Om Duda, Suamiku

Om Duda, Suamiku
S2 - Penyesalan dan Cumbuan


__ADS_3

Happy ReadingπŸ€—πŸ€—πŸ€—


Like.


Vote.


Gift.


Denia perlahan merenggangkan pelukan yang diberikan oleh sang putri, dengan masih menyisakan isakan kecil Denia memandang wajah putrinya yang juga berlinang air mata.


Diusapnya dengan lembut penuh dengan kasih sayang karena walau bagaimanapun Felisa adalah putrinya terlepas dari segala kesalahan-kesalahan yang diperbuat, dirinya hanya berharap Tuhan mau berbaik hati untuk menyadarkan putrinya agar bisa kembali menjadi anak yang baik.


Feli masih terisak namun pandangannya kebawah sambil meremas ujung dress yang digunakannya.


"Mama berharap, putri mama berubah bukan karena mama ataupun karena orang lain, namun itu karena kesadaran Feli sendiri, mama sudah tua nak...mama tidak tahu sampai kapan waktu mama untuk mendampingimu, mama ingin Feli bahagia tanpa merebut kebahagiaan orang lain"...


Ucapnya lirih sambil mengelus pipi sang putri yang masih dialiri oleh air mata.


"Feli minta maaf ma"...


Isaknya pelan tanpa bisa menatap wajah sendu sang mama.


"Mama selalu memaafkan putri mama apapun kesalahan yang Feli buat, bagi mama Feli sekarang tujuan hidup mama nak"...


Ucapnya sendu sambil mengangkat wajah sembab sang putri.


"Bisakah bawa Feli untuk bertemu dengan istri Serkhan ma?"...


Pintanya dengan tulus berharap pada mama, dirinya sekarang menyesal karena hampir saja merenggut kebahagiaan keluarga kecil Serkhan, Feli memang tidak terlalu dekat dengan Serkhan namun Feli lebih dekat pada kedua mantan mertuanya itu.


Denia tersenyum haru dan dirinya segera menganggukkan kepalanya.


"Iya, nanti mama bawa Feli kesana tapi tidak untuk saat ini, istri Serkhan masih harus bedrest total dan tidak boleh terlalu banyak fikiran, bisakah menunggu"...


Ucapnya dengan lembut.


Feli mengangguk kepala dengan paham.


"Ayo, sepertinya sebentar lagi akan hujan"...


Ajak Denia sambil mengulurkan tangannya setelah tadi mengalihkan pandangannya kelangit yang sama sekali tidak ada sinar rembulan.


Feli segera bangun dari duduknya dan perlahan menyambut uluran tangan mamanya untuk membantu mamanya berdiri, Denia tersenyum melihatnya.


Keduanya lantas masuk kedalam rumah sambil berpelukan, sungguh Feli sangat merindukan moment seperti ini sebab sudah lama dirinya mengabaikan sang mama karena keterpurukan nasib rumah tangganya beberapa tahun lalu begitu pula dengan Denia, dirinya pun bahagia bisa memeluk kembali sang putri.


Malam ini sungguh malam yang begitu berkesan bagi Denia, bahkan dirinya sempat terkekeh pelan mendengar permintaan sang putri yang bertingkah sangat manja karena ingin tidur didalam pelukannya, bukan marah justru Denia dengan senang hati menerima permintaan sang putri.

__ADS_1


Dirinya berdoa dalam hati semoga sang putri bisa bahagia walau tidak ada yang bisa menerima kekurangannya sebagai seorang wanita.


Mereka menghabiskan waktu berbincang hangat dengan berandai-andai, bahkan Feli menyeletuk ingin ke Negara I untuk mengadopsi salah satu bayi disana dan tentu Denia menyetujuinya tanpa banyak bertanya sebab permintaan Feli menurutnya sangat bagus bagi seorang wanita yang susah untuk mendapatkan momongan terlepas dari statusnya yang sendiri.


β˜†β˜†β˜†


"Mas"...


Panggilnya pelan dan memandang sang suami yang masih bergulat didepan sebuah benda elektronik diatas meja tak jauh dari ranjangnya.


Serkhan seketika mendongakkan kepalanya saat mendengar suara lembut dari sang istri dirinya lalu tersenyum dan segera bangun dari duduknya dan berjalan menuju ranjang dimana sang istri masih terbaring dengan selang yang menancap dipunggung tangan sang istri.


"Ada apa heum?"...


Tanya Serkhan dengan lembut sambil mendudukkan tubuhnya dipinggiran ranjang rumah sakit, tak lupa dirinya mengusap pelan pipi chuby sang istri.


Orang tuanya tidak lama berada dirumah sakit karena mereka juga paham menantunya butuh istirahat dan mereka juga baru tiba dari LN langsung menuju rumah sakit, tentu rasa lelah mendera pada usia senja mereka jadi mereka memutuskan untuk kembali setelah sang menantu memaksa untuk pulang ke mansion.


"Apa mas sibuk?"...


Tanya Nessa pelan tanpa menjawab pertanyaan sang suami sambil menikmati elusan lembut dipipinya.


Serkhan menggelengkan kepalanya pelan.


"Mas sedang melihat pergerakan saham sayang"...


Jawabnya dengan jujur.


Ucapnya dengan sedikit ragu-ragu dan Serkhan yang peka lantas menghentikan usapannya sejenak.


