
"one more round ?" ucap Kaivan,padahal belum lama ia melakukan yang pertama.Ia mengecup bibir Ana.
"pardon me for this round,it will be rougher than before".Kaivan kembali menyerang.ia bermain agak 'kasar' dan 'keras' dari yang sebelumnya.Ana menikmati setiap sentuhan yang di berikan suaminya tanpa mengeluh.
Ia tau selama ini Kaivan berusaha sangat keras menahannya.Hormone ia hormone.Mau bagaimana pun laki - laki itu bersikap,kalau laki - laki itu normal organ kelelakian mereka sudah pasti memberontak.
Tak peduli seberapa keras Kaivan menghantam,lalu sepanjang apapun Ana mendesah, keduanya tak ambil pusing.Pun ketika pelepasan kembali terjadi.Dengan keringat yang lebih banyak Ana tetap menikmatinya.
Tak lupa,Kaivan mengecup kening Ana di lanjutkan bibir istrinya sebelum menjatuhkan tubuh ke samping Ana.
Nafas mereka sama - sama memburu.Kaivan membalikan tubuh Ana supaya ia bisa memeluk istrinya dari belakang.Menghadap pintu kaca yang tirai nya tidak tertutup seluruh.
Di sana terdapat pemandangan nan indah menyejukkan mata.langit cerah bertabur bintang dengan suara ombak menghantam tebing.Menjadi saksi awal perjalanan mereka.
\=\=\=\=
Walaupun mereka pengantin baru yang tengah mencicipi indah dan 'lelah' nya madu.Tak ada waktu bangun kesiangan.
Baik Ana maupun Kaivan bangun pagi karena sudah menjadi kebiasaan.Lagi pula mereka tidak melakukannya hingga pagi.
__ADS_1
Kaivan yang tahu Ana lelah menghadapi pesta pernikahan tak akan membuat wanita itu pingsan esok harinya dengan menggempurnya semalaman.
Mereka keruang makan sambil bergandengan tangan.di meja panjang hanya ada para orang tua yang tengah berbincang.
"good morning,love bird."sapa sepupu Kaivan yang tengah tersenyum melihat kedatangan mereka.
Ana duduk di samping Luana dan di ikuti Kaivan.
"I think they played it safe last night"ucap Stefan,suami Luana sambil menaik turunkan alisnya.
Luana memukul paha suaminya "Don't bother them,honey."
Kaivan terkekeh melihat Ana yang salah tingkah."jangan dengarkan,semua pengantin baru akan di ledek seperti ini."bisik nya sambil menikmati kopi yang telah di sajikan.
"oh ya Kaivan,tadi paman Petra titip salam.Ia harus segera berangkat ke bandara."ucap paman Demi.ia memang sempat berpapasan dengan Petra sebelum pria itu pergi.
Kaivan menganggukan kepala,ia akan menghubungi pamannya itu nanti.
"Bapak sama ibu hari ini mau kemana ?"tanya Ana menatap kedua orang tua di hadapannya.
__ADS_1
"ibu mau ke hutan monyet itu...apa namanya pak."tanya ibu Ida pada pak Heri."monkey forest,Bu"
"nah itu..terus gak tau lagi mau kemana.Yang penting jalan - jalan dulu sebelum pulang.Kan kalau di rumah ibu cuma bisa liatin oven sama mixer"Ibu Ida terlihat bingung yang mengundang tawa pak Heri dan seisi meja.
"sama siapa Bu? Ana temani ya?."
Ibu Ida menggeleng keras."gak usah nak,kamu istirahat aja.ibu rame - rame kok nanti ada pak Amat dengan Bu inah juga."Ana mengangguk walau pun sedikit cemberut.
"aku juga ingin menikmati Bali."Keluh Luana dengan wajah cemberut.Ia tak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama.
"It's okay darling, we'll be here again on holiday later"Stefan mengelus rambut Luana.
Ana menoleh pada Kaivan."kita akan mengantar Paman dan yang lainnya ke bandara.Untuk yang lainnya sudah di handle Didin."Jelasnya pada Ana.
Kaivan bukan tak ingin mengajak Ana menikmati Bali.Mereka harus istirahat sebelum melakukan perjalanan jauh.
\=\=\=\=
Holla readerss....
__ADS_1
see you next episode