Om Duda, Suamiku

Om Duda, Suamiku
S2 - Berbaikan


__ADS_3

Happy ReadingπŸ€—πŸ€—πŸ€—


Like.


Vote.


Gift.


Disebuah Taman yang berada diarea rumah sakit kedua wanita paruh baya sedang duduk disalah satu kursi panjang disana, mereka sudah berada disana hampir sepuluh menit namun keadaan masih saja hening karena salah satu dari mereka belum juga ada yang bersuara.


Setelah mereka bertabrakan secara tak sengaja tadi, Denia memohon kepada mantan besannya untuk berbicara berdua dan disinilah mereka berada.


"Maaf"...


Ucapan lirih terdengar setelah sepuluh menit berlalu, namun wanita satunya masih belum membuka suara dan hanya menatap kedepan sambil menunggu kalimat selanjutnya.


"Maafkan aku Lena, maaf...seribu kali pun kamu menyuruh aku untuk berucap kata maaf akan aku lakukan, tolong maafkan aku...terutama putriku maafkan di..."...


Ucapannya terpotong saat lawan bicaranya menyaut.


Denia memanggil mantan besannya dengan panggilan akrab mereka sejak dulu.


"Kau tahu Nia, putraku dulunya tidak mengenal apa itu cinta namun setelah perjodohan itu dia banyak berubah, banyak belajar bagai mana caranya mencintai seorang gadis dan menghargai seorang wanita, bahkan dirinya tidak sungkan untuk minta saran dari kami, kalau aku tau putrimu sudah memiliki pria lain aku tak mungkin berucap ingin menjodohkan mereka, setelah kejadian itu putraku berubah drastis hingga membuatnya melakukan hal diluar batas dan kami tidak bisa berbuat apa-apa sebab awal mula semua karena kesalahan kami, sedih rasanya melihat sifat brengs*knya yang bergonta-ganti pasangan hanya untuk menuntaskan has ratnya dan setelah putraku melalui perjalanan penuh dosa hingga kini Allah mengirimkan seorang bidadari untuknya terbukti putraku memang banyak perubahannya apalagi sekarang menantuku sedang mengandung, bukan hanya satu melainkan dua itu adalah bonus yang kami tunggu-tunggu selama ini, tapi kenapa putrimu kembali mengusik kehidupan putraku, kenapa Nia kenapa?"...


Selanya sambil berucap Lirih dengan mata berkaca-kaca dirinya mendongakkan kepalanya keatas untuk menghalau air matanya agar tidak menetes.


Denia seketika meneteskan air matanya, karena memang dirinya tidak banyak tahu akan penderitaan yang dilalui oleh mantan menantunya itu bahwa karena putrinya lelaki yang dulunya begitu baik dan sudah dianggap sebagai putranya sendiri langsung salah jalan.


"Maafkan putriku Lena, maafkan dia...maafkan juga aku"...


Ucapnya dengan sesegukan dan seketika dirinya bangun dari duduknya lalu beberapa detik kemudian Denia sudah berada didepan kaki Helena bersimpuh dikaki sahabatnya.


Helena seketika terpekik bahkan bola matanya nyaris keluar karena tindakan yang dilakukan oleh Denia.


"Apa yang kamu lakukan Nia, bangun jangan seperti ini, bangun atau aku tidak akan pernah memaafkanmu selamanya"...


Pekiknya lalu berdiri dan mengancam sambil menekan kalimat diakhir ucapannya.


Denia seketika mendongakkan wajahnya namun tidak menghentikan tangisnya saat mendengar ucapan Lena.


"Benarkah kamu mau memaafkan aku?"...


Tanyanya dengan pelan.

__ADS_1


Helena menghela nafas dengan pelan lalu mendudukkan tubuhnya namun sebelum itu dirinya memegang kedua pundak wanita yang masih bersimpuh dikakinya dengan perlahan Helena mengangkat tubuh sahabat lamanya itu dan mendudukkan kembali tubuh Denia kembali ke kursi.


Denia hanya mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh Helena namun air matanya tidak berhenti mengalir walau sudah tidak sesegukan menangisnya.


Denia seketika terkesiap kala tubuhnya kini berada didalam pelukan Lena, sedetik berikutnya dirinya kembali menangis histeris dan langsung membalas pelukan Lena, sungguh dirinya sangat merindukan sahabatnya ini bahkan hampir setiap malam dia bermimpi saat masih bersama-sama dulu karena memang mereka berasal dari tempat yang sama yaitu panti asuhan.


"Maafkan aku Lena, aku rindu sungguh aku sangat merindukanmu"...


Ucapnya kembali sesegukan dan menggumamkan kata rindu yang memang dirasakannya selama ini.


Helena pun akhirnya ikut meneteskan air matanya yang tadi ditahannya.


