OUR RELASIONSHIPS AND TRAUMA

OUR RELASIONSHIPS AND TRAUMA
Aku Takut,tau


__ADS_3

Ana membuka matanya secara perlahan.Ia memegang kepalanya yang berdenyut nyeri.


"ugh..."


Aroma antiseptik pertama kali tertangkap indera penciuamannya.Setelah pandangannya mulai menjadi jelas dan ia bisa melihat dengan jelas langit - langit kamar yang bukan kamarnya ini.


Dimana ia berada saat ini?


"sayang ..?"


Ana menghela nafas lega.Seridaknya dari semua hal asing ia mendengar suara yang cukup familiar di telinganya.


Ia menoleh kesamping dan mendapati Kaivan yang sedang menatapnya dengan senyum manis dan mata yang berkaca - kaca.


Berkaca - kaca?


Ana mengerjapkan matanya berkali - kali supaya meyakinkan pemandangan yang ia lihat.Tapi Kaivan menggenggam tangan dengan erat seakan membenarkan dugaan Ana.


Laki - laki itu mengecup tangannya berkali - kali sebelum menempelkannya di pipinya.Saat itulah Ana dapat merasakan setetes air menyentuh tangannya.


Jelas bukan keringat karena suhu ruangan ini cukup dingin.

__ADS_1


Ana ingin mengatakan sesuatu tapi suara nya tiba - tiba hilang.dia berdeham sejenak.


Kaivan seakan sadar dan segera meraih gelas berisi air mineral dan Kaivan dengan telaten membantunya minum dari gelas yang di sodorkan.Hal itu membuat Ana merasa lebih baik.


"Akhirnya kamu bangun juga ."Kaivan mengusap pelan wajah Ana dan kemudian menekan tombol di samping ranjang memanggil dokter.


Tak lama dokter dan perawat tiba memasuki kamar yang di tempati Ana untuk memeriksa kondisinya.Setelah memastikan kondisi Ana telah membaik,baru lah Kaivan benar - benar bernafas lega.


"Berapa lama aku di sini?" tanya Ana setelah mereka tinggal berdua saja di dalam kamar rawat tersebut.


"dua hari "Jawab Kaivan dengan muram."kamu lama banget bangunnya."


Ana tersenyum mencoba menghibur Kaivan.Kemudian ia teringat sopir yang saat itu sedang menjemputnya."pak Dimas gimana,mas?"


"Beliau membutuhkan fisioterapi setelah keluar dari sini dan aku sudah mengatakan ia harus mengikutinya dan baru kembali bekerja setelah benar - benar sembuh."


Ana mengangguk mengiakan.Walau pun di luar terlihat tegas dan tak tersentuh,calon suaminya ini sebenarnya memiliki hati yang hangat dan perhatian terhadap orang - orang di sekitarnya.


"aku takut tahu,sayang."Kaivan kembali menggenggam tangannya "kamu lama banget sadarnya,aku pikir aku gak di beri kesempatan sama tuhan untuk hidup bersama kamu."


"aku pikir juga begitu,mas."Ana meringis"tapi aku sempat dengar suara kamu yang terus manggil aku.Aku pikir aku bermimpi saat itu."

__ADS_1


Ada yang denyut di hati Kaivan saat mendengar penuturan Ana.Kalau tuhan tidak bermurah hati,mungkin Kaivan akan kehilangan orang yang ia sayangi lagi.


Ia tidak tahu yang akan ia lakukan untuk menghadapi situasi tersebut.ia tak pernah membayangkan akan segila apa kalau hal tersebut benar - benar terjadi.


Ana merasa kelopak matanya kembali memberat dan ingin terpejam."Mas aku ngantuk,kita istirahat yuk.Kamu juga pasti kurang istirahat dari kemaren."


"kamu aja yang tidur."Kaivan mengelus wajah Ana dengan sayang."Mas belum ngantuk,mau jagain kamu dulu saja."


Ana hanya mengangguk samar dan tak butuh waktu lama ia kembali tertidur.Mungkin ini efek obat sehingga ia sangat mengantuk.


Setelah Ana tertidur,telepon Kaivan bergetar menandakan ada telepon masuk.Dengan perlahan Kaivan keluar dari ruangan rawat Ana dan mengangkat panggilan tersebut.


"Sudah ada kabar,Jer ?"


"Sesuai dugaan Lo,kecelakaan ini memang di sengaja.Orang yang menabrak Ana merupakan orang suruhan salah satu pejabat di kementerian pariwisata."


Kaivan mengepalkan tangannya.Apa motif orang ini.sepertinya ia tak pernah bersinggungan dengannya.


\=\=\=\=


holla readers

__ADS_1


see you next episode


__ADS_2