Om Duda, Suamiku

Om Duda, Suamiku
S2 - Sidang dan aksi Dito


__ADS_3

Happy Reading🤗🤗🤗


Like.


Vote.


Gift.


Ruangan yang tadinya ramai karena suara Abbas dan Helena seketika senyap saat Helena menginstruksi Abbas dan Jeni untuk duduk disofa.


Sedangkan Helena duduk dikursi single milik Abbas yang sudah diletakkan disebrang meja oleh Abbas itupun karena perintah dari sang baginda ratu.


Abbas berkali-kali melirik ke arah sang Anne yang sedang menatap tajam kearahnya seolah dirinya adalah tersangka utama yang siap mengulitinya hidup-hidup bahkan dirinya harus menelan saliva dengan susah payah ketika mendapati wajah menyeramkan milik wanita yang sudah dianggap sebagai ibunya itu.


"Jadi kapan kalian menikah?"...


Helena berucap dengan nada datar padahal dalam hati dirinya senang bukan kepalang ketika mendapati putra keduanya ternyata masih memiliki sisi kelakian sebab selama ini dirinya tidak mendengar bahwa Abbas memiliki tambatan hati yang membuat dirinya resah selama ini berbeda dengan putra pertamanya yang bikin dirinya hanya mampu mengelus dada karena jiwa Cassanovanya dan untungnya sekarang sudah tobat sebab menemukan wanita yang cantik seperti malaikat.


Dan betapa bahagianya pagi ini ketika dirinya mendapati sang putra yang ternyata sangat agresif kepada lawan jenis, tidak sia-sia dirinya berangkat pagi untuk menjemput sang menantu namun yang didapat ialah kebahagian yang dinantinya hingga detik ini.


"Abbas sudah melamarnya anne, tapi..."...


Jawab Abbas menggantung namun dirinya melirik ke arah Jeni yang duduk tepat disampingnya.


Gadis yang menggunakan dress berwarna putih dengan motif bunga-bunga sangatlah anggun, dress yang digunakan Jeni adalah pesanan Abbas yang diantar oleh OB tadi begitu pula dengan setelan kemeja miliknya dan karena Abbas kembali setelah aksi cum buan liar beberapa menit sebelum Anne datang hingga menangkap basah.


Mungkin Anne akan lebih shock saat datang lebih awal ketika pakaian mereka sangat berantakan bahkan rok yang dikenakan Jeni robek hingga tak layak pakai.


"Tapi apa?"...


Tanya Anne sembari matanya menatap kedua orang yang sedang menunduk secara bergantian.


Abbas menghembuskan nafas dengan pelan dan perlahan mengangkat kepalanya namun sebelum itu dirinya melirik sebentar kearah Jeni yang masih menunduk dengan tangan yang saling bertautan.


Lalu Abbas memandang Anne dengan senyuman manisnya membuat Helena mengeryitkan dahi.


"Jeni maunya dilamar resmi Anne"...


Ucapnya dengan bohong sembari memperlihatkan gigi putihnya sedangkan Jeni sontak mengangkat kepalanya dan melotot sempurna tatkala mendengar ucapan Abbas yang tidaklah benar sedangkan sang empu memasang wajah tak berdosa.

__ADS_1


"Benarkah...?"...


Tanya Anne dengan antusias bahkan dirinya berdiri dari duduknya dan lengsung mendekat ke arah Jeni.


Jeni seketika tersenyum kikuk saat Anne bertanya seperti itu apalagi melihat senyum antusias milik Nyonya besarnya membuat dia dengan susah payah menelan saliva.


"Oke...besok kita akan kerumahnya, sayang beritahu keluarga mu ya, kami akan berkunjung"...


Ucap Helena dengan antusias.


Degh.


Tubuh Jeni terpaku saat Nyonya besarnya mengucapkan tentang keluarga, sedangkan dia hanya tinggal bersama sang mama yang sedang sakit-sakitan dan hanya bisa berbaring ditempat tidur saja.


Seakan tahu apa yang sedang difikirkan oleh gadis pujaannya, Abbas mengusap dengan lembut punggung Jeni hingga gadis itu melihat kearahnya.


Tatapan mata mereka bertemu dan Abbas mengatakan semua akan baik-baik saja, Jeni lalu menghembuskan nafasnya dengan pelan dan kembali melihat ke arah Nyonya besarnya hingga tak lama dirinya menganggukkan kepalanya pelan.


Jeni tidak tahu apa keputusannya untuk menerima Abbas sebagai pendamping hidupnya sudah tepat atau belum namun yang ada didalam fikirannya kali ini adalah mamanya bisa sembuh dan tersenyum saat melihatnya menikah nanti.


