
Happy Readingπ€π€π€
Like.
Vote.
Gift.
Mata yang semula berbinar kini kembali redup seperti sedang menahan amarah saat melihat wanita yang tak jauh darinya dan dengan santainya berbicara seolah tidak pernah terjadi apa-apa, jika mengingat tentang kejadian tadi siang ingin rasanya dia meluapkan amarahnya saat ini juga namun dia tahan sebab ada wanita yang sangat disayanginya sedang berdiri disampingnya, Serkhan mengepalkan sebelah tangannya untuk menahan semua amarahnya.
Denia menyadari akan ketidak sukaan Serkhan dan diapun turut mengerti dengan apa yang pernah dirasakan Serkhan dulu namun dia sama sekali belum tahu tentang perbuatan sang putri yang sudah diluar batas.
"Sudah nggak usah hiraukan Feli, ayo...bukankah tadi kamu ingin cepat kerumah sakit"...
Ucapnya lembut sambil menarik pelan tangan Serkhan.
Serkhan mengalihkan pandangannya dan menatap wanita paruh baya yang sedang tersenyum teduh lantas membalas senyuman itu dan merasakan usapan dilengannya dengan lembut sambil menganggukkan kepalanya pelan perlahan dirinya melangkahkan kakinya mengikuti Denia.
Feli menghentakkan kakinya dengan kesal saat ucapannya tak dihiraukan oleh mantan suaminya itu, namun dalam hati dirinya bertanya-tanya untuk apa mantan suaminya itu datang kemari.
"Serkhan, kok aku dicueki?"...
Rengeknya dengan manja padahal dalam hati dirinya menahan kesal sambil mengikuti langkah kedua sosok yang seperti anak dan ibu itu.
"Berhentilah Feli, mama tidak ingin membuat putra mama tidak mau menginjakkan kakinya di rumah ini lagi karena kelakuanmu, sungguh mama sangat jengah melihatnya"....
Sentaknya dan berhenti untuk menengok putrinya yang makin kesini sering membuatnya pusing karena kelakuannya yang kembali seperti anak kecil.
Feli seketika menghentikan langkahnya dan sedikit tertegun kala melihat mata sang mama yang berkilat menandakan bahwa mamanya beneran jengah terhadap kelakuannya.
Denia segera menyeret pelan lengan Serkhan dan kembali tersenyum saat memandang pria yang sudah dianggap putranya sendiri olehnya sejak dulu kini telah menjulang tinggi hingga dirinya merasa pegal saat memandang wajah putra yang dirindukannya.
"Kamu sekarang tinggi sekali boy, leher mama sampai pegal saat lihat kamu kalau lagi berdiri"...
Keluhnya sambil memegang lehernya sendiri dan kembali menatap kedepan.
Serkhan lantas terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya, perasaan tingginya masih tetap seperti 10 tahun silam namun memang mereka jarang bergandeng tangan seperti ini, sebab alm. papa adalah pria yang sangat posesif sekali sama seperti baba nya.
Kini Serkhan sudah berada didapur bersama dengan Denia, waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore membuat sebagian pelayan dirumah itu mengerjakan tugasnya terutama bagian dapur, namun Denia memerintahkan para pelayannya untuk menyingkir dan dirinya sendiri yang akan membuat sesuatu.
__ADS_1
Dengan telaten Denia mengeluarkan seluruh bahan yang dibutuhkan dan tentu Serkhan ikut membantu mamanya itu.
Denia bersyukur tadi pagi dia sempatkan waktu untuk berbelanja padahal dirinya dalam keadaan kurang sehat namun dia paksakan karena nalurinya ingin pergi membeli kebutuhan dapur dan ternyata benar nalurinya dan disinilah dirinya berada bersama orang yang dirindukannya.
"Apa nggak ingin bercerita dengan mama boy?"...
Mulut Denia yang sudah tak sabar ingin menuntaskan rasa penasarannya namun kedua tangan tuanya dengan cekatan menyiapkan rujakan itu.
Serkhan seketika menghentikan aktifitasnya yang sedang mengupas buah lalu menoleh kearah Denia.
"Namanya Nessa mam, kami sudah menikah hampir 7 bulan dan saat ini Nessa sedang mengandung usia kehamilannya sudah memasuki bulan ke 5"...
"Aawww.....mam ampun sakit mam"...
Ringisnya saat bahunya tiba-tiba dipukul dengan tangan wanita tua itu secara bertubi-tubi.
"Dasar anak nakal, nikah nggak kasih tau mama, huh...apa segitu tidak berartinya mama buat kamu huh"...
Ucapnya meninggi sambil tangannya terus memukul bahu Serkhan.
"Apa memang kamu sudah nggak sayang lagi sama mama boy, kenapa menikah mama nggak tau, apa kamu juga ikut membenci mama?"...
Tanyanya dengan nada bergetar dan menundukkan kepalanya sambil menghentikan pukulannya dan menurunkan tangannya.
