
Happy Reading🤗
Maria berjalan menuju kamarnya dengan gerutuan kesal sepanjang langkah, bahkan dalam hatinya segala umpatan keluar dari bibir gadis keturunan Arab yang fasih dalam berbahasa yang sama dengan Nyonya mudanya itu.
Ya gadis yang bertabrakan dengan Kepala pelayan yang baru adalah Maria.
Brak.
Pintu kamar dia tutup sedikit kencang beruntung tidak ada yang mendengar sebab saat ini dia berada dipaviliun belakang tempat peristirahatan para pekerja di istana besar begitulah julukan para pekerja yang ada disana.
"Dasar duda tua, nyebelin banget, ya ampun tuh mulut habis makan cabe apa gimana sih, setiap ucapannya pedas abis." Sungutnya lalu membaringkan tubuhnya diranjangnya itu dengan menatap langit-langit kamar berukuran 3×4 bahkan kini bibirnya manyun hingga beberapa centi kedepan.
"Huft...biarpun tuh mulut pedes tapi tetap cinta." Lanjutnya dengan cekikikan namun suaranya lirih terdengar sendu diujung kalimat yang diucapkannya sendiri, bahkan status duda dia ketahui dari si mbok Nah, wanita paruh baya yang baik hati namun keponya naudubillah pokoknya.
Entah dari mana tiba-tiba hatinya terpaut kepada sosok Kepala pelayan baru yang bernama Jino Setiawan, pria berusia 40 tahun dengan status duda yang kabarnya memiliki seorang putri yang masih duduk dibangku perkuliahan dan hanya itulah yang dia ketahui tentang sosok Jino sebab selama hampir sebulan bekerja disatu atap namun dirinya tidak pernah sekalipun berbasa-basi tapi matanya tidak pernah melepaskan bayangan sosok pria tampan diusia yang sudah matang tersebut.
Maria kembali teringat bagaimana pertemuan mereka hingga hatinya berlabuh pada Jino.
Saat itu dirinya yang sedang tidak sibuk meluangkan waktu untuk bersantai sebab kedua anak asuhnya sedang bepergian dengan orang tua si bayi tersebut, alhasil dirinya dibolehkan untuk berjalan-jalan sebelum mereka kembali dari suatu acara.
Walau awalnya tidak terlintas sedikitpun untuk jalan-jalan namun salah satu teman yang sesama kerja dirumah itu mengajaknya pergi ke sebuah mall sebab bertepatan juga dengan libur temannya itu.
Dan disinilah mereka berada, disalah satu mall tak jauh dari tempat mereka bekerja.
"Siti jangan jauh-jauh dari aku ya." Pintanya sambil memegang lengan wanita yang dipanggil siti olehnya itu.
Siti menahan tawa mendengar permintaan teman barunya.
"Ya elah Maria, kan kita udah 2 kali kesini masa masih takut tersesat juga sih." Ledeknya dengan menahan senyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan langkah kaki yang tak berhenti menyusuri lantai mall tersebut.
Maria mencebikkan bibirnya sambil terus memegang lengan Siti, mengikuti kemana langkah kaki temannya itu yang katanya ingin membeli beberapa baju.
Namun saat hendak memasuki sebuah toko yang biasa mereka masuki, panggilan alam seketika menerjang Maria membuat dirinya menghentikan langkah begitu pula dengan Siti.
"Ada apa Maria?"
Maria nampak meringis sambil memegang perutnya.
__ADS_1
"Aku kebelet nih, aku ke toilet dulu ya." Bisiknya takut jika ada orang yang mendengar.
"Mau aku temeni?" Tawar Siti dan langsung dijawab gelengan oleh Maria.
"Nggak usah, kamu tunggu aja disini ya, toh toiletnya disitu aja." Ucapnya pelan sambil menunjuk dimana arah toilet dengan dagunya.
Siti menganggukkan kepalanya pelan, Maria lantas berjalan sedikit cepat agar cepat sampai sebab saat ini kandung kemihnya terasa penuh dan ingin segera dikeluarkan.
Setelah beberapa saat Maria selesai dengan urusannya, dengan sedikit terburu-buru dia keluar dari toilet tanpa melihat kesana kemari sebab pandangannya menunduk kearah tas kecilnya karena ponsel miliknya sedang berbunyi.
Brugh.
Seperti yang difilem-filem Maria hampir tersungkur kelantai jika saja tubuhnya tak ada yang menangkapnya, bahkan jantungnya berdetak lebih cepat dengan mata terpejam.
