Om Duda, Suamiku

Om Duda, Suamiku
S2 - I love you


__ADS_3

Happy ReadingπŸ€—πŸ€—πŸ€—


Like.


Vote.


Gift.


"Belum selesai yang"...


Sebuah suara mengagetkan dirinya.


"Bikin kaget aja sih"...


Gerutunya tanpa menjawab ucapan pria yang melamarnya dengan dadakan tadi pagi.


Abbas hanya tersenyum simpul saat melihat raut kekesalan dari calon istrinya itu.


Calon istri, ahhh rasanya hatinya saat ini sedang bermekaran layaknya bunga-bunga.


"Ayo pulang"...


Ucapnya dengan nada seperti biasa.


"Ckkk...ngajak calon istri sendiri tapi nggak ada lembut-lembutnya sama sekali"...


Gerutunya kembali dengan raut wajah masam saat mendengar ucapan Abbas yang seperti biasa.


Abbas menahan tawa saat mendengar gerutuan sang calon istri.


Tanpa memandang lelaki yang masih berdiri disisi meja kerjanya, dia kemudian berdiri dari duduknya setelah merapikan kertas yang berada diatas mejanya.


Grep.


Jeni terpekik kaget saat mendapati dirinya berada didalam dekapan hangat pria kekar yang akan menjadi suaminya.


Ya, walau dia belum mencintai sosok Abbas namun setidaknya dia merasa nyaman berada didekat pria itu dan tak jarang ada seorang pria yang langsung melamar tanpa berpacaran dahulu.


"Jadi, apakah aku harus merubahnya?"...


Tanya Abbas dengan lirih setelah memojokkan tubuhnya ditepi meja tempat pria tadi berdiri.


Glek...


Dia dengan susah payah menelan saliva saat merasakan hembusan nafas hangat Abbas disekitar telinganya membuat tubuhnya merasa meremang hingga dia menutup mata.


"Rasanya aku sudah tak tahan jika harus menunggu dua bulan lagi"...


Keluh Abbas dengan nada berat, entahlah dirinya saat ini mudah ber has rat saat berdekatan dengan gadis yang dinyatakan sebagai calon istrinya ini.

__ADS_1


"Ayo kita pulang"...


Pintanya dengan nada terbata-bata karena lehernya kini sudah dikecup basah oleh pria yang sedang merengkuhnya dengan erat bahkan dirinya merasakan ada sesuatu yang mulai menonjol menekan perut bawahnya dan dia tahu itu apa.


"Bas"...


Panggilnya dengan susah payah saat Abbas menyusuri lehernya dengan kecu pan-kecu pan basah hingga diatas kedua bukit sintalnya yang memang dia mengenakan dress berleher v.


"Hmmm"...


Cup...


Abbas segera menyambar bibir ranum Jeni, bibir yang sudah menjadi candu baginya mrmbuat dia ingin lagi dan lagi.


Kini dia mulai paham kenapa kakaknya sangat me syum saat berada didekat kakak ipar ternyata rasanya sangat nikmat dan membuat candu.


Jeni kualahan menerima serangan dari Abbas bahkan badannya ikut menggeliat saat merasakan punggungnya diusap secara sen sual membuat tubuhnya semakin meremang.


"Hoshhh....hoshhh..."...


Nafas mereka berdua memburu saat Abbas melepaskan ciu man maut dan dahi mereka saling menempel dengan mata terpejam.


"Ayo pulang, bisa lepas kendali jika kita tidak pulang"...


Ucapnya dengan sedikit melembut dan membuka mata lalu menajuhkan wajahnya dari Jeni.


Abbas tersenyum lembut dan mengusap bibir Jeni untuk menghilangkan sisa saliva yang menempel dibibir Jeni yang kini sedikit membengkak dan memerah akibat ulahnya.


Cup.


Mata Jeni seketika terpejam saat merasakan keningnya dikecup dengan lembut.


"I Love you"...


Bisiknya dengan lembut.


Degh.


Jeni terpaku saat mendengar ungkapan cinta dari Abbas bahkan dirinya segera membuka matanya dan melihat wajah tampan yang dihiasi bulu halus di area rahang tegas sedang menatapnya penuh dengan cinta.


Bolehkah dirinya tidak bangun dari mimpi dan menikmati mimpi ini selamanya namun sayangnya ini adalah nyata bahkan dirinya tidak tahu harus membalas dengan apa.


Seolah tahu apa yang ada didalam fikiran Jeni dirinya berucap.