Sebagai seorang wanita, Jeni merasakan perasaan yang berbeda saat berada didekat Abbas walau baru beberapa saat namun tidak dipungkiri bahwa dia merasa sangat nyaman.


Dirinya berharap jika memang Abbas jodohnya, Abbas bisa menerima segala kekurangannya nanti.


Anne sangat bahagia pagi itu akhirnya dirinya bisa melihat putra keduanya akan melepas masa lajang.


Mereka lantas menyudahi acara tertangkap basah dan Anne berucap akan mempersiapkan segalanya untuk acara lamaran resmi yang akan diadakan dua hari lagi bahkan Jeni tidak meminta untuk acara yang mewah dia hanya ingin acara diadakan dengan keluarga inti saja walau awalnya Anne keberatan namun setelah mendengar alasannya Jeni dia pun akhirnya hanya bisa pasrah.


☆☆☆


Feli menghembuskan nafasnya dengan kasar saat membuka pintu dan melihat seorang pemuda yang mengganggunya akhir-akhir ini apalagi saat mamanya kembali ke Negara mereka untuk mengurus surat kepindahan dan yang lainnya.


Alhasil Feli menyewa satu orang asisten rumah tangga untuk menemaninya berada diapartemen agar tidak merasa sendiri.


"Mau apa kamu?"...


Tanya Feli dengan ketus dan melipat tangannya didada membuat kedua bukit sintalnya terangkat dan semakin menantang.


Sedangkan pemuda yang bertamu dipagi hari itu seakan susah untuk menelan salivanya saat pandnagan matanya tak sengaja menatap sesuatu yang amat menggiurkan itu.

__ADS_1


"Janda memang semakin didepan"...Bisiknya dalam hati tak henti-hentinya dia melirik wanita dewasa yang membuatnya tertarik saat pertama bertemu itu.


"Yaelah...ketus amat neng pagi-pagi nyapa tamu, disuruh masuk kek, masa iya cowok setampan aku dianggurin didepan pintu"...


Ucapnya setelah mengkondisikan has ratnya.


"Aku bawain ini...jeng...jeng..."...


Sambungnya dengan riang sembari mengangkat plastik yang aromanya sungguh menggugah selera.


Feli menghembuskan nafasnya dengan kasar dan berlalu meninggalkan pemuda yang bernama Dito begitu saja.


Dito yang melihat langsung masuk dengan riangnya tak lupa dirinya menutup pintu apartemen wanita pujaannya.


Ya....sudah seminggu Dito rutin menyambangi apartemen milik Felisa, wanita yang ditahunya dengan status janda dengan anak satu.


Dirinya tidak kaget dengan status Feli bahkan dirinya merasa bahagia sebab Feli tidak bersuami jadi dia bisa dengan bebas mendekati wanita pujaan hatinya, bahkan Dito sudah kenal dengan mama Denia serta putri semata wayang Feli.


Dalam hati Dito dia bertekad ingin meluluhkan hati Feli dan akan siap menerima keadaan Feli yang sebenarnya karena mama Denia sudah bercerita mengenai putri semata wayangnya itu pada Dito pada saat mengantarkan wanita paruh baya itu ke Bandara.


Dito sangat mudah akrab dengan keluarga Feli termasuk Cahaya gadis kecil yang baru genap satu bulan itu, bahkan tak jarang Dito meluangkan waktu untuk menemui gadis kecil itu dan menimangnya walau sebentar.


Feli melangkahkan kakinya menuju kamar saat mendengar sang putri menangis, bahkan dirinya mengabaikan Dito seperti biasanya sebab pemuda tersebut jika berada diapartemennya suka bertidak sesuka hatinya.


Dito yang mendengar suara Aya menangis langsung cepat-cepat menyimpan plastik yang berisi bubur ayam tersebut, dirinya membeli 3 porsi seperti biasa karena dia tahu Feli menyewa asisten rumah tangga.


"Ulu...ulu...anak papi nangis, sini sama papi...biar mami sarapan dulu"...


Dito langsung menerobos kamar Feli seperti biasanya dan langsung mengambil alih Aya yang berada didalam gendongan Feli yang masih menangis.


Feli hanya bisa pasrah sebab dia tahu sebentar lagi putrinya pasti akan diam saat sudah berada didalam gendongan Dito dan terbukti sekarang Aya sudah berhenti menangis setelah Dito menggoda Aya.


Cup.


Mata Feli membelalak kaget saat tiba-tiba ada benda kenyal yang menempel tepat dibibirnya.


Dag...dig...dug...


Omo....omo....mas perjaka ting-ting gercep uy...🤣🤣🤣

__ADS_1


Slow up ya Readers....gantian putri othor yang sakit😥😥😥


__ADS_2