Om Duda, Suamiku

Om Duda, Suamiku
S2 - Obrolan senja


__ADS_3

Happy Reading🤗🤗🤗


Acara yang digelar calon pasangan orang tua baru nampak begitu khidmat dengan didatangkannya salah satu ustadzah dari daerah sekitar, banyak yang berdecak kagum melihat betapa mewah yang hanya acara tujuh bulanan namun tak sedikit juga yang nampak membicarakan keluarga yang dulunya hidup sederhana.


Sepanjang prosesi acara yang digelar mantan pengasuh kedua anak kembarnya, badan Nessa serasa nampak lelah, bahkan dia menahan agar tidak terlalu memperlihatkan rasa lelahnya dihadapan sang suami maupun si pemilik acara.


Hingga tak terasa kini rumah yang awalnya ramai mendadak sepi sebab para undangan sudah meninggalkan kediaman Bu Sari selaku pemilik rumah.


"Mas, bisakah kita pulang sekarang." Pintanya dengan suara lirih saat mereka hendak masuk kedalam rumah.


Serkhan seketika menghentikan langkahnya dan dahinya mengeryit saat melihat wajah cantik istrinya sedikit pucat membuat matanya membelalak karena sejak tadi dia tak memperhatikan sang istri.


"Kamu sakit yang?" Tanyanya dengan panik sembari mengecek suhu tubuh sang istri yang memang sedikit hangat.


Nessa menggeleng pelan.


"Entahlah mas, Nessa merasa badan Nessa lemas, bisa kah kita pergi." Pintanya dengan penuh harap lagi.


Serkhan segera menganggukkan kepalanya cepat dan segera menuntun sang istri untuk berpamitan pada sang tuan rumah.


Setelah berpamitan dan tentu mendapat berbagai pertanyaan namun akhirnya mereka mengiyakan pasangan tersebut untuk kembali lebih awal sedangkan pasangan Dika dan Ayu mereka memutuskan untuk menginap sebab tak mungkin mereka akan langsung pulang dikarenakan ada kehidupan baru diperut istri dokter tersebut.


"Bagaimana jika kita mampir kehotel dulu yang, sepertinya sayang butuh istirahat." Ungkapnya saat kendaraan yang dikendarainya berhenti tepat dilampu merah dan melihat sang istri yang memejamkan mata sembari memijit kepalanya yang mungkin berdenyut.


Nessa hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan sebab kepalanya saat ini sungguh terasa sangat sakit.


Serkhan kembali melajukan laju mobilnya saat lampu sudah berubah warna dan mencari hotel terdekat agar sang istri bisa beristirahat sejenak sebelum kembali ke kota sebelah.


Tak butuh waktu lama setelah melihat hotel terdekat, Serkhan membelokkan kemudinya lalu segera memesan satu kamar sambil mendekap sang istri.


Ceklek.


"Selamat beristirahat Tuan Nyonya." Ujar pegawai hotel yang mengantarkan mereka tepat didepan pintu kamar yang dipesan.


Serkhan hanya menganggukkan kepalanya pelan dan berkata supaya petugas tersebut menunggunya sebab saat ini dia sedang menggendong sang istri yang memang sedang kurang baik dan di iyakan oleh petugas tersebut.

__ADS_1


Setelah membaringkan sang istri tercinta, Serkhan kembali kedepan untuk meminta sesuatu agar bisa meringankan sakit yang istrinya alami.


Tak butuh waktu lama, petugas hotel tersebut sudah kembali dan menyerahkan pesanan dari pemilik kamar tersebut.


Serkhan kembali kedalam kamar dan dilihat sang istri masih terlelap seperti tadi.


Diletakkannya satu kantung yang berisi obat dan satu kantung berisi pakaian tidur mereka, agar mereka bisa tidur lebih nyaman.


Namun sebelum membangunkan istrinya, Serkhan lebih dulu menghubungi kedua mertuanya dan memberitahukan keadaan yang sebenarnya.


Serkhan sempat berbicara pada kedua buah hatinya dan walau tidak mendapati respon setidaknya sikembar tidak akan rewel karena memang sudah pernah ditinggal bepergian oleh keduanya bahkan kini si kembar sudah dibantu oleh sufor agar mempermudah sikembar bila ditinggal pergi sang mommy.


"Yang, bangun dulu yuk... minum obat." Ucapnya dengan lembut sambil mengusap pipi sang istri.


