Om Duda, Suamiku

Om Duda, Suamiku
S2 - Mama Denia


__ADS_3

Happy Reading๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


Like.


Vote.


Gift.


"Boy, mama gugup"...


Ucapnya pelan saat tangan tuanya memegang handle pintu dengan kepala menengok kesamping.


Serkhan tersenyum tipis sambil mengelus pundak Denia dan mengangguk pelan.


Denia menghembuskan nafas dengan pelan dan memutar kembali batang lehernya lalu pelan-pelan dia menurunkan handle pintu berwarna putih tersebut.


Ceklek.


Pintu terbuka membuat seorang wanita yang berada diatas ranjang seketika menoleh kearah pintu dan melihat ada seorang wanita paruh baya yang masuk dengan tersenyum tipis membuat Nessa membalas senyum tersebut walau belum pernah sekalipun bertemu dan tak saling mengenal namun tak lama matanya menatap seorang pria yang berada dibelakangnya dan tentu dirinya sangat mengenal karena dia adalah Serkhan suaminya.


"Assalamualaikum"...


Ucapnya dengan lembut sambil melangkahkan kakinya mendekat kearah ranjang yang dimana ada seorang wanita cantik walau raut wajah masih pucat namun Nessa masih tetap terlihat cantik dengan perut yang menyembul.


"Waalaikum salam"...


Jawabnya tak kalah lembut dengan bibir melengkung keatas.


Nessa segera mengulurkan tangannya saat wanita paruh baya yang belum dikenalnya sudah berada didekat ranjang yang ditempati, mungkin ajaran kedua orang tuanya sudah melekat direlung hati walau dirinya belum mengingat namun entah mengapa dirinya selalu mencium dengan takzim punggung tangan terhadap orang yang lebih tua darinya.


Denia seketika mematung melihat betapa santunnya wanita yang kini menjadi istri dari Serkhan mantan menantunya itu, sangat jarang gadis sekarang bersikap sopan santun terhadap orang yang lebih tua, Denia kemudian mengangkat tangannya karena paham dengan apa yang akan dilakukan oleh wanita muda tersebut membuat dirinya seketika berkaca-kaca dan langsung memeluk tubuh sintal Nessa setelah wanita hamil tersebut usai mencium tangannya dengan takzim sedangkan dirinya seakan lupa kapan sang putri menciun punggung tangannya.


"Panggil mama nak, seperti suamimu memanggil wanita tua ini dengan sebutan mama"...


Ucapnya dengan nada bergetar sambil memeluk tubuh wanita yang kini menjadi istri dari mantan menantunya.


Nessa menatap sang suami dan saat mendapati anggukan suaminya, Nessa pun ikut menganggukkan kepalanya pelan didalam pelukan wanita paruh baya yang kini menangis sambil membalas pelukan Denia.


Sungguh dirinya semakin merasa bersalah karena ulah putrinya, wanita muda yang sedang mengandung tersebut kini berada dirumah sakit walau dirinya merasa lega karena keadaan twins serta ibunya baik-baik saja namun tak dipungkiri bahwa dirinya sangat kecewa dengan Felisa.


Denia meregangkan pelukannya dan tersenyum lembut dengan air mata yang masih tersisa.


"Sungguh cantik kamu nak, semoga rumah tangga kalian senantiasa dalam lindungan-Nya"...

__ADS_1


Ucapan tulus terlontar dari bibir wanita yang seusia dengan Helena.


Nessa menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum manis.


Plak.


"Awww...mam kenapa mukul boy sih?"...


Keluhnya saat tiba-tiba mama Denia menabok tangannya dengan sedikit keras apalagi dirinya tadi sedang mengalihkan pandangannya ke arah jendela.


"Kamu nih ya, awas kalau mantu mama sampe lecet apa lagi kamu sampe nyakitin dia, jaga yang benar mantu mama, mama potong tuh burung biar nggak bisa buat anak lagi kalau kamu sampai lalai"...


Cerocosnya sambil menatap tajam pria yang kini sedang memegang sela kangannya.


"Ih mam sadis amat, boy nggak gitu kali mam"...


Jawabnya dengan bergidik ngeri dan kedua tangan langsung berada disela kangannya.


Sedangkan Nessa nampak tertawa geli melihat tingkah sang suami.


"Dengar sayang, kalau sampai dia nyakitin kamu atau berbuat salah, kunci langsung pintu kamar jangan dikasih jatah sebulan penuh"...


Ucapnya dengan lembut namun menggebu-gebu.


