
Ana mengedarkan pandangannya ke penjuru ruang.Ia mencari keberadaan sang suami untuk makan malam.
"Mas...."Panggilnya,namun tidak kunjung mendapat balasan.
Ia yang awalnya tengah asik membantu Bibi Sophie di dapur dan meminta Kaivan membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Saat melewati sebuah kamar di samping kamar tidur mereka,Ana melihat sang suami seperti melamun memikirkan sesuatu.
"Mas...kok disini."
"hai,sayang."Jawab Kaivan agak terkejut."Mas lagi mikir,bagaimana kalau kamar ini kita jadikan kamar si Kakak."
Mereka memang memutuskan memanggil bayi dalam kandungan Ana dengan Kakak.
"hhmm..boleh mas.dekat juga dengan kamar kita."Ucap Ana sambil mengedarkan pandangannya.Kamar bercat putih bersih ini hanya di isi sebuah ranjang queen size dan sebuah lemari pakaian.
"oke,kalau gitu besok mas cari tukang renovasi untuk membersihkan dan mengecat ulang."Kaivan merangkul bahu sang istri.Ia yang selalu bersemangat jika menyangkut calon anak mereka.
"gak kecepatan mas,gak mau nunggu gendernya dulu."
Kaivan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.Kandungan Ana baru memasuki Minggu ke 13 dan untuk melihat jenis kelaminnya dokter mengatakan untuk memeriksakan pada minggu ke 18.
"Apa kita tunggu sampai jenis kelaminnya tahu dulu ya."Monolognya.
__ADS_1
Ana terkekeh melihat raut wajah suaminya.Ia tahu Kaivan sangat tidak sabar menantikan kelahiran anak mereka.
"kita bersihkan dan cat warna netral dulu aja mas.nanti setelah tau jenis kelaminnya baru kita cari furniture yang sesuai."Saran Ana.Ia sebenarnya tak menganut warna pink harus perempuan dan warna gelap untuk laki - laki.
Menurutnya semua warna pantas di gunakan oleh siapa pun.
Kaivan mengangguk setuju."oke kalau begitu.nanti mas carikan tukang renovasinya.ayo bumil,makan dulu."
Kaivan memboyong istrinya ke lantai bawah menuju ruang makan.Mereka makan dengan tenang sambil sesekali berbicara tentang hal - hal membuat Ana tersenyum.
\=\=\=\=
"ini pesanan lo."ucap Anya sambil menyodorkan sekantong asinan Bogor."untung gue gak harus ke bogor sekalian."
Saat jam makan siang tadi,ia tiba - tiba menginginkan asinan Bogor dan ingin Anya sendiri yang membelikannya.Jadilah Anya pergi membelikan ke inginkan bumil walau cuaca cukup terik di luar.
Ia mulai memakan makanan yang berasal dari Bogor,Jawa barat itu dengan gembira.Rasa Asam,Manis,dan pedas dari Asinan yang terbuat dari sayuran dan buah itu berpadu pas di dalam mulutnya.
"Jangan banyak - banyak ya.Nanti Pak Kaivan bisa marah kalau Lo sampai kenapa-kenapa."Seru Anya,memperingatkan.
"Tenang aja..gue lagi BM banget sama makanan ini."Ana kembali memasukan suapan besar ke mulutnya.
"iya..iya..makan pelan - pelan aja.gak bakalan ada yang maling kok."Anya meminum air yang berada di botol minumannya.Jujur saja kalau tidak karena Ana sedang hamil ia tak ingin pergi dan berkeliling dengan cuaca sepanas ini.
__ADS_1
Deringan telepon mengganggu kedamaian Ana yang tengah menikmati Asinanya.Di sana terdapat nama sang suami.
"halo sayangku.."Suara bariton Kaivan menyapa pendengaran Ana.
"iya mas..kenapa?"tanya Ana
"kamu sudah makan siang kan?jangan telat malamnya.maaf ya mas baru bisa ngabari.Tadi ada meeting mendadak."Tutur Kaivan dengan rasa bersalah.
Tawa Ana terdengar merdu di telinga Kaivan."Aku sudah makan kok mas.Malah sekarang lagi ngemil asinan Bogor ini."
"good girl,makan asinannya jangan banyak - banyak ya sayang.Nanti perutnya sakit."
"iya mas iya.."Jawab Ana sambil terkekeh.Pria itu tak pernah melarang ia makan apapun asal porsinya jangan berlebihan.
"oh ya sayang..mas mau ngasih tahu kalau malam ini paman mengundang kita untuk makan malam."ujar Kaivan.
"makan malam..di rumah paman?"Tanya Ana.Perasaannya lansung khawatir karena ia akan bertemu dengan bibi Kaivan yang masih tidak mau menerimanya.
\=\=\=\=
Holla readers..
see you next episode
__ADS_1