
Happy Reading🤗🤗🤗
Like.
Vote.
Gift.
Ayu mematutkan penampilannya dicermin, bahkan kini wajahnya nampak memerah ketika melihat penampilannya yang pantas menjadi wanita penggoda.
"Menggoda suami nggak salah bukan." Gumamnya pelan sembari melenggak-lenggokkan badan mungilnya yang putih mulus.
"Huft...kecil amat si kalian berdua." Lanjutnya lagi sembari mendesah pelan dan memegang kedua buah kembarnya yang terlihat mungil apalagi tidak menggunakan penutupnya.
Ya selama seminggu menikah mereka memang belum sampai tahap membuka yang berada dibalik kain, hanya sebatas ciu man saja sebab Dika bilang jika dia menginginkan semuanya nanti bila sang tamu durjana telah pergi.
"Semoga mas nggak kecewa." Lirihnya sembari memandang lesu pantulan dirinya dicermin kamar mandi.
Perlahan langkah kakinya meninggalkan area kamar mandi dan keluar dari sana dilihatnya kamar yang masih kosong menandakan sang suami belum masuk kedalam kamar mereka padahal sudah 30 menit berlalu.
"Apa aku susul aja ya." Pikirnya.
"Aihhh susul aja deh, malu kok nanggung." Ujarnya dengan wajah memanas.
Dengan jantung yang berdetak lebih kencang Ayu memberanikan diri melangkahkan kakinya untuk keluar kamar menuju ruangan kerja suaminya yang hanya berseberangan saja, beruntung kamar keduanya ada dilantai dua jadi dia tak akan malu jika terpergok oleh ART yang tinggal bersama mereka juga.
Ceklek.
Ayu dengan sangat pelan membuka pintu ruang kerja suaminya, entah beruntung atau tidak dia sedikit bisa bernafas lega saat melihat suaminya sangat fokus pada sebuah layar kecil yang ada diatas meja nampaknya suaminya sedang melakukan panggilan video lewat laptop.
Perasaan gugupnya masih mendera hingga saat ini dia masih berada didepan pintu yang hanya terbuka sedikit, sekelebat ingatan dari sahabatnya tiba-tiba muncul.
"Jangan pernah malu bersikap agresif sama suami sendiri, justru jatuhnya ibadah kalau kita bisa melayani suami kita hingga puas."
Sepenggal ucapan dari sahabatnya yang saat ini telah dikaruniai kedua buah hati kembar membuat tekatnya semakin besar untuk melangkah, demi kesejahteraan rumah tangga.
Dengan pelan dia melangkah menuju sang suami dna tak lupa menutup pintu lalu mengunci sepelan mungkin agar suaminya tidak menyadari kedatangannya yang hanya menggunakan baju saringan tahu berwarna merah menyala itu, baju dinas malam hadiah dari sahabatnya pada saat pernikahannya seminggu lalu.
Dilihatnya suaminya masih menghadap laptop sambil membolak-balikkan kertas yang ada diantara meja dan laptop, bahkan mulutnya tak henti berbicara pada si lawan yang ada didalam laptop itu.
"Jadi gimana bay, apa sudah?" Tanya Dika tanpa melihat ke layar laptop, lebih tepatnya lawan bicaranya.
__ADS_1
"Ya sudah Dokter Dika, maaf malam-malam mengganggu waktu istirahatnya dokter." Balasan dilayar dengan nada tak enak hati.
"Tak masalah bay, ya sudah kalau begitu saya tutup ya, Assalamualaikum." Pamitnya tak lupa mengukir senyum tipis sebelum mematikan panggilan yang ada dilaptopnya.
"Huft, untung nggak lama." Gumamnya pelan dan langsung membereskan kertas yang berserakan diatas meja, sedangkan sang pencuri dadakan yang tak jauh dari posisi Dika nampak bergerak sedikit lebih maju.
"Ahhhh lelahnya." Ucapnya sambil berdiri dari kursi kebesarannya dan merenggangkan kedua tangannya keatas hingga berbunyi.
Grep.
Deg.
Dika seketika terpaku saat merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang dan setelah tersadar hingga dia hendak menyentak kedua tangan yang telah lancang menyentuh tubuhnya namun niat itu urung ketika mendengar suara merdu yang sangat dikenalinya.
"Mas." Panggilnya dengan lembut diiringi dengan usapan yang menggoda iman didada Dokter yang telah merindukan sentuhan itu.
"Yang." Suaranya seketika serak namun terdengar seksi bagi Ayu membuat dirinya meneruskan usapan sen sual pada dada yang masih berbalut kain batik itu.