Lirihnya, dirinya memang menyadari akan semua kesalahan putrinya dulu, namun dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa saat itu, jika tau sang putri telah memiliki kekasih tentu dia dan sang suami tidak akan meneruskan perjodohan itu apa bila putrinya sendiri tidak menginginkannya, namun saat itu sang putri hanya diam saja tidak berkata "iya" dan dalam benak mereka jika sang putri menerima perjodohan itu dengan baik namun ternyata keputusan mereka salah hingga menyebabkan retaknya kedua keluarga itu.
Degh.
Serkhan menghentikan usapan tangannya dibahunya sendiri saat mendengar suara mama Denia yang seperti menahan tangis dan ternyata benar, mama Denia menangis saat melihat tubuh tua itu bergetar dengan membelakanginya.
Grep.
"Maafkan boy mam, bukan seperti itu... keadaan kami dulu sangat sulit untuk boy menghubungi mama, kami menikah secara mendadak dan saat itu cuma sederhana, Nessa sempat menghilang setahun lalu dua hari setelah pertunangan kami, bahkan hingga kini ingatan Nessa belum pulih secara fisik Nessa sudah seperti wanita pada umumnya namun kami harus menjaga ucapan kami agar tidak menyakitinya karena itu bisa berakibat buruk nantinya, sejujurnya boy kemari ingin berbicara dengan Feli, karenanya istri dan calon anak-anak boy terancam keselamatannya"...
Jelasnya panjang lebar.
"Apa maksudmu boy, kenapa dengan Feli"...
Ucap Denia seketika melepaskan pelukan dari Serkhan dan berbalik menatap Serkhan yang kini menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Jelaskan pada mama boy, maksud kamu apa, heum?"...
Tanyanya kembali dengan nada lembut sambil mengusap air mata yang menetes dipipi tuanya.
Serkhan sedikit menegakkan kepalanya dan memandang wanita yang kini sedang meminta penjelasan darinya, sejujurnya dirinya tak ingin mama Denia mengetahui hal ini namun melihat perilaku Feli barusan, membuat dia akhirnya mengungkapkan kenyataannya.
"Nessa tadi pagi ijin untuk pergi ke pusat perbelanjaan mam, dan dari CCTV yang boy lihat, Feli ternyata mengikuti kegiatan Nessa dan pada saat itu Serkhan melihat di layar bahwa Feli sengaja menubrukkan badannya dengan Nessa hingga mereka saling bertabrakan walaupun Nessa sempat ditahan oleh maria karena tubuh Nessa hampir limbung namun Nessa sangat syok karena dirinya hampir tengkurap dilantai belum pulih rasa syok nya, Feli berbicara dengan nada tinggi"...
Ucapnya pelan dengan nada sedikit berat saat mengingat darah yang tertempel dikursi.
Denia membekap mulutnya menggunakan kedua tangannya dan tak terasa air matanya mengalir sungguh dirinya tidak menyangka akan perbuatan putrinya yang sangat diluar batas itu.
"Nessa sampai mengalami pendarahan disana dan beruntung dokter bisa menghentikan pendarahan itu karena boy dengan cepat membawa Nessa kerumah sakit"...
Sambungnya kembali dengan mata yang berkaca-kaca, sungguh hatinya sangat sakit saat melihat wanita yang dicintainya harus berbaring dirumah sakit kembali.
Grep.
"Maafkan putri mama boy, walaupun mama tau kamu tidak bisa memaafkannya mama mengerti, tapi jangan lagi menjauhi mama, cukup Helena yang belum bisa menerima mama"...
Tangisnya pecah saat memeluk tubuh Serkhan dan Serkhan membalas pelukan Denia sambil mengusap bahu Denia dengan lembut samb menganggukkan kepalanya pelan.
"Ma, bisa kah dilanjut lagi, boy takut Nessa menunggu lama nantinya"...
Ucapan tiba-tiba dari mulutnya saat mengingat sang istri.
Denia segera melepaskan pelukan dari Serkhan dan tersenyum sambil mengusap kedua pipinya yang basah.
"Iya, ayo... cepat bantu mama, potong-potong buahnya boy, mama yang buat bumbunya, nanti mama ikut, mama nggak sabar pengen lihat menantu mama yang sedang hamil cucu mama, pasti dia cantik bisa meluluhkan hati putra mama yang tampan ini, aduh.... ternyata mama udah tua ya boy, nggak sabar pengen gendong cucu"...
Ucapnya antusias sambil mengulek bumbu membuat Serkhan seketika tersenyum dan mengangguk.
Tanpa mereka sadari bahwa ada sepasang mata yang saat ini sedang berkaca-kaca.
"Apakah aku harus menyerah?"...
Tanyanya pada diri sendiri dengan nada lirih.
Hay...selamat pagi semua Readers setia...
__ADS_1
Jangan lupa Like.Vote.Gift.
πππ