
Happy Reading🤗🤗🤗
Masih Flashback tentang JiMa ya...
Tahukah kalian tentang Firstkiss yang selalu dijaga dengan baik dan nantinya akan diberikan pada seseorang yang telah mengisi relung hati kita lebih tepatnya cinta pertama???
Tentu kita tahu jika itu merupakan hal yang paling membahagiakan bila kita bisa memberikannya pada orang yang kita cintai dan mencintai kita namun bagaimana bila hal tersebut secara tak sengaja terjadi begitu saja pada orang yang baru dua kali kita jumpai? akankah ada takdir yang nantinya saling terikat setelahnya atau terlupa seiring berjalannya waktu hingga menemukan seseorang yang benar-benar ada dihati kita.
Maria masih menelungkupkan wajahnya pada bantal yang ada didalam kamarnya, bahkan kejadian beberapa saat lalu masih terus terbayang difikirannya dengan wajah yang terus merona.
Ya, kejadian secara tak sengaja itu membuat keduanya tadi salah tingkah bahkan setelah sang pria bangkit dari posisi yang begitu intim lantas meninggalkan Maria begitu saja yang masih dalam keadaan terbaring diatas rumput.
Sedangkan Maria nampak terperangah melihat sikap pria yang berlalu meninggalkan Maria begitu saja dengan keadaan yang pasti akan membuatnya sangat malu jika ada yang melihatnya tanpa membantunya untuk sekedar bangkit dari posisi terbaring, tak butuh waktu lama Maria segera bangkit setelah melihat keadaan yang masih sepi lalu segera berlari untuk menuju kamarnya dengan perasaan tak karuan.
"Astaga Maria, bisa-bisanya kamu..." Gumamnya dengan tak jelas sebab wajahnya ditelungkupkan dibantal bersprei biru muda itu, rona wajah malu-malu tercetak jelas diraut mulus Maria.
"Bisa gila aku rasanya." Kekehnya geli.
Maria membalikkan tubuhnya dan kini menatap langit-langit kamarnya "Apa aku jatuh cinta." Gumamnya dengan menyentuh dadanya dapat dia rasakan detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.
Ya itulah sepenggal ingatan Maria akan pertemuan dengan pria yang kini masuk kedalam relung hatinya, sebagai seorang wanita yang sudah cukup umur untuk berumah tangga tentu dia sangat menginginkan hal tersebut namun apa daya hidup sebatang kara tanpa tahu siapa ornag tua kandungnya membuat Maria menjadi sosok mandiri dan pekerja keras, bahkan selama ini dia sama sekali tidak berkeinginan untuk tertarik pada pria namun hal aneh ketika pertama kali dirinya bertemu dengan sosok Jino seolah dirinya ingin Jino menjadi miliknya namun itu hanyalah angannya semata sebab dirinya merasa insicure dengan keadaannya saat ini yang hanya anak bekas panti asuhan.
Tok...tok...tok...
"Maria..."..
"Maria..."...
Ketukan serta seruan namanya terdengar dibalik pintu kamarnya membuat dirinya segera bangun dari baringnya sambil menjawab suara yang tak asing baginya itu.
__ADS_1
Ceklek.
"Ada apa ti?" Tanya Maria setelah membuka pintu dilihatnya Siti yang berdiri diambang pintu.
Siti nyengir lalu berucap "Itu Nyonya besar manggil kamu, katanya disuruh nemani beliau pergi."
Maria mengerutkan keningnya "Mau pergi kemana?"
"Astaga Maria, ya manalah aku tahu." Siti mencebik dan langsung berlalu meninggalkan Maria yang sedang berfikir.
"Perasaan tadi baru ketemu sama Nyonya Besar, kok nggak ngomong apa-apa." Gumammya setelah Siti menghilang dari pandangannya lalu dirinya memutar tubuhnya untuk mencuci muka terlebih dahulu sebelum menghadap sang Nyonya.
Tak butuh waktu lama kini Maria telah tiba dirumah utama dan dapat dia Lihat jika ornag yang dimaksud Siti sudah rapi menandakan memang benar jika hendak pergi.
"Nyonya besar." Serunya saat sudah berada didekat wanita paruh baya itu.
Ibu Nessa menoleh lantas tersenyum saat melihat Maria.
