
Happy Reading๐ค๐ค๐ค
Like.
Vote.
Gift.
Jo menelan saliva dengan susah payah bahkan suasana disore hari itu mendadak mencekam saat semua berkumpul diruang tamu beralaskan tikar tipis, beruntung bu Marni sudah lebih baik jadi saat ini dia bisa menyambut tamu yang mengantar sang putri namun dirinya kembali dibuat syok ketika mendapat lamaran secara mendadak dari pria dewasa itu.
"Apa nak Jo sudah yakin ingin meminang putri saya satu-satunya?" Tanya Marni dengan suara pelannya.
"Yakin bu." Jawabnya tegas namun tak dipungkiri bila dibalik ketegasannya dia merasa sangat gugup luar biasa bahkan jika disuruh untuk memilih ia mending menghadapi klien yang cerewet sekalian.
"Ibu tidak berhak untuk memutuskan sesuatu apalagi ini menyangkut masa depan putri ibu, semua keputusan ada ditangan putri ibu, bagaimana nak?" Tanya Marni kepada sang putri.
Elly yang ditanyapun sama halnya dengan Jo bahkan dirinya seakan menjadi tersangka sebab saat ini semua mata tertuju padanya.
Namun satu hal yang memang dia inginkan sejak dulu bahwa dia tidak ingin berpacaran seperti gadis yang lainnya sebelum halal walau dia belum mengenakan hijab hingga detik ini namun dia selalu menjaga segalanya hanya untuk sang suami kelak dan selalu menghindar jika ada lawan jenis yang berusaha mendekatinya tentu dia akan menolak secara halus.
Elly mengucap bismillah dalam hati sebelum menjawab pertanyaan yang tertuju padanya dan perlahan dirinya menaikkan wajahnya hingga kedua mata mereka saling terkunci.
"InsyaAllah El terima lamaran ini ambu." Jawabnya pelan bahkan kini wajahnya nampak merona hingga dia kembali menundukkan wajahnya.
"Alhamdulillah." Ucap syukur kedua wanita paruh baya itu namun tidak dengan pria dewasa yang beberapa saat lalu mengutarakan niatnya.
Jo masih terpaku ketika mendengar jawaban dari gadis yang membuatnya berdebar itu seakan dia ingin memastikan lagi jika pendengarannya tidaklah salah.
"Nak Jo." Panggil bu marni ketika melihat calon mantunya terdiam.
__ADS_1
"Hah iya bu." Jo tergagap ketika suara wanita paruh baya memanggilnya hingga memutuskan lamunannya.
"Jadi gimana jawabannya bu, El." Tanyanya ulang dengan wajah bo dohnya membuat ketiga wanita berbeda usia tersebut terperangah menatap tak percaya pada lelaki berwajah tampan itu.
"Wah sepertinya jawaban "Iya" ditarik kembali." Goda Bik Sari sambil menekankan kata iya.
"Jadi tadi beneran lamaran saya diterima." Jo seketika berucap dengan antusias sambil memandang satu-satu wanita yang ada di ruangan itu.
"El, jawab ulang yang tadi tapi kalau ngomong agak keras biar calon suamimu dengar." Titah Sari.
"Iya Tuan saya terima lamaran anda." Ucapnya dengan sedikit gugup namun lebih keras dari sebelumnya.
"YES..." Pekiknya heboh bahkan badannya hendak bangkit dan menerjang tubuh mungil Elly yang tak jauh dari posisi duduknya itu.
"Eits belum halal jangan main peluk-peluk." Cegah Sari dengan pekikan sedikit keras.
Jo menampilkan senyum malunya dan kembali duduk ketempat semula sembari menggaruk tengkuknya sedangkan yang lainnya terkekeh geli melihat ekspresi Jo, Elly hanya mampu tersenyum malu ketika melihat pekikan calon suaminya.
Sebuah kotak kecil berwarna merah dengan bentuk hati dikeluarkannya dan perlahan dia buka kotak tersebut.
"Cincin ini sebagai tanda dari saya untuk meminang Elly." Jo kemudian mengambil cincin mungil dengan berlian kecil menghiasi cincin tersebut.
"Wah...ternyata kamu sudah mempersiapkannya." Sari heboh saat melihat cincin yang diyakininya pasti sangat mahal itu.