"Jangan dijawab sekarang, cukup rasakan jika aku mencintaimu"...


Abbas lantas menggenggam sebelah tangan Jeni lalu membawanya untuk turun, sepanjang jalan Jeni nampak mengulum senyum bahkan raut wajahnya masih merona beruntung kantor sudah mulai sepi jadi tidak ada yang melihat kedekatan mereka berdua.


Dirinya masih tidak menyangka jika pria berwajah dingin dan datar itu mengungkapkan cinta padanya, pada gadis sederhana seperti dirinya.

__ADS_1


Seolah mimpi namun dia dengan jelas bisa mendengar ungkapan cinta Abbas pria yang sama sekali tak terlintas untuk mendekatinya sebab Abbas sangat cuek dan dingin selama dirinya bergabung dengan Bassam Grup.


β˜†β˜†β˜†


Feli termenung didalam lamunan, wanita dewasa berusia 38 tahun itu sedang bimbang saat ini, apalagi mengingat kejadian tadi pagi pada saat Dito mengajaknya untuk berumah tangga.


"Aku tahu mungkin ini terlalu cepat untukmu, tapi ijinkan aku untuk mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya, aku mencintaimu Felisa dan aku ingin menjadikan kamu istriku, menjadi papi bagi Cahaya.


Aku tidak perduli dengan statusmu, aku tidak perduli jika kamu sulit untuk hamil nantinya jika kita menikah, kamu sudah memiliki seorang putri bagi ku itu sama saja walau bukan dari darah daging kita, karena aku sungguh mencintaimu, aku akan menerima kekuranganmu dan kamu bisa menerima kekuranganku.


Walau aku hanya bekerja sebagai Kepala ART tapi aku akan mencoba untuk membahagiakan kamu dan Aya semampuku.


Ijinkan aku meminangmu Felisa, aku akan menunggu jawaban kamu satu minggu lagi, aku harap jawaban yang kamu beri itu dari hati kamu bukan karena rasa kasihan atau paksaan.


Datanglah ke sini jika kamu mau menerima pinanganku,Aku pergi"...


Ucap Dito panjang lebar sembari menyodorkan sebuah note yang sudah berisi alamat serta tanggal dan jam disana.


Feli menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu pandangannya teralihkan saat mendengar suara Aya yang menangis lirih dan sepertinya bayi mungil itu sedang menggeliat dalam tidurnya.


"Selamat sore sayangnya mami, udah bangun sayang, mandi dulu yuk"...


Ucapnya dengan riang sembari mengangkat bayi mungil dari ranjangnya.


Dirinya terkekeh pelan saat melihat Aya mengedipkan beberapa kali matanya membuat dia semakin gemas pada sang putri hingga ciu man bertubi-tubi pun dia layangkan pada pipi chuby Aya.


Beberapa saat kemudia Aya sudah selesai mandi dan kini sudah nampak segar, Feli sangat cekatan untuk merawat Aya walau masih dibantu dengan Nunung untuk mempersiapkan keperluan Aya namun Feli sudah bisa untuk memandikan sendiri sang putri.


Kini Aya sudah cantik dan Feli membawanya menuju ruang keluarga dna menyalakan televisi sedangkan Nunung melanjutkan acara masaknya untuk makan malam mereka berdua.


"Apa yang harus mami jawab nanti sayang, papi Dito melamar mami untuk menjadikan kita sebagai keluarga, apa kamu setuju sayang? mami bingung"...


Gumamnya sembari menoel-noel pipi chuby Aya.


Sedangkan bayi yang diajak ngomong hanya melebarkan senyuman dengan sesekali membuka mulut.


"Kamu ini, mami tanya malah tersenyum...mami butuh waktu sayang, mami tidak mau kecewa kembali dan akhirnya nanti kamu tersakiti"...


Dret...dret...


Feli menghentikan ocehannya saat mendengar ponsel miliknya berbunyi.


Senyumnya mengembang saat melihat nama yang ada dilayar ponselnya.


"Oma Video Call sayang, yuk kita jawab"...


Feli segera menggeser layar ponselnya dan seketika wajah tua sang mama yang sedang tersenyum terpampang dilayar ponsel miliknya membuat dirinya ikut tersenyum.


Lalu mereka saling bercanda lewat video call hingga waktu mendekati pergantian hari.

__ADS_1


Hadiah mana hadiah, Kaltara habis diguyur hujan.


Bagaimana dengan daerah kalian para readers?


__ADS_2