Om Duda, Suamiku

Om Duda, Suamiku
S2 - Drama bumil


__ADS_3

Happy Reading🤗🤗🤗


Like.


Vote.


Gift.


Matahari mulai mengintip disela-sela tirai disebuah kamar yang masih temaram dilantai tiga itu, Seorang wanita dengan perut membuncit perlahan menggerakkan kelopak matanya sebab tidurnya terganggu dengan cahaya terang.


Dan perlahan mata indah tersebut terbuka sempurna hingga dirinya perlahan menggerakkan tubuhnya yang semula tidur menyamping kini terlentang dan wajahnya menengok kesamping namun dahinya mengeryit saat melihat sisi sebelahnya kosong dan saat itu juga Nessa mendudukkan tubuhnya namun tak lama matanya melotot sebab jam sudah menunjukkan waktu 8 pagi.


Nessa segera menyibak selimut dan menguncir rambutnya dengan asal menggunakan jepitan mutiara yang bisa dibilang harganya bisa untuk membeli ponsel dikalangan bawah oleh-oleh dari mama mertuanya saat melakukan perjalanan keluar kota.


Mengabaikan dengan tubuhnya yang hanya memakai lingerie hitam yang tidak menerawang, dirinya segera menurunkan kedua kaki mulusnya lalu memakai sandal berbulu, walau cuaca diluar sedang terik namun terasa dingin bagi tubuh Nessa yang belum lama tinggal di Negara sang suami.


Dengan langkah pelan dirinya berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya dan sudah satu minggu semenjak dirinya keluar dari rumah sakit selama itu pula sang suami harus rela berpuasa sementara untuk menengok baby twins.


Dan dirinya yakin jika sang suami tidak berani mengganggu waktu istirahatnya begitu pula dengan kedua mertuanya.


Sedangkan dari hari kehari tubuh Nessa sudah mulai pulih walau semakin hari dirinya merasa tubuhnya semakin berat namun dia cukup bersyukur sebab sang suami tidak marah sedikitpun namun mulai hari ini akan ada pelatih senam untuknya, karena baik Nessa serta suami dan kedua mertuanya akan lebih baik jika dia mengikuti senam hamil dan tentu Serkhan tak akan mengijinkan untuk keluar rumah tanpanya oleh sebab itu dirinya memanggil pelatih yang sudah profesional untuk datang kerumahnya seminggu tiga kali.


Nessa tidak perlu membutuhkan waktu lama dirinya segera keluar dari kamar mandi menuju ruang ganti dengan handuk yang melingkar diatas dadanya dan terasa sangat kecil sebab perutnya yang membesar namun dia tidak perduli toh ini dikamarnya dan sang suami.


Beberapa saat kemudian Nessa sudah keluar dari ruang ganti dengan menggunakan celana khusus ibu hamil yang panjangnya selutut serta dalaman senada dan diluarnya dia mengenakan kaos besar sang suami berwarna abu-abu.


Sebelum menggunakan cream mahal yang sudah suaminya belikan, langkah kaki Nessa menuju tempat tidur untuk merapikan kamar mereka sendiri, Nessa tak mengijinkan orang lain untuk membersihkan kamar mereka berdua dan tentu Serkhan menyetujui hingga jika dia sempat ikut membantu sang istri membersihkan kamar.


Setelah area tempat tidur selesai langkah mungilnya segera menuju korden tinggi berwarna cream.


Sreett...


Nessa menyibak belahan tirai tersebut dan matanya langsung tertutup sebab diluar matahari sedang memancarkan sinar hangatnya.


Dan setelah itu badannya berbalik dan mulai menuju meja rias, tempat Nessa melakukan perawatan wajah serta kulit.


Tak butuh waktu lama dirinya sudah selesai bahkan rambutnya sudah dia keringkan dengan sempurna.


Langkah kakinya membawa badannya yang membuncit menuju keluar dari kamar serta menuju Lift dimana dirinya akan menuju lantai dasar.


"Selamat pagi Uncle Omar"...

__ADS_1


Sapanya dengan ramah saat netra matanya menangkap sosok kepala Asisten dirumah ini.


Merasa namanya dipanggil, pria paruh baya tersebut segera membalikkan tubuhnya dan dilihat menantu dirumah ini sedang tersenyum manis kearahnya namun itu cuma beberapa detik saja.