Elly pun demikian dia jadi penasaran dengan asal usul cincin tersebut bukankah mereka sejak pagi bersama hingga timbul banyak pertanyaan.
"Cincin ini saya beli satu bulan yang lalu ketika masih berada dikorea, Serkhan bilang jika kita hendak melamar seseorang yang paling utama adalah cincin dan kebetulan pada saat saya berada disalah satu pusat perbelanjaan disana saya melewati toko perhiasan hingga tiba-tiba kaki saya melangkah ke toko tersebut, dan saat melihat cincin ini saya langsung jatuh hati pada hal waktu itu saya belum memiliki teman dekat apalagi kekasih." Jelasnya sambil memandang cincin yang masih ada didalam pegangannya dengan terkekeh kecil ketika ingatan satu bulan yang lalu terlintas dibenaknya.
Jo menggeser duduknya dan dengan lembut dia menarik tangan mungil Elly untuk dia sematkan cincin tersebut.
__ADS_1
"Ternyata pas." Lirihnya dengan tersenyum haru.
Elly memandang lekat cincin yang kini telah melingkar dijari manisnya yang terlihat sangat indah, senyum Elly perlahan terbit seolah sebentar lagi keinginannya untuk berpacaran setelah halal akan terlaksana.
Walau pertemuan mereka sangat singkat namun dia merasa tersentuh dengan ungkapan pria asing tersebut apalagi bibirnya yang sudah tidak pera wan membuat salah satu alasannya lah untuk menerima lamaran itu.
Setelah acara lamaran dadakan selesai kini sepasang calon pengantin sedang menapaki langkah demi langkah jalan kecil yang ada ditengah-tengah sawah bahkan hal tersebut bik Sarilah yang mengusulkan ide untuk Elly mengajak calon suaminya agar lebih saling mengenal satu sama lain dan disinilah mereka berdua berada tepatnya dibelakang rumah Elly.
"Terima kasih sudah menerima lamaran ku, El." Ucapnya dengan tiba-tiba.
Elly sontak menghentikan langkahnya dan tak lama melanjutkan lagi langkah mungilnya untuk segera sampai di batang kayu besar tak jauh dari mereka.
"Apa Tuan sangat yakin ingin menjadikan Elly sebagai istri Tuan?" Tanyanya pelan setelah mendaratkan bo kongnya di batang kayu tersebut.
"Apa aku terlihat seperti pembohong?" Tanya Jo balik sambil mengikuti Elly duduk diujung batang kayu itu.
"Saya tidak tahu tuan, tapi semoga saja diawal hubungan tidak ada yang namanya kebohongan sebab jika awalnya sudah dilandasi kebohongan maka seterusnya akan seperti itu." Elly tersenyum tipis kearah Jo.
"Baik, aku akan menceritakan segalanya sekarang namun yang pasti aku tidak salah dalam mengambil tindakan dengan melamar kamu, gadis yang membuat saya jatuh cinta saat pandangan pertama terdengar gombal tapi itu lah yang saya rasakan pagi tadi." Jo membalas senyum lembut kearah sang calon istri, dia paham jika Elly memang belum yakin padanya.
"Nama saya Jo in park, saya asli kebangsaan korea, kedua orang tua saya masih ada hingga saat ini, saya memiliki saudara kandung yaitu Joanna park dia adik saya yang sekarang sudah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak, mereka semua tinggal dikorea alasan saya berada di Indo yaitu mengenai pekerjaan dan bermaksud untuk menjenguk sahabat saya yang istrinya belum lama ini melahirkan yaitu majikan kamu dan perlu kamu ketahui El saya seorang duda." Jelasnya tanpa menutupi statusnya sama sekali.
Degh.
Elly seketika menoleh kesamping hingga tataoan mereka terkunci.
"Ya, saya duda 10 tahun lalu mantan istri saya meninggal disaat acara honeymoon kami dan sejak itu saya tidak pernah dekat dengan wanita manapun kecuali keluarga saya." Ucapnya lirih dengan menatap lurus kedepan setelah sempat saling pandang.
"Apa kamu keberatan dengan status saya El?" tanya Jo dengan tatapan seriusnya.
__ADS_1
gleuk.
Gantung dulu ya semua, maafkan othor jika sempat hari ini saya up lgi karena putri othor sedang sakit๐๐๐