Nessa menggeliatkan badannya pelan sebab tidurnya yang baru sebentar diusik namun dirinya juga tetap membuka mata walau kepalanya kembali berdenyut.


Serkhan segera membantu sang istri agar bisa bersandar dikepala ranjang dengan menyusun bantal, setelahnya diambilkannya sebutir obat untuk diberikan ke sang istri.


Nessa segera membuka mulutnya ketika tangan sang suami yang berisi obat berada didepan pintu mulutnya dan segera ditelan obat tersebut beserta air putih yang telah disodorkan oleh sang suami.


Nessa hanya menganggukkan kepalanya pelan dan langsung mengulurkan kedua tangannya dengan mata yang terpejam.


Serkhan hanya mampu menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum simpul melihat kelakuan istri tercinta, tangannya kemudian terulur untuk menyambut kedua tangan istrinya kemudian mengangkat tubuh Nessa yang semakin sek si dimatanya itu apalagi setelah kelahiran sikembar membuat kedua aset yang bergelantung semakin membesar membuat dirinya sangat menyukai benda yang emnjadi sumber makanan sikembar.


Kini keduanya telah berada didalam kamar mandi dan Serkhan mendudukkan tubuh sang istri dipinggiran bath tube.


Perlahan kedua tangannya terulur untuk membuka baju gamis yang istrinya gunakan tadi.


Plugh.


Dilemparkannya disembarang arah baju yang telah berhasil dia buka dari tubuh sang istri dan nampaklah tubuh setengan polos istrinya dengan sebuah kain yang menjerat kedua aset yang kian menantang dan bawahan yang memakai leging berwarna coklat sebetis membuat penampilan sang istri sangat sek si membuat jakunnya seketika naik turun.


"Jangan cari kesempatan mas, badan Nessa beneran belum bisa ngelayani mas." Celetuknya dengan lirih walau matanya masih terpejam sebab dirinya tau sang suami pasti tidak akan tahan jika melihat penampilannya sekarang, walau sebenarnya dia tak ada keinginan untuk menolak namun sepertinya badannya yang menolak saat ini.


Serkhan mendengus kesal namun tak urung dirinya mengangguk kepalanya pelan.

__ADS_1


"Iya-iya."


Nessa tersenyum tipis dan perlahan membuka matanya.


"Sabar ya, bukankah selama ini Nessa tak pernah menolak keinginan mas, nanti Nessa yang memimpin." Nessa berucap dengan genitnya seolah menggoda sang suami membuat Serkhan semakin mendengus sebal namun lagi-lagi hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.


Cup.


"Vitamin yang." Ujarnya dengan cengengesan ketika melihat delikan tajam sang istri ketika dia kecup.


Akhirnya mereka berdua membersihkan tubuh masing-masing walau godaan besar didepan mata namun Serkhan mencoba untuk menahan diri untuk tak menerkam sang istri.


Setengah jam kemudian mereka keluar bersama-sama dari kamar mandi dan segera memakai pakaian yang memang dia pesan oleh pegawai hotel tadi.


Kini keduanya menikmati senja di balkon sembari memakan cake yang dipesan tadi sambil menikmati pemandangan kota tempat yang mereka kunjungi.


"Gimana, apa sudah merasa lebih baik?" Tanyanya dengan lembut sambil merapatkan pelukannya pada sang istri yang berada diatas tubuhnya sebab saat ini mereka sedang duduk disebuah kursi santai namun memangku tubuh sang istri.


"Iya mas, sudah lumayan... apa kita tetap menginap disini?" Tanyanya balik.


"Kalau mas pengennya begitu, gimana yang?"


"Nessa terserah mas saja, tapi gimana sikembar?"


"Kan ada ibu, ya hitung-hitung honeymoon tipis-tipis." Serkhan mengulum senyum setelah mengucapkan hal tersebut.


Plak.


"Ihhh...mas, pikirannya kesana mulu, padahal dirumah pun hampir tiap malam nggak pernah absen." Dengusnya sambil menggeplak tangan kekar sang suami yang melingkar diperutnya.


"Ya...gimana lagi, habis kegiatan yang bikin nikmat, kan sayang juga merasakan nikmatnya." Ungkapnya dengan antusias dan menggoda sang istri.


Nessa hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum malu mendengar penuturan sang suami.


Dan sore itu mereka nikmati dengan obrolan absur yang entah apa aja yang mereka bahas dan pasti tidak jauh dari urusan panjang.

__ADS_1


Bunga oh bunga...kopipun boleh🤭🤭🤭🤭


__ADS_2