"Anda baik-baik saja Nona?" Suara berat nan seksi terdengar digendang telinganya hingga dirinya membuka kedua mata saat tubuhnya sudah kembali berdiri tegap oleh bantuan seseorang itu.
Degh.
Sejenak Maria terpaku dengan sosok yang saat ini memandang kearahnya dengan raut wajah datar namun tak dipungkiri jika pria tersebut memiliki paras tampan dengan warna kulit yang sedikit gelap.
Perlahan Maria menganggukkan kepalanya pelan diiringi senyuman tipis namun jantungnya semakin berdetak tak karuan saat menatap sorot mata tajam itu yang tidak menampakkan senyumnya.
Pandangannya masih tertuju pada punggung pria yang mengenakan baju kaos putih berlogo kuda didada kirinya dengan bawahan celana pendek yang panjangnya dibawah lutut berwarna hitam nampak santai.
"Tampannya." Bisiknya dalam hati dengan bibir melengkung keatas, lalu dirinya segera menggelengkan kepalanya pelan dan langsung berjalan menuju toko dimana temannya berada dengan bibir yang sesekali tersenyum.
Tidak membutuhkan waktu lama keduanya sudah selesai berjalan-jalan dimall tersebut dan memutuskan untuk segera pulang padahal waktu masih bisa untuk mereka nikmati diluaran sana namun dirinya merengek agar cepat bisa pulang kerumah majikannya.
Saat sedang menunggu taksi mereka sesekali terlibat perbincangan entah kebetulan atau bagaimana saat temannya ijin sebentar buat membeli barang yang ketinggalan, akhirnya Maria menunggu diparkiran depan.
Degh.
Netranya terpaku pada sosok pria tampan yang tadi menolongnya, disana pria tersebut sedang membantu wanita tua memungut barang-barang belanjaannya yang mungkin terjatuh hingga berceceran.
Bahkan dari jarak 10 meter dirinya dapat melihat pria tampan itu sedang tersenyum tipis menambah kadar ketampanan pria yang belum dia ketahui status dan usianya.
"Aduh Maria, mikirin apa sih? nanti kalo dia suami orang gimana!!" Kekehnya geli sambil memukul kepalanya pelan.
__ADS_1
"Kenapa Maria?"
"Ahhhh kaget aku, ihhh kamu ini kira-kira dong kalau mau ngomong, bikin jantungan aja untung nggak punya riwayat jantung, kan bisa kacau mana belum ngerasain nana nini lagi." Omelnya sambil mendelik kearah wanita yang baru menikah itu yang tak lain adalah Siti.
"Ya elah.... perawan satu ini udah mikir nana nini, punya pacar aja belum... nikah bu... nikah." Cibirnya sambil menoyor Maria.
Maria hanya cengengesan mendengar ucapan Siti lalu mereka akhirnya mengakhiri candaan sore itu dan akan segera kembali ke istana.
Hari berganti dan dikabarkan bahwa akan ada Kepala Asisten rumah tangga yang baru menggantikan Dito.
Maria yang masa bodoh dengan kabar tersebut sekarang sedang berada di meja makan area dapur sambil memakan cemilan karena kedua anak asuhnya sedang ditungguin sang Nyonya sebab sedang tertidur.
"Udah jam segini, mending istirahat deh kan twins masih tidur sama Nyonya." gumamnya saat melihat jam yang ada diponsel miliknya.
Lalu dia segera bangkit dari duduknya untuk meninggalkan area dapur menuju paviliun belakang, karena tak hati-hati saat hendak melangkah kakinya tergelincir dan.
Haph.
"Aacchhh." Maria terpekik dengan mata terpejam.
Kemudian dia baru menyadari kalau ada yang melilit diperutnya bahkan dia tak merasakan sakitnya mencium lantai.
"Kok nggak sakit." Gumamnya dalam hati.
Perlahan matanya terbuka dan mengeryit saat melihat keadaannya lalu kepalanya perlahan menoleh dan.
Degh.
Jantungnya seolah berhenti berdetak kala pandangannya tertuju pada sosok yang kini sedang menatapnya dengan pandangan datar.
Saking syoknya dia kakinya kembali terpeleset saat hendak berdiri dengan benar namun yang terjadi ialah.
Brugh.
Cup.
Dag.dig.dug.
__ADS_1
Posisi yang begitu intim sebab saat ini keduanya terbaring indah diatas rerumputan hijau bahkan sesuatu yang kenyal mendarat cantik disudut bibirnya membuat pacuan jantung keduanya memompa lebih cepat.