Om Duda, Suamiku

Om Duda, Suamiku
S2 - Jolly_Ungkapan perasaan Elly


__ADS_3

Happy Reading🤗🤗🤗


"Apa kita harus kembali secepat ini oppa?" Ucapan lirih dari seorang wanita yang tak lain istrinya itu menghentikan aktifitasnya.


Sebelum menghampiri sang istri, Jo terlebih dahulu menghembuskan nafasnya dengan pelan.


Grep.


Direngkuhnya tubuh berisi sang istri dengan perut yang membuncit, diusapnya dengan lembut tubuh belakang istrinya sambil melabuhkan kecupan-kecupan kecil diujung pucuk kepala sang istri.


"Maafkan Oppa Honey, pekerjaan Oppa tidak bisa ditunda lebih lama lagi, Asisten Lisa sudah menghubungi mas sejak kemarin agar secepatnya kembali."


Lisa


Satu nama yang cukup membuatnya terusik selama berumah tangga bersama sang suami, apalagi dia pernah bertemu secara langsung bagaimana sempurnanya sosok wanita yang bernama Lisa Anderson, Asisten sang suami yang selalu berada hampir 10 jam bahkan bisa lebih dalam sehari tentu membuat wanita hamil itu sedikit was-was apalagi keadaanya yang sekarang, tubuh membuncit, badan berisi, pipi chuby jauh dari kata ideal untuk mendampingi pria yang sangat sempurna idaman para wanita diluaran sana.


Jo mengeryitkan dahinya saat merasakan sang istri sejak tadi menghela nafas seolah sedang banyak fikiran atau ada yang mengganggu fikirannya.


"Ada apa honey?" Tanya Jo sambil meregangkan rengkuhannya agar bisa melihat wajah sang istri yang membuatnya gemas.


Elly tersentak pelan dan langsung memamerkan deretan gigi putihnya lalu menggelengkan kepalanya pelan untuk menutupi rasa kekhawatirannya akan rumah tangga yang baru dibinanya itu.


Mata Jo memicing saat melihat lurus tepat diwajah sang istri dimana istrinya itu langsung mengalihkan pandangannya tanpa berani menatap kearahnya dan hal itu membuatnya sangat yakin jika sang istri ada yang disembunyikan.


"Honey, bukankah dalam berumah tangga harus dilandasi dengan kejujuran dan kepercayaan."


Deg.


Sebuah kalimat mampu membuat jantungnya berdebar lebih cepat hingga menatap sang suami sebentar sebelum menghembuskan nafasnya dengan kasar.

__ADS_1


"Maafkan El oppa, entah kenapa setiap mendengar nama asistennya oppa membuat perasaan El menjadi tak enak, El takut rumah tangga kita ada orang ketiga." Cicitnya dengan jujur sambil mere mas kedua tangannya takut akan pengakuannya membuat mood sang suami memburuk.


Bibir Jo seketika berkedut mendengar kata demi kata yang keluar dari bibir manis sang istri bahkan hatinya berbunga-bunga ketika dia mendengar bahwa sang istri memiliki rasa cemburu dan hal ini lah yang ditunggunya selama berumah tangga sebab sang istri tak pernah menunjukkan sisi kecemburuannya bila dia sedang didekati oleh wanita lain padahal Jo selalu memancing bagaimana reaksi sang istri terhadapnya bila ada wanita yang mendekatinya.


Grep.


Cup.


Cup.


Kecupan-kecupan kecil dia labuhkan dipucuk kepala sang istri bahkan bibirnya tersenyum lebar.


"Oppa mencintaimu honey."


Elly mengeratkan pelukan yang suaminya berikan namun tak membuat perut besarnya tertekan.


Kata-kata cinta yang selalu dia dengar dari sang suami bahkan dia sama sekali belum bisa membalas ungkapan cinta itu, nyaman satu kata yang bisa mewakili perasaan hatinya selama menikah dengan sang suami, pria berdarah korea itu mampu membuatnya merasakan menjadi wanita yang dicintai namun satu yang masih membuatnya seolah kelu untuk mengekspresikan rasa cintanya pada sang suami.


Tempat berbagi keluh kesahnya hanyalah sang ibu dan sang bibi.


"El juga Oppa." Ucapnya lirih namun mampu didengar oleh Jo membuat dirinya seketika mematung namun tak lama bibirnya tertarik keatas dan langsung meregangkan pelukannya.