Dika memejamkan matanya erat dengan kedua tangan mengepal disisi tubuhnya sata merasakan usapan yang sungguh membuat jarum tumpulnya seketika bereaksi cepat, nafasnya memberat menandakan gai rahnya terpancing.
"Ohh ****."
Umpatnya dalam hati ketika dirinya tersadar jika sang istri masih belum bisa disuntik menggunakan jarum tumpulnya.
Ayu yang paham jika sang suami belum mengetahui jika dirinya telah selesai kedatangan tamu segera melangkah agar bisa berdiri dihadapan suaminya.
"Mas." Panggilnya saat suaminya masih memejamkan mata padahal saat ini dia sudah berada dihadapan suaminya dengan kedua tangan memeluk berada dipinggang Dika namun tubuh mereka tidak menempel.
Dika perlahan membuka kedua matanya dan seketika matanya melebar saat melihat pemandangan yang begitu membuat jiwa kelakiannya memberontak semakin kuat.
"Apa sudah bisa?" Tanyanya dengan nada yang berat dan pandangan sayu sebab saat ini gai rahnya sudah ada diubun-ubun.
Cup.
Ayu menarik tengkuk suaminya dan langsung melabuhkan ciu man, sedikit memberi luma tan kecil seperti yang diajarkan suaminya selama seminggu itu.
Dika yang diberi serangan dadakan tentu saja tidak menolak sama sekali, dirinya langsung merengkuh tubuh mungil sang istri dengan satu tangan sedangkan yang satu dia gunakan untuk menahan tengkuk istrinya untuk memperdalam ciu man mereka.
Ruangan yang sudah dingin dengan hawa AC tak bisa mengalahkan betapa panasnya bira hi keduanya, has rat sang dokter yang sudah ditahan sejak lama seketika membuatnya menjadi beringas dan rasanya ingin secepatnya menuntaskan namun dia mengingat jika ini adalah pengalaman pertama sang istri jadi dia harus bisa memberi kesan agar bisa diingat seumur hidup.
Hap.
__ADS_1
Dengan sekali angkat kini tubuh mungil Ayu susah berada didalam gendongan sang suami dnegan posisi seperti bayi koala membuat kaki Ayu langsung melilit pada pinggang suaminya itu.
Hosh.
Hosh.
Hosh.
Nafas keduanya memburu setelah ciu man maut mereka terlepas, bibir keduanya nampak membengkak dengan sisa saliva yang masih menempel pada benda kenyal maaing-masing.
Pandangan mereka bertemu tak lama senyum pada masing-masing wajah terukir.
"Nakal ya sekarang." Ucapnya pelan sambil menurunkan pandangannya dan melihat tubuh bagian atas snag istri terpamlang nyata dihadapannya walau masih menggunakan baju haram dengan model belahan dada rendah.
"Jangan diliatin mas, malu." Rengeknya sambil memajukan tubuh atasnya dan mendekap kepala sang suami agar tidak melihat bukit kembarnya yang mungil.
"Kenapa, mas mau lihat." Gumamnya sebab saat ini wajahnya sudah berada diceruk leher istrinya.
"Malu, punya Ayu kecil." Lirihnya, sungguh dirinya merasa kurang percaya diri sebab mempunyai dua bukit yang jauh kecil dari sahabatnya.
Dika terkekeh kecil dan segera menggigit gemas leher jenjang istrinya itu hingga membuat sang empu terpekik tertahan.
"Sakitt mas." Rengeknya saat dia merenggangkan dekapannya hingga wajah mereka kembali bertemu.
"Belum lagi mas suntik pakai jarum tumpul mas sudah sakit." Ucapnya dengan gemas pada sang istri.
Blush.
Wajah Ayu kembali memanas saat mendengar ucapan suaminya itu.
Cup.
"Buka yang, mas mau lihat dikembar mungil." Ucapnya sembari mengulum senyum setelah meninggalkan satu kecupan tepat diatas salah satu bukit kembar sang istri yang masih tertutup baju dinas bagi kaum wanita yang sudah bersuami.
"Jangan malu, karena semua yang ada ditubuh sayang milik mas, mau kecil atau besar itu semua sudah hak paten milik seorang Dika Anggara, nanti mas yang besarin mereka berdua." Seringai me sum terpancar pada wajah tampannya.
Ayu mengerutkan dahinya.
"Emang bisa mas besarin punya Ayu?" Tanyanya dengan polos namun wajahnya memerah karena dia melirik aset kembarnya.
"Cukup diam dan nikmati, nanti mereka akan besar sendiri yang." Bisiknya dengan nada yang kembali serak.
__ADS_1
"Aaaahhkkkk..."...
Skip dulu ach✌✌✌