorang gadis yang dipanggil namanya itu.
"Nih...sarapan dulu nanti lanjut lagi kerjanya"...
Ucap Feli sembari menyodorkan satu porsi bubur kearah gadis yang dipanggil Nunung itu.
"Mas makasih mbak, pasti dari ehem nya mbak ya"...
Goda Nunung dan menerima bubur tersebut.
"Ckk...kamu itu, udah buru dimakan nanti dingin nggak enak"...
Decak Feli dan langsung memakan bubur tersebut.
"Mbak, jangan gitu....nanti mas Dito pergi mbaknya nangis bombay lagi"...
Godanya kembali dan segera ngacir untuk melarikan diri sebab dia melihat sang majikan melototkan matanya.
"Haisshh...memang kamu itu nung"...
Feli menggelengkan kepalanya berkali-kali sebab mendapatkan ART yang seperti adik baginya itu karena Nunung mempunyai kepribadian yang riang mampu mengimbangi dirinya yang sedikit pendiam.
__ADS_1
Gadis yang diambil dari jasa penyaluran ART itu sudah memiliki tunangan dan akan menikah dalam waktu dua bulan lagi, Feli sudah sempat berkenalan dengan calon suami Nunung karena memang dia memberi jatah libur diakhir pekan.
"Kok makan nggak ngajak-ngajak sih?"...
Degh.
Feli seketika terdiam dan menelan bubur dengan sedikit susah bahkan dirinya merutuki kebodohannya yang langsung makan begitu saja padahal bubur ini Dito yang membawanya.
Dito lalu menarik salah satu kursi didekat Feli dan segera membuka miliknya.
"Kok nggak dilanjut makan, apa perlu disuapi"...
Goda Dito sambil menaik turunkan alisnya dan menatap nakal ke arah Feli yang terdiam.
Feli mendengus kesal melihat tingkah laku Dito yang seperti itu, lantas dia melanjutkan makannya tanpa menghiraukan Dito sama sekali.
Dito terkekeh pelan melihat wanita pujaan hatinya yang sedang kesal karena ulahnya namun dirinya menyukai wajah kesal Feli.
Mereka makan dalam diam namun Dito sesekali tersenyum simpul melirik Feli lewat ujung matanya, baginya walau baru sebentar mengenal Feli dirinya sudah yakin ingin menjadikan Feli sebagai tambatan hatinya terlepas akan status dan kondisi Feli.
Anak bukankah Feli sudah memiliki anak walau bukan anak kandung namun dia tak mempermasalahkannya.
"Sudah selesai kan, pulanglah"...
Ketusnya saat melihat Dito yang masih duduk santai setepah menghabiskan sarapannya karena seperti hari biasa Dito akan langsung pulang begitu selesai sarapan dan menggendong Aya.
"Ayo kita menikah"...
Ucap Dito dengan serius.
Degh.
βββ
Nessa menggeliat dalam tidurnya dan perlahan matanya terbuka, dilihatnya kesekeliling ruangan yang nampak sepi dan hanya dirinya seorang.
"Astaga...badan Nessa rasanya remuk, mas nih bener-bener dah kayak banteng aja tenaganya"...
Gerutunya dan perlahan bangun untuk duduk bersandar dikepala ranjang.
Diusapnya dengan pelan perut besarnya yang berisi dua nyawa yang akan lahir beberapa bulan lagi.
"Sehat-sehat diperut Mommy twins, kami menantikan kehadiran kalian"...
Gumamnya sembari tersenyum saat merasakan gerakan aktif diperutnya.
Setelah mengumpulkan nyawa, Nessa lantas bangun dari ranjang dan segera menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri sisa percintaan mereka pagi itu, dirinya yakin jika sang suami masih berada di ruang meeting.
Senyumnya merekah saat melihat paperbag berada diatas meja dan dirinya yakin jika itu dari sang suami.
Segera dirinya menyambar paperbag tersebut dan langsung masuk kekamar mandi sebab tubuhnya benar-benar tidak nyaman saat ini.
Beberapa saat kemudian Nessa keluar dari kamar mandi sudah dalam keadaan rapi dan sudah fresh, dirinya segera menuju pintu untuk keluar dari kamar istirahat sang suami.
__ADS_1
"Loo mas, kok sudah kembali?"...
Tanya Nessa saat mendapati sang suami sudah duduk manis diatas kursi kerjanya.
Serkhan menengok kearah sumber suara tersebut dan mendapati sang istri sudah tampil cantik seperti biasa, dirinya lantas bangun dari duduknya dan meletakkan pena untuk menghampiri sang istri.
"Mas baru selesai setengah jam yang lalu sayang, mau makan diluar apa disini aja?"...
Tanya Serkhan sambil melingkarkan tangannya dipinggang sang istri dan menggiringnya kesofa.
"Nessa bingung mas mau makan apa, Nessa pengen masakan ibu"...
Keluhnya sembari menengadahkan wajahnya kearah sang suami.
Degh.
Serkhan seketika merasa bersalah sebab sudah beberapa bulan mereka belum pulang ketanah air walau ibu mertuanya belum lama berkunjung namun dirinya tetap saja timbul rasa menyesal.
"Bisakah bersabar beberapa hari lagi, mas akan selesaikan pekerjaan mas dan kita akan kembali ke tanah air setelah melakukan pemeriksaan pada twins"...
Pintanya dengan nada lembut dan menatap sang istri dengan rasa bersalahnya.
"Benarkah?"...
Tanyanya dengan nada antusias.
Serkhan menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum lembut.
Cup.
Nessa seketika mengecup bibir sang suami.
"Makasih ya mas"...
Ucapnya dengan tulus.
"Sama-sama sayang, kita makan dulu ya....makan diluar atau pulang kemansion?"...
Tanya Serkhan dengan memeluk sang istri dengan sayang.
"Pulang aja lah"...
Putusnya dan langsung mencoba berdiri dari duduknya sedangkan Serkhan dengan sigap membantu sang istri untuk bangun.
Serkhan meminta sang istri untuk menunggu diluar sedangkan dirinya membereskan berkas-berkas yang berserakan diatas meja lalu menyambar tas sang istri yang sepertinya lupa tidak dibawa oleh yang punya.
"Jen, nanti kalau ada berkas penting kasih ke Abbas saja, saya langsung pulang tidak kembali"...
Titahnya saat sudah berada diluar ruangan dan memeluk pinggang sang istri yang sedang berbicara dengan sekretarisnya.
"Siap Tuan Muda, Hati-hati dijalan Nyonya muda... Tuan..."...
Ucapnya dengan sopan dan menundukkan sedikit tubuhnya.
__ADS_1
Nessa membalas dengan tersenyum ramah dan segera berlalu meninggalkan Jeni bersama sang suami.
Malam minggu nih malam minggu, bagi othor mah sama aja....π€£π€£π€£