"Coba ulangi lagi honey."


Blush.


Wajah Elly nampak memerah apalagi sang suami menatapnya dengan intens bahkan kini jantungnya berdetak lebih cepat.


Elly mencoba untuk memberanikan diri apalagi dia bisa melihat wajah penuh harap dari suaminya itu.

__ADS_1


Kedua tangannya dia ulurkan dengan sedikit gugup namun dia tak ingin mematahkan harapan suaminya itu.


Diusapnya lembut wajah tampan sang suami mulai dari alis yang tebal, mata sipit, hidung mancung, rahang yang dihiasi bulu-bulu tipis dan yang terakhir adalah bibir merah alami sang suami, bibir sekseh yang selalu membuatnya mabuk kepayang jika sudah mulai mengeksplore seluruh tubuhnya, bibir yang selalu mengucapkan kata cinta tanpa lelah selama ini dan bibir yang selalu berucap lembut.


Jo menikmati sentuhan-sentuhan sang istri dan dia biarkan istrinya itu bertindak sesukanya bahkan ini kali pertamanya sang istri berperilaku demikian membuat hatinya terus berbunga-bunga.


"I love you Oppa, maaf jika cinta oppa baru El balas, terima kasih sudah bersabar menanti balasan dari El, terima kasih sudah menjadi suami yang baik, terima kasih sudah menjadi suami yang siaga, terima kasih atas cinta dan kasih oppa, terima kasih sudah memperlakukan El layaknya seorang ratu, El bahagia, sangat.


Tetaplah menjadi seperti ini, selalu menggenggam tangan El." Elly mengambil tangan besar sang suami yang digenggamnya dan tentu direspon oleh Jo.


"Ayo kita bina rumah tangga ini hingga tua nanti, jangan pernah goyah dengan cobaan yang akan datang kedepannya tetaplah percaya sama El dan jangan pernah ragukan El, disini." El membawa tangan sang suami dan diletakkan didadanya "Lelaki pertama yang mampu membuat El tahu rasanya dicintai dan sekarang el sudah yakin dengan perasaan el bahwa el mencintai oppa." Ungkapnya dengan perasaan lega plus bahagia bisa menyampaikan apa yang sebenarnya dia rasakan selama ini.


El melepaskan tangan sang suami yang tadi dia letakkan didadanya dan perlahan mengalungkan kedua tangannya dileher Jo dan tubuhnya dia angkat dan kini posisinya sudah duduk dipangkuan sang suami membuat Jo tersentak pelan namun dia cepat-cepat bersikap biasa agar sang istri tidak malu atau mengurungkan niat yang entah istrinya akan melakukan hal apa.


Cup.


Mata Jo seketika membelalak kaget saat mendapatkan serangan pertama dari sang istri namun dia masih menahan diri untuk tak berbicara apalagi saat ini istrinya mulai melu mat dan menye sap bibirnya seolah has ratnya susah terpancing akhirnya pertahanannya runtuh dan kini dia membalas dengan tangan merengkuh pinggang sang istri.


Suasana kamar menjadi panas seketika saat dua insan sedang saling menyerang, bahkan mereka melupakan tujuan mereka yang sedang berkemas untuk kembali keibu kota akibat mendapat serangan dadakan yang berujung kenik matan yang hakiki.


Lengu han serta desa han memenuhi kamar yang tidak terlalu besar itu namun terasa nyaman, bahkan mereka juga mengabaikan jika dirumah itu tidak hanya ada mereka berdua melainkan adanya dua orang jomlowati yang kini saling pandang dan secara bersamaan meneguk salivanya secara kasar hingga wajah mereka memerah dan saling salah tingkah.


"Emm kak, Sari kewarung dulu ya ada yang mau sari beli."


Belum dijawab oleh Ratna, Sari sudah lebih dulu berlari meninggalkan sang kakak yang masih berdiri tak jauh dari kamar anak serta menantunya itu membuatnya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Ckkk...dasar adik lacknat main kabur aja, huft...astaga putriku keliatannya juga ganas nggak mau kalah sama suaminya." ucapnya frontal pada diri sendiri dan langsung berlalu meninggalkan dua sejoli yang sedang dilanda gai rah.


"Ya ampun...paaakkk....ibu jadi pengen." jeritnya dalam hati dengan bibir terus tersenyum sambil memukul kepalanya pelan.

__ADS_1


Like.Vote.Gift🤗🤗🤗


__ADS_2