
"Sayang..."
Kaivan tertegun saat mendapati Ana yang tertidur di kursi penumpang saat mereka dalam perjalanan pulang dari kencan malam ini.
Saat akan merapikan rambut istrinya yang menutupi wajah cantik itu.Kaivan sadar setetes air mata jatuh dari pelupuk mata istrinya tersebut.
Lelaki itu sempat tertegun sebelum menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.
Bagaimanapun situasinya,kita tetap akan menjalani dan mengalami rasa kehilangan.Kasta terbesar dalam merelakan seseorang yang kita sayangi adalah mengikhlaskannya.
Meski mungkin harus ada banyak tangis yang pecah terlebih dahulu agar tidak ada lagi sesak yang mengganggu.
Kaivan mengingat sedikit kata - kata dari sebuah film yang mereka tonton setelah makan malam tadi.Bahkan Ana kembali menangis atau lebih tepatnya sengaja menangis agar mengeluarkan beban hatinya saat film itu berlangsung.
Setelah mereka sampai di rumah dan Ana sedang duduk di depan meja riasnya.Kaivan terus menatap sang istri.
"Kenapa mas ?"Tanya Ana menoleh pada suaminya yang sedang bersandar di ranjang mereka.
Kaivan hanya menggeleng lalu menepuk tempat tidur di sampingnya.Ana beranjak mengikuti keinginan sang suami.
"Berat ya?"
__ADS_1
Ia yang tengah bersandar dalam dekapan Kaivan itu menatap bingung dengan pertanyaan itu.Tapi Kaivan tak kunjung bersuara,Ia jadi tahu apa yang di maksud Kaivan.
"Lumayan."Ana menjawab dengan pelan."Lumayan berat,aku masih gak percaya kalau anak kita ternyata sudah gak ada disini,di perut aku."
Kaivan meraih sebelah tangan Ana untuk ia kecupi punggungnya.
"Kamu..?"Kali ini Ana yang bertanya pada Kaivan.
"Kalau aku jawab ini gak berat,rasa - rasanya aku terlalu menyangkal hatiku"Kaivan tertawa pelan."tapi...ya ini memang lumayan berat."
"Kehilangan calon anak kita,juga kehilangan separuh kamu,itu memang berat untukku.Tapi kita harus melewati ini semua."
Ana membalas genggaman tangan sang suami sama eratnya.Seakan berusaha tegar walau duka masih menyelimuti hatinya.
Tapi kalau di pikir - pikir,pasti Tuhan mempunyai maksud baik dari ini semua.Semoga tuhan mendatangkan bahagia yang lebih indah dari apa yang mereka bayangkan nantinya.
"Tadi aku mimpi Asmara,mas."Ucap Ana lirih.Sebuah rindu tersirat di matanya.
"Dia manggil aku mama,dan...dia senang berada di sana.Dia datang kemimpiku supaya aku tenang kali ya."Lirihnya pelan.
Kaivan tahu pasti istrinya menangis di mobil tadi ada hubungannya dengan anak mereka.Kaivan mengeratkan pelukan mereka dan mengecup kening istrinya mencoba menguatkan satu sama lain.
__ADS_1
"Jadi dia Asmara? bukan Cakara?"Tanya Kaivan setelah beberapa saat mereka saling diam.
"Yang aku lihat sih,dia Asmara."Ana tertawa pelan."Dia mirip kamu banget,mas.Dia bahkan nanyain warna langit sama aku."
"oh ya...berarti gen aku lebih dominan ya."Kata Kaivan jumawa.
"Kepedean."Jawab Ana sambil menyikut perut sang suami.Bukannya sakit Kaivan hanya merasa geli hingga membuatnya tertawa.
Ana membaringkan tubuhnya yang di susul Kaivan.Pria itu menarik Ana masuk ke dalam pelukannya.
Semenjak menikah sepertinya Kaivan selalu mendekap Ana saat akan tertidur.Sebuah kebiasaan yang di sukai keduanya.
"good night,sayang."Di ikuti sebuah kecupan di pipi Ana.
"Good night,mas."Jawab Ana dalam kejamnya.
Sepasang suami istri yang sedang mengarungi 'badai' untuk mereka berdua itu tidur dengan saling berpelukan.
Tidak mudah karena semua orang tidak pernah siap akan sebuah kehilangan.Tapi akan pelangi yang indah setelah hujan,bukan?
\=\=\=\=
__ADS_1
Holla readers...
see you next episode.