"Selamat pagi juga Nyonya muda, mari...sarapan anda akan saya hangatkan dalam beberapa menit lagi Nyonya muda, harap anda bersabar menunggu"...


Ucapnya dengan sopan sambil menundukkan kepalanya.


"Tidak perlu dipanaskan Uncle, Nessa nggak masalah makan yang sudah dingin"...


Ucapnya dengan lembut sembari melangkahkan kakinya menuju meja makan, bahkan dirinya bisa melihat beberapa maid sedang melakukan pekerjaannya.


Dret.


Nessa menarik sendiri kursi untuknya sedangkan Omar dengan sigap membalikkan piring serta menuangkan nasi dan yang lainnya karena semenjak ada penghuni baru Omar bisa hapal dengan kebiasaan serta seberapa porsi makanan yang diambil.


"Uncle, bisakah tidak melayaniku seperti itu?"...


Pintanya dengan melas saat piringnya sudah terisi penuh.


"Maaf Nyonya muda, maafkan saya...saya sudah sangat lancang"...


Ucapnya dengan merasa bersalah dan sedikit memundurkan tubuh tuanya.


Nessa berucap dengan lirih dengan suara bergetar bahkan matanya kini nampak berkaca-kaca.


Omar meremas kedua tangannya saat mendengar suara menantu majikannya ini, sungguh dirinya merasa sangat bersalah.


"Maafkan saya Nyonya muda"...


Ucapnya tak kalah lirih dengan Nessa.


"Ada apa ini?"...


Tanya Anne saat kakinya menuju dapur namun melihat situasi yang tegang.


"Sayang kamu kenapa?"...


Ucapnya dengan panik saat wajah menantunya dilihat dengan jelas yang nampak bersedih bahkan langkah kakinya melebar agar cepat sampai untuk memeluk sang menantu.


"Omar, ada apa kenapa diam?"...

__ADS_1


Tanyanya dengan nada keras namun tidak terlalu tinggi.


Hap.


Helena segera merengkuh tubuh sang menantu yang kini sedang terisak dan membalas pelukan Anne.


"Omar"...


Panggilnya sekali lagi sebab dirinya juga belum mendapatkan kejelasan tentang kenapa menantunya menangis.


"Anne jangan marahin uncle, ini semua salah Nessa...Nessa sangat cengeng ya Anne"...


Ucapnya lirih didalam dekapan anne.


"Tidak sayang, Anne paham karen memang Anne pernah mengalaminya"...


Helena lalu memberi kode Omar yang akan bersuara untuk meninggalkan mereka.


"Kenapa Nessa menangis, heum?"...


Tanya Anne dengan lembut dan merenggangkan pelukannya bahkan dirinya segera mengusap air mata sang menantu yang akhir-akhir ini sering menangis tak tentu.


"Nessa tidak mau dilayani Uncle, Anne....kan Nessa lebih muda dari uncle seharusnya Nessa bisa ambil makanan untuk Nessa sendiri tapi Uncle langsung ngambilin makanan untuk Nessa, Nessa nggak mau dilayani seperti itu"...


Cicitnya dengan mimik seperti gadis remaja yang sedang merajuk bahkan Helena harus menahan tawanya sekuat tenaga untuk tidak meledak saat itu juga.


"Oke...oke...Nanti Anne kasih tahu Omar, ya sudah sekarang lanjut sarapannya ya, kasian twins jika belum makan juga"...


Ucapnya dengan selembut mungkin.


"Anne janji ya"...


Nessa memandang dengan penuh harap.


"Iya sayang"...


Nessa lantas tersenyum dan dirinya segera melepaskan pelukannya ditubuh Anne untuk langsung melahap sarapan yang sudah terisi penuh dipiringnya.


Bahkan Anne menghela nafas lega saat sang menantu masih mau sarapan dan menyudahi dramanya, walau begitu Helena tidak pernah marah sedikitpun dan mungkin ini hormon bagi ibu hamil karena kehamilan setiap wanita berbeda-beda jadi mereka sebisa mungkin untuk tidak membuat ibu hamil satu ini yang sangat sensitif sekali menangis seperti pagi ini.


Namun dia juga tidak akan memarahi Omar sebab omar melakukan tugasnya dengan baik dan mungkin dia akan memberi pengertian tentang menantunya sedikit nantinya.

__ADS_1


Like.Vote.Gift


__ADS_2