
Happy Reading🤗🤗🤗
Like.
Vote.
Gift.
"Jadi kapan kalian menikah?" Tanya Serkhan dengan to the point.
Mereka saat ini sedang berkumpul di sebuah gazebo sedangkan baby twins tidak ikut berkumpul dikarenakan mereka sedang terlelap karena memang waktunya untuk tidur pagi dan tentu sudah ada yang menjaga mereka berdua.
"Sebulan lagi." Cengir Dika.
Ctak.
"Ya elah kenapa lu jitak gua sih." Omelnya sembari mengelus keningnya yang sedikit sakit.
"Ckk dasar duda jablay." Cibirnya sembari memutar bola malas saat melihat ekspresi sahabatnya ini ketika ditanya kapan menikah.
"Ehhh mantan duda teh celup, enak aja ngatain gua duda jablay." Sungutnya tak terima.
Serkhan mendengus sebal saat dia dibilang seperti itu walau kenyataan namun setidaknya sekarang dia sudah insaf.
"Sudah-sudah kenapa jadi berantem sih." Lerai Nessa bergantian memandangi sang suami dan sahabatnya itu.
"Iya, kalian ini kenapa jadi kayak anak kecil." Sambung Ayu yang saat ini sedang asyik memasukkan makanan ringan yang dihidangkan oleh maid.
"Madam Nyonya." Panggil Elly salah satu baby sister nya yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Ehh...ya...ada apa El?" Tanya Nessa dan langsung menghampiri Elly yang saat ini sedang gelisah.
"Maafkan saya madam jika mengganggu, boleh kah saya berbicara?" Tanyanya dengan penuh harap.
Seolah mengerti bahwa ada yang tidak beres dengan Elly sigadis muda yang beberapa tahun diatasnya itu akhirnya dia pun menyanggupi.
"Pergilah dulu ke ruang baca nanti saya kesana." Pintanya.
__ADS_1
"Baik Madam Nyonya."
"Mas, Nessa pergi dulu ya...kalian lanjutkan saja bicaranya, yu...kalau bosen, kekamar si kembar aja." Ucapnya dan segera dijawab oleh mereka yang ada disana.
Nessa langsung berlalu meninggalkan gazebo disamping tamannya dan segera menuju ruang baca dimana ruangan itu tempat favoritnya sebelum sikembar lahir.
"Ada apa El?" Tanyanya setelah mendudukkan tubuhnya dikursi yang biasa dia duduk.
"Emmm...maaf Madam Nyonya, bolehkah saya ijin pulang...ibu saya dilarikan kerumah sakit." Lirihnya dengan nada serak sebab saat ini dia telah meneteskan air matanya.
"Oohhh ya ampun, sakit apa El? Ya sudah nggak papa pergilah nanti kamu kembali kalau keadaan ibu kamu sudah membaik." Ucapnya dengan lembut sembari menggenggam tangan baby sisternya itu.
"Terima kasih madam nyonya, ibu saya memiliki asma madam, sekali lagi terima kasih madam nyonya." Tangis elly kembali pecah apalagi saat ini tubuhnya berada dipelukan sang majikan perempuan.
"Semoga ibumu cepat sembuh ya El." Doa Nessa sembari mengelus lembut punggung Elly.
Elly segera keluar dari ruangan baca sang majikannya dan dirinya segera menuju kamar miliknya yang berada dideretan kamar para maid yang lainnya.
"Looo El ada apa?" Tanya Dito saat berpapasan pada Elly.
"Saya mau pulang kampung Tuan Dito, ibu saya masuk rumah sakit dan saya sudah ijin pada madam nyonya." Ucapnya lirih dengan suara seraknya.
"Sama-sama Tuan Dito, kalau begitu saya permisi dulu Tuan." Pamitnya dan segera berlalu meninggalkan Kepala ART tersebut.
Dito menghela nafas pelan dan kembali melanjutkan langkahnya namun seketika langkahnya berubah haluan saat mendengar suara bel berbunyi.
Ceklek.
Dito tersenyum dan sedikit membungkukkan tubuhnya saat melihat tamu yang membunyikan bel.
"Selamat pagi Tuan Jo." Sapanya pada sang tamu.
Pugh.
"Kau ini Dito, santai saja...dimana mereka?" Tanyanya sembari melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam saat Dito mempersilahkannya masuk.
