
Happy Reading🤗🤗🤗
Like.
Vote.
Gift.
Tok...tok...tok...
Ceklek.
Pintu terbuka membuat penghuni yang ada diruangan itu seketika menoleh dan tamu tengah malam berjalan kearah ranjang dimana seorang wanita hamil sedang duduk sambil menatap kearahnya.
"Gimana?"...
Todong Helena saat sahabatnya sudah berada disisi ranjang.
"Aman"...
Ucapnya sambil mengangkat kantong yang sudah berisi keinginan si bumil.
Mata Nessa berbinar cerah saat mama Denia membuka tempat yang dibawanya, dirinya bahkan menelan saliva dengan susah payah.
Denia tersenyum lembut saat pandangan Nessa tertuju pada tempat yang kini sudah terlihat isinya segera dirinya mengambil satu tusuk dan disodorkan ke arah Nessa.
Nessa terkesiap namun tak lama senyumnya mengembang bahkan dirinya segera membuka mulutnya untuk segera menyantap makanan yang sangat diinginkan.
Helena ikut bahagia melihat sang menantu makan dengan lahapnya apalagi Denia membawakan nasi hangat juga.
"Terima kasih"...
Ucapannya tanpa suara saat pandangan mereka berdua bertemu.
Denia menganggukkan kepalanya pelan dan melanjutkan menyuapi si bumil.
Serkhan yang sejak tadi bangun dari tidurnya perlahan ingin bangkit namun tindakannya kalah cepat karena Baba sudah menahan lengannya.
"Jangan ganggu istrimu dulu, biarkan dia makan.... seharusnya kamu bisa lebih sabar menghadapi wanita hamil boy, jangan mudah emosi jika tidak ingin berakibat fatal, jadikan hari ini pelajaran untuk kedepannya, karena tidak semua ibu hamil menginginkan sesuatu dan bersyukurlah kamu jika istrimu masih menginginkan kamu untuk mencarikannya dan bukan lelaki lain yang dimintai tolong"...
Jelasnya lalu melepaskan cekalan tangannya.
Gleuk.
Serkhan menelan saliva dengan susah payah, lalu dirinya menghembuskan nafas dengan kasar... karena memang apa yang dibilang oleh baba adalah benar dan dia harus bisa lebih bersabar nantinya.
"Nessa sudah kenyang...terima kasih ma satenya"...
Ucapnya pelan.
"Maafin Nessa ma yang merepotkan mama malam-malam begini"...
Sambungnya kembali.
"Ssttt....jangan berbicara seperti itu sayang, mama senang kamu menyukai masakan mama...sepertinya mama tidak bisa berlama-lama, mama pulang dulu ya....istirahatlah...apapun yang kamu inginkan kamu bisa menelfon mama siapa tau mama bisa membuatkannya untukmu"...
Ucapnya dengan lembut.
"Heyyy...nggak gitu juga dong Anne juga bisa masak loo sayang"...
Selanya sambil menatap sang menantu dengan lembut.
"Ya...ya...ya...dasar nggak mau ngalah"...
__ADS_1
Cibirnya.
Dan Denia segera berpamitan kepada Nessa serta yang lainnya.
"Sayang, Anne dan baba pulang dulu ya...istirahat yang cukup, besok anne kemari lagi, telfon anne jika menginginkan sesuatu"...
Pamit Anne yang sedang terburu-buru sebab iya ingin mengejar Denia.
"Makasih ya Anne maaf Nessa jadi ngerepotin"...
Ucapnya dengan pelan.
Cup.
"Anne senang direpotin kalian, sehat-sehat cucu granne"...
Ucapnya pelan sambil mengelus perut menantunya yang sudah besar setelah mengecup kening Nessa dengan penuh kasih dan sayang.
"Terima kasih granne"...
Ucpanya sambil menirukan suara anak kecil sedangkan Helena nampak terkekeh pelan mendengarnya dan langsung bersiap untuk keluar dari ruangan sang menantu.
"Ayo ba"...
Ajak helena dengan menghentikan langkahnya tak jauh dari sofa yang diduduki sang suami serta putranya.
Baba segera bangun dari duduknya begitu pula dengan Serkhan.
"Baba pulang dulu sayang. segera beristirahat ya"...
Cup.
Baba mencium puncak kepala menantunya sambil berpamitan dengan sang cucu lalu mereka lantas meninggalkan ruangan Nessa.
Sedangkan Nessa masih dengan posisinya sambil menatap sang suami yang saat ini berjalan kearahnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Yang"...