Tidak hanya Denia, dirinya pun sangat merindukan sahabatnya ini, sahabat yang ada di saat susah mau pun senang, bahkan mereka berdua bisa saling menjaga hingga akhirnya bertemu jodoh dan menikah walau sempat terpisah jarak namun mereka bisa bersama kembali sebelum renggangnya kedua keluarga.


"Sudah ih nangisnya, nggak tau apa kita jadi pusat perhatian"...


Gerutunya sambil berusaha untuk melepaskan pelukan mereka.


"Nggak mau, aku masih kangen Lena"...


Balasnya sambil menggelengkan kepalanya cepat tanpa melepaskan pelukannya.


Helena menghela nafas dengan pelan sambil sesekali matanya melirik kearah orang-orang yang berada ditaman tersebut.


"Dengar Nia, aku memohon kali ini sebagai seorang ibu dan seorang oma, aku mohon beri pengertian ke Felisa untuk tidak mengganggu keluarga kecil putraku, terutama kandungan menantuku, aku tidak ingin putraku kembali terpuruk Nia"...


Ucapnya dengan lirih sambil menundukkan kepalanya.


"Aku memang tidak bisa berjanji Lena, namun aku yang akan menjadi tameng untuk ikut melindungi keluarga kecil putra kita, terima kasih Lena sudah mau untuk memaafkanku, kini bebanku sedikit berkurang tinggal memikirkan masalah putriku, mungkin memang ini semua karena aku salah mendidik putriku hingga dirinya seperti ini"...


Ucapnya bersungguh-sungguh sambil memegang kedua tangan Lena.


Helena menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis membuat senyum itu menular ke Denia.


"Ayo kembali kedalam, aku sudah tak sabar untuk melihat keadaan menantu dan twins"...


Ucapnya sambil berdiri dari duduknya.


"Kenapa?"...


Tanya Helena sambil mengerutkan keningnya dan melihat kebawah dimana tangannya masih dipegang oleh Denia.


"Kamu kesana lah, aku mau pulang dulu karena sudah sejak tadi aku disini dan melihat menantu kita"...

__ADS_1


Terangnya sambil tersenyum tipis.


"Benarkah?"...


Tanyanya seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Denia.


Denia lantas menganggukkan kepalanya pelan lalu menceritakan tentang kedatangan Serkhan serta dirinya berada dirumah sakit ini.


"Aku pulang dulu ya"...


Pamitnya seraya bangun dari duduknya.


"Yasudah kalau begitu, singgahlah kerumah"...


Ajaknya seraya tersenyum hangat.


Denia tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya pelan.


"Iya nanti kapan-kapan aku mampir"...


Ucapnya.


Mereka lantas berpelukan kembali sambil cipika-cipiki, Denia meninggalkan sahabatnya sendirian ditaman tersebut namun kali ini dengan perasaan yang teramat bahagia tapi senyumnya tidak bertahan lama sebab dia ingat akan putrinya.


Denia akan bersikap tegas kali ini karena itu semua demi kebaikan putrinya sendiri dan Denia berharap sang putri masih memiliki sisi baik agar bisa melepaskan masa lalu dengan ikhlas.


Sedangkan Helena masih berdiri ditempatnya dengan bibir terus melengkung keatas dan pandangan tak lepas dari sosok yang kini kian menjauh dari matanya.


Grep.


Helena seketika tersentak saat ada yang memeluk dirinya dari belakang namun itu hanya sesaat sebab dirinya sangat hafal akan aroma orang yang sedang memeluknya.


"Sudah melepas rindunya"...


Bisiknya mesra tepat ditelinga Helena membuat wanita yang sudah tak lagi muda itu masih saja meremang saat sang suami bersikap romantis, aroma mint seketika tercium di indra penciumannya.


Helena menganggukkan kepalanya pelan dan menengokkan kepalanya, kini hidung mereka bersentuhan karena jarak yang begitu dekat.


Cup.


Bagi Sulthan tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, begitu pula dengan sang istri yang memang memiliki hati yang sangat baik, bukan sang istri pendendam namun rasa kecewa lebih mendominan hingga butuh bertahun-tahun untuk berdamai dengan semua yang telah terjadi, karena kita juga tidak bisa menyalahkan yang namanya takdir begitu pula dengan perjalanan kisah rumah tangga anaknya yang memang harus kandas padahal masih seumur jagung namun mereka juga bersyukur dengan begitu putra mereka bisa mendapatkan sosok yang benar-benar bisa membuat mereka bahagia terutama sang putra.


Haaiii...haiiii....othor lagi pulkam readers jadi maafkan othor yang sering telat up ya✌✌✌

__ADS_1


Like.vote.gift😘😘😘


__ADS_2