
Kaivan bergegas turun dari lantai dua rumah mereka.Ia menyerahkan kotak yang ia temui di kamar mandi dengan nafas terengah-engah.
Ana tidak lansung mengambilnya.Ia justru berjalan menaiki tangga setelah mematikan televisi meninggalkan Kaivan begitu saja.
sesampainya di kamar ia lansung berbaring sambil memasuki selimut.Kaivan ternyata mengikutinya dalam diam.
"ini...apa sayang?termometer?"Kaivan yang memang telah melihat isi kotak tersebut kembali membukanya.Ia kembali mengamati benda tersebut.
"wait...ini bukan termometer."Benda yang masih ia pegang tersebut kembali ia amati.
"ini....kamu hamil?"ucapnya tak percaya.
Ana menatap Kaivan dan bagaimana pria itu menatap testpack,yang sempat ia kira termometer itu dengan mata berkaca - kaca.Kaivan mendekati Ana yang masih setia diam membisu.
Ana merentangkan tangannya seolah minta di peluk.Kaivan tanpa berpikir lagi lansung memeluk istrinya,erat.
"i love you,sayang...i do really love you."Ucap Kaivan dengan suara bergetar dan perasaan haru membuncah di dada Ana.
"i love you too mas."
__ADS_1
Ana menumpukan dagunya pada bahu Kaivan dan mengusap punggung suaminya dengan irama pelan.
"maafin aku yang akhir - akhir ini bersikap aneh ya.aku tau kamu kerepotan."Bisik Ana,jujur saja ia merasa sangat bersalah tapi tak bisa juga mencegah semua keinginan dan bagaimana sensitifnya.
Kaivan hanya menggeleng pelan.Hal itu menandakan ia tidak keberatan sama sekali apa lagi setelah ia tahu kalau Ana sedang mengandung anaknya.
Pria itu merenggangkan pelukan mereka agar bisa bersitatap dengan istrinya."mas gak kerepotan sama sekali sayang.Hanya saja mas merasa aneh dengan perubahan kamu akhir - akhir ini."Kaivan terkekeh sambil mengelus perut rata Ana yang di balut baju tidur satin."ternyata ada dedek bayi di sini."
"makasih,mas"Ana mengecup bibir Kaivan sekilas "kamu udah makan?"
Kaivan menggeleng pelan.membuat bibir Ana mengerucut,tidak suka dengan fakta tersebut.Bukan kali ini saja Ana mendapati Kaivan melewati waktu makannya karena mengerjakan hal lain,padahal pria itu selalu mengingatkannya dan tetap mengirim bunga dan makanan ke kantornya seperti mereka masih pacaran.
"15 menit.aku siap dalam 15 menit."Ucapnya lalu menghilang di balik pintu kamar mandi.
Ana yang merasa memiliki pekerjaan menyiapkan makan malam suaminya segera turun kebawah.Disana sudah ada bibi Shopie sedang yang ia minta segera memasak saat Kaivan sudah kembali pulang.
"eeh..nyonya,sudah mau makan?"tanya bibi Shopie yang terlihat baru selesai memasak ketika melihat Ana turun.
Untung saja bibi Shopie segera melaksanakannya.Sehingga ketika ia turun,makan malam sudah jadi dan tinggal di tata di meja makan.
__ADS_1
"iya Bi,ayo aku bantuin"Ana mengangguk dan segera memindahkan makan malam ke meja makan untuk di tata.
Sementara itu,tepat lima belas menit Kaivan sudah terlihat dengan celana pendek dan baju kaos hitam.Aroma sabun yang segar menyeruak dari tubuh pria itu.
"sayang,kamu udah ke dokter kandungan?"Tanya Kaivan yang akhirnya memulai makan malamnya.
"Belum" Ana menyingkirkan potongan daun bawang yang tak terlalu ia sukai dan Kaivan mengambilnya tanpa kata - kata."aku mau pergi sama mas besok,bisa gak?"
"Bisa dong sayang.apa sih yang gak buat kamu."
Ana memutar bola matanya,Jelas bisa karena besok Sabtu.Namun hal itu membuatnya terlihat menggemaskan di mata Kaivan.
"Setelah ini aku akan buat janji sama dokter kandungan."Ucap Kaivan dengan semangat.Keduanya bertukar senyum dan makan malam hari ini di lalui dengan damai.
\=\=\=\=
holla readerss...
see you next episode
__ADS_1