"Ada apa sayang, bicaralah jangan ragu"...


"Eum...Nessa pengen makan sate sapi"...


Cicitnya pelan sambil meremas ujung selimut yang menutupi tubuh bulatnya karena kehamilan Nessa membuatnya doyan makan sebab tak hanya satu nyawa yang dibawanya melainkan dua nyawa.


Serkhan seketika terkekeh pelan mendengar cicitan sang istri, sungguh dirinya sangat gemas dengan Nessa akhir-akhir ini namun tak dipungkiri dirinya sangat bahagia sebab dari yang didengar diluar sana jika seorang istri yang sedang hamil muda akan sulit untuk makan namun hal tersebut tidak berlaku bagi sang istri sebab sejak dinyatakan positif hamil, naf su makannya seakan bertambah dua kali lipat tentu hal tersebut mempengaruhi hormon ibu hamil yang ingin disiram cairan kental walau tidak setiap malam mengingat pesan dokter yang emlarang untuk melakukan hubungan badan terlalu sering.


"Sebentar ya, mas telfon Omar dulu"...


Ucapnya seraya tersenyum kearah sang istri.


Cup.


Nessa memejamkan matanya saat sang suami meninggalkan kecupan tepat dibibirnya, sebenarnya dirinya masih pengen dicium seperti biasa namun sepertinya keinginan untuk menikmati makanan khas dari Negaranya terlalu besar mengalahkan cum buan dibibirnya.


"Kenapa kurang"...

__ADS_1


Godanya sambil menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum jahil namun tangannya tak lepas dari ponselnya yang sesekali dilirik untuk mengirim pesan ke seseorang.


"Maasss"...


Rengeknya dengan manja sambil menaikkan sedikit selimutnya yang kini menutupi hingga bibir seksinya, dirinya pun tidak tau kenapa gai rah nya meninggi selama masa kehamilan berlangsung, bahkan dirinya akan merajuk jika sang suami hanya mengecup sekilas bibirnya tanpa ditambahi dengan luma tan.


Serkhan segera memasukkan kembali ponsel miliknya setelah pesan itu terkirim dan dirinya langsung merebahkan sedikit tubuh kekarnya tepat diatas sang istri yang sekarang bertumpu menggunakan sebelah tangannya dengan keadaan kedua kaki masih menyentuh lantai.


"Sabar sayang, demi twins"...


Ucapnya dengan lembut sambil memandangi wajah sayu sang istri, jika tidak mengingat sang istri baru mengalami hal yang begitu mengerikan sepanjang hidupnya mungkin dia suadah menerjang sang istri dan berbagi peluh untuk mencapai kenikmatan yang terlalu sulit untuk diungkapkan.


"Apa Nessa sekarang menjadi wanita murahan"...


Ucapnya pelan sambil kedua mata yang berkaca-kaca.


Serkhan seketika membola mendengar ucapan yang terlontar dari mulut sang istri.


"Hei...sayang, jangan berbicara yang tidak-tidak, sayang bukan wanita seperti itu, hal wajar yang dilakukan oleh seorang istri terhadap suaminya, jangan bicara seperti itu lagi ya...heum"...


Ucapnya dengan cepat namun tetap berbicara dengan lembut.


"Jangan menangis sayang, kasihan sama twins kalau mommynya menangis, mas mau jadi bayi boleh? Nanti kalau twins sudah lahir pasti keduanya akan menguasai kesukaan daddynya"...


Ucapnya mengalihkan pembicaraan dengan berpura-pura menampilkan wajah lesunya dengan mata melirik kearah gundukan sang istri.


Pugh.


"Maasss ih"...


Rengeknya sambil memukul bahu sang suami dan wajahnya bersemu merah melupakan kesedihan yang baru beberapa menit di rasakannya.


Serkhan terkekeh pelan dan memajukan wajahnya hingga kini kening serta hidung mancungnya bersentuhan dengan sang istri hingga bibir mereka hanya berjarak beberapa centi saja sudah menempel sempurna.


Nessa memejamkan mata saat deru nafas sang suami menerpa permukaan kulit wajahnya dengan perlahan dirinya membuka matanya.


"Bolehkah?"...


Bisiknya tepat didepan bibir sang istri.


Nessa tidak berucap sama sekali dirinya hanya beberapa kali terkejut namun perlahan dia memajukan bibir seksinya untuk menyentuh bibir sang suami.


Cup.


Dengan pelan dirinya melu mat serta menye sap bibir sang suami sedangkan Serkhan perlahan memejamkan matanya sambil membiarkan sang istri mengusai bibirnya, luma tan yang awalnya lembut kini berubah menjadi menuntut dan seketika mengalungkan sebelah tangannya yang tidak terkena tusukan jarum inpus.


Mereka tidak berbuat hingga jauh, Serkhan hanya mengikuti kemauan si bumil namun tidak lupa juga dirinya menjadi bayi besar yang menye sap kedua gunung sintal sang istri secara bergantian hingga dirinya harus mati-matian untuk menahan gai rah nya.

__ADS_1


Rintik hujan mulai turun dilangit Turki, membuat keadaan kian syahdu didalam sebuah kamar rawat inap disalah satu rumah sakit terbesar diNegara itu.


Like.vote.gift please😍😍😍


__ADS_2