Panggilnya dengan pelan dan berdiri di sisi kanan ranjang.
Nessa belum bersuara sedikitpun bahkan pandangannya tidak beralih kesamping dimana sang suami berada, pandangannya tetap lurus kedepan.
"Maafin mas yang"...
Ucapnya pelan dengan menundukkan kepalanya namun diam-diam dirinya mencuri pandang kearah sang istri.
Sedangkan Nessa nampak menghela nafas pelan bahkan kini dirinya menyadari bahwa sang suami tidak salah dalam hal tadi namun entah mengapa dia sungguh sensitif sekali apa lagi saat sang suami tidak berbicara lembut padanya.
"Peluk"...
Serkhan seketika terkesiap bahkan kini dirinya mematung dan menajamkan kembali pendengarannya takut dirinya salah menangkap suara.
Nessa langsung melihat kesamping saat tidak ada reaksi apapun dari sang suami.
"Ihhhhh...mas jahat"...
Ucapnya dengan kesal dan langsung merebahkan tubuhnya tanpa pelan-pelan.
"Awww...."...
Pekikan seorang wanita membuat kesadaran Serkhan kembali.
"Yang"...
__ADS_1
Pekiknya saat melihat tangan sang istri berdarah bahkan sekarang terdengar isakan kecil dari sang istri.
Serkhan dengan sigap menekan tombol diatas kepala ranjang sang istri dan berlari untuk membuka kunci agar nanti dokter atau perawat bisa masuk.
"Sakit ya...sebentar ya sayang, tahan dulu...lain kali pelan-pelan okey kalau mau baring"...
Ucapnya dengan lembut dengan memegang tangan sang istri yang berdarah karena selang impusnya lepas bahkan dirinya sedikit memberi tekanan agar darahnya tak menetes.
"Sudah jangan nangis, heum..."...
Sambungnya deengan masih bernada lembut dan mengusap air mata sang istri.
Nessa tak berani melihat kearah sang suami namun air matanya masih mengalir bahkan isakan kecil masih terdengar.
Tak berselang lama dokter serta perawat masuk kedalam ruangan Nessa, Serkhan segera menjelaskan dengan pelan dan dengan sigap dokter tersebut memasang impus kembali namun ditangan yang berbeda.
Setelah beberapa saat kemudian sang dokter segera berpamitan dan diikuti oleh seorang perawat, Serkhan ikut mengantarkan dokter tersebut setelah mengecup kening sang istri dan berpamitan sebentar.
"Terima kasih dokter"...
Ucap Serkhan saat berada diambang pintu.
"Sama-sama Tuan muda, jangan sungkan untuk menghubungi kami jika terjadi sesuatu"...
Jawab sang dokter yang sudah berumur tersebut dan menunduk dengan sopan.
"Pasti dokter"...
Ucapnya sambil tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya.
"Kami permisi Tuan muda"...
Pamitnya dan tak lupa menyambut uluran tangan Serkhan.
Setelah dirasa dokter tersebut sudah agak menjauh, Serkhan laku menutup pintu kamar rawat sang istri dan segera menguncinya karena waktu sudah sangat larut.
Dirinya melihat keatas ranjang dimana sang istri masih membuka matanya lantas dirinya tersenyum lembut dan duduk di pinggiran tempat tidur.
"Tidurlah yang, sudah malam"...
Ucapnya dengan lembut dan membelai lembut pipi sang istri.
Nessa menggelengkan kepalanya pelan dan masih menatap sang suami membuat dahi Serkhan mengerut seketika.
"Ada apa heum?"...
Tanyanya dengan lembut.
"Nessa pengen dipeluk"...
Jawabnya dengan jujur dan menundukkan pandangannya.
Serkhan mengulum senyum, berarti dirinya tadi tidak salah mendengar dan Serkhan lantas mencari posisi agar bisa tidur disebelah sang istri yang memang sudah bergeser tidurnya.
Dengan pelan Serkhan mengangkat kepala Nessa agar berbantalkan pada tangan kekarnya dan melingkarkan sebelah tangannya agar bisa memeluk sang istri dan tentu hal tersebut membuat Nessa dengan senang hati menyambut hangatnya dekapan sang suami.
Cup.
Cup.
Serkhan mengecup kening serta bibir sang istri dengan penuh cinta sambil mengucapkan selamat malam dan tak lama keduanya terlelap untuk mengarungi mimpi indah.
Like.Vote.Gift🤗
__ADS_1