Sambarnya saat Denia berbicara seperti itu.


"Boleh dicoba tuh mas"...


Godanya sambil menaik turunkan alisnya membuat Serkhan seketika lemas.


Membayangkannya saja dirinya sudah tidak sanggup apa lagi sampai hal tersebut terjadi, ohhh tidak.


Kedua wanita berbeda generasi tersebut lantas terkekeh geli melihat raut wajah pias Serkhan.


Kemudian mereka saling mengobrol dengan santai terkadang juga tertawa, namun tak lama kemudian Nessa sempat terkejut saat mendengar apa yang Denia ungkapkan dengan deraian air mata Denia menceritakan segalanya bahkan dirinya sampai menangis sesegukan meminta maaf atas kelakuan putrinya sedangkan Nessa awalnya tidak bisa berucap apapun namun dirinya bukanlah orang pendendam apalagi kini Denia sampai menangis pilu membuatnya sangat iba hingga perlahan Denia membuka suara dan kembali menerbitkan senyumnya.


Walau dirinya yang sempat terkejut namun lambat laun dia memahami apa yang diucapkan wanita paruh baya tersebut dan sebisa mungkin dia harus merilexkan tubuh serta fikirannya agar kandungannya tidak terpengaruh dan Serkhan tentu ikut andil dalam menenangkan fikiran sang istri walau sebelumnya dia tak menyangka jika Denia akan berterus terang.


Mereka kemudian berbincang dengan hangat kembali sesekali tertawa kecil saat menceritakan tentang masa kecil Serkhan sedangkan sang korban walau malu namun dirinya merasa lega sang istri bisa kembali tersenyum dan tidak terlalu berfikir jauh, dirinya lantas menjadi pendengar sesekali ikut menimpali obrolan kedua wanita yang disayanginya terlebih wanita yang sedang mengandung kedua buah hatinya.


"Mama pulang dulu ya sayang, istirahat yang cukup dan makan yang banyak supaya cepat pulang kerumah kembali"...


Ucapnya saat melihat waktu sudah hampir berganti menjadi gelap.

__ADS_1


"Lain kali main kerumah mam"...


Ucapnya dengan lembut dan tersenyum.


Degh.


Senyum wanita tua tersebut seketika sedikit surut, jangankan untuk mampir kembali kerumah itu sedangkan saat berpapasan dengan pemiliknya dirinya seolah menjadi orang asing yang tidak saling mengenal padahal dulunya mereka adalah sahabat dekat bahkan kemana-mana mereka selalu bersama berbagi cerita bahkan sangat kompak dalam menjalani rumah tangga masing-masing.


Tapi kini semua hanya tinggal kenangan manis dan akan selalu dikenangnya dikemudian hari namun tak sedikitpun Denia melupakan sahabat baiknya itu dan jika masih bisa diberi kesempatan Denia akan meminta maaf kembali dan akan melakukan apa saja agar sahabatnya itu memaafkan dirinya, karena hingga kini dia sangat merindukan sahabatnya itu untuk berbagi keluh kesah.


"Mam"....


Ucap Nessa dengan menyentuh tangan Denia yang kedapatan melamun.


"Ah...ya maaf sayang, iya lain kali mama akan mampir, ya sudah mama pulang dulu ya"...


Cup.


Denia mengecup kening Nessa dengan sayang dan segera berlalu meninggalkan ruangan itu setelah berpelukan dengan Serkhan.


Sepanjang koridor Denia nampak tidak fokus, fikirannya kembali melayang.


Apa yang akan dia lakukan dengan putrinya nanti jika sudah sampai dirumah, sungguh dia sangat kecewa dengan putrinya kali ini, bukan hanya membuat malu namun tindakan kali ini sudah masuk dalam kategori kriminal.


Dirinya hanya bisa berpasrah jika nanti nasehatnya tidak didengar oleh putrinya, bahkan kini dirinya sudah tidak punya muka sama sekali jika berpapasan dengan sahabatnya itu.


Karena saking tidak fokusnya dirinya sampai menabrak seseorang.


Bruk.


"Maaf...maaf saya tidak sengaja"...


Ucapnya dengan cepat sambil menundukkan kepalanya.


Degh.


Matanya membulat saat melihat siapa orang yang ditabraknya itu bahkan dirinya sampai menelan saliva dengan susah payah.


Selamat malam semuanya, semangat..semangat...


Bagi hadiah diakhir pekan๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Like.Vote.Gift

__ADS_1


__ADS_2