Maria segera menggelengkan kepalanya cepat "Tidak mengganggu sama sekali Nyonya Besar? Apa benar Nyonya akan pergi?" Tanyanya dengan lembut.
Ibu Nessa menganggukkan kepalanya pelan.
"Iya, ayo temani saya, saya lagi suntuk dirumah, si bapak diajak jalan malah molor, twins lagi pergi, oh ya kan sudah sering saya bilang panggil ibu saja, masih Nyonya Nyonya terus." Gerutunya dengan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Maria yang kini tengah menggaruk pelipisnya sambil meringis setiap mendengar ucapan lembut namun terdengar cerewet, ibu dari majikannya itu.
Wanita paruh baya yang sangat baik hati terhadap pekerja rendahan seperti mereka namun dirinya sangat bersyukur sebab dia sangat nyaman bekerja dengan keluarga konglomerat asal Negaranya sendiri.
Ibu Nessa tak henti-hentinya mengajak Maria berbicara ketika mereka sudah berada didalam mobil yang sedang melaju menuju pusat perbelanjaan dan tentu Maria dengan senang hati menimpali ucapan demi ucapan Nyonya besarnya itu.
"Ayo Maria, kenapa suka sekali berjalan dibelakang ibu?" Tanya Ibu Nessa menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya untuk melihat Maria yang ada dibelakangnya dan saat ini mereka sudah berada di pusat perbelanjaan.
__ADS_1
Maria hanya tersenyum canggung dan langsung berjalan mendekat kearah wanita paruh baya itu.
Grep.
"Biasakan kalau lagi jalan gini, tetap berada disamping jangan dibelakang, kita sama-sama manusia jangan suka merasa rendah diri." Omelnya dengan tangan menggandeng lengan Maria.
Maria merasa terharu mendengar ucapan dari sang Nyonya Besar bahkan dalam hatinya dia mendoakan semoga selalu sehat dan tetap baik hati.
"Iya Nyonya Besar." Sahutnya dengan suara pelan.
Ibu Nessa mendengus sebal namun dia seolah pasrah ketika Maria dan yang lain memanggilnya seperti itu.
Jiwa wanita paruh baya yang sudah dikaruniai dua orang cucu itu nampak antusias ketika memasuki satu demi satu toko yang ada di sana, apalagi tadi dia sudah memalak sang suami yang tidak mau ikut dan lebih memilih untuk tidur alhasil kartu yang suaminya pegang diminta.
Dan sang suami nampak pasrah ketika kartu saktinya sudah berpindah tangan namun dia tak memusingkan hal itu sebab dia mencari uang pun demi sang istri.
Pak Adi kini sudah tidak lagi bekerja sebagai keamanan, sang menantu memberikan modal yang cukup besar dan itu digunakan oleh mereka untuk membuka usaha grosiran dipasar yang lokasinya tak jauh dari rumah lama mereka.
Ketika sedang melihat-lihat netra Maria seketika terpaku pada objek yang tak jauh darinya itu, dadanya seketika sesak melihat pemandangan itu dimana seorang pria yang sedang tersenyum lembut dan jangan lupakan usapan sayang dipucuk kepala gadis yang diperkirakan usianya dibawahnya.
"Ternyata dia sudah memiliki kekasih." Gumamnya dengan memandang nanar pria yang kini sudah meninggalkan toko yang sama dengannya dan tak lupa pemandangan yang kembali mesra dia lihat.
"Huft...sepertinya aku harus melupakannya!!!! tapi, kenapa dia ada disini bukankah tadi masih ada di mansion?" Tanyanya pada diri sendiri.
"Maria." Sentuhan kecil serta panggilan namanya membuat Maria terkejut hingga reflek menyentuh dadanya membuat wanita paruh baya itu mengeryitkan dahinya.
"Kamu kenapa Maria?" Tanya Ibu yang heran melihat tingkah Maria.
"Maria nggak kenapa-kenapa Nyonya Besar." Ucapnya sambil tersenyum kikuk.
__ADS_1
Ibu lantas mengangguk dan mengajaknya menuju kasir setelah merasa cukup berbelanja sedikit.
Maria hanya mengikuti dengan perasaan campur aduk namun sebisa mungkin dia tak memperlihatkannya pada sang Nyonya.