"Tuan muda dan Tuan Dika berada di gazebo samping Tuan."
__ADS_1
Jo menganggukkan kepalanya pelan.
"Dito, saya mau ke toilet dulu, tolong pegang ini." Pintanya sembari menyerahkan dua paperbag kepada Dito sebab tiba-tiba sesuatu ingin dia keluarkan.
"Baik Tuan Jo."
Jo segera berlalu meninggalkan Dito dan berjalan sedikit cepat untuk menuju toilet yang biasa ia gunakan ketika dirumah sahabatnya ini sebab dia sudah beberapa kali berkunjung alhasil dia sudah hafal letak toiletnya.
Karena saking terburu-buru bahkan dirinya tidak melihat kearah depan alhasil sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Bruk.
"Awww...." Pekik suara seorang wanita masuk kedalam indera pendengarannya.
Sontak netra tajamnya memandang seseorang yang saat ini terjatuh dilantai namun tak lama wanita itu langsung bangun sedangkan tubuhnya masih tetap berdiri tegak karena memang tubuhnya yang tinggi dan kekar.
"Maafkan saya Tuan...maafkan saya." Ucapnya dengan cepat namun suara seraknya tetap terdengar ditelinga duda berdarah korea tersebut.
"It's okey." Suara besar namun terdengar sek si masuk kedalam indera pendengaran gadis manis berusia 25 tahun itu bahkan kini wajahnya mendongak keatas hingga dirinya bisa melihat sosok tinggi tegap berwajah tampan namun terlihat dewasa dan kulit putih mengalahkan kulitnya yang notabennya seorang wanita.
"Maaf Tuan, permisi." Ucapnya dengan kembali menundukkan wajahnya dan tak lama langkah kaki mungilnya berlalu meninggalkan pria yang mungkin adalah tamu dari majikannya tersebut sembari menenteng tas hitam yang dia pakai saat baru datang kekota ini.
"Cantik." Bisiknya dalam hati saat melihat wajah cantik natural tanpa polesan make up sama sekali.
"Oohh ****." Umpatnya saat merasakan kandung kemihnya siap menyembur dan dirinya segera berlari untuk mencapai kamar mandi tak jauh dari posisinya.
"Hati-hati dijalan ya El, jangan lupa kembali kalau ibu mu sudah sembuh." Ucap Nessa ketika mengantar Elly sampai diteras rumahnya.
"Terima kasih madam nyonya, pasti nyonya saya akan kembali."
"Ini, ambillah semoga bisa membantu biaya berobat ibumu ya El." Nessa menyodorkan sebuah amplop kepada Elly.
Elly seketika menggelengkan kepalanya dengan cepat namun sepertinya majikannya itu tak menerima penolakan dan mau tak mau dirinya menerima amplop pemberian dari wanita berhati malaikat yang menjadi majikannya itu.
Setelah berpamitan, Elly segera meninggalkan rumah tempatnya bekerja yang sudah beberapa bulan ini dia tempati dengan langkah kaki mungilnya dia menyusuri jalan untuk mencari kendaraan yang bisa membawanya menuju stasiun, walau tadi sang majikannya sempat menawarkan bantuan namun dengan tegas dia menolak sebab dia tak ingin menjadi tamak apalagi sang nyonya sudah memberinya amplop untuk biaya berobat sang ibu.
Elly anggraini, gadis cantik berusia 25 tahun, mengadu nasib dikota besar hingga dia diterima untuk menjadi baby sisters pada keluarga kaya, Elly hanya memiliki seorang ibu dan bibi adik dari sang ibu, ayahnya sudah meninggal dunia pada saat usia 15 tahun dan mereka hidup dalam kesederhanaan dan beberapa tahun ini penyakit sang ibu terkadang kambuh oleh sebab itu dirinya memberanikan diri untuk mencari pekerjaan agar bisa mengobati penyakit ibunya, beruntung dia masih memiliki bibi yang dia andalkan untuk menjaga orang tua satu-satunya yang dia punya.
__ADS_1
Bibi juga seorang janda namun bedanya bibinya bercerai karena tak bisa memiliki keturunan dan oleh sebab itu, bibinya kembali tinggal bersama ibunya dirumah peninggalan kakek neneknya.
Maafkan othor ya baru up🤭